Follow us on:
Showing posts with label Nasehat. Show all posts
Showing posts with label Nasehat. Show all posts
MENGAPA HATIMU MENJADI KERAS LAKSANA SEBONGKAH BATU?


Bismillah,

Jumat, 01 April 2011

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74) البقرة

kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Allah ta'ala mencela dan mengecam kepada bani Isroil atas berbagai ayat-ayat Allah termasuk menghidupkannya pada orang yang telah mati, dengan firman - Nya:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ

Kemudian hatimu menjadi keras setelah semua kejadian tersebut
Kerasnya hatimu laksana sebongkah batu yang tidak akan pernah lunak selamanya

Oleh karenanyalah Allah melarang kepada orang-orang yang beriman untuk meniru kelakuan mereka ( yakni hatinya tetap keras laksana batu setelah datangnya hujjah yang terang / dalil yang nyata, namun masih selalu berkelit dengan mencari kalimat-kalimat subhat ( yang remang-remang ) atau bahkan mengingkari datangnya kebenaran dengan penolakan yang nyata, takutlah kepada allah…..)
Allah berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَع قُلُوبهمْ لِذِكْرِ اللَّه وَمَا نَزَلَ مِنْ الْحَقّ وَلَا يَكُونُوا كَاَلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَاب مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمْ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ* الحديد 16

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

Dari ibni Abbas: Tatkala orang yang terbunuh itu dipukul dengan sebagian dari anggota badan sapi, lantas ia pun duduk, hidup lagi seperti semula , kemudian ditanyakan kepadanya, siapa yang telah membunuhmu?, iapun menjawab : anak-anak saudaraku yang telah membunuhku, kemudian ia meninggal lagi. Setelah si terbunuh meninggal maka anak-anak saudaranya mengatakan : demi Allah kami tidak membunuhnya, mereka mendustakan kebenaran setelah mereka menyaksikannya dengan mata kepala mereka sendiri, kemudian Allah berfirman :

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ

Kemudian hatimu menjadi keras setelah semua kejadian tersebut
فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

Perihalnya (kerasnya hatimu) laksana batu bahkan lebih keras lagi ( at-thobari 2/225 )

Bersamaan dengan berselangnya masa maka jadilah hati kaum bani isroil menjadi sangat keras dan tidak mempan lagi dengan nashihat meskipun mereka telah menyaksikan dengan mata kepala mereka akan berbagai mu'jizat, perihal kerasnya hati mereka laksana batu yang tiada obat lagi untuk melunakkannya, atau bahkan lebih keras lagi dari pada batu, padahal sebagian dari batu-batu itu ada yang dapat mengalirkan mata air sehingga membentuk sungai-sungai, dan batu yang lainnya terbelah lantas mengeluarkan mata air walaupun tidak mengalir, dan sebagian dari batu-batu itu ada yang meluncur dari atas gunung karena takut kepada Allah,

Sehubungan dengan ayat diatas muhammad bin ishaq meriwayatkan dari ibnu abbas :

Bahwa sesungguhnya dari batu-batu itu niscya yang lebih lunak daripada hati kalian, jauh dari kebenaran yang kalian dakwahkan itu

وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74) البقرة

dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
( ibnu abi hatim 1/233)

semoga bermanfaat

Adab Memuji


bismillaah,

Salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah lisan. Lisan laksana pedang bermata dua. Lisan dapat menjadi sarana ketakwaan kepada Allah, sekaligus lisan juga dapat menjadi alat untuk mengikuti kehendak syaithan. Oleh karena itu, lisan memiliki dua bahaya besar, yaitu: mengucapkan perkara yang bathil dan tidak dipergunakan untuk mengungkapkan kebenaran. Maka lisan wajib dijaga dan dikendalikan, karena jika tidak dia akan menjadi ‘alat pembunuh’ yang berbahaya akibat apa yang keluar darinya.

Sebagaimana perkataan seorang penyair:

يموت الفتى من عثرة بلسانه
وليس يموت المرء من عثرة الرجل
فعثر ته بلسانه تذهب رأسه
وعثرته بر جله تبراء على مهل

Karena ketergelinciran lisan, seorang bisa mati
Seorang tak akan mati karena tergelincir kaki
Tergelincir lisan sebabkan kepala tiada
Sedangkan tergelincir kaki akan sembuh tanpa luka

Salah satu ‘produk’ lisan adalah pujian. Pujian adalah ungkapan kekaguman terhadap orang lain karena kelebihan yang dimilikinya, baik itu berupa kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kepintaran, dan sebagainya. Manusia pada dasarnya senang dipuji dan dikagumi, karena pujian diisyaratkan sebagai suatu bentuk perhatian orang lain terhadap dirinya. Akan tetapi Islam telah mengatur tata cara dan adab memuji terhadap orang lain yang mengandung banyak kebaikan.

Pujian terbagi menjadi pujian yang tercela dan pujian yang diperbolehkan,

Pujian yang tercela

Yang dimaksud dengan pujian yang tercela adalah pujian yang berlebihan dan pujian yang dapat menyebabkan orang yang dipuji merasa bangga diri (‘ujub).

Dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ويلك قطعت عنق صا حبك, قطعت عنق صا حبك

“Celakalah engkau, kau telah menggorok leher saudaramu. Kau telah meggorok leher saudaramu!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya beberapa kali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان منكم مادحا أخاه لا محالة فليقل: أحسب فلانا والله حسيبه ولا أزكي على الله أحسبه كذا وكذا إن كان يعلم ذلك منه

“Barang siapa yang terpaksa harus memuji saudaranya, maka katakanlah: ‘Aku kira si fulan demikian dan demikian, tetapi Allah-lah yang menilai (keadaan sebenarnya). Aku tidak mau menilai atas nama Allah (kepada seseorang) demikian dan demikian, jika memang kelebihan itu ada pada dirinya.” [Hadits shahih, riwayat Bukhari (III/158) dan Muslim (IV/2297)]

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أهلكتم أو قطعتم ظهر الرجل

“Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” [Hadits shahih, riwayat Bukhari (III/158 dan Muslim (IV/2297)]

Ibnu Baththal menyimpulkan bahwa larangan itu diperuntukkan bagi orang yang memuji orang lain secara BERLEBIHAN dengan pujian yang tidak layak dia terima. Dengan pujian ini orang yang dipuji tersebut, dikhawatirkan akan merasa bangga diri, karena orang yang dipuji mengira bahwa dia memang memiliki sifat atau kelebihan tersebut. Sehingga terkadang dia menyepelekan atau tidak bersemangat untuk menambah amal kebaikan karena dia sudah merasa yakin dengan pujian tersebut.

Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa makna hadits: ‘Taburkanlah debu ke muka orang yang memuji orang lain!’[1] adalah berlaku untuk orang yang memuji orang lain namun dengan cara yang berlebihan.[2]

Pujian yang dibolehkan

Tidak diragukan lagi bahwa memuji orang lain adalah termasuk penyakit lisan, jika menyebabkan orang yang dipuji merasa bangga diri atau jika pujian tersebut dilakukan secara serampangan atau melampaui batas, yakni berlebih-lebihan. Namun, JIKA pujian itu tidak mengandung hal-hal tersebut di atas, maka hukumnya diperbolehkan.

Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala memberi judul untuk salah satu bab dalam kitab Shahih beliau: “Bab Orang yang Memuji Saudaranya Berdasarkan Fakta yang Diketahui”. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak pernah kudengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut kepada seseorang yang berjalan di muka bumi ini sebagai calon penghuni Surga kecuali hanya kepada ‘Abdullah bin Salam.” [Hadits shahih, riwayat Bukhari (VII/87), lihat juga al-Fath (X/478)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melukiskan sifat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu sebagai berikut,

ما لقيك الشيطان سا لكا فجا إلا سلك فجا عير فجك

“Jika syaithan berpapasan denganmu pada suatu jalan, niscaya dia akan mencari jalan lain selain jalan yang engkau lalui.” [Hadits shahih, riwayat Muslim (IV/1864) dan al-Fath (X/479)]

Pujian yang DIPERBOLEHKAN untuk diberikan kepada saudara kita adalah pujian yang TIDAK berlebihan dan orang yang dipuji tidak dikhawatirkan merasa bangga diri, maka pujian seperti ini diperbolehkan. Oleh karena itu, pujian dengan sesuatu yang SESUAI fakta dan dengan sewajarnya sajalah yang diperbolehkan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun dipuji dalam syair, khutbah, dan pembicaraan. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menaburkan debu ke muka orang yang memujinya dengan pujian yang wajar tersebut.[3]

Apa yang harus dikatakan ketika memuji?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إذا رأى أحدكم من أخيه مـا يعجبه, فليدع له بالبركة

“Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendo’akannya agar diberikan keberkahan kepadanya.” [Hadits shahih, riwayat Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (II/716 no.2), Ibnu Majah dalam Shahih-nya (II/265) dan Ahmad dalam Musnad-nya (III/447)]

Do’a mohon keberkahan saat mendapati (melihat) sesuatu yang menakjubkan dirinya pada saudaranya,

مـا شـا ء الله لا قوة إلا بـالله, أللـهـم بارك عليه

“Maasyaa Allaah (atas kehendak Allah), tidak ada kekuatan melainkan hanya dengan (pertolongan) Allah. Yaa Allah, berikanlah berkah padanya.”[4]

Imam Nawawi rahimahullahu Ta’ala mengatakan bahwa dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, banyak sekali hadits yang berisi pujian kepada seseorang. Berdasarkan hal itu, para ulama mengatakan bahwa cara mengkompromikan antara hadits-hadits yang kelihatan bertentangan itu adalah dengan memaknai larangan itu berlaku untuk pujian yang berlebihan, pujian yang ditambah-tambahi dengan kedustaan atau pujian yang dikhawatirkan akan muncul rasa bangga diri di dalam diri orang yang dipuji. Namun, jika tidak dikhawatirkan akan terjadi hal demikian, maka diperbolehkan memuji meskipun dihadapan orang tersebut. Hal ini dikarenakan kesempurnaan ketakwaan, keteguhan akal dan kemantapan ilmu yang dimiliki oleh orang yang dipuji. Bahkan hukumnya menjadi sunnah apabila dengan pujian, maka dia akan termotivasi untuk senantiasa berbuat kebaikan, menambah amal kebaikan, dan memberikan teladan yang baik kepada orang lain.[5]

Allah lebih mengetahui akan hal ini.

Wallahu a’lam.

_____________

Catatan kaki:

[1] Hadits shahih, riwayat Muslim (IV/2297).
Dari Hammam bin al-Harits radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita bahwa ada seseorang yang memuji Utsman radhiyallahu ‘anhu. Miqdad lalu duduk berlutut. Al-Miqdad radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang bertubuh besar. Beliau pun akhirnya menaburkan batu kerikil kepada orang tadi. Utsman lalu berkata, ‘Apa yang sedang kamu lakukan?’ al-Miqdad berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jikalau kalian melihat ada orang yang memuji orang lain maka taburkanlah debu ke mukanya.’

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menaburkan debu ke muka orang yang memuji dengan berlebihan.

[2] Fat-hul Baari (X/477).

[3] Idem.

[4] Ad-Du’aa’ wal ‘Ilaaj bir Ruqaa minal Kitaab was Sunnah, Syaikh Sa’ad bin ‘Ali bin Wahf al-Qaththani, hal. 105.

[5] Syarah Imam Nawawi fii Shahih Muslim (XVIII/126), lihat juga Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, Syaikh Sa’ad bin ‘Ali bin Wahf al-Qaththani.

penulis: Ibnu Isma'il Al-Muhajirin

posted : Jalan yang Lurus by De Blackdwarf

semoga bermanfaat

YES I KNOW


Bismillahir Rahmanir Rahim

Pernahkan kita menghadapi seseorang yang menyampaikan kepada kita suatu hadits, dimana hadits tersebut sangatlah telah familiyar ditelinga kita?

Bagaimana sikap kita yang benar kepadanya, apakah kita katakan ?

''Saya udah tau ko hadits itu (sambil memotong pembicaraannya)" ?

Ya Ikhwah Fillah..

Bukan seperti itu adab mendengarkan yang benar, melainkan kita tetap mendengarkannya dan seakan- akan kita belum pernah mendengarnya, walaupun padahal kita sudah pernah mendengar apa yang ia sampaikan jauh sebelum ia mengatakannya. Selain menjaga adab, hal ini juga menjaga perasaan saudara kita..

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan sanadnya sampai Mu'adz bin Sa'id Al-A'war, dia berkata: "Aku pernah duduk di sisi 'Atha bin Abi Rabah. Seorang lelaki kemudian menyampaikan sebuah hadits, lalu ada seorang dari kaum itu yang ikut mengucapkannya." Mu'adz berkata: "Atha pun marah.

Dia berkata: 'Sikap macam apa ini ? Sungguh aku benar-benar mendengarkan hadits itu dari orang ini, padahal aku lebih tahu tentang hadits itu. Namun aku tampakkan kepadanya seakan- akan aku tidak tahu apa-apa.'

Dia berkata juga: 'Sesungguhnya seorang pemuda menyampaikan sebuah hadits lalu aku mendengarkannya seakan-akan aku belum mengetahuinya.Padahal aku benar-benar telah mendengar hadits itu sebelum dia dilahirkan." [Raudhatul 'Uqala, hal. 72, Tadzkiratus Sami', hal. 105]

Wallahu a'lam bishshawab

semoga bermanfaat

50 Indikasi Muslimah/Muslim Terjangkiti Virus Film/Aktor/Artis Korea

by Syeh Abdullah Akiera Van As-samawiey -Hafizhahullah- on Wednesday, October 17, 2012 at 12:59am


Berikut 50 indikasi seorang muslimah ataupun muslim terjangkiti virus-virus artis korea:
  1. Meng-like page/halaman salah satu artis/aktor korea.
  2. Luapan kekaguman dipublikasikan via status.
  3. Lagu-lagu korea, meskipun tak dipahami, dijadikan dzikir di lisan
  4. Mengganti foto profile dengan foto-foto mereka.
  5. Mempelajari bahasa korea tanpa tujuan yang jelas.
  6. Mengikuti perkembangan berita mereka.
  7. Mengoleksi foto-foto mereka, apalagi yang beredar di Facebook.
  8. Membayangkan atau menghayal menjadi pasangan mereka.
  9. Hati begitu bahagia menatap wajah mereka. Ini diikuti senyum tak jelas.
10.  Menangis jika acara/film mereka terlewatkan
11.  Begitu setia menonton film mereka walaupun menghabiskan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan puluhan episode.
12.  Mengikuti konser mereka.
13.  Tiket konser, walaupun mahal dengan harga yang variasi, akan laris dan akan segera habis.
14.  Begitu ridha dan ikhlas menanti di antrian pembelian tiket walaupun suasana membludak.
15.  Histeris dan meneteskan air mata bahagia melihat wajah sang aktor yang terlihat tampan.
16. Tak sedikit adegan foto sang aktor sedang berciuman dengan pemain wanita. Lantas para muslimah akan bertutur dengan penuh harap: “seandainya aku.”
17.  Mata mereka lebih berbinar cerah memandang wajah sang aktor.
18.  Nama akun facebook menggunakan nama sang aktor atau istilah-istilah dalam bahasa korea.
19.  Tiada hari tanpa gosip tentang mereka.
20.  Judul-judul film mereka menjadi hafalan di luar kepala.

21.  Pada tahap ngefans yang akut, ada yang yang melakukan operasi plastik agar wajah lebih mirip tampilan korea.
22. Begitu juga mode pakaian termasuk topi, switer, menjadi incaran walaupun harus mencarinya di rombengan.
23. Berlangganan majalah/tabloid yang khusus membicarakan tentang artis/aktor korea.                           
24. Mode-mode yang mereka gunakan akan menjadi tren dan menjadi buruan karena dianggap standar kemewahan.
25. Termasuk dalam mode tersebut adalah celana. Bagi laki-laki dan wanita di zaman ini, celana pensil adalah lambang “gaul”.
27. Gaya rambut baik style maupun warna pun diteladani.
28. Begitu pula dengan gaya jalan. Para artis/aktor memiliki gaya khas dalam berjalan sesuai dengan peran mereka masing-masing dalam drama korea. Ini juga yang ditiru anak muda.
29. Cara mereka berfose ketika di depan kamera. Ini pun ditiru.
30. Status-status facebook yang dipenuhi bahasa korea namun tidak dipahami.

31. Foto-foto mereka dari koran/majalah/tabloid dikumpulkan lalu dirangkai menjadi sebuah kliping.
32. Foto-foto mereka yang tersebar di internet akan di print kemudian dijadikan album dan dipampang di kamar-kamar. Ini menjadi pelipur hati bagi muslimah.
33. “Cium jauh.” Jemari muslimah akan mengelus-ngelus foto mereka, bahkan mencium foto mereka. Didekaplah di dada.
34. Mengikuti kontes-kontes maupun lomba atau sejenisnya dengan hadiah bertemu sang idola baik di Indonesia maupun di Korea.
35. Semakin memburu alat-alat kosmetik agar kulit tubuh maupun wajah lebih “cingklong” seperti sang idola.
36. Terkadang keinginan bertemu dengan mereka terbawa sampai alam mimpi.
37. Lebih senang mendengar lagu korea.
38. Mengoleksi film-film korea? Tentu saja.
39. Lebih sering ikut fitnes biar badan lebih kekar dan tinggi.
40. Handphone di-setting menggunakan bahasa korea.

41. Begitu pula nada dering atau nada tunggu, menggunakan lagu korea.
42. Melakukan diet agar tampil langsing seperti artis idola.
43. Majelis gosip? Kapan sih wanita tak pernah bergosip ria. “eh, di film yang kemarin dia gagah lho, tapi kok di film ini kurang macoo y?”
44. Hati tak sabar menanti episode demi episode.
45. Hati tak tenang menunggu serial terbaru dirilis.
46. Memantau jadwal tayang di bioskop.
47. Tertarik untuk melakoni pacaran.
48. Memanggil nama pacar dengan nama sang aktor.
49. Menghayal tingkat tinggi karena tersihir senyuman manis sang aktor. Mereka menghayalkan sang artis mendatangi mereka lalu mengecup keningnya.
50. Menghayal menjadi artis/aktor dan ikut bermain peran film bersama sang idola. Bahkan karena melihat cantik sang artis, mereka menghayal melepaskan jilbabnya agar kecantikan diekspos.

Ini menandakan parahnya kualitas cinta. Slogan mencintai Allah dan Rasul-Nya tetap ada namun mulai terkikis dan lenyap oleh deretan nama-nama sang aktor. Inilah bius-bius cinta yang menyihir. Secara perlahan atau cepat akan mengikis kualitas iman apalagi pada saat yang sama banyak kewajiab syar’i terbengkalai dan menumpuknya pelanggaran etika syar’i.


>>Engkau yang Begitu Kucintai

‘Umar bin Al-Khaththab, begitu besar cintanya untuk sang Nabi. Suatu ketika, ia beranikan diri katakan cinta kepada beliau. Ungkapannya terekam apik dalam Shahih Al-Bukhari:

يا رسول الله لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي

“Wahai Rasulullah, demi Allah, setelah diriku sendiri, engkau benar-benar orang yang paling kucintai dari segalanya.”

Dengarlah dendang cinta ‘Umar. Dia bersumpah. Dia bersumpah. Dia bersumpah dengan nama Allah bahwa Rasulullah adalah pihak kedua yang paling ia cintai setelah ia mencintai dirinya sendiri. ‘Umar memposisikan Rasululllah pada urutan cinta nomor dua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menukas:

لا يا عمر حتى أكون أحب إليك من نفسك

“Tidak, wahai ‘Umar, mestinya akulah yang paling engkau cintai melebihi cintamu kepada diri sendiri.”


Segeralah ‘Umar menata kembali urutan cintanya. ‘Umar bertutur:

والذي بعثك بالحق لأنت أحب إلي من نفسي.
“Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Kini, engkaulah yang paling aku cintai melebihi kecintaanku pada diriku sendiri.” 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun membenarkannya dengan berkata:

الآن يا عمر

“Sekarang, benarlah engkau wahai ‘Umar.”[1]


Allahu Akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Inilah gemuruh cinta ‘Umar di samudera hatinya. Ia dendangkan cinta yang jujur nan berkekuatan. Cinta ini begitu tulus. Cinta ini begitu lembut. Sejuk hati mendengarnya. Sejuk hati mengutarakannya. ‘Umar, dalam waktu sekejap, mampu memindahkan sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi orang yang paling ia cinta.

‘Umar tak butuh waktu lama. Ia tak butuhkan proses berpikir untuk menimbang dan mengambil keputusan. Ia mampu menggeser dan mengenyampingkan kecintaan terhadap diri sendiri di bawah kecintaan tulusnya untuk sang Nabi. Sekali lagi, begitu berkekuatannya cinta yang berkelas ini.

Apakah para muslimah mampu mengubah kekagumannya dan menjadikan sang Nabi sebagai idola/panutan pada rank teratas lalu mengubur kekaguman terhadap wajah-wajah lelaki tampan itu??


>>Aqidah Cinta yang Salah Arah


Ada sebuah cinta yang tak banyak diketahui oleh muslimah umumnya saat ini yaitu kecintaan kepada Sahabat Nabi.  Para Sahabat Nabi diberikan keistimewaan oleh Allah berupa ilmu dan keyakinan yang benar. Mereka adalah manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada setelahnya. Para Sahabat Nabi adalah orang-orang pilihan pada generasi pilihan pula. Mereka adalah umat yang dimuliakan oleh Allah.

Allah berfirman tentang kaum Muhajirin dan Anshar beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Manusia terbaik adalah pada masaku ini kemudian (ada) pada masa setelahnya (masa tabi’in) dan kemudian (ada) pada masa setelahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”[2]

Tak hanya memberikan pujian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan kecaman kepada siapapun yang mencaci para Sahabat. Beliau bertutur:

لا تسبوا أصحابي فوالذي نفسي بيده فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ، ولا نصيفه.

“Janganlah kalian membenci sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka ini tak akan mampu mencapai nilai infaq yang mereka keluarkan walau satu Mudd [sepenuh dua telapak tangan] dan tak juga mencapai separuhnya.”[3]


Inilah salah satu aqidah yang harus dipegang teguh dan dilakoni. Ahlussunnah waljama’ah menetapkan bahwa wajib mencintai sahabat Nabi.

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili mengungkapkan:

“Diantara pokok Ahlussunnah wal jama’ah adalah adalah mencintai Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ridha dan berloyalitas kepada mereka, mendoakan dan meminta ampun untuk mereka, meyakini keutamaan mereka melebihi umat lain, berlepas diri dari pihak yang menghujat dan mencaci sahabat baik (sekte) Rafidhah maupun Nawaashib.”[4] 


Kecintaan terhadap Sahabat Nabi terkomposisi dalam dua hal[5]:
  1. Kecintaan terhadap mereka sebagai seorang muslim/mukmin secara umum.
  2. Kecintaan terhadap mereka sebagai sosok-sosok yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Cinta pada poin ke-dua ini disarikan dari nash-nash Al-Qur’an dan Hadits beserta penjelasan para ulama seperti kutipan nash-nash di atas.
Poin ke-dua inilah yang merupakan salah satu pokok penting dalam Islam dan dibahas oleh para ulama dalam kitab-kitab aqidah maupun manhaj. Inilah salah satu cinta yang benar dan terarah nan berbuah pahala. Inilah salah satu rel-rel cinta yang mesti dilalui karena ia ‘kan berujung bahagia.


>>Saling Mewarisi Cinta

Dahulu, para salaf saling mewarisi kecintaan. Mereka ajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakr dan Umar, sebagaimana mereka mengajarkan al-Qur’an kepada sang buah hati. Imam malik bertutur:

كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر و عمر كما يعلمون السورة من القرآن

“Dahulu para salaf mengajarkan anak-anak mereka mencintai Abu Bakr dan Umar sebagaimana mengajarkan surat dalam Al-Qur-an.”[6]

Inilah mereka mewarisi aqidah cinta untuk anak-anak mereka sehingga kelak mereka tumbuh dalam naungan cinta teruntuk para Sahabat Nabi.

Apakah aqidah cinta ini telah diarahkan dengan benar oleh para muslimah? Atau terarahkan dengan sempurna menuju wajah-wajah lelaki cantik itu?
Apakah para muslimah saling mewarisi aqidah cinta ini ataukah mereka saling mewarisi gossip tentang aktor idola?

Apakah cinta mereka kepada sang artis/aktor akan membuahkan keimanan? Akankah ia mendatangkan pahala?

Akankah cinta ini mampu melabuhkan mereka berada di taman-taman surga? Jika tidak maka mereka telah berkubang dan terbius cinta semu: cinta yang menjadikan pemiliknya menghayal dan membuahkan maksiat.


>>Kebersamaan Cinta


Cinta mengharuskan raga bersama orang-orang yang dicintai. Begitu gersang rasanya hati jika yang dicinta berada jauh dari pandangan mata.

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya kepada beliau:

يا رسول الله كيف تقول في رجل أحب قوما ولم يلحق بهم

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang seorang pemuda yang mencintai suatu kaum namun mereka tak bertemu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

المرء مع من أحب

“Seseorang akan bersama orang yang cintai.”[7]


Bisa jadi dan sangat mungkin mereka tak akan mengakui bahwa mereka tak mencintai sang aktor namun indikasi-indikasi cinta ini ada dan terlihat nyata. Kelak, kecintaan kepada sang aktor korea dan aktor-aktor lainnya akan menjadikan mereka, sang pecinta, bersama pihak-pihak yang mereka cintai yaitu pihak-pihak yang menjadi muara persembahan cinta.

Sebaliknya, mereka yang membuktikan cinta tulusnya kepada sang Nabi beserta Sahabatnya, kelak akan berbahagia. Mereka akan menikmati pada episode kehidupannya selanjutnya di Surga. Insya Allah.


Para Wanita, Artis Korea dan Dajjal

Para artis korea telah mampu membius muslimah. Mereka, para artis korea itu, memiliki kelebihan-kelebihan yang sifatnya manusiawi. Artinya, ketampanan, wajah yang imut, suara yang merdu, dan tetek bengek lainnya sangat mungkin dan bahkan dimiliki pula oleh orang lain di lain tempat dan waktu. Walaupun demikian, wanita-wanita muslimah telah terpesona, terpukau dan tersihir.

Lantas, hubungannya dengan Dajjal?

Dajjal adalah fitnah (ujian) yang paling besar semenjak Allah ‘azza wajalla menurunkan nabi Adam ‘alaihissalam hingga menjelang hari kiamat. Dajjal memiliki kelebihan di luar batas kemampuan manusia.

Atas izin Allah, Dajjal mampu memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu menumbuhkan tetanaman yang segera menghijaukan bumi pertiwi. Pada saat yang sama pula, dia mampu menjadikan musim semi itu menjadi musim kemarau yang tiada berhujan karena memang dia juga mampu menahan hujan hingga tetumbuhan dan hewan-hewan akan mati di masa-masa kedatangannya di akhir zaman.

Dajjal mampu menghidupkan manusia yang ada di kuburan maupun orang-orang yang dibunuhnya. Dia mampu mengeluarkan kekayaan dari perut bumi yang membuat manusia terpukau dan terpesona. Lebih dari itu, ia membawa dua sungai di tangannya, sungai bermata air jenih dan sungai api. Ia mampu terbang dengan kecapatan yang luar biasa untuk mengelilingi dan menyinggahi seluruh pelosok bumi kecuali Mekkah dan Madinah yang dijaga para malaikat.

Dengan kelebihan itulah manusia terhipnotis, tersihir, terpukau sehingga menjadi pengikut Dajjal, terlebih dari kalangan para wanita. Iya, para wanita, adik-adik, kakak-kakak, istri-istri kaum muslimin kecuali mereka yang dirahmati Allah.

“Kebanyakan pengikut Dajjal,” tutur Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl dalam kitabnya Asyratus Sa'ah, “adalah orang-orang Yahudi, orang Ajam (non arab), orang Turki, dan banyak lagi manusia dari berbagai bangsa dan golongan yang kebanyakan dari orang-orang Arab dusun dan kaum wanita.”

Ucapan di atas bukanlah omong kosong belaka karena memang didasarkan sebuah hadits Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dajjal akan turun di lembah air Murqonah' ini, maka orang yang datang kepadanya kebanyakan kaum wanita, sehingga seseorang akan pergi menemui sahabat karibnya, ibunya, anak perempuanya, saudara perempuannya, dan kepada bibinya untuk meneguhkan hatinya karena khawatir mereka akan pergi menemui Dajjal."
(Musnad Ahmad VII: 190 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, "Isnadnya shahih.”)

Kembali mencermati hadits dan ucapan diatas, kami melihat kesamaan antara artis korea dan Dajjal yang walaupun perbedaannya begitu mencolok. Kedua-duanya memiliki satu titik kemiripan: sama-sama mampu merebut hati para wanita.

Menutup catatan ini, ada sebuah pertanyaan besar yang harus menjadi cambuk hati bagi wanita-wanita muslimah.  

“Dengan bekal apa mereka menghadapi dahsyatnya fitnah Dajjal sementara di zaman ini mereka telah terbius dengan fitnah artis-artis korea?”


***

Abdullah Akiera Van As-Samawiey

Lantai 3 Masjid 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Mataram, Rabu 01 Dzulhijjah 1433 /17 Oktober 2012 M


Senarai Inspirasi:
  1. Kitab Al-Jawaab al-Kaafiy Liman Sa-ala ‘anid Dawa-i asy-Syaafi oleh Imam Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, diterbitkan oleh Markaz al-‘Urwah al-Watsq Lilbahts al-‘Ilm.
  2. kitab Mahdhu Al-Ishabah fiy Tahriiri ‘Aqiidati Ahli As-Sunnah wa Mukhalifiihim fiy Ash-shahaabati karya syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili  hafidzahullah, terbitan Dar Al-Imam Ahmad, Al-Qaahirah. 
  3. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  4. Buku Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah oleh Ustadz Yazid bin abdul Qadir Jawas, terbitan Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, cetakan ke-7.
  5. Artikel kami yang berjudul "Pencuri Hati Bidadari Bumi"


End Notes:

[1] HR al-Bukhari no. 6632
[2] Muttafaq ‘alaihi
[3] Hadits riwayat al-Bukhari (3673), Muslim (2541), dan yang lainnya.
[4] Dikutip dari kitab Mahdhu Al-Ishabah fiy Tahriiri ‘Aqiidati Ahli As-Sunnah wa Mukhalifiihim fiy Ash-shahaabati karya Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili  hafidzahullah, terbitan Dar Al-Imam Ahmad, Al-Qaahirah, hal 13.
[5] Ibid,
[6] Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Juz 7 hal. 1240.
[7] HR al-Bukhari no. 6169

semoga bermanfaat

source 

Sahabat


Harapan Doa Dari Para Sahabat yang Kan Kutinggalkan…

Disampaikan oleh : أُسْتَاذُ Firanda Andirja, MA

سَوْفَ يَمضِي بِنَا مَركبٌ لِلْوَداع
يَسْتَحِثُّ الخُطى والدُّموع الشِّراع
عَالَمٌ لم يــزلْ يَسْتَلِذُّ الْمَتَاع
أنْتُمُ إخْـوَتِي خَيْرُ هَذَا الْمَتَاع

Kita akan diangkut oleh ‘kendaraan perpisahan’ (baca: keranda kematian)

Yang harus diusung dg langkah kaki dan derasnya air mata kesedihan…
(Meski) dunia terus mengajak untuk menikmati keindahannya
Maka kalianlah sahabat-sahabatku, sebaik-baik keindahannya

آهٍـ يَا إخْوَتِي بُـعدُكم لا يُراد
كيف أنسى أخي كيف يحلو الرقاد

Aaahhh….Sahabat-sahabatku… Jauhnya kalian tidaklah aku harapkan

Bagaimana kan kulupakan sahabatku, bagaimana pula tidur indah kan kunikmati

دمْعُ عَيْنِي جرَى واستطَالَ السَّوَاد
يا إلَهَ الوَرَى اُلْطُفَنْ بِالعِـبَاد

Linangan air mataku terus mengalir (karenanya), hingga hitamnya garis mata tampak memanjang

Ya Tuhan alam semesta, berilah seluruh hamba-Mu lembutnya kasih sayang

دُنْيَانَا يَالَهَا تَجْرِي مَجْرَى السَّحَاب
وَهْيَ تَسْعَى بِنَا نَحْوَ يَوْمِ الْحِسَاب

Lihatlah dunia kita, ia lari seperti larinya awan

Menyeret kita menuju hari perhitungan

إِخْوَتِي رَدِّدُوا صَوْتَكُم مُسْتَطَاب
لَسْنَا نَرْجُو سِوَى دَعْوَةً لِلصِّحَاب

Sahabat-sahabatku, teruslah dg suara kalian yg baik (dan penuh berkat)

Kami tidak mengharapkan, melainkan doa (kebaikan) untuk para sahabat kalian

إخوتي عاهِدوا اللهَ فوق السَّمَاء
أن يكونَ لنا في القريبِ لِقاء

Sahabat-sahabatku… berjanjilah kepada Allah yg berada di atas langit
Bahwa kita akan berjumpa dalam waktu dekat

إخوتي عاهِدوا اللهَ فوقَ السماء
أن يَرى كَفَّكم ضارِعًا بالدُّعاء

Sahabat-sahabatku… berjanjilah kepada Allah yg ada di atas langit sana

Untuk melihat tangan kalian, merendah untuk mendoakan kami

Renungan:

Kurenungi bait-baitnya dengan mendalam… ia seakan barisan ombak yg terus berdatangan dalam pendengaran… beribu angan menghampiri pikiranku… dan perasaan halus terus mengusik jiwaku…

♥

Kutanya diriku:

benarkah ‘kendaraan perpisahan’ itu benar-benar akan menghampiriku?!

Akankah kutulis wasiat terakhir, kepada setiap orang yg kucintai, sebelum kepergianku?!


Lalu apakah isi wasiat terakhirku itu? Yang harus cepat ku tulis sebelum kutinggalkan duniaku?
Ibuku… bapakku… saudara-saudaraku… saudari-saudariku… rumahku… istriku…
sahabat-sahabat… teman-teman… rekan-rekan kerja… kenalan-kenalan… kantor… computer… internet?

Jalanan… masjid… anak-anak kecil di jalanan dan desa… detik-detik bahagia… masa-masa sedih, sakit, dan perjuangan…

Akankah kutinggalkan dunia ini, yg terus mengajakku menikmati keindahannya…
beserta semua saudara dan orang-orang tercinta yg hidup di dalamnya

Siapakah yg akan kuberi kata perpisahan ?
Siapa pula yg akan kulupakan dari sapaan salam?…
Bahkan, punyakah aku waktu yg cukup untuk menyampaikan salamku kepada semua orang yg kucinta?

Siapakah dari mereka yg sudi memaafkanku?… Siapa pula yg merasa kehilangan diriku?… Bahkan siapakah yg aku malah lebih kehilangan dia?

Canda-tawa manakah yg akan teringat dibenakku?…
Dan wajah manakah yg akan mempengaruhi raut wajahku?…

Berapakah lautan yg mencukupi mataku untuk mengucurkan tangisnya?

Bagaimana diriku akan sabar dan tahan setelah ini semua?…

Ya Tuhanku… betapa rapuhnya hati kami sebagai manusia, ketika pribadi-pribadi ini pergi bersama ruh yg bersih nan suci…

Betapa kerasnya jeritan hati, untuk orang yg dilahap oleh waktu di hadapanku, atau aku yg dilahap waktu di hadapannya…

Di masa sedih itu, betapa tingginya jeritan ‘aaaah’ di tenggorokanku yg ku sertakan bersama ruh-ruh kalian yg mulia

Maka terimalah suratku ini, yg berisi permohonan maafku, sebelum datang waktu itu…
Saat jiwa lelahku, berada diantara tubuh yg tidak kuat lagi pergi menghampirimu…

Apapun kesalahan kalian terhadapku, maka sungguh aku mempersaksikan kepada Allah, bahwa aku telah merelakan dan memaafkannya… bahkan aku telah melupakannya… dan seakan tidak pernah ada… MAKA MAAFKANLAH SALAH-SALAHKU!

Jika nantinya tanah telah menutupi jasadku… Dan alam lain telah melingkupiku… Maka ingatlah… Ingatlah, bahwa suatu hari, aku telah mengirimkan surat terakhirku ini…

Dan janganlah lupa mendoakanku dengan doa yg baik di saat ku telah tiada

Aku benar-benar yakin, bahwa jeritan hatiku untuk sahabat-sahabat dan orang-orang tercintaku ini, nantinya juga akan menghampiri jiwa-jiwa kalian yg mulia…

Dan kalian akan mengirimkannya kepada setiap orang yg kalian cintai…

Kepada setiap orang yg kalian hargai…
Kepada setiap orang yg kalian hormati

Harapan-tertinggiku…
Apabila sampai suratku ini…
Balaslah surat ini dengan empat kata :

"AKU TELAH MEMAAFKANMU SAHABATKU…"

(Ust. Musyaffa' MA hafidzohulloh)

---- END ----

Sabar Membawa Keberhasilan

(
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Sabar adalah akhlak yang sangat mulia. Ia menjadi hiasan para nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.

“Bersabarlah!”

Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam di dalam Al Qur`an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah. Tentu jika Anda menyambut seruan tersebut niscaya Anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, keberhasilan di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Al-Ahqaf: 35)

Sabarnya Ulul ‘Azmi

Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?

1.    Nabi Nuh alaihissalam sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah Anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba Anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:
“Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh berupa setan baik dari kalangan manusia maupun jin.” (Al-An’am: 112)

Yang pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat: anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat.

Allah mengatakan tentang beliau, yang artinya :

“Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” (Al-Isra`: 3)

2.    Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga merupakan salah satu ulul ‘azmi. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim. Bagaimanakah perasaan Anda jika Anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak Anda? Bapaknya yang Allah jadikan sebagai penghadang dakwah beliau, berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim alaihissalam ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apa yang bisa mereka perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.

Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya. Bisakah Anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.

3 & 4.   Nabi Musa alaihissalam dan ‘Isa alaihissalam adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Isra`il dan sekaligus sebagai ulul ‘azmi. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya? Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.

5.    Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah menjadikan keluarganya yang dekat sebagai penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.

Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang Anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri teladan Anda dalam kesabaran sehingga Anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam tafsir beliau: “Adapun orang yang Allah telah berikan taufiq untuk bersabar ketika ditimpa ujian, sehingga dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah, dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”

Macam-macam Sabar dan Keutamaannya

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/156) berkata: “Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dan sabar dalam menghadapi ujian.”

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsir beliau menukilkan ucapan Sahl bin Abdillah At-Tasturi:

“Sabar ada dua macam yaitu sabar dari bermaksiat kepada Allah maka ini adalah seorang mujahid; dan sabar dalam ketaatan kepada Allah ini yang dinamakan ahli ibadah.”

Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/155) mengatakan: “Sabar dalam keimanan bagaikan kepala pada jasad; dan tidak ada keimanan tanpa sabar sebagaimana jasad tidak akan berfungsi tanpa kepala.”

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata: “Kami menjumpai kebaikan hidup ada bersama kesabaran.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kepemimpinan dalam agama akan didapati dengan yakin dan sabar.”

Allah  berfirman, yang artinya :

“Dan Kami jadikan dari mereka sebagai pemimpin yang berjalan di atas perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada satupun pemberian kepada seseorang yang lebih baik daripada sabar.” (Shahih, HR. Muslim).

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda pula:  “Sabar adalah cahaya.” (Shahih, HR. Muslim)

Allah  berfirman, yang artinya :

“Dan Kami benar-benar akan membalas mereka yang bersabar dengan balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka telah lakukan.” (An-Nahl: 96)

Wallahu a’lam.

•• Jangan Kau Bercerita tentang Wanita Lain ••


by Al-Ukhti Ratia Hilaliyah  -Hafizhahullah-

Beberapa istri yang memiliki hati dan niat baik ketika melihat seorang wanita muslimah berkepribadian jelita dan memiliki perangai yang baik tak ragu untuk menceritakan tentang sifat-sifat wanita itu di depan suaminya.

Ia pun memuji-muji wanita itu di depan sang suami.
Ia tak segan-segan menyebut namanya dan memberikan pujian untuk wanita tersebut setelah ia menjumpainya.
Istri ini mungkin tidak tahu jika hati terkadang lebih dulu jatuh cinta daripada dua mata sekalipun hanya melalui apa yang telah didengarkan saja.

Ketika sepasang suami istri ini hidup dalam keharmonisan, mungkin tidak akan jadi masalah.
Tapi tiba-tiba kehidupan bisa saja menjadi keruh di antara keduanya.
Sang istri pun tidak tahu apa penyebabnya.
 

Kemudian setan masuk untuk menyempurnakan kehancuran rumah tangga ini.
Setan telah menemukan celah untuk memusnahkan rumah tangga tersebut.
Setan mulai masuk mempengaruhi suami dengan menyibukkannya untuk mencari jalan agar bisa melihat wanita yang dulu selalu diceritakan oleh istrinya.

Ia lalu mencari berita tentang wanita tersebut, mencari tahu keadaannya, apakah wanita itu sudah menikah atau belum, mencari alamat rumahnya, bertanya tentang berapa umurnya, dan hal-hal yang lain.

Bahkan terkadang saat sang suami sedang berada di tengah keluarga, setan membisikkan wanita itu ke telinganya.
Suami pun kemudian berkhayal jika wanita itu sedang berada di depannya.

Hal ini membuat ia mulai membenci sang istri dan mencari alasan untuk menyakitinya.
Suami itu juga berusaha untuk membeberkan sifat buruk istrinya di depan orang lain.
Ini semua ia lakukan untuk membenarkan diri dan memberikan legitimasi agar bisa menempuh jalan setan yang telah direncanakannya.

Oleh karena itu syariat Islam melarang seorang istri untuk menceriakan tentang wanita muslimah lain di hadapan sang suami.

Atau mungkin saja kisah seperti ini akan mengacaukan kehidupan rumah tangga hingga menjadi kehidupan yang menyakitkan karena pasangan suami istri ini memiliki anak-anak dan keluarga besar.

Suami tidak berani untuk menjalin hubungan dengan wanita yang dulu selalu diceritakan istrinya dengan alasan materi, pribadi, atau karena alasan sosial.
Tapi ini semua justru akan melahirkan masalah-masalah baru yang akan membinasakan rumah tangga dan menelantarkan anak-anak mereka.

Lalu suami pun mulai berani untuk menempuh hal-hal yang diharamkan seperti merokok dan yang lainnya.

Setan pun kemudian menggiring sang suami untuk meneguk minuman keras, dan menempuh jalan hina serta penuh tipu daya.
Rumah tangga akan tersingkirkan dan kemudian meninggalkan pendidikan anak-anak.

Sungguh benar apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :




لا تباشر المرأة المرأة ، فتنعتها لزوجها كأنه ينظر إليها

“Janganlah seorang istri menceritakan seorang perempuan lain lalu menyifati (kecantikan) wanita itu kepada suaminya seakan-akan ia (suami) melihatnya.”
(HR. Bukhari 5240, dari hadits Abdullah bin Mas’ud)




***

Sumber : Artikel muslimah.or.id

source

Penetapan Awal Dzulhijjah 1433 H.

Bismillaah,

Info Penting:

Penetapan Awal Dzulhijjah 1433 H.

Kementerian Agama (Kemeneg) RI menetapkan awal Dzulhijjah 1433 H, jatuh pada hari Rabu, 17 Oktober 2012 M. Artinya, Hari Raya Idul Adha, jatuh pada hari Jum'at, 26 Oktober 2012 M mendatang.

Penetapan awal Dzulhijjah itu diambil berdasarkan Sidang Isbat, yg menyatakan berdasarkan hasil hisab rukyat di 31 propinsi, ketinggihan hilal mas
ih di bawah ufuk, sehingga di berbagai daerah tak terlihat bulan.

Demikian juga Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Islam Arab Saudi telah mengumumkan bahwa hari Selasa, 16 Oktober 2012 M merupakan penyempurna (hari ke 30) bulan Dzulqa'dah 1433 H, dan hari Rabu, 17 Oktober 2012 M merupakan hari pertama (tanggal 1) bulan Dzulhijjah 1433 H.

Sebagaimana Kementerian tersebut juga mengumumkan bahwa Wukuf di Arafah jatuh pada hari Kamis, 25 Oktober 2012 M . Dengan demikian hari Jum'at, 26 Oktober 2012 M merupakan hari Raya Idul Adha al-Mubarak.

Demikian informasi yang dapat kami himpun dari sumber-sumber yang tersebut di bawah.

Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait:

1. Amalan-amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah: www.alsofwa.com/20956/10-hari-pertama-di-bulan-dzulhijjah.html

2. Tuntunan Qurban: www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=698

3. Puasa Hari Arafah Berdasarkan Rukyah Hilal Setiap Negara: www.alsofwa.com/21027/penentuan-hari-dan-shiyam-puasa-arafah.html

4. Bila Hari Raya Bertepatan Dengan Hari Jum'at: www.alsofwah.or.id/?pilih=indexanalisa&id=632&section=an59

[Sumber: www.alsofwa.com; www.alsofwah.or.id; www.republika.co.id; www.forsanhaq; www.ahlalhdeeth.com:www.muslm.net dll]
 
[WARNING] !!!

Dдяi ust. Irfan Helmi, (MUI)

Broadcast berikut ini HOAX !!!

السعودية تعلن ان غدا الثلاثاء 16/10 أول ايام ذي الحجة وان وقوف عرفه يوم الاربعاء 24/10 عيد الآضحي المبارك يوم الخميس ..كــــــل عــــــام وأنتـــــــم بخـــــــير

Pemerintah Saudi arabia telah mengumumkan bahwa tanggal 1 Dzul Hijjah jatuh pada Hari selasa 16/10/2012 (hari ini) dan wuquf di arafah jatuh pada hari Rabu Tanggal 24/10/2012 dan Idul Adha Jatuh pada hari Kamis 25/10/2012.

Waspadalah !!! Waspadalah !!!

._.

Larangan memotong kuku dan rambut di awal Dzulhijjah bg shohibul qurban

(berlaku sejak 1 Dzulhijjah)

bismillaah,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR Muslim)

Kata Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa di Saudi Arabia):
"Hadis ini khusus bagi orang yang ingin berqurban. Adapun anggota keluarga yang diikutkan dalam pahala qurban, baik sudah dewasa atau belum, maka mereka tidak terlarang memotong bulu, rambut dan kuku. Meraka (selain yang berniat qurban) dihukumi sebagaimana hukum asal yaitu boleh memotong rambut dan kulit dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang memalingkan dari hukum asal ini."

Selengkapnya di Rumaysho.com:

http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2790-larangan-mencukur-rambut-dan-memotong-kuku-bagi-yang-ingin-berqurban.html.

Bagi yang ingin mengetahui hasil pengumpulan Qurban pesantren Darush Sholihin, di akhir terkumpul 121 kambing dan 3 sapi, laporannya:
http://rumaysho.com/pusat-informasi/sosial/4069-penyaluran-qurban-untuk-desa-miskin-gunungkidul.html

Maaf untuk donasi qurban di sini sudah tutup.

al Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal -hafizhahullah-
Semoga Allah mengampuni dosanya, orang tuanya, istrinya dan keluarganya. Aamiin.

Riyadh, 01/12/1433 H

***

10 hari pertama dzulhijjah


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ مِنْ هَذِ هِ اْلأَيَّامِ –يَعْنِي أَيَّامُ الْعَشْرِ- قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ لَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ : وَ لَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ, إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda,

“Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih pada hari itu lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla daripada hari-hari ini, -yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah-.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak pula jihad fi sabilillah?” Beliau bersabda, “Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada yang kembali sedikit pun.”

ولَفْظُهُ فِي إِحْدَى رِوَايَاتِهِ فَقَالَ: مَا عَمَلٌ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الأَضْحَى

Lafal Ibnu ‘Abbas dalam salah satu riwayatnya, maka beliau bersabda, “Tidak ada amal yang lebih suci dan lebih agung pahalanya di sisi Allah, selain kebaikan yang ia kerjakan pada sepuluh awal Dzulhijjah.”
Shahih, diriwayatkan Al-Bukhari (969) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3752).

Syaikh Utsaimin berkata : "10 hari pertama dzulhijjah lebih afdhol daripada 10 malam terakhir bulan romadhan. Hendaknya para penuntut ilmu mengingatkan masyarakat akan keutamaan ini, karena kebanyakan kaum muslimin lalai akan hal ini".

saudaraku... jika kita semangat beribadah tatkala 10 terakhir di bulan ramadan maka hendaknya kita juga bersemangat dengan berbagai ibadah pada 10 hari dzul hijjah, baik puasa, sholat malam, sedekah, baca qur'an, berbakti kepada orang tua, dzikir dll.

terutama amalan qurban... karena ia merupakan bentuk ibadah mengalirkan darah

http://www.abu-riyadl.blogspot.com/2012/10/informasi-kurban-di-boyolali.html?m=1

- Ilmu Akhirat -





Bismiilaah,

Fudhail bin Iyadh rahimahullah bkata: Sesungguhnya keinginan seseorang hamba kpd Allah, trgantung kadar ilmunya ttg Allah dan sesungguhnya zuhudnya manusia kpd dunia, sekadar keinginannya kpd akhirat.(Hilyatul Aulia 3/391)

Ada sebuah hadits yang perlu kita renungi bersama, karena hal ini menyangkut nama baik kita di mata ALLAH ta'ala.

Nabi bersabda : "Sesungguhnya ALLAH ta'ala membenci setiap orang yang menguasai ilmu dunia namun bodoh tentang ilmu akhirat." [Dishahihkan Syeikh Albani dalam. Shahih Jami' Shagir]

Apalah artinya pendidikan tinggi atau prestasi akademis yang kita raih serta gelar yang melekat di belakang nama kita jika kita hanya menjadi makhluk yang dibenci oleh ALLAH ta'ala.

Coba kita renungkan: berapa tahun waktu yang kita habiskan untuk mempelajari ilmu dunia? Lalu kita bandingkan berapa hari dalam satu tahun kita langkahkan
kaki kita ke sebuah majelis ilmu?!

Marilah kita luangkan waktu untuk mengkaji firman ALLAH ta'ala dan
hadits-hadits Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, kita berusaha menguasai ilmu agama sebagaimana selama ini selama belasan tahun kita pelajari ilmu dunia.

Ingatlah, pintar dalam ilmu dunia dan kosong dari ilmu akhirat adalah sifat dasar orang-orang kafir yang telah dicela oleh ALLAH dalam QS. Ar Rum ayat 7:

"Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai."

Na'uudzubillahi min dzaalik

Semoga bermanfaat.

[Ust. Muhammad Nuzul Dzikriy Lc, Al Ilmu, Radio Rodja]

ALANGKAH NGERINYA NERAKA JAHANAM






Bismilllaah,

Surga dan neraka merupakan tempat yang sesungguhnya, setelah Allaah subhanahu wa Ta'ala memerintahkan malaikat Isrofil untuk meniupkan sangkakalannya maka dunia pun akan hancur dan terjadilah kiamat besar. Setelah itu manusia akan dikumpulkan di padang mashyar. Mereka akan dihisab dan dimintai pertanggung jawabannya selama hidup di dunia.

Jika amalan mereka lebih banyak amalan kebaikannya, surgalah tempat mereka. Sebaliknya jika amalan buruknya lebih tinggi , neraka jahanamlah tempat mereka. Setiap manusia tentulah ingin memasuki surga, maka selagi kita masih diberikan kesempatan dalam hidup maka berlomba-lombalah dalam kehidupan ini.

KEADAAN DI NERAKA JAHANAM

Neraka jahanam adalah tempat untuk manusia yang lalai dalam menjalankan perintah-Nya. Keadaan di neraka ini jauh dari kenyamanan, yang ada adalah sebuah tempat penyiksaan dan balasan terhadap orang-orang yang tidak beriman.

Keadaan neraka itu sangatlah hitam gelap tak satupun cahaya disana. Hanyalah api yang siap memangsa setiap penghuni neraka.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Akan didatangkan pada hari kiamat itu neraka Jahannam, dan neraka itu mempunya 70.000 kendali, dan pada setiap kendali itu ditarik oleh 70.00 malaikat. "

Allaah subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat QS. At Tahrim : 6, yang artinya :

"Sedang penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras." "Setiap malaikat apa yang ada di tiap pundaknya adalah jarah perjalanan setahun, dan setiap satu dari mereka itu mempunyai kekuatan yang mana kalau mereka memukul gunung dengan pemukul yang ada padanya, maka niscaya akan hancur lebur gunung tersebut. Dan denga sekali pkulan saja ia akan membenamkan 70.000 ke dalam neraka Jahannam.

PINTU-PINTU NERAKA JAHANNAM

Bahwasanya di neraka jahannam terdapat 7 pintu tempat masuknya para penghuni neraka. Pintu-pintu itu dibuat berdasarkan tingkat dosa yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Dan nama-nama ke 7 pintu itu adalah sebagai berikut :

1. Hawiyah

Pintu yang paling pertama atau sering disebut sebagai lapisan yang paling bawah neraka jahannam bernama pintu hawiyah. Di dalamnya ditempai oleh orang-orang munafik dan orang-orang kafir.

Neraka jahannam ini ditujukan kepada orang-orang yang ringan amalannya, yaitu orang-orang yang selama hidupnya di dunia melakukan kebaikan dan juga keburukan. Setiap orang muslim( laki-laki dan perempuan ), yang kehidupannya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, misalnya wanita muslim yang tidak berjilbab, lelaki muslim yang sering memakai emas, memperoleh rezeki yang tidak halal, memakan riba dan lain-lain. Neraka Jahannam Hawiyah adalah tempat mereka tinggal.

2. Jahim.

Neraka jahannam ini adalah tempat penyiksaan orang-orang musyrik, atau orang-orang yang telah menyekutukan Allaah. Orang-orang musyrik ini akan disiksa oleh sesembahan mereka sendiri. Syirik dalam ajaran Islam merupakan salah satu dosa yang sangat besar menurut Allaah.

Perbuatan syirik berarti mempercayai bahwa ada mahluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat Allaah. Bisa juga diartikan bahwa menganggap ada Tuhan selain Allaah. Neraka jahannam Jahim-lah tempat orang-orang ini.

3. Saqar.

Neraka jahannam ini diperuntukan bagi orang-orang munafik. Yaitu orang-orang yang mendustakan perintah Allaah dan Rasul-Nya. Orang-orang ini mengetahui bahwa Allaah telah menentukan hukum Islam melalui perkataan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi mereka malah meremehkan syari'at Islam. Neraka jahannam Saqar adalah tempat mereka.

4. Lazhaa.

Neraka jahannam ini diperuntukan bagi orang-orang yang senang mengumpulkan harta, serakah, dan menghinakan orang-orang miskin. Neraka jahannam Lazhaa juga disedikan untuk orang yang serakah tidak mau mengeluarkan zakat dan orang yang bermuka masam saat ada seorang miskin meminta pertolongan.

5. Huthamah.

Neraka jahannam ini diperuntukan bagi orang-orang yang suka mengumpulkan harta berupa EMAS, PERAK atau PLATINA. Neraka jahannam Huthamah juga disediakan untuk orang yang serakah tidak mau mengeluarkan zakat harta serta menghina orang miskin. Di neraka jahannam inilah harta yang dikumpulkan mereka akan dibawa dan dibakar untuk diminum oleh para pengumpul harta.

6. Sa'iir

Neraka jahannam ini dipenuhi oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang memakan harta anak YATIM. Neraka jahannam Sa'iir inilah tempat untuk mereka.

7. Wail

Neraka jahannam Wail diperuntukan bagi para pengusaha dan pedagang yang licik mengurangi berat timbangan, mencalokan barang dagangan untuk memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Di neraka jahannam ini barang dagangan mereka akan dibakar, lalu akan dimasukan ke dalam perut mereka. Inilah azab dari dosa-dosa yang mereka perbuat.

KEADAAN PARA PENGHUNI NERAKA JAHANNAM

1. Mereka tidak hidup dan tidak mati.

Artinya para penghuni neraka jahannam waktunya tidak lepas dari penderitaan dan siksaan. Mereka tidak pernah merasakan hidup secara wajar. Setelah penyiksaan itu hilang dan mereka kembali seperti semula, dalam beberapa saat kemudian mereka akan kembali disiksa.

2. Dipukul dengan palu besi.

Saat pertama kali dimasukan ke dalam neraka jahannam, mereka akan disambut oleh para malaikat yang menjaga neraka. Siksaan yang pertama kali mereka terima adalah mereka akan dipukul dengan palu yang terbuat dari besi api neraka. Seluruh tubuh mereka akan merasakan pukulan ini.

3. Berganti kulit secara terus menerus.

Setelah kulit mereka terkelupas karena terbakar api dan karena siksaan, maka kulit mereka akan diganti dengan yang baru. Tetapi setelah mereka mendapat siksaan lagi, kulit mereka akan terkelupas kembali dan terus akan seperti itu.

4. Pakaian penghuni neraka.

Para penghuni neraka akan memakai pakaian yang terbuat dari besi kuningan. Besi tersebut sangat panas dan pakaian tersebut adalah pakaian sehari-hari dari para penghuni neraka jahannam.

5. Dimasukan ke dalam lautan.

Artinya mereka akan dimasukan ke dalam lautan airyang mendidih yang ada di neraka. Setiap hari mereka akan direbus di dalam lautan tersebut dan itu berlangsung secara terus menerus.

7. Makanan penghuni neraka.

Mereka akan diberi makanan kayu zaqqum. Apabila mereka makan kayu tersebut maka isi perutnya akan keluar dengan berantakan, otaknya akan mendidih dari mulutnya keluar api, tubuh mereka akan berjatuhan di antara telapak kaki.

Selain itu mereka akan mendapatkan makanan pohon berduri serta mereka akan disuguhkan dengan makanan darah yang bercampur dengan nanah dan yang memakannya adalah para penghuni neraka jahannam.

7. Minuman para penghuni neraka.

Di neraka jahannam pun disediakan minuman. Minuman didatangkan langsung dari mata air yang mendidih. Minuman dari air dan nanah, minuman dari luka dan nanah. Serta minuman dari air dingin yang sangat dingin.

MALAIKAT PENYIKSA DI NERAKA JAHANNAM

Neraka jahannam dijaga secara ketat. Dan mempunyai malaikat penyiksa yang begitu patuh kepada Allaah. Sosok malaikat penyiksa ini berdiri dengan sangat tegap, berbadan besar, ekspresi wajahnya sangat menakutkan, suaranya sangat garang, mempunyai temperamen yang sangat kasar, sadis dan keras. Hal ini seperti terdapat dalam Al Qur'an dalam surat At Tahrim ayat 6, yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allaah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At Tahrim : 6)

***

✽ penyesalan penghuni kubur setelah menjumpai kematian

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ
ارْجِعُونِ ( ) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang KEMATIAN kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat AMAL SHALIH terhadap yang telah aku tinggalkan.

Sekali-kali tidak...
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada DINDING sampai hari mereka dibangkitkan”
(QS al-Mukminun: 99-100)

✽ Saat pagi dan sore para penghuni kubur..

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهِلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهلِ الجَنَّةَ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْل النَّار يُقَالُ هََِذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَشَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apabila seseorang telah mati, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya pada waktu PAGI dan SORE.
Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan tempatnya di SURGA.
Dan jika ia dari penghuni neraka maka diperlihatkan tempatnya di NERAKA.

Kemudian dikatakan kepadanya,
“Inilah tempatmu yang akan engkau tempati pada hari Kiamat”
(HR Muslim:5110, Ahmad:5656, Mâlik:502)

✽ rasa syukur dan penyesalan penghuni kubur

لاَ يَدْ خُلُ أَحَدٌ الْجَنَّةَ إِلاَّ أُرِيَ مٌَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْ دَادَ شُكرْرًا وَلاَ يَدْ خُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ لَوْ أحْسَنَ لِيَكُوْن عَلَيْهِ حَسْرَةً

Tiada seorang pun masuk ke dalam SURGA kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka, seandainya ia berbuat jelek, agar bertambah RASA SYUKURnya

Dan tidaklah seorang pun masuk ke dalam NERAKA kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, seandainya ia berbuat baik, agar semakin bertambah atasnya RASA PENYESALANnya”
(HR Bukhâri:6084)

*tempat kembali manakah yang kita persiapkan..?

Jangan Terlena !


Surga..

Siapa yang tidak ingin menjadi penghuninya?
Sebuah tempat yang penuh dengan kenikmatan dan kedamaian..
tidak ada kesedihan ataupun kesengsaraan di dalamnya..
Memang benar bahwa kita lebih harus memikirkan bagaimana caranya ke Surga ketimbang hanya sekedar mengharapkannya hingga larut dalam kediaman.

Namun tidaklah salah bila kita memikirkannya, karena hal itu dapat menjadi semangat bagi kita untuk melakukan Amal Shalih yang dicintai Allah hingga kita dapat memperoleh SurgaNya. namun masuk Surga bukanlah karena pahala, melainkan karena Rahmat Allah, tapi bukan berarti kita tidak beramal sedikitpun karena hal itu merupakan Perintah Allah Ta'ala.

Ya ikhwah fillah, berikut ini adalah Sifat-Sifat Surga dalam As-Sunnah Ash-Shahihah. Semoga bisa menjadi penutup yang indah di malam kita dan semoga pula mimpi yang indah turut menyertai kita semua. Kuhaturkan

Orang yang Pertama Kali Masuk ke dalam Surga

عن أنس بن مالك - رضي الله عبه - قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((آتي بَاب الجنةِ يومَ القيامةِ فأستفتِح، فيقولُ الخازنُ : مَن أَنتَ ؟ فأقولُ : محمدٌ، فيقولُ : بكَ أُمرتُ لا أفتحُ لأحدٍ قبلَكَ)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Aku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat kelak, lalu aku minta agar dibukakan. Penjaga pintu bertanya : ‘Siapakah engkau ?’. Aku menjawab : ‘Aku adalah Muhammad’. Ia berkata : ‘Hanya denganmu aku diperintahkan (agar) aku tidak membukanya untuk siapapun sebelummu”.[1]

عن حُذيفةَ قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((وَلَدُ آدَمَ كلُّهُم تحتَ لوائي يومَ القيامةِ، وأنا أولُ مَن يُفتَح له بابُ الجنةِ)).

Dari Hudzaifah ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa aalihi sallam : “Semua anak Adam di bawah benderaku/panjiku kelak di hari kiamat. Dan aku adalah orang yang pertama kali dibukakan pintu surga”.[2]

Sifat Rombongan yang Pertama Kali Masuk Surga

عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : ((إن أول زُمرةٍ يدخلون الجنة على صورة القمر ليلة البدر، والذين يلونهم على أشدِّ كوكبٍ دُرِّيٍّ في السماءِ إضاءةً، لا يبولونَ، ولا يتغوَّطونَ، ولا يتمخطون، ولا يتفلون، أمشاطهم الذهب، ورشحهم المسك، ومجامرهم الألوَّة، وأزواجهم الحُور العِين، أخلاقهم على خلقِ رجلٍ واحدٍ؛ على صورةِ أبيهم آدمَ : ستون ذراعاً في السماء)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga dalam rupa seperti bulan purnama. Adapun rombongan setelah mereka dalam rupa bintang yang sangat terang di langit yang cerah. Tidaklah mereka buang air kecil, buang air besar, beringus, dan meludah. Sisir mereka terbuat dari emas, keringat mereka adalah misk (minyak wangi), mijmar (wadah minyak wangi) mereka adalah kayu gaharu India, istri-istri mereka adalah para bidadari, dan bentuk tubuh mereka semua sama, yaitu seperti bentuk tubuh ayah mereka Adam sepanjang enam puluh hasta menjulang ke langit”.[3]

Pintu-Pintu Surga

عن أبي هريرة - رضي الله عنه - أن رسولَ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((مَن أنفَقَ زوجين في سبيل الله؛ نودي مِن أبواب الجنة : يا عبد الله! هذا خيرٌ، فَمَنْ كان مِن أهلِ الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كا من أهل الصيام دُعي من باب الريَّان، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة))، فقال أبو بكر الصديق - رضي الله عنه - : بأبي أنت وأمي يا رسول الله! ما على مَن دُعي من تلك الأبواب مِن ضرورة؛ فهل يُدعى أحدٌ من تلك الأبواب كلِّها : قال : ((نعم، وأرجو أن تكونونَ منهم)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menginfakkan hartanya (budak, kuda, atau onta) di jalan Allah, niscaya ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga : ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Barangsiapa termasuk orang yang giat mengerjakan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa termasuk orang yang berjihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa termasuk orang yang rajin berpuasa, ia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyaan. Dan barangsiapa termasuk orang yang gemar bershadaqah, maka ia akan dipanggil dari pintu shadaqah”. (Mendengar itu) Abu Bakr Ash-Shiddiiq radliyallaahu ‘anhu berkata : “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil oleh pintu-pintu tersebut. (Namun) apakah ada seorang yang dipanggil oleh semua pintu tersebut ?”. Beliau menjawab : “Ya ada, dan aku berharap engkau salah seorang di antaranya”.[4]

عن سهل بن سعد قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((في الجنة ثمانيةُ أبوابٍ، منها بابٌ يُسمَّى الريَّان لا يدخله إلا الصائمون)).

Dari Sahl bin Sa’d ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Dalam surga ada delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan Ar-Rayyaan yang tidak akan dimasuki kecuali orang-orang yang berpuasa”.[5]

Tidak Ada Kematian di dalam Surga

عن أبي سعيد وأبي هريرة - رضي الله عنهما - أن رسولَ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((إذا دخل أهلُ الجنةِ الجنةَ ينادِي مُنادٍ : إِنَّ لكم أن تحيَوا فلا تموتوا أبداً، وإنَّ لكم أن تصحُّوا فلا تسقموا أبداً، وإنَّ لكم أن تشبُّوا فلا تهرموا أبداً، وإنَّ لكم أنْ تُنعموا فلا تبأسوا أبداً)).

Dari Abu Sa’iid dan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhumaa : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Apabila penduduk surga telah memasuki surga, maka seorang penyeru menyerukan : ‘Sesungguhnya kalian akan tetap hidup dan tidak akan mati selamanya, akan tetap sehat dan tidak akan sakit selamanya, akan tetap muda dan tidak akan menjadi tua selamanya, serta akan tetap mendapat kenikmatan dan tidak akan mendapatkan kesusahan selamanya”.[6]

Berbagai Macam Kedudukan dan Tingkatan dalam Surga

عن أبي هريرة - رضي الله عنه - : عن النبي - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : مَن آمن بالله ورسوله، وأقام الصلاة، وصام رمضان؛ كان حقاً على الله أن يُدخلَه الجنة؛ هاجرَ في سبيل الله، أو جلس في أرضه التي وُلد فيها))، قالوا : يا رسول الله! أفلا نُنبِئُ الناسَ بذلك ؟ قال : ((إنَّ في الجنة مئةَ درجةٍ أعدَّها اللهُ للمجاهدين في سبيله، كل درجتين ما بينهما كما بين السماء والأرض، فإذا سألتُم اللهَ فسلُوهُ الفردوسَ الأعلى؛ فإنَّهُ أَوسطُ الجنةِ وأعلى الجنة، وفوقه عرشُ الرحمن، ومنه تُفجر أنهار الجنة)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, mendirikan shalat, dan berpuasa di bulan Ramadlan, maka wajib bagi Allah memasukkannya ke dalam surga. Ia berhijrah di jalan-Nya atau tetap tinggal di negeri tempat ia dilahirkan”.

Para shahabat bertanya : Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memberitahu orang-orang mengenai hal itu ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Setiap dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta (berdoa) kepada Allah, maka mintalah Firdaus yang tertinggi. Sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman (Allah). Dari sanalah sungai-sungai surga mengalir”.[7]

Penduduk Surga dan Sifat-Sifatnya

عن معاذ بن جبل - رضي الله عنه - : أن النبي - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((يدخلُ أهلُ الجنةِ الجنةَ جُرداً مُرداً كأنهم مُكحَّلون، أبناء ثلاثين أو ثلاث وثلاثين سنة)).

Dari Mu’aadz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Akan masuk sekelompok orang ke dalam surga dalam keadaan rambut mereka pendek lagi jarang, seakan-akan mata mereka bercelak. Usia mereka tiga puluh atau tiga puluh tiga tahun”.[8]

وعن أبي هريرة قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((يدخلُ الجنةَ أقوامٌ أفئدتهم مثلُ أفئدةِ الطَّير)).

Daru Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Akan masuk ke dalam surga satu kaum yang hati mereka seperti hati seekor burung”.[9]

وعن أنس - رضي الله عنه - : عن النبي - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((يُعطى المؤمنُ في الجنة قوة كذا وكذا مِن الجماع))، قيل : يا رسول الله! أو يطيق ذلك ؟ قال : ((يُعطى قوة مئة)).

Dan dari Anas radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “Seorang mukmin akan diberi kemampuan sekian dan sekian, yaitu dalam hal jima’”. Dikatakan : “Wahai Rasulullah, apakah ia mampu melakukannya ?” Beliau bersabda : “Ia diberikan kemampuan semisal seratus orang lak-laki”.[10]

وعن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((مَن يدخل الجنةَ ينعم ولا يبأس، ولا تَبلى ثيابُهُ، ولا يَنفى شبابُه)).

Dan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Barangsiapa yang masuk surga, ia akan diberikan kenikmatan tanpa ada kesusahan, tidak menjadi usang/lusuh baju (yang dipakainya), dan tidak pula hilang kebugarannya”.[11]

Wanita Penduduk Surga

عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((لروحة في سبيل الله، أو غدوة، خير من الدنيا وما فيها، ولقاب قوس أحدكم من الجنة، أو موضع قيد - يعني سوطه - خير من الدنيا وما فيها، ولو أن امرأة من أهل الجنة اطلعت إلى أهل الأرض لأضاءت ما بينهما، ولملأته ريحا، ولنصيفها على رأسها خير من الدنيا وما فيها)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Berangkat pagi-pagi atau siang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dan sungguh, satu jarak busur kalian di surga atau tempat kait – yaitu di bagian tengahnya – lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Dan apabila wanita penduduk surga (bidadari) menampakkan diri kepada penduduk dunia, niscaya cahaya tubuhnya akan menerangi antara keduanya; serta bumi akan dipenuhi oleh keharuman baunya. Dan sungguh, penutup kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan seisinya”.[12]

وعن عبد الله بن عمرَ - رضي الله عنه - : أن رسولَ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((إِنَّ أزواج أهل الجنةِ لَيُغَنِّينَ أزواجهنَّ بأحسن أصواتٍ ما سمعها أحدٌُ قط، إن مما يُغنِّين :
((نحن الخيِّرات الحِسان)) ((أزواج قوم كِرام))
((ينظرونَ بِقرَّة أعيان))
وإن مما يُغنِّينَ به :
((نحن الخالدات يمتنه)) ((نحن الآمِناتُ فلا يخفنه))
((نحن المقيمات فلا يظعنه)).

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya istri-istri penduduk surga mendendangkan untuk para suami mereka dengan suara yang sangat indah/merdu yang tidak pernah didengar seorangpun (di dunia). Di antara yang mereka dendangkan adalah :

‘Kami adalah para wanita yang cantik jelita,

istri orang-orang yang mulia,

Kami melihat dengan mata yang indah’

Dan juga diantara yang mereka dendangkan :

‘Kami adalah para wanita yang kekal dan tidak akan mati,

kami adalah wanita yang aman tanpa ada takut

Kami adalah para wanita yang menetap dan tidak akan pindah”.[13]

Makanan dan Minuman Penduduk Surga

عن جابر - رضي الله عنه - قال : قال رسولُ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((يَأكُلُ أهلُ الجنةِ فيها ويشربونَ، ولا يتغوَّطونَ، ولا يمتخِطون، ولا يبولون، ولكن طعامُهم ذاك جُشاءٌ كَرَشحِ المُسك، يُلهَمون التسبيح كما يُلهَمون النفس)).

Dari Jaabir radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Penduduk surga makan dan minum di dalamnya, tidak buang air besar, tidak beringus, dan tidak pula buang air kecil. Namun makanan mereka itu adalah sendawa yang baunya seperti percikan misk. Mereka diilhami untuk bertasbih sebagaimana mereka diilhami untuk bernapas”.[14]

وعن معاوية بن حَيدة قال : قال رسولُ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((إِنَّ في الْجنةِ : بَحر الماء، وبحر العَسل، وبحر اللبَن، وبحر الخمرِ، ثم تشققُ الأنهارُ بعد)).

Dan dari Mu’aawiyyah bin Haidah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Sesungguhnya di surga terdapat lautan air, lautan madu, lautan susu, dan lautan khamr; dan kemudian bercabang menjadi sungai-sungai”.[15]

وعن أنس قال : قال النبيُّ - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((هل تدرون ما الكَوثَر؟ هو نهرٌ أعطانيهِ ربِّي في الجنة، عليه خيرٌ كثيرٌ، تَرِدُ عليه أمتي يوم القيامة، آنِيَّتُهُ عدد الكواكب، يختلجُ العبدُ منهم فأقولُ : يا ربِّ إنه مِن أمتي، فيُقال : إنك لا تدري ما أحدثوا بعدكَ)).

Dan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Apakah kalian mengetahui apa itu Al-Kautsar ? Ia adalah sungai yang diberikan oleh Rabb-ku di surga. Padanya terdapat kebaikan yang sangat banyak. Umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat. Bejananya sebanyak bintang. Ada seorang hamba yang menjauh, lalu aku katakan : ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya ia termasuk umatku’. Maka dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka ada-adakan sepeninggalmu”.[16]

Pemandangan dari Surga

Di surga ada kenikmatan yang kekal, kebaikan yang merata, dan rahmat dari Ar-Rahmaan Ar-Rahiim.

Di sana ada dipan-dipan tinggi yang diliputi kebersihan, sebagaimana diliputi dengan kesucian. Dan di sana terdapat gelas-gelas yang suci yang disediakan untuk diminum. Tidak perlu meminta dan dipersiapkan. Bantal-bantal dan tilam-tilam untuk bertelekan waktu beristirahat. Karpet-karpet dan sajadah-sajadah terhampar dimana-mana untuk perhiasan dan duduk bersenang-senang.

Semua nikmat yang disebutkan dalam Kitabullah atau Sunnah Nabi-Nya ini namanya sama dengan yang dilihat manusia di dunia. Akan tetapi…. ketika disebut benda-benda ini, hanya sebagai penamaan agar dipahami oleh penduduk dunia. Adapun yang sebenarnya dan hakekat kesenangan-kesenangan ini diserahkan kepada Allah Yang Maha Agung, Maha Bijaksana lagi Maha menegakkan langit-langit dan bumi.

Adapun pembawaannya, diserahkan kepada segenap kemampuan mereka di sana. Diserahkan kepada panca indera orang-orang yang diberikan kemampuan oleh Allah. Kehidupan penduduk di surga, semuanya berisi kesejahteraan, diliputi dan dipenuhi kesejahteraan.

Para malaikat mengucapkan salam sejahtera kepada mereka dalam suasana yang sentausa. Mereka saling mengucapkan salam, dan mereka dikirimi salam oleh Ar-Rahmaan. Maka semua keadaannya berisi salam kesejahteraan.[17]

a. Kamar-Kamarnya.

عن أبي سعيد الخدري - رضي الله عنه - : أن رسولَ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((إنَّ أهلَ الجنةِ لَتَرَاءَون أَهل الغرفِ مِن فوقهِم كما تتراءَونَ الكَوكبَ الدُّرِّيَّ الغابرَ في الأفقِ من المشرق أو المغرب؛ لتفاضُل ما بينهم)) قالوا : يا رسولَ الله! تلك منازلُ الأنبياء، لا يبلُغها غيرهم ؟ قال : ((بلى، والذي نفسي بيده؛ رجالٌ أمنوا بالله، وصدَّقوا المُرسَلين)).

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya penduduk surga saling dapat melihat penduduk surga yang terletak kamar di atasnya sebagaimana mereka saling melihat bintang yang bersinar terang di ufuk sebelah timur atau barat, dikarenakan perbedaan keutamaan di antara mereka”.

Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kedudukan para nabi itu, apakah tidak dapat dicapai oleh selain mereka ?”.

Beliau menjawab : “Tentu saja untuk para Nabi. (Namun) demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, (kedudukan itu dapat dicapai oleh) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul”.[18]

وعن أبي مالكٍ الأشعري : أنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((إِنَّ في الجنةِ غُرَفاً يُرى ظاهرها مِن باطنها، وباطنها مِن ظاهرها، أعدَّها اللهُ لمن أطعم الطعام، وألان الكلامَ، وتابع الصِّيام، وصلَّى بالليلِ والناسُ نِيَام)).

Dari Abu Maalik Al-Asyariy : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang dapat dilihat bagian luarnya dari dalam, dan bagian dalamnya dari luar; yang disediakan Allah bagi orang yang memberikan makanan, melembutkan ucapan, selalu berpuasa, dan mengerjakan shalat malam saat orang-orang tidur lelap”.[19]

b. Kemah-Kemah, Taman-Taman, dan Debu-Debu Surga.

عن أبي موسى الأشعري - رضي الله عنه - : أن رسولَ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((إنَّ للمؤمنِ في الجنةِ لخَيمةً من لؤلؤةٍ واحدةٍ مُجوفةٍ، طولها ستون ميلاً، للمؤمنِ فيها أهلونَ يطوفُ عليهم المؤمنُ فلا يرى بعضُهُمْ بعضاً)).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya bagi seorang mukmin diberikan satu kemah di surga yang terbuat dari mutiara yang berongga. Panjangnya enam puluh mil. Dan bagi seorang mukmin disediakan beberapa orang istri yang selalu digilirnya, dimana masing-masing (istri itu) tidak bisa melihat satu dengan yang lainnya”.[20]

Dan dalam hadits Israa’ :

عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - : عن النبي - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((.....ثم انطلق بي جبريلُ حتى نأتيَ سدرةَ المنتهى، فغَشيَهَا ألوانٌ لا أدري ما هي! قال : ثم أُدخِلْتُ الجنةَ فإذا فيها جنابذ اللؤلؤِ، وإذا ترابُها المِسك)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “….kemudian Jibriil berjalan bersamaku hingga kami sampai di Sidratul-Muntahaa. Ternyata ia dilingkupi oleh warna-warni yang aku tidak tahu apa itu”. Beliau berkata : “Kemudian aku dimasukkan ke surga, yang ternyata di dalamnya ada kemah-kemah dan kubah-kubah dari mutiara. Dan debunya terbuat dari misk”.[21]

وعن أبي موسى الأشعري - رضي الله عنه - أن رسولَ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((جنتانِ مِن فضَّةٍ آنيتُها وما فيها، وجنتانِ مِن ذهبٍ آنيتها وما فيها، وما بين القومِ وبين أن ينظروا إلى ربِّهِم إلا رِداءِ الكبرياءِ على وجههِ في جنة عدن)).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Dua buah surga terbuat dari perak, juga bejana-bejana dan segala yang terdapat di dalamnya. Dua buah surga terbuat dari emas, juga bejana-bejana dan segala yang terdapat di dalamnya. Tidaklah ada (penghalang) antara satu kaum dengan pandangan mereka kepada Rabb mereka kecuali selendang kebesaran di wajah-Nya di surga ‘Adn”.[22]

c. Pohon-Pohonnya

عن أبي سعيد الخدري - رضي الله عنه - : عن النبي - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((إِنَّ في الجنةِ شجرةً يسيرُ الراكبُ الجوادُ المضمَّرُ مئةَ عامٍ ما يقطعُهَا)).

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu : Dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya di surga terdapat satu pohon yang seandainya seorang berjalan dengan satu kendaraan yang paling bagus dan mampu berjalan lama selama seratus tahun, niscaya tidak akan selesai melewatinya”.[23]

وعن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال : قال رسولُ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((ما في الجنة شجرةٌ إلا وساقُها مِن ذهبٍ)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Tidaklah ada satu pohon pun di surga kecuali batangnya terbuat dari emas”.[24]

d. Pasarnya.

عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - : أن رسولَ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - قال : ((إِنَّ في الجنة لسوقاً يأتونها كلَّ جمعةٍ، فتهُبُّ ريحُ الشَّمال، فتحثو في وجوههم وثيابهم، فيزدادون حُسناً وجمالاً، فيرجعون إلى أهليهم وقد ازدادوا حُسناً وجمالاً، فيقول لهم أهلوهم : والله لقد ازدَدْتُم بَعدنا حُسناً وجمالاً، فيقولون : وأنتم واللهِ لقد ازددتُم بعدنا حُسناً وجمالاً)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di surga terdapat pasar yang diramaikan hanya pada hari Jum’at. Maka ketika itu angin berhembus dari arah utara dan menerpa wajah-wajah dan pakaian mereka sehingga menambah indah dan rupawan. Mereka pun kembali pada keluarga mereka yang juga bertambah indah dan rupawan. Keluarga mereka berkata : ‘Demi Allah, sungguh engkau bertambah indah dan rupawan’. Mereka pun berkata : ‘Dan kalian, demi Allah, juga bertambah indah dan rupawan”.[25]

e. Istana-Istananya.

عن جابر بن عبد الله - رضي الله عنه - قال : قال رسولُ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((دخلتُ الجنةَ فإذا أنا بقصرٍ مِن ذهبٍ، فقلتُ : لِمَن هذا ؟ قالوا : لِرجلٍ من قريش. فظننتُ أني أنا هو، فقلتُ : ومَن هو : قالوا : عمر بن الخطاب، فما منعني أن أدخلَه يا ابن الخطاب إلا ما أعلمُ من غَيْرتك)). قال : وعليك أغار يا رسول الله؟!.

Dari Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Aku pernah masuk ke surga, yang ternyata di dalamnya terdapat istana dari emas. Aku bertanya : ‘Untuk siapakah ini ?’. Mereka berkata : ‘Untuk seorang laki-laki dari Quraisy’. Aku menyangka bahwa akulah orang tersebut. Lalu aku pun kembali bertanya : ‘Siapakah ia ?’. Mereka menjawab : ‘’Umar bin Al-Khaththaab’. Tidak ada yang menghalangiku untuk memasukinya wahai Ibnul-Khaththaab, kecuali apa yang aku ketahui dari kecemburuanmu”. ‘Umar berkata : “Apakah aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah ?!”.[26]

f. Sungai-Sungainya.

عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - قال : قال رسولُ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((دخلتُ الجنةَ فإذا أنا بنهرٍ حافَّتاهُ خيام اللؤلؤ، فضربتُ بيديَّ إلى ما يجري فيه الماء، فإذا مِسكٌ أذْفُر، فقلتُ : ما هذا يا جبريل ٕ قال : هذا الكوثرُ الذي أعطاكه اللهُ)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Aku pernah masuk ke surga yang ternyata di dalamnya terdapat sungai yang di pinggirnya terdapat kemah-kemah dari mutiara. Lalu aku memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu. Ternyata airnya adalah misk yang sangat harum baunya. Aku bertanya : ‘Apakah ini wahai Jibril ?’. Ia menjawab : ‘Ini adalah Al-Kautsar yang Allah berikan untukmu”.[27]

Kemuliaan yang Paling Besar di Surga

عن صهيب بن سنان قال : قال رسولُ الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((إذا دخل أهلُ الجنةِ الجنةَ، وأهلُ النارِ النارَ، نادى مُنَادٍ : يا أهل الجنة! إنَّ لكم عند اللهِ موعداً يُريدُ أن يُنجِزكموه، فيقولون : وما هو؟ ألم يُثقِّل اللهُ موازيننا، ويبيِّض وجوهَنا، ويدخلنا الجنة، وينجينا من النار؟ فيُكشَف الحجاب، فينظرون إليه، فواللهِ ما أعطاهُم اللهُ شيئاً أحبَّ إليهم من النظر إليه، ولا أقرَّ لأَعينهم)).

Dari Shuhaib bin Sinaan, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan penduduk neraka telah masuk neraka, berserulah seorang penyeru : ‘Wahai penduduk surga, sesungguhnya kalian mempunyai janji di sisi Allah yang Ia ingin tunaikan kepada kalian’. Mereka berkata : ‘Apakah itu ?

Bukankah Allah telah memberatkan timbangan-timbangan kami, memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari api neraka ?’. Maka disingkapkanlah hijab, lalu mereka melihat-Nya. Maka demi Allah, tidak ada sesuatupun yang Allah berikan kepada mereka yang lebih dicintai oleh mereka dan lebih menyenangkan mereka daripada melihat kepada wajah-Nya”.[28]

Kedudukan Penduduk Surga Paling Rendah dan Paling Tinggi

عن مغيرة بن شُعبة قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : ((سأل موسى ربه: ما أدنى أهل الجنة منزلة؟ قال: هو رجل يجيء بعد ما أدخل أهل الجنة الجنة فيقال له: ادخل الجنة . فيقول أي رب ! كيف؟ وقد نزل الناس منازلهم وأخذوا أخذاتهم؟ فيقال له: أترضى أن يكون لك مثل ملك ملك من ملوك الدنيا؟ فيقول: رضيت، رب! فيقول: لك ذلك ومثله ومثله ومثله ومثله. فقال في الخامسة: رضيت، رب! فيقول: هذا لك وعشرة أمثاله. ولك ما اشتهت نفسك ولذت عينك. فيقول: رضيت، رب! قال: رب! فأعلاهم منزلة؟ قال: أولئك الذين أردت غرست كرامتهم بيدي. وختمت عليها. فلم تر عين ولم تسمع أذن ولم يخطر على قلب بشر)).

Dari Mughiirah bin Syu’bah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Musa pernah bertanya kepada Rabbnya : ‘Siapakah yang termasuk penduduk surga paling rendah kedudukannya ?’.

Allah berfirman : ‘Ia adalah laki-laki yang datang setelah penduduk surga dimasukkan ke dalam surga. Dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam surga’. Laki-laki tersebut berkata : ‘Wahai Rabbku bagaimana caranya ?. Semuanya telah menempati tempatnya masing-masing dan mengambil bagiannya’.

Dikatakan kepadanya : ‘’Apakah engkau ridla jika diberikan kepadamu apa-apa yang dimiliki oleh seorang raja di antara raja-raja dunia ?’. Ia berkata : ‘Ya, aku ridla’ wahai Rabbku!. Allah berfirman : ‘Bagimu yang semisalnya, yang semisalnya, yang semisalnya, dan yang semisalnya’. Dan ia berkata untuk yang kelima kalinya : ‘Aku ridla wahai Rabbku!’. Allah kembali berfirman : ‘Ini bagimu sepuluh kali lipatnya. Dan bagimu pula segala apa yang diinginkan jiwamu dan yang menyenangkan pandanganmu’. Ia berkata : ‘Aku ridla, wahai Rabbku’. Musa bertanya : ‘Wahai Rabb, siapakah orang yang mempunyai kedudukan paling tinggi ?’. Allah berfirman : ‘Mereka adalah orang-orang yang aku pilih. Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku sendiri dan Aku tutup dengannya. Kenikmatan itu tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas oleh jiwa manusia”.[29]

Ketahuilah – wahai hamba Allah – bahwa para penghuni surga adalah orang-orang yang merasa takut kepada Allah. Rasa takut yang mendorong kpada kebaikan dan mencegah dari setiap kemunkaran. Perasaan ini yang menyingkirkan segenap rintangan dan menyingkap tirai. Dan hati melebur di hadapan Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Rasa takut inilah yang membuat ibadah dan amal menjadi ikhlash, bersih dari noda-noda riya’ dan syirik di setiap gambarannya.

Maka orang yang takut kepada Rabbnya dengan benar, tidak kuasa untuk memberikan tempat di hatinya untuk tidak ikhlash kepada Allah. Dia tahu bahwa Allah akan menolak setiap amal yang juga diberikan kepada selain-Nya. Allah adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan kepada penyekutuan. Amalan itu harus ikhlash untuk-Nya. Kalau tidak, niscaya Dia tidak akan menerimanya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

قال اللهُ تعَلى : أنا أغنَى الشُّركاء عن الشرك، مَن عمل عملاً أشركَ فيه معيَ غيري؛ تركتُه وشركَه

“Allah ta’ala berfirman : ‘Aku adalah sekutu yang paling yang tidak butuh kepada penyekutuan. Barangsiapa yang beramal dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan penyekutuannya”.[30]

Maka penduduk surga adalah orang-orang yang bertaqwa, takut, lagi mendekatkan diri kepada Allah. Allah ‘azza wa jalla tidak akan menggabungkan dua rasa takut pada satu jiwa, yaitu takut kepada dunia dan takut kepada-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa yang takut kepada-Nya di dunia, niscaya Allah akan memberikan rasa aman kepadanya di hari akhirat. Dan bersamaan rasa aman di tempat yang mengerikan, juga diberikan rasa dekat dan pemuliaan.[31]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

قال اللهُ عزَّ وجلَّ : لا أجمعُ على عبدِي خَوفَيِنِ، ولا أجمعُ له أَمنَين، فإِنْ أمِنَني في الدنيا؛ أخفتُه يوم القيامة، وإن خافني في الدنيا؛ أمنتُه يوم القيامة.

“Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut pada hamba-Ku dan tidak pula menghimpun baginya dua rasa aman. Apabila ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka aku memberikannya rasa takut di hari kiamat. Apabila ia takut kepada-Ku di dunia, akan Aku beri rasa aman kepadanya di hari kiamat”.[32]

[Asy-Syaikh ‘Aliy bin Hasan Al-Halabiy Al-Atsariy – Al-Jannah, Na’iimuhaa wath-Thariiqu Ilaihaa, hal. 13-24 – Muntadayaatu Kullil-Salafiyyiin –

http://

www.kulalsalafiyeen.com/ – http://abul-jauzaa.blogspot.com/].

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no. 188.

[2] Shahiihul-Jaami’ no. 6995.

[3] Muttafaqun ‘alaihi.

[4] Muttafaqun ‘alaih.

[5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy.

[6] Diriwayatkan oleh Muslim.

[7] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy. Lihat dalam Manaazilul-Jannah – juga – Shahiihul-Jaami’ no. 7873.

[8] Shahiihul-Jaami’ no. 7928.

[9] Yaitu dalam hal kelembutan, ketakutan, dan kehormatan. Shahiihul-Jaami’ no. 7924.

[10] Shahiihul-Jaami’ no. 7962.

[11] Diriwayatkan oleh Muslim.

[12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy.

[13] Shahiihul-Jaami’ no. 1557.

[14] Diriwayatkan oleh Muslim.

[15] Shahiihul-Jaami’ no. 2118.

[16] Shahiihul-Jaami’ no. 6904.

[17] Al-Yaumul-Aakhir fii Dhilaalil-Qur’aan, hal. 321-322 – dengan perubahan.

[18] Muttafaqun ‘alaihi.

[19] Shahiihul-Jaami’ no. 2119.

[20] Muttafaqun ‘alaihi.

[21] Muttafaqun ‘alaihi.

[22] Muttafaqun ‘alaihi.

[23] Muttafaqun ‘alaihi.

[24] Shahiihul-Jaami’ no. 5523.

[25] Diriwayatkan oleh Muslim.

[26] Muttafaqun ‘alaihi.

[27] Shahiihul-Jaami’ no. 3260.

[28] Shahiihul-Jaami’ no. 535. Lihat Syarh Al-‘Aqiidah Ath-Thahaawiyyah hal. 144 dan Mawaaridudh-Dham’aan li-Duruusiz-Zamaan 4/131-136.

[29] Diriwayatkan oleh Muslim.

[30] Diriwayatkan oleh Muslim.

[31] Al-Yaumul-Aakhir fii Dhilaalil-Qur’an hal. 332-333.

[32] Shahiihul-Jaami’ no. 4208.

by ~ Jaser Leonheart As-Salafee

Semoga bermanfaat