Follow us on:
Showing posts with label SCIENCE. Show all posts
Showing posts with label SCIENCE. Show all posts
I Will Fly to Reach My Dreams

Selasa, 23 Oktober 2012

MAU KE MANA MAS?
I will fly to reach my dreams too..

Ia hanyalah seorang pelajar sekolah menengah (SMA) yang sering hadir di pengajian di sore hari selepas sekolah, masih dengan seragam putih abu-abu-nya. Roy Grafika, berperawakan kurus, adalah anak yang sangat rajin mencatat isi pengajian. Ia orang yang terbina, memiliki catatan lengkap dan rapi. Bukan sekedar lulus dan menuntaskan sekolah menengah, namun disertai dengan nilai kelulusan dari SMA 1 Jogja yang cukup bagus, kalau tidak salah nilai matematikanya 10. Karena sangat terkesan dengan cara berislam yang ilmiah, ia tidak mengambil kursi di universitas, namun selepas SMA ia mondok 2 tahun di suatu pesantren di Gresik. Sewaktu di pesantren ia berhasil lulus seleksi untuk mendapatkan beasiswa S1 di bidang Hadits di Universitas Islam Madinah. Saat ini ia adalah Ustadz Roy Grafika, Lc, MA (semoga Allah menjaganya!) mahasiswa S3 bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah.

Firanda hanyalah mahasiswa biasa asal Papua di Jogja. Jangankan membaca kitab gundul, belajar nahwu saja dari kitab yang paling dasar, yakni kitab Muyassar karena ada kursus bahasa Arab dasar tahun 1999. Karena lebih tertarik belajar ilmu Islam. Ia keluar dari Department of Chemical Engineering Gadjah Mada University dan pergi ke pesantren di Bantul kurang lebih 2 tahun. Dan pernah bercerita kalau di awal-awal ia membaca kitab dengan keras-keras untuk dikoreksi a...i...u-nya oleh santri lain. Kini ia adalah Al Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc, MA (hafizhahullah), mahasiswa doktoral bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah. S1 ia selesaikan di bidang Hadits. Saya dengar selain belajar formal, juga belajar non-formal pada berbagai ulama di Madinah.

Fauzan hanyalah mahasiswa kos asal Cirebon sebagaimana anak-anak kuliahan yang lain di sekitar Pogung, utara kampus UGM. Namun ia memiliki ketekunan dan perhatian lebih untuk sambil belajar ilmu alat beragama, termasuk Bahasa Arab. Selain itu, juga sangat perhatian dengan regenerasi keilmuwan beragama pada generasi penerus. Hingga di salah salah satu bukunya ia tuliskan "Selesaikan kuliah dulu". Hingga ia dan kawan-kawannya merintis pesantren mahasiswa. Agar selain menguasai ilmu teknik, kedokteran, ekonomi dll, kelak nanti kalau jadi sarjana juga menguasai Bahasa Arab, Fiqih dan Ushul Fiqih. Setelah berhasil meraih gelar ST bidang Teknik Kimia, ia berhasil mendapatkan beasiswa S1 di Universitas Madinah, bahkan berhasil sampai ke jenjang Master bidang agama. Ia sekarang adalah seorang yang bernama Al Ustadz Fauzan, ST, Lc, MA (semoga Allah menjaganya!). Saya tidak tahu apakah berlanjut ke doctoral saat ini. Tapi yang jelas beliau juga seorang wirausahawan yang terampil dan cekatan mencari peluang.

Adalah Noor Ahmad, sewaktu mahasiswa hanyalah tipikal mahasiswa pada umumnya. Waktu itu kebanyakan mahasiswa sangat jarang interest belajar keilmuan klasik. Biasanya kalau sudah belajar dasar-dasar Bahasa Arab atau lanjutan akan kesulitan membagi waktu untuk sinau dan belajar. Kini ia adalah Ustadz Dr. Noor Ahmad (hafizhahullah), meskipun ia seorang Doktor bidang Elektro, tetapi ia mampu menguasai tingkat lebih lanjut semacam Ushul Aqidah, Mustholah Hadits, Ushul Fiqih dll. Sehingga selain jadi dosen di Jurusan Elektro UGM, ia juga bisa mendidik generasi mahasiswa untuk menguasai ilmu-ilmu ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaganya!

Adalah juga seorang mahasiswa UIN Jogja, Aris Munandar, ia diberi perhatian lebih dalam ilmu-ilmu ushul dan metode manhaj beragama dari gurunya. Sepertinya dari tingkat SMA ia sudah sangat menguasai pokok keilmuan Islam. Di tingkat kuliah ia sudah matang ilmu ushul keislamannya. Sehingga tidak aneh ketika seorang ustadz menyampaikan suatu kitab, ia mampu membetulkan ucapan ustadz tersebut. Kuliah di UIN ia selesaikan dengan baik juga, hingga selang kemudian berlanjut menempuh jenjang S2 dengan baik. Kini ia adalah Ustadz Aris Munandar, MA, sosok ustadz yang bersahaja dan tawadhu. Bersama beberapa ustadz berhasil mendidik mahasiwa kuliahan umum menjadi sarjana-sarjana yang mampu berhujjah dengan dalil. Sehingga ia menjadi pendidik dan pencerah para remaja dan pemuda yang semangat dalam menuntut ilmu Agama di Jogja.

Taufiq Chowdry
Taufiq lulus SMA dengan predikat veledicterian dan mendapatkan medali sebagai lulusan 3 terbaik di seluruh Australia. Lalu ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Melbourne, universitas top di Australia. Di awal-awal tahun ia adalah mahasiswa yang ekselen dan panen penghargaan. Namun memandang ilmu agama penting dan kurangnya ulama di sana (pen), ia melamar dan mendapatkan beasiswa S1 belajar agama ke Timur Tengah. Begitu giatnya, ia tidak puas dengan kelas formal di pagi hari. Ia menambah pelajaran pada beberapa ulama besar. Selesai belajar agama ia kembali ke Australia dan mendirikan Al Kauthar Institute untuk mendidik generasi muda. Selain juga menjalankan perusahaan di bidang IT. Masih berusia muda, di samping sebagai kepala keluarga dengan cukup banyak anak, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dokternya di Universitas Brisbane. Syaikh Tawufiqe Chowdhry, MD adalah seorang speaker yang sangat produktif di Australia-UK-Canada yang ceramahnya cukup banyak di internet. Semoga Allah menjaganya.

Abu Ishaq Al Huwainy
Hijazi adalah anak kampung seperti biasanya. Sewaktu di SMA ia bermain ke tempat kos kakaknya di kota. Sepulang dari sholat Jumat ia melihat orang yang menjual buku eceran pinggir jalan. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah tentang sholat yang ditulis ahli hadits abad ini Syaikh Albani. Ia tertarik setiap gerakan dan doa dalam sholat terdapat komentar dan justifikasi dalil shohih atau tidaknya di dalam buku itu, dan bagaimana cara beragama terbaik, mengikuti siapa dalam beragama.

Setelah mampu membeli bukunya secara utuh, ia baca dan sangat terkesan dengan cara penyajian dan metodologinya yang sangat kuat pendalilan dengan hadits soheh atau lemah yang Hijazi sendiri tidak menguasai ilmu itu. Mulai saat itu ia bertekad untuk mengusai ilmu tentang hadits dan bagaimana mengklasifikasikannya. Sehingga sewaktu kuliah di jurusan Bahasa Spanyol di suatu universitas di Kairo, siangnya kuliah, malamnya belajar ilmu hadits pada berbagai guru. Ia bertemu dengan Syaikh Khisk dan menasehati, "Wahai anakku belajarlah (tentang hadits) sebelum mempelajari kuliah yang lain". Sebelum berangkat kuliah ia menemui gurunya untuk belajar, sampai terucap "Saya malu kalau kokok ayam jantan mendahului membangunkanku".

Setelah lulus S1 ia mendapatkan beasiswa pergi ke Spanyol untuk memperdalam bahasa Spanyol di institute kebahasaan di sana. Namun karena kurang tertarik lebih jauh maka tidak ia teruskan memperdalam bahasa Spanyol. Ia kembali ke Mesir, siang bekerja di toko dan malam belajar pada berbagai guru termasuk Sayid Sabiq (Penulis Fiqhus Sunnah). Keterbatasan dana ia siasati dengan masuk ke perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab klasik. Hingga ia berhasil menyusun buku terkait hadits, yang dibaca oleh Syaikh Albani sewaktu ke Kairo, dan mereka tidak saling bertemu. Syaikh Albani impressed ternyata ada pemuda yang telah berhasil mengikuti beliau dalam metodologi ilmu hadits. Hijazi ini berangkat ke Jordania, tinggal 1 bulan untuk belajar di tempat Syaikh Albani. Lalu bergurulah ke Saudi ke ulama ahli hadits Syaikh Bin Baaz, Utsaimin dll.

Hijazi ini adalah Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy, salah satu ulama pakar hadits abad ini. Lihatlah beliau memiliki latar belakang pendidikan formal non-agama, sastra Spanyol yang mungkin jurusan yang tidak terlalu elit, namun dengan asbab terinspirasi timbullah semangat yang menyala-nyala sehingga menjadi seseorang yang berkontribusi kuat dalam keilmuan Islam.

...

Tak terasa waktu panjang telah berlalu lewat tanpa pengetahuan dan cantolan ilmu beragama yang cukup. Fokus dan arah telah menjebak pada posisi berlebihan yang tidak ada ujung pangkalnya. Urusan dunia memang perlu namun pengetahuan dasar-dasar beragama secara ilmiah merupakan bagian kehidupan yang hakiki. Sayang telah terpinggirkan, bukan urusan penting dan aktual.

Wahai para pemuda, jangan sia-siakan waktu Anda untuk terkesima dengan beragama cara haroki. Terkesan indah namun tidak asli. Terkesan aktual dan popular namun tidak hakiki. Terkesan modern dan hebat namun tidak lestari. Seperti mainan anak-anak kecil di masanya, akan lenyap dengan cepat diganti oleh gaya dan trend yang lebih gokil dan terkini.

Anda yang terpesona dengan fitnah dan membicarakan ustadz dan da'i fulan adalah hizbiyah dan sururi, bukan ustadz terpecaya, berhentilah bukan porsi Anda untuk membicarakan dan berbisik-bisik. Ada yang lebih berhak dan sudah ada orang, yakni ulama berkapasitas. Umur dan waktu terlalu pendek untuk membicarakan fitnah yang tidak bertepi.

Yang belum sama sekali bisa bahasa Arab, pelajarilah kitab nahwu Muyassar, meningkat Ajrumiyah, Mulakhos dst. Pelajarilah hakekat Aqidah, ringkasan Fiqih dst. Insyaalah akan lebih menghujam dan menjadi panduan beragama Anda. Isilah fase muda menjadi tiang yang kuat, yang hidup dan menebar kebaikan. Jika tidak, waktu umur 45-50an dan masa setengah baya Anda akan sangat menyesal.


Otak Saya Tumpul dan Bodoh

Dikisahkan bahwa seorang pelajar yang bernama Kisai belajar tata bahasa Arab namun tidak paham-paham dan hampir putus asa. Suatu saat ini melihat seekor semut yang berusaha membawa makanan naik ke dinding namun terjatuh berkali-kali. Semut itu mencoba mengangkat lagi namun jatuh lagi sampai berkali-kali hingga pada percobaan si semut berhasil membawa dan mengangkut makanan mendaki dinding ke atas. Terinspirasi oleh usaha keras si semut, Kisai berusaha belajar lebih baik lagi dan lagi. Hingga akhirnya ia dikenal sebagai Imam Al Kisai, salah seorang imam ilmu Nahwu, ilmu yang dulu ia sangat sulit mempelajarinya.

Namun janganlah jika inspirasi Anda dari air yang menetes pada batu yang akhirnya memecahkan struktur batu itu, tentu sedikit tidak relevan karena jangka waktu terlalu lama………

Jadi mau ke mana, Mas ?

I will fly to reach my dreams too.... bismillah !

Catatan hari Jumaat

Azis Saifudin
Forward from ustadz Hafidz

poste by Al_Ukhti Cita Wening Tyas -hafizhahullah-

source


FENOMENA KILATAN PETIR DAN GELEDEK DALAM KACAMATA ISLAM


bismillah,

Petir atau halilintar adalah gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan biasanya disebut kilat yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar sering disebut guruh atau geledek. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya. Cahaya merambat lebih cepat (186.000 mil / 299.338 kilometer per detik) bila dibandingkan suara (sekitar 700 mil / 1.126 kilometer per jam, bervariasi tergantung temperatur, kelembapan dan tekanan udara). Sehingga suara gemuruh biasanya terdengar beberapa saat setelah kilatan terlihat.

Petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, di mana lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (dianggap netral). Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (energy storage). Petir juga dapat terjadi dari awan ke awan (intercloud), di mana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif.

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.[1]

Kilatan Petir dan Geledek dalam Kacamata Syari’at Islam

Ada tiga istilah untuk kilatan petir dan geledek yaitu ar ro’du, ash showa’iq dan al barq. Ar ro’du adalah istilah untuk suara petir atau geledek. Sedangkan ash showa’iq dan al barq adalah istilah untuk kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir.[2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ”Dalam hadits marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) pada riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ar ro’du, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مخاريق مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ

”Ar ro’du adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.”[3]

Disebutkan dalam Makarimil Akhlaq milik Al Khoro-ithi, ’Ali pernah ditanya mengenai ar ro’du. Beliau menjawab, ”Ar ro’du adalah malaikat. Beliau ditanya pula mengenai al barq. Beliau menjawab, ”Al barq (kilatan petir) itu adalah pengoyak di tangannya.” Dan dalam riwayat lain dari Ali juga,” Al barq itu adalah pengoyak dari besi di tangannya”.”

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan lagi, ”Ar ro’du adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata ro’ada, yar’udu, ro’dan (yang berarti gemuruh, pen). … Namanya gerakan pasti menimbulkan suara. Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam ini baik yang di atas (langit, pen) maupun di bawah (bumi, pen) adalah dari malaikat. Suara manusia dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah, dan dan tenggorokan. Dari situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabbnya, bisa mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu, ar ro’du (suara gemuruh) adalah suara yang membentak awan. Dan al barq (kilatan petir) adalah kilauan air atau kilauan cahaya. … ”[4]

Ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 19, As Suyuthi mengatakan bahwa ar ra’du adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang berpendapat bahwa ar ro’du adalah suara malaikat. Sedangkan al barq (kilatan petir) adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung.[5]

Kesimpulan:

Ar ro’du kadang dimaknakan dengan malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada pula yang berpendapat bahwa ar ro’du (geledek) adalah suara malaikat. Sedangkan al barq atau ash showa’iq adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat yang digunakan untuk menggiring mendung.

Karena apa yang diperbuat oleh malaikat ini termasuk ranah ghoib, maka kewajiban kita hanyalah mengimaninya saja, dan tidak boleh mengingkari.

Do’a Ketika Mendengar Petir

Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ

”Subhanalladzi sabbahat lahu” (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan, ”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.”[6]

Apabila ’Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

“Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya). Kemudian beliau mengatakan,

إِنَّ هَذَا لَوَعِيْدٌ شَدِيْدٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ

”Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri”.[7]

Jadi, do’a yang bisa dibaca ketika mendengar geledek atau suara petir adalah bacaan: “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).

Insya Allah, berikutnya kita masuk pada pembahasan beberapa keringanan yang diperoleh seorang muslim ketika hujan turun.

Semoga Allah mudahkan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com/

[1] Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Petir dan http://id.wikipedia.org/wiki/Guruh

[2] Lihat penjelasan para ulama selanjutnya. Mengenai makna istilah ar ro’du dan ash showa’iq, silakan lihat Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, hal. 381, Dar Ad Da’i, cetakan pertama, Jumadil Ula, 1426 H.

[3] HR. Tirmidzi no. 3117. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[4] Lihat Majmu’ Al Fatawa, 24/263-264.

[5] Tafsir Al Jalalain, surat Al Baqarah ayat 19, Mawqi’ At Tafasir.

[6] Lihat Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al Albani.

[7] Lihat Adabul Mufrod no. 723, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani.


semoga bermanfaat

PENGOBATAN ALA NABI HANYA BERMANFAAT BAGI YANG YAKIN






by Syeh Abu Muhammad Herman -Hafizhahullah-

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata:

Pengobatan ala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah seperti pengobatan para dokter. Pengobatan ala Nabi adalah sesuatu yang yakin qath'iyun ilahiy yang BERSUMBER DARI WAHYU, misykat kenabian dan kesempurnaan akal.

Adapun pengobatan selainnya adalah kira-kira, praduga dan percobaan. Pengobatan ala Nabi hanya bermanfaat bagi orang yang mendapatkannya dengan PENERIMAAN dan KEYAKINAN atas kesembuhan dengannya serta kesempurnaan penerimaannya dengan KEIMANAN dan KETUNDUKKAN.

Penolakan manusia atas pengobatan ala Nabi ibarat penolakan terhadap penyembuhan lewat Al-Qur'an yang merupakan obat. Hal ini bukan dikarenakan lemahnya obat (dari pengobatan ala Nabi), tapi karena kebusukkan tabiat, kerusakan wadah dan tidak adanya (kurangnya) rasa penerimaannya. Wabillahit taufiq. [Diungkapkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Az-Zaad (III/97-98)]

[Ash-Shahihah (I/434), Dikutip dari buku Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani, Pustaka As-Sunnah, Jakarta]

Semoga bermanfaat...

-Sahabatmu- Abu Muhammad Herman



TERAPI KURMA



Terapi kurma yaitu : kurma (tamr = kurma kering) berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan.

Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah ruthab (kurma basah) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa systolenya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam binti Imran untuk memakan buah kurma ketika akan melahirkan, dikarenakan buah kurma mengenyangkan juga membuat gerakan kontraksi rahim bertambah teratur, sehingga Maryam dengan mudah melahirkan anaknya. [Perkataan Dokter Muhammad Kamal Abdul Aziz dalam kitabnya Al-Ath’imah Al-Qur’aniyyah. Dicantumkan oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dalam Shahih Ath-Thibb An-Nabawy fi Dhau’il Ma’arif Ath-Thabiyyah wal Ilmiyyah Al-Haditsah (hal. 399), cet. Maktabah Al-Furqaan, th. 1424H]

Dr. David Conning, Direktur Jendral British Nutritient Foundation menyatakan:

"Kurma lebih unggul dari makanan lain yang mengandung gula. Hal ini juga didukung bukti, yaitu segelas air yang mengandung glukosa akan diserap tubuh dalam 20-30 menit, tetapi gula yang terkandung dalam kurma baru habis terserap dalam waktu 45-60 menit. Maka, orang yang makan cukup banyak kurma pada wakt sahur akan menjadi segar dan TAHAN LAPAR, sebab bahan ini juga kaya dengan serat." (Dikutip dari makalah kesehatan Pusat Kesehatan Universitas Utara Malaysia, diambil dari www.medic.uum.ed)

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah:

"Kurma termasuk buah yang paling banyak mengandung gizi YANG MENGENYANGKAN dan dibutuhkan tubuh karena kandungan unsur panas dan lembab. Bila dikunyah dan ditelan, bisa pula membunuh cacing. Selain panas, buah ini juga MEMILIKI ENERGI TAMBAHAN. Kurma adalah buah, makanan, obat, minuman, sekaligus gula-gula." (Ath-Thibbun Nabawi, edisi Indonesia: Metode Pengobatan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, penerbit Griya Ilmu, Jakarta).


Rasulullah صلى اللّه عليه و سلم bersabda :

"Sesungguhnya di dalam habbatussauda ( jintan hitam ) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian. [ HR Bukhori & Muslim ]

Dan soal pengobatan bathiniyah ƴα̍nƍ bisa dilakukan diri sndr adalah merruqiyyah :

Ruqiyah

Imaam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah (691 - 751 H) berkata:

Saya (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah) pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu. Pada saat itu, saya terkena sejumlah penyakit tanpa bisa mendapatkan obat-obatan ataupun seorang thabib/dokter.

Akhirnya, saya mengobati diri sendiri dengan Al-Faatichach dan merasakan efeknya yang menakjubkan.

Pengalaman ini pun saya ceritakan kepada orang-orang yang tengah mengeluhkan penyakit yang mereka derita, hingga kemudian banyak dari mereka yang sembuh dalam waktu singkat.

Namun ada satu permasalahan yang harus difahami dan diperhatikan di sini. Dzikir-dzikir, ayat-ayat, do'a-do'a, ataupun obat-obatan yang dipergunakan untuk ruqyah dan penyembuhan, walaupun pada hakikatnya bermanfaat dan mampu menyembuhkan, namun tetap saja mempunyai ketergantungan terhadap keadaan tubuh penderita dan kuatnya pengaruh (orang) yang mengobati.

Apabila terjadi keterlambatan dalam penyembuhan, maka hal itu disebabkan oleh lemahnya pengaruh dan semangat dari fihak yang mengobati dan lemahnya tubuh (penderita), atau bisa jadi karena kuatnya faktor penghalang yang mencegah efek penyembuhan dari do'a tersebut.

(Kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' oleh Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, Ed. Indonesia hal. 10)


Pengobatan ala Nabi ada BANYAK SEKALI, hanya saja TIDAK BANYAK yang diketahui orang. Di antaranya adalah pengobatan dengan menggunakan makanan/minuman:

1. Nasi.
2. Beras ketan.
3. Semangka.
4. Kurma.
5. Buah Tin.
6. Tajin gandum.
7. Es.
8. Bawang putih.
9. Roti gandum dengan kuah.
10. Jantung pokok kurma.
11. Keju.
12. Inai.
13. Habbatus Sauda' (jintan hitam).
14. Sutra.
15. Roti.
16. Cuka.
17. Lalat.
18. Emas dan perak.
19. Daun kemangi.
20. Buah delima.
21. Minyak zaitun.
22. Sari mentega.
23. Kismis.
24. Jahe.
25. Ikan.
26. Kacang kedelai.
27. Daging bakar.
28. Mayonais.
29. Tanah liat.
30. Pisang.
31. Anggur.
32. Madu.
33. Kayu cendana.
34. Mentimun.
35. Tebu.
36. Daun seledri.
37. Daging domba.
38. Daging: kambing muda, sapi, kuda, unta, kijang, kelinci, burung, dendeng, dll.
39. Air es dan air embun.
40. Air zamzam.
41. Kesturi.

Dan lain-lain... (lihat Ath-Thibbun Nabawi, edisi Indonesia: Metode Pengobatan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, penerbit Griya Ilmu, Jakarta).


semoga bermanfaat

photo by Abu Muhammad Herman  

^KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM^

bismillaah,


Akal adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati. Lalu bagaimana kedudukan akal di dalam Islam?

Pengkultusan kepada akal adalah sumber semua kerusakan di alam semesta, akal dijadikan hakim bagi semua perkara, jika datang syari’at yang tidak dipahami oleh akal, maka syari’at itu akan ditolak.

Dengan pengkultusan pada akal inilah, maka manusia menolak seruan para rasul, karena para rasul mengajak manusia untuk mendahulukan wahyu diatas semua akal dan pemikiran, maka terjadilah pertarungan diantara para pengikut rasul dan para penentangnya.

Para pengikut rasul mendahulukan wahyu diatas semua akal dan pemikiran, adapun para pengikut iblis maka mereka mendahulukan akal diatas semua wahyu!

Karena inilah kita melihat begitu banyak orang-orang awam yang pendek akalnya, sedikit ilmunya, dan lemah pandangannya terkena virus pengkultusan akal ini.

Begitu sering kita mendengar seorang yang jahil memprotes Sunnah Nabi!

Begitu sering kita mendengar seorang yang dungu menentang nash syar’i yang mutawatir!

begitu sering kita mendengar seorang yang baru belajar agama dengan lantang menolak aqidah-aqidah yang baku!

Dalam keadaan mereka ini semua menganggap diri-diri mereka pakar-pakar agama yang jempolan!!

Bahkan mereka kini dielu-elukan oleh manusia dengan sebutan-sebutan yang mentereng; Ustadz…Pemikir…Mujaddid…Filosof…Cendekiawan…dan sebutan-sebutan lain yang kosong dari hakekatnya.

Melihat ini semua, kami memohon taufiq kepada Allah untuk menjelaskan kedudukan akal secara syar’i sekaligus membantah dan mematahkan syubhat-syubhat para pendewa akal ini.

1 Definisi Akal

Akal secara bahasa dari mashdar Ya’qilu, ‘Aqala, ‘Aqlaa, jika dia menahan dan memegang erat apa yang dia ketahui.1

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

‘Kata akal, menahan, mengekang, menjaga dan semacamnya adalah lawan dari kata melepas, membiarkan, menelantarkan, dan semacamnya. Keduanya nampak pada jisim yang nampak untuk jisim yang nampak, dan terdapat pada hati untuk ilmu batin, maka akal adalah menahan dan memegang erat ilmu, yang mengharuskan untuk mengikutinya. Karena inilah maka lafadz akal dimuthlakkan pada berakal dengan ilmu.2

Syaikh Al Albani berkata,

“Akal menurut asal bahasa adalah At Tarbiyyah yaitu sesuatu yang mengekang dan mengikatnya agar tidak lari kekanan dan kekiri. Dan tidak mungkin bagi orang yang berakal tersebut tidak lari ke kanan dan kiri kecuali jika dia mengikuti kitab dan sunnah dan mengikat dirinya dengan pemahaman salaf.”3

Al Imam Abul Qosim Al Ashbahany berkata,

”akal ada dua macam yaitu : thabi’i dan diusahakan. Yang thabi’i adalah yang datang bersamaan dengan yang kelahiran, seperti kemampuan untuk menyusu, makan, tertawa bila senang, dan menangis bila tidak senang.

Kemudian seorang anak akan mendapat tambahan akal di fase kehidupannya hingga usia 40 tahun. Saat itulah sempurna akalnya, kemudian sesudah itu berkurang akalnya sampai ada yang menjadi pikun. Tambahan ini adalah akal yang diusahakan.

Adapun ilmu maka setiap hari juga bertambah, batas akhir menuntut ilmu adalah batas akhir umur manusia, maka seorang manusia akan selalu butuh kepada tambahan ilmu selama masih bernyawa, dan kadang dia tidak butuh tambahan akal jika sudah sampai puncaknya.

Hal ini menunjukan bahwa akal lebih lemah dibanding ilmu, dan bahwasanya agama tidak bisa dijangkau dengan akal, tetapi agama dijangkau dengan ilmu.4

2 Pemuliaan Islam Terhadap Akal

Islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, diantara hal yang menunjukan perhatian dan penghormatan islam kepada akal adalah :

Islam memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dalam rangka mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupannya.

Islam mengarahkan kekuatan akal kepada tafakkur (memikirkan) dan merenungi (tadabbur) ciptaan-ciptaan Allah dan syari’at-syari’atnya sebagaimana dalam firmanNya,

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadiaan) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) benar dan waktu yang telah ditentukan, Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rum : 8) ,

“ Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal”, (Al Baqarah : 184),

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maak bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Jumu’ah : 9).

Islam melarang manusia untuk taklid buta kepada adat istiadat dan pemikiran-pemikiran yang bathil sebagaimana dalam firman Allah,

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”, (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al Baqarah : 170).

Islam memerintahkan manusia agar belajar dan menuntut ilmu sebagaimana dalam firman Allah,

”Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (QS. At Taubah : 122).

Islam memerintahkan manusia agar memuliakan dan menjaga akalnya, dan melarang dari segala hal yang dapat merusak akal seperti khomr, Allah berfirman,

“Hai, orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maidah, 90).

3 Ruang Lingkup Akal Dalam Islam

Meskipun islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, tetapi tidak menyerahkan segala sesuatu kepada akal, bahkan islam membatasi ruang lingkup akal sesuai dengan kemampuannya, karena akal terbatas jangkauannya, tidak akan mungkin bisa menggapai hakekat segala sesuatu.

Maka Islam memerintahkan akal agar tunduk dan melaksanakan perintah syar’i walaupun belum sampai kepada hikmah dan sebab dari perintah itu.

Kemaksiatan yang pertama kali dilakukan oleh makhluk adalah ketika Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam,

Iblis berkata: ”Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah..” (QS.Shaad ; 76).

Karena inilah islam melarang akal menggeluti bidang-bidang yang diluar jangkauannya seperti pembicaraan tentang Dzat Allah, hakekat ruh, dan yang semacamnya, Rasulullah bersabda,

”Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, janganlah memikirkan tentang Dzat Allah.5

Allah berfirman,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al Isra’ : 85).


Catatan Kaki

…1 Lihat Lisanul Arab, 11/458 dan Bughyatul Murtaad, hal. 249.
…2 Bughyatul Murtaad, hal. 250-251.
…3 Majalah Salafiyyah Riyadh, Edisi 2 tahun 1417 H hal. 24.
…4 Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2 / 502-504.
…5 Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah shahihah: 1788.

_________________________________________________________

^KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM (2/3)^
Posted on March 20th, 2006 by admin

Setelah mengetahui definisi akal, ruang lingkup dan pemuliaan Islam terhadapnya, maka pembahasan selanjutnya mulai mengarah kepada segolongan manusia yang mendewakan akal, mendudukkan akal manusia dengan kedudukan yang sangat tinggi. Siapa-siapa saja mereka ini?

4 Kelompok Rasionalis (Pendewa Akal)

Rasionalisme atau ‘Aqlaaniyyah adalah madzhab filsafat yang memandang segala sesuatu yang tunduk kepada kaidah-kaidah akal, bahkan makna-makna agama jika tidak sesuai dengan kaidah-kaidah akal harus ditolak!!6

Maka hakekat rasionalisme adalah membuang nash syar’i yang tidak sesuai dengan pandangan akal atau hawa nafsu.7

Bapak rasionalisme yang pertama kali adalah Iblis, dia mengandalkan akalnya yang memandang bahwa api lebih mulia dari tanah sehingga menolak perintah syar’i dari Allah untuk sujud kepada Adam.

Pemikiran Iblis ini kemudian diteruskan oleh para penerusnya seperti :

4.1 Kelompok Mu’tazillah

Kelompok ini adalah pioner semua kelompok rasionalis dalam Islam, mereka menjadikan akal sebagai hakim secara mutlak, mereka promosikan akal setinggi-tingginya, mereka mengatakan,

“Akal diciptakan dengan tujuan untuk mengetahui segala sesuatu, dia mampu mengetahui segala sesuatu yang terlihat dan yang tidak terlihat (?!)”

Mereka jadikan akal sebagai penentu kayakinan mereka di semua segi keyakinan mereka.

Karena itu mereka berbondong-bondong mempelajari filsafat Yunani, sekaligus mengikuti para filosof Yunani. Mereka jadikan dalil-dalil akal diatas dalil-dalil syar’i. Mereka dustakan hadits-hadits yang tidak sesuai dengan akal, walaupun hadits-hadits itu shahih! Mereka takwil ayat-ayat yang tidak mencocoki dengan pemikiran mereka, meskipun ayat-ayat itu sangat jelas!, bahkan mereka berusaha menyeret ibarat-ibarat dan tafsir-tafsir Al Qur’an kepada pemikiran mereka.8

Inilah beberapa perkataan gembong-gembong mereka :

Al Qodhi Abdul Jabbar menyebutkan urutan dalil-dalil syar’i menurutnya,

”Yang pertama adalah akal, karena dengannya bisa dibedakan baik dan buruk, dan dengan akallah bahwa kitab adalah hujjah, demikian juga Sunnah dan Ijma’(!!)9

Amr bin Ubaid menyebut hadits Shadiqul Mashduq dan berkomentar,

”Seandainya aku mendengar hadits ini langsung dari A’masy, pasti aku akan dustakan, seandainya aku mendengar dari Rasulullah mengatakannya pasti akan aku tolak! dan seandainya aku mendengar Allah mengatakannya maka akan aku katakan,’Bukan atas ini Engkau mengambil mitsaq (perjanjian) dari kami”!!!

Kami (penulis artikel ini -red. vbaitullah) katakan,” Sesungguhnya ini kesesatan dan kekufuran yang nyata…”

Az Zamakhsyari berkata,

”Berjalanlah dalam agamamu dibawah panji akal, jangan engkau cukup dengan riwayat dari fulan dan fulan!“10

4.2 Kelompok Asy’ariyyah

Kelompok ini tidak berbeda dengan kelompok Mu’tazilah, hanya saja ibarat mereka lebih samar, mereka ini disebut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagai Makhanits Mu’tazilah “bancinya kelompok mu’tazilah.11

Inilah beberapa perkataan dari gembong-gembong mereka :

Fakhrur Razy berkata,

”Akal adalah landasan naql (dalil syar’i), maka mencela akal untuk membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus dan ini adalah bathil!”12

Adhudhin Al Lijy berkata,

”Mendahulukan naql diatas akal adalah bathil…”13

Demikianlah ibarat-ibarat mereka menunjukan bahwa sumber pengambilan ilmu menurut kelompok Asy’ariyyah adalah akal.14

4.3 Kelompok Rasionalis Gaya Baru (Pengekor Mu’tazilah)

Mereka adalah gabungan dari aneka ragam pemikiran-pemikiran, diantara mer eka ada yang disebut pemikir muslim(!), ada yang disebut cendekiawan muslim(!), dan ada yang sekadar tukang tulis dan tukang omong dimedia massa!!

Inilah ibarat-ibarat mereka :

Muhammad Abduh berkata,

”Telah sepakat kelompok-kelompoak islam kecuali sedikit dari orang-orang yang tidak dianggap perkataannya bahwa jika terjadi pertentangan antara akal dan naql maka apa yang diambil apa yang ditunjukkan oleh akal”!!!15

Seorang wartawan yang menganggap dirinya cendekiawan muslim bernama Fahmi Huwaidi menulis sebuah ulasan yang berjudul para penyembah berhala adalah para penyembah nash-nash syar’i, dia katakan bahwa usaha pembekuan akal di depan nash menurut ungkapannya adalah

“Paganisme (penyembahan kepada berhala) gaya baru, karena paganisme tidak hanya menyembah kepada berhala saja, karena ini bentuk paganisme gaya lampau, tetapi paganisme gaya sekarang adalah penyembahan kepada nash-nash syar’i!”16

Muhammad al Ghazaly berkata,

”Hendaknya kita mengetahui bahwa apa saja yang dihukumi bathil oleh akal mustahil kalau dia itu adalah agama… Agama yang benar adalah kemanusiaan yang benar, sedangkan kemanusiaan yang benar adalah akal yang menentukan suatu hakekat… tidak henti-hentinya kita tegaskan bahwa setiap hukum yang ditolak oleh akal… mustahil kalau dia itu adalah agama“(!!)17

Karena inilah kita melihat Muhammad Al Ghazaly begitu berani menolak banyak sekali hadits hadits yang shahih karena tidak mencocoki akalnya, seperti hadits Musa yang menempeleng malaikat maut, hadits sholatnya wanita dimasjid, hadits mayit diadzab karena tangis keluarganya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Untuk melihat bantahan kepada Al ghazaly dalam masalah ini bisa dilihat kitab Syaikhuna Al Allamah Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly yang berjudul Kasyfu Mauqif Al Ghazaly minass Sunnati wa Ahliha.

Hasan At Turaby As Sudany berkata,

”Adapun rujukan yang wajib bagi kita anggap sebagai rujukan pokok maka adalah akal….”18

Dengan bimbingan akalnya maka dia berkata,

”Boleh bagi seorang muslim sebagaimana seorang masehi untuk mengganti agamanya”19

Dengan akalnya pula ia ingkari hukum rajam kepada pezina dan hukum dera kepada peminum khamr.20

Yusuf Qardhawy tidak berbeda jauh dengan Muhammad Al Ghazaly, dia merasa heran kepada orang-orang yang selalu menyebutkan kepada khalayak ramai hadits lalat (yang shahih) atau hadits (shahih) tentang Musa yang menempeleng malaikat maut…21

Di lain waktu dengan lantang dia berkata,

”Kami tidak memerangi orang-orang Yahudi dengan landasan aqidah tetapi karena masalah tanah, kami tidak memerangi mereka karena kekafiran mereka, tetapi kami memerangi mereka karena mereka merampas tanah-tanah kami…”22


Catatan Kaki

…6 Mu’jam Musthalahat Ilmiyyah, Yusuf Khoyyath.
…7 Fi Fiqh Waqi’, Abdus-salam Baisuny, hal. 29.
…8 Manhaj Madrasah Aqliyyah Hadiitsah fi tafsir, Fahd Ar Rumy, hal. 53-54.
…9 Fadhlul I’tizal, hal. 139).
…10 Athwaqu Dzahab fil Mawa’izh wal khuthub, hal. 28.
…11 Majmu Fatawa, 6/359.
…12 Asasut Taqdis, hal. 221.
…13 Mawaqif fi Ilmi kalam, hal. 40.
…14 Al Aqlaniyyun, hal. 60.
…15 Islam dan Nasraniyyah, hal. 59.
…16 Majalah Araby, Edisi 235, hal. 34 kanon kedua 1978.
…“(!!)17 Majalah Dauhah, Qathar, Edisi 101 Rajab 1404 H.
…18 Tajd Fikr Islamy, Hal. 26.
…19 Ceramah dengan judul Tahkim Syari’at, sebagaimana dalam Sharim Maslul ala at Turaby Syatimir Rasul, hal.12.
…20 Sharim Maslul ala At Turaby Syatimir Rasul, hal. 12.
…21 Kaifa Nata’amalu ma’a Sunnah Nabawiyyahm, hal. 86.
…22 Wawancara dengan koran Rayah Qathar Edisi 4696, 24 Sya’ban 1415 H.

_______________________________________________________________________

^KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM (3/3)^

Posted on March 21st, 2006 by admin

(red. vbaitullah): Dari pembahasan yang kedua, nyatalah penolakan kaum ‘aqlaniyun (para pendewa akal) terhadap syari’at, terutama khabar-khabar yang tidak dapat dicerna oleh akal-akal mereka. Lalu (memangnya) kenapa pemikiran / paham mereka itu sesat? Di mana letak kesesatannya? Kalau sesat, bagaimana seharusnya kedudukan akal dan naql (wahyu) dalam Islam? Akhirnya, insya Allah pertanyaan-pertanyaan itu akan dijawab pada bagian akhir ini.


5 Mengikis Habis Modal Utama Kaum Rasionalis

Demikianlah kaum rasionalis, mereka jadikan akal semata sebagai sumber ilmu mereka, mereka agungkan akal, dan mereka jadikan iman dan Al Qur’an tunduk dibawah akal23

Maka modal utama mereka adalah kaidah umum yang mereka dengung-dengungkan yaitu bahwa akal adalah landasan naql Dalil syar’i, maka mencela akal untuk membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus, dan ini adalah bathil!

Syubhat mereka ini telah dikikis habis dan dihancurkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang agung yang berjudul Dar’u Ta’arudh Aql wa Naql yang tersusun dalam 10 jilid, kemudian diringkas oleh muridnya Al Allamah Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Shawa’iq Mursalah yang tersusun dalam dua jilid.

Ibnul Qoyyim menyebut dalam kitabnya tersebut 54 argumen dalam membantah syubhat mereka ini, diantaranya :

Perkataan mereka bahwa akal adalah landasan naql adalah bathil karena apa yang dikhabarkan oleh Allah dan Rasulnya adalah shahih dari dirinya, entah kita ketahui dengan akal kita atau tidak kita ketahui, entah dibenarkan oleh manusia atau didustakan oleh mereka, sebagaimana Rasulullah adalah haq, meskipun didustakan oleh manusia, dan sebagaimana wujud Allah dan keberadaan nama-nama dan sifat-sifatnya adalah haq, entah akal kita mengetahui atau tidak.

Mendahulukan akal atas naql adalah cela pada akal dan naql sekaligus, karena akal telah bersaksi bahwa wahyu lebih tahu daripada akal. Jika hukum akal didahulukan atas wahyu maka itu adalah cela pada persaksian akal, jika persaksiannya batal maka tidak boleh diterima ucapannya, maka mendahulukan akal atas wahyu adalah cela pada akal dan wahyu sekaligus.

Syari’at diambil dari Allah dengan perantaraan malaikat dan Rasul-Nya, dengan membawa ayat-ayat, mukjizat mukjizat, dan bukti-bukti atas kebenarannya, hal ini diakui oleh akal. lalu bagaimana perkataan Allah pencipta semesta alam ditentang oleh pemikiran-pemikiran Plato, Aristoteles, Ibnu Sina dan pengikut-pengikut mereka?

Bagaimana perkataan seorang Rasul ditentang oleh perkataan seorang filosof, padahal filosof wajib mengikuti Rasul, bukan Rasul yang mengikuti filosof, karena Rasul diutus oleh Allah dan filosof adalah Umatnya.

Syaikh Ali bin hasan Al Halaby berkata,

”Jika seorang rasionalis dan pendewa akal tertimpa penyakit, maka segera dia pergi ke seorang dokter yang terpercaya, kemudian dia mengadukan kepada dokter itu keluhan dan penyakitnya, dan dia serahkan dirinya kepada dokter itu untuk ditangani dengan kepasrahan yang sempurna, walaupun dokter itu membedah tubuhnya!!

Jika dokter itu kedudukannya diruang periksa dan dia sebutkan hasil diagnosa dan resep obatnya, maka dia ambil langsung tanpa menanyakan susunan obat dan susunan kimianya!!

Jika dia disuruh dokter untuk minum obat sehari tiga kali… maka dia lakukan tanpa membantah!!

… Subhanallah!! hukum-hukum dokter yang dia adalah manusia biasa bisa benar dan bisa salah dia terima tanpa perdebatan, bahkan tanpa akal!!

Sedangkan hukum-hukum Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya maka dia membantahnya, membahasnya, mengeceknya, bahkan membantah dan menolaknya!! Manakah dua hukum diatas yang lebih wajib diterima secara akal!!24

6 Sikap Salaf Terhadap Akal dan Naql

Salafush shalih memahami dangan yakin bahwasanya

“Agama adalah ketundukan dan kepasrahan, tanpa membantahnya dengan akal, karena akal yang sebenarnya adalah yang membawa pemiliknya untuk menerima sunnah, adapun yang membawa pemiliknya membatalkan sunnah maka dia adalah kejahilan, dan bukanlah akal.”25

Ketika Abdullah bin Mughaffal menyampaikan hadits tentang larangan Rasulullah dari melontar bintang dengan pelanting, ada seorang laki-laki berkata kepadanya,”Apa masalahnya dengan pelanting ini? “, maka Abdullah bin Mughaffal berkata,

”Aku sampaikan hadits Rasulullah kemudian kau katakan ini! Demi Allah aku tidak akan berbicara denganmu selama lamanya!”26

Lihatlah bagaimana orang ini memprotes hadits dengan akalnya! Bagaimana Abdullah bin Mughaffal menyikapinya?!

Padahal orang ini memprotes hadits dengan kata-kata yang sopan, tidak sebagaimana kelancangan kaum rasionalis abad ini yang dengan kasarnya menolak setiap hadits yang tidak masuk akalnya!!

Kita katakan kepada seluruh kaum rasionalis pendewa akal selama mereka masih mengaku muslim :

Apa logikanya sholat maghrib tiga raka’at, sedangkan sholat isya’ empat raka’at, padahal keduanya sama-sama dilaksanakan pada malam hari?! Apa logikanya perpindahan qiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram?! Kenapa Thawaf harus ke Ka’bah?! Kenapa Thawaf harus tujuh putaran?!

Kami katakan tidak ada jalan bagi akal dalam hal-hal seperti ini kecuali mengimani dan melaksanakannya dengan keimanan yang sempurna, dan kepasrahan yang mutlak sebagaimana dalam firman Allah,

”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36).

Maka para sahabat tidak pernah sekalipun mempermasalahkan nash-nash dengan akalnya padahal mereka manusia-manusia terbaik umat ini yang paling sempurna akalnya.

Para sahabat begitu sangat kepasrahannya kepada Sunnah, walaupun akal mereka belum bisa menerima, bahkan mereka begitu keras pengingkarannya kepada siapa saja yang menolak Sunnah.

Nash-nash yang datang dari Rasulullah lebih agung di hati-hati mereka dari membantahnya dengan sebab perkataan siapapun dari manusia.27

Pembahasan ini disarikan dari kitab Al Aqlaniyyun Afrakhu Mu’tazilah Al Ashriyyu, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby. Al Atsary).

7 Penutup

Pemisah antara Ahli Sunnah dan Ahlil Bid’ah adalah dalam masalah akal: Ahlil Bid’ah menjadikan landasan agamanya adalah akal dan mereka jadikan Ittiba’ (mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -red. vbaitullah) dan atsar sebagai pengikut akal.

Adapun Ahli Sunnah mengatakan bahwa landasan agama adalah Ittiba’ sedangkan akal sebagai pengikutnya. Seandainya agama didasarkan pada akal, maka sungguh para makhluk tidak butuh kepada wahyu, tidak butuh kepada para nabi, hilanglah makna perintah dan larangan, dan setiap orang akan mengatakan apa yang dia mau.

Jika kita mendengar sesuatu dari perkara-perkara agama, kemudian kita bisa memahaminya dengan akal kita, maka kita bersyukur kepada Allah atas Taufiq-Nya. Jika akal kita belum sampai kepadanya, maka kita beriman dan membenarkannya.

Maka kita memohon taufiq dan keteguhan kepada Allah, semoga Allah mewafatkan kita diatas agama Rasulullah dengan anugerah dan kemurahan-Nya28


Catatan Kaki

…23 Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, 5/338.
…24 Al Aqlaniyyun, hal. 175.
…25 Al Hujjah fi Baynil Mahajjah, 2/509.
…26 Muttafaqun Alaih.
…27 Shawa’iq Mursalah, 3/1053,1065.
…28 Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 1/317.


__________________________________________________________