Follow us on:
SYI’AH & BUDAYA SYIRIK


Oleh Ustadz Abu Minhal
Sudah menjadi salah satu ciri khas Ahli Bid’ah, mereka berbuat ghuluw (berlebihan) dalam keyakinan-keyakinan (aqidah) yang mereka anut. Begitu pula dengan golongan Syi’ah, mereka tidak lepas dari fakta ini. Di antaranya ialah, ’aqidah mereka yang berhubungan dengan muwalah (loyalitas) terhadap Ahlul Bait (kecintaan terhadap keluarga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam).[1]

Contoh Cengkeraman Syirik pada Agama Syi’ah
Kaitannya dengan ’aqidah ini (dan ’aqidah-’aqidah mereka lainnya), mereka benar-benar melampaui batasan agama. Hingga memunculkan agama baru, yang sangat berbeda dengan risalah yang diemban Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Karena itu, Syaikh Muhibbuddin al-Khathib rahimahullah[2] menuturkan:

Sangat tidak mungkin menjalin kesepahaman dengan Syi’ah. Karena mereka telah berlawanan dengan seluruh kaum muslimin (Ahli Sunnah) dalam perkara-perkara ushul (prinsipil). Kaum syi’ah belum merasa tenang dengan kaum muslimin, kecuali bila kaum muslimin ikut serta melaknat al-jibt dan thaghut, yaitu Abu Bakr dan ’Umar serta orang (sunni) lainnya sampai sekarang, dan mengumandangkan bara’ah (penentangan) kepada siapa saja yang bukan penganut Syi’ah, walaupun ia termasuk keluarga Nabi…[3]

Sikap ekstrim yang terpatri dalam diri para tokoh dan ulama Syi’ah, telah membawa mereka pada sikap menuhankan sahabat Ali radhiallahu ’anhu. Sehingga untuk mengokohkan ’aqidah syirik ini, mereka pun tanpa malu mengusung sekian banyak riwayat dusta. Mereka mengklaim, bahwa unsur ketuhanan telah menyatu pada diri sahabat yang menjadi menantu Nabi ini.

Misalnya, sifat-sifat Rububiyah (sebagai pencipta, pemberi rizki, pengatur alam semesta dan seterusnya), Uluhiyyah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi) dan kepemilikan Asmaul-Husna dan Sifat ’Ulya, menurut tokoh-tokoh Syi’ah, sifat-sifat ini ada pada diri sahabat yang menjadi khalifah keempat ini. Sudah tentu, sahabat Ali radhiallahu ’anhu yang mulia berlepas diri dari semua anggapan itu. Mustahil, beliau menempatkan diri pada posisi tuhan yang disembah selain Allah.

Diriwayatkan (dalam riwayat yang dusta) bahwa ’Ali berkata: ”Seandainya Abul Hasan (beliau sendiri) bersumpah di hadapan Allah agar sudi menghidupkan orang-orang yang yang mati dari generasi dahulu dan akhir zaman, niscaya akan dihidupkan.” Lebih fatal lagi, orang-orang Syi’ah meyakini bahwa tanah kuburan Ali memiliki andil dalam turunnya rizki, kesembuhan dan pemberian Allah.[4]

Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, salah seorang ulama terdahulu dari kalangan Syi’ah –semoga mendapat balasan yang sepantasnya dari Allah-, di dalam karangannya Ushul Kafi, ia membuat suatu bahasan, Bab bahwa bumi semuanya milik Imam. Kata Abu ’Abdillah, ”Sesungguhnya dunia dan akhirat milik Imam. Dia meletakkannya di mana pun yang ia kehendaki dan menyerahkannya kepada yang ia kehendaki.”

Dia juga meriwayatkan dari Imam Muhammad al-Baqir: ”Kami adalah wajah Allah. Kami adalah mata Allah. Kami adalah wajah Allah. Dan kami adalah mata Allah di tengah makhluk-Nya.”

Tidak tanggung-tanggung, pengetahuan ilmu ghaib pun dinisbatkan kepada Ja’far ash-Shadiq. Menurutnya, Ja’far ash-Shadiq telah berkata: ”Sesungguhnya aku mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Dan aku mengetahui siapa saja yang di surga dan neraka, dan aku mengetahui kejadian yang telah berlalu dan yang akan datang.”

Lebih jauh, al-Kulaini mengetengahkan beberapa pembahasan dalam Ushul Kafi mengenai ”kehebatan” para imam Syi’ah yang mampu meliputi segala sesuatu. Misalnya dia membahas, bab bahwa para imam mengetahui seluruh ilmu yang ada pada para malaikat, para nabi dan rasul, bab para imam mengetahui kapan akan meninggal dan tidaklah mereka wafat kecuali karena keinginan sendiri, bab para imam mengetahui peristiwa yang sudah berlalu, akan terjadi, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pendangan mereka, bab para imam mempunyai seluruh kitab-kitab (dari Allah), mengetahui dalam berbagai bahasa.

Syi’ah juga mengatakan, bahwa wewenang untuk menghalakan dan mengharamkan juga termasuk hak istimewa para imam Syi’ah. Anggapan seperti itu tentu saja dusta, karena menghalalkan dan mengharamkan ini bagian dari hak khusus bagi Allah Ta’ala.

Al-Kulaini mengungkapkan bualannya: ”Mereka (para imam) boleh menghalalkan apa yang mereka kehendaki dan mengharamkan apa yang mereka inginkan. Tidaklah mereka berkehendak, kecuali pasti dikehendaki oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

Perkataan mereka lainnya yang mengandung syirik, misalnya –menurut mereka- Ali berkata: ”… Akulah al-Awwal, Akulah al-Akhir, Akulah azh-Zhahir, Akulah al-Batin, dan Akulah pemilik bumi.” (Lihat Rijal Kissyi, hal. 137)

Ketika pelanggaran-pelanggaran yang sangat parah sudah merebak, maka tidak mengherankan bila mereka juga terbiasa bersumpah dengan nama Ali. Sebagai misal, kebanyakan ungkapan sumpah mereka berbunyi: ”Wa haqqi wilayati Ali (demi hak kepemimpinan Ali).” Begitu pula penamaan anak-anak mereka dengan nama Abdul-Husain dan Abdul-Hasan pun sudah biasa.

INI LEBIH PARAH LAGI!

Dalam kitab al-Anwarun-Nu’maniyyah, tertulis ungkapan kufur yang dahsyat. Penulis mengatakan: ”Ringkasnya, kami tidak bersatu dengan mereka (Ahli Sunnah) pada satu ilah, nabi dan imam. Sebab, mereka mengatakan bahwa Rabb mereka adalah yang Muhammad adalah Nabi-Nya, dan Abu Bakr sebagai penerus sepeninggalnya. Sedangkan kami (kaum Syi’ah) tidak mengakui Rabb ini, tidak juga kepada Nabi ini. Justru kami mengatakan, sesungguhnya Rabb yang penerus Nabi-Nya adalah Abu Bakr bukan Rabb kami, dan Nabi itu bukanlah nabi kami…”

Jadi, kecintaan buta dan dusta terhadap oarang-orang yang mereka daulat sebagai imam-imam, justru menjerumuskan mereka hingga menamakan sifat-sifat pada diri Ali radhiallahu ’anhu dengan sifat-sifat yang tidak ada yang berhak selain Allah, penguasa alam semesta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyimpulkan kebiasaan Syi’ah dengan penjelasannya:

Maka, mereka (orang-orang Syi’ah) menjadikan imam-imam mereka sebagai tuhan-tuhan tandingan selain Allah. Mereka ber-istighatsah (memohon pertolongan dalam kesulitan) kepada imam-imam mereka, saat para imam tidak bersama mereka dan setelah kematian mereka, serta di sisi kubur mereka. Mereka (orang-orang Syi’ah) terseret kepada perkara-perkara yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) berupa ibadah-ibadah yang mengandung kesyirikan, yang meniru-niru kaum Nashara.[5]

Hal ini semakin menguatkan pandangan, bahwa Syi’ah merupakan bentuk agama baru yang tidak ada hubungannya dengan Islam sedikitpun. Kitab Ushul Kafi, Anwar Nu’maniyah dan kitab-kitab lainnya yang menjadi rujukan utama Syi’ah, sarat dipenuhi kesyirikan dan kultus individu.

Ulasan ini hanyalah sedikit nukilan, yang diharapkan cukup untuk menyibak tabir kelam ’aqidah agama Syi’ah yang sekarang semakin bergerak agresif di tanah air. Masih banyak ’aqidah mereka yang sangat membuat bulu kuduk bergidik, kecuali bila mereka menganggap keyakinan tersebut sebagai tauhid murni. Apa boleh buat. Justru semakin menguatkan, bila tuhan mereka lain daripada yang lain.[6]

AL QUR’AN MENEPIS PENYIMPANGAN ’AQIDAH SYIRIK (PAGANISME) PADA AGAMA SYI’AH

Seorang muslim akan sangat mudah mengingkari ’aqidah yang jelas-jelas berseberangan dengan nalar dan akal sehat, fitrah yang masih lurus, apalagi ayat-ayat al-Qur’an. Allah berfirman, memberitahukan Dia-lah pemilik alam semesta ini. Tidak ada seorangpun yang menyertai-Nya dalam pengaturan ataupun kepemilikannya. Misalnya dalam ayat:

”Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. al-A’raf/7: 128)

”Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. al-Mulk/67: 1)

Hak penetapan halal dan haram pun juga milik khusus bagi Alah. Rasulullah pun tunduk pada ketetapan-Nya. Perhatikan firman Allah:

”Wahai Nabi,mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu?” (Q.S. at- Tahrim/66: 1)

Ilmu Allah luas tidak terbatas, meliputi segala sesuatu. Hanya Allah yang mempunyai keistimewaan ini. Pengetahuan manusia, bagaimanapun dia, tetap terbatas. Allah berfirman:

”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Diri sendiri.” (Q.S. al-An’am/6: 59)

Terakhir, dalam al Qur’an, Allah mengancam orang-orang yang menyekutukan apapun dengan Dzat-Nya. Ancaman yang sangat keras, siksaan neraka selama-lamanya bila mati dalam kesyirikan. Allah berfirman:

”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka.dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorangpun penolong pun.” (Q.S. al maidah/5: 72)

Semoga tulisan ringan ini semakin memantapkan kita tentang bahaya Syi’ah yang semakin gencar melancarkan gerakannya di negeri inni melalui media-media yang mereka miliki. Apalagi sempat muncul wacana yang merilis upaya penggabungan antara Ahlu Sunnah dan Agama Syi’ah oleh sejumlah pihak. Wallahul-musta’an.

Maraji’:

Al-Hujajul-Bahirah, Syaikh Jalaluddin ad-Dawani ash-Shiddiqi, Tahqiq Dr. ’Abdullah Hajj Ali Munib, Cetakan I, tahun 1420H-200M, Maktabah al-Bukhari.
Al-Khuthuthul-’Ariidah, Syaikh Muhibbiddin al-Khathib, cetakan I, 1420H-1999M, Dar ’Ammar Urdun.
Buthlaanu ’Aqaaidisy-Syi’ah, Syaikh Muhammad Abdus-Sattar at-Tunsawi, 1408H, Maktabah Imdadiyyah, Mekkah Mukarramah.
Tanaqudhu Ahlil-Ahwa wal Bida’ fil ’Aqidah, Dr. ’Afaf binti Hasan bin Muhammad Mukhtar, Cetakan I, Tahun 1421H-2000M, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh.
’Ulama’usy-Syi’ah Yaqulun, susunan Markaz Ihyaut-turatsi Ahli Bait.

((Sumber: Majalah As-Sunnah edisi02/tahun XI/1428H/2007M, hal. 50-52, Penulis: Ustadz Abu Minhal))


[1] Kecintaan ini pun hanya sekedar kamuflase untuk menutupi kebusukan hati mereka terhadap kaum muslimin.

[2] Diceritakan oleh sebagian pengajar di universitas Islam Madinah, berita wafat beliau sangat menggembirakan para penganut Syi’ah. Pasalnya, beliau salah seorang ulama yang getol membongkar rentetan kepalsuan, kebohongan dan kekufuran yang sudah melekat erat pada doktrin-doktrin Syi’ah.

[3] Al-Khuthuth al-‘Aridhah, cetakan I 1999M/1420H, Dar Ammar, hal. 37-38

[4] Ushul Kafi (1/440-457). Kitab ini diklaim sekelas dengan kitab Shahih al-bukhari.

[5] Minhajus Sunnah (2/435)

[6] Riwayat-riwayat dari Syi’ah, penulis kutip dari buku-buku referensi


sumber: http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/02/25/syi%E2%80%99ah-budaya-syirik/

semoga bermanfaat

IBNU TAIMIYAH

Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur'an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur'an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur'an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas....

(Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

AL BUKHORI

الامام البخارى

.
قال رحمه الله : ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضى

أم صليت خلف اليهود والنصارى

ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

.
( خلق أفعال العباد :١٢٥
)

Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
(Imam Bukhori / Kholgul Afail, halaman 125).

IMAM MALIK

االامام مالك

روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول :

قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم

ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.

( الخلال / السن: ۲،٥٥٧
)

Al Khalal

meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”

.
( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :
“ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.

Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir.
Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.

(Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.

(Tafsir Al Qurthubi, 16-297)

bagi mereka yg mengaku cinta ahlul bait (terutama shbt ali) mk lakukanlah sbgmn ali bn abi tholib lakukan,yaitu:

Ali bin Abi Thalib radhi- yallahu ‘anhu mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan diri-nya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta.

Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku diatas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.
Maka ketika itu seorang yang mengatakan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).


Khalifah Ali (imam pertama mereka) Radhiyallahu ‘anhu berkata:

وسيهلك في صنفان: محب مفرط يذهب به الحب إلى غير الحق، ومبغض مفرط يذهب به البغض إلى غير الحق ، وخير الناس في حالا النمط الاوسط، فالزموه والزموا السواد الاعظم فإن يد الله على الجماعة.

Akan binasa tentang aku dua kelompok: (pertama) kelompok yang mencintai secara berlebihan sehingga kecintaannya membawa kepada yang tidak benar, dan kelompok yang membenci, yang kebenciannya membawa kepada yang tidak benar. Sebaik-baik manusia adalah yang moderat (tengah/adil) maka ikutilah ia, ikutilah kelompok terbesar (maksudnya waktu itu yaitu para sahabat dan tabi’in) karena tangan Allah ada di atas jama’ah.” (Nahjul Balaghah, 2/8)

Kelompok binasa pertama karena kecintaannya yang berlebihan adalah rafidhah. Sesungguhnya cintanya Rafidhah kepada Ali seperti cintanya orang Kristen kepada yesus Isa putra maryam.

Kecintaan yang membawa kesesatan dan kebinasaan!!

Maka ikutilah ahlussunnah yaitu para sahabat dan tabi’in, kelompok islam terbesar yang menjadi mainstream, yang menjadi warisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam al-Quran dan as-Sunnah.

Khalifah Ali juga berkata:

ان معاويه خير لي من هؤلاء الذين يزعمون لي شيعة


“Sesungguhnya Muawiyah lebih baik bagiku dari pada mereka yang mengaku sebagai syiahku.” (al-Ihtijaj, 2/290)

Ali juga berkata:

لوددت والله أن معاوية صارفني بكم صرف الدينار بالدرهم فأخذ مني عشرة منكم وأعطاني رجلاً منهم


Saya berharap andai saja Muawiyah tukar menukar dengan saya seperti menukar dinar dengan dirham, sehingga dia mengambil dariku 10 orang dari kamu dan dia memberiku satu orang dari mereka. (Nahjul Balaghah)

Ali Radhiallahu ‘Anhu berkata:

إن أهل إصفهان لا يكون فيهم خمس خصال : السخاوة والشجاعة والامانة والغيرة وحبنا أهل البيت

sesungguhnya penduduk Ashfahan tidak ada pada diri mereka 5 perkara: dermawan, berani, amanah, cemburu dan mencintai kami ahluil bait. (biharul anwar 21/301 riwayat 32)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:

Sungguh aku pernah berdiri di kerumunan orang yang sedang mendoakan Umar bin Khathab ketika telah diletakkan di atas pembaringannya. Tiba-tiba seseorang dari belakangku yang meletakkan kedua sikunya di kedua pundakku berkata: “Semoga Allah merahmatimu dan aku berharap agar Allah menggabungkan engkau bersama dua shahabatmu (Yakni Rasulullah
dan Abu Bakar) karena aku sering mendengar Rasulullah ? bersabda: ‘Waktu itu aku bersama Abu Bakar dan Umar…’ ‘aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar…’,
‘aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar…’. Maka sungguh aku berharap semoga Allah menggabungkan engkau dengan keduanya. Maka aku menengok ke belakangku ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib.

Hadits-hadits dari Ali bin Abi Thalib ini merupakan sebesar- besar dalil yang membuktikan kedustaan kaum Syi’ah Rafidlah yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.


Hasan ibn Ali Radhiallahu ‘Anhu (Imam Kedua) berkata:

أرى والله أن معاوية خير لي من هؤلاء يزعمون أنهم لي شيعة ابتغوا قتلي وانتهبوا ثقلي وأخذوا مالي، والله لئن آخذ من معاوية عهداً أحقن به دمي واومن به في أهلي، خير من أن يقتلوني فتضيع أهل بيتي وأهلي


“menurutku demi Allah, Mu’awiyyah itu lebih baik bagiku dari pada mereka yang mengaku menjadi syiahku, mereka ingin membunuhku, merampok barang-barangku dan merampas hartaku, demi Allah kalau aku mengambil perjanjian dari Muawiyah agar aku bisa melindungi darahku dan mengamankan keluargaku itu lebih baik dari para mereka (para syiah) itu membunuhku dan menelantarkan ahli baitku dan istrikuu.” (al-Ihjtijaj litthabarsi 2/290)...

Imam al-Baqir Radhiallahu ‘Anhu berkata:

لو كان الناس كلهم لنا شيعة لكان ثلاثة أرباعهم لنا شكاكاً والربع الآخر أحمق
“

“Seandainya semua manusia adalah syiah (pendukung) bagi kami niscaya 3/4 dari mereka ragu-ragu pada kami dan 1/4 sisanya adalah tolol.” (sumber: Rijal al-Kasysyi, h. 179).

Imam Ja’far as-Shadiq berkata:

ما أنزل الله من آية في المنافقين إلا وهــي في من ينتحـــل التشيع


Tidak ada ayat satupun yang Allah turunkan tentang orang munafiq melainkan ia ada pada orang yang bermadzhab tasyayyu’” (Rijal Kasysyi hal. 154; ungkapan yang sama diriwayatkan dari abul hasan dalam Raijal Kasysyi hal. 254))

Imam Ja’far juga berkata:

إن ممن ينتحل هذا الأمــر ليكـذب حتى إن الشيطان ليحتاج إلى كذبه


Sesungguhnya diantara orang yang meyakini perkara ini (yaitu bertasyayyu’) melakukan dusta hingga setan saja perlu kepada kedustaannya.” (Al-Rawdhah minal Kafi hal 212)


Ja’far as-Shadiq rahimahullah berkata:

إن ممن ينتحل هذا الأمر لمن هو شرٌّ من اليهود والنصارى والمجوس والذين أشركوا
”

sesungguhnya diantara orang yang mengikuti ini sebagai budaya ada yang lebih jahat dari yahudi, nashrani, orang majusyi dan orang-orang yang syirik” (Rijal al-Kasysyi 252)

Imam abul Hasan Musa ibn Ja’far al-Kazhim (imam ketujuh), Radhiallahu ‘Anhu berkata;

” لو ميزت شيعتي لم أجدهم إلا واصفة ولو امتحنتهم لما وجدتهم إلا مرتدين ولو تمحصتهم لما خلص من الألف واحد ولو غربلتهم غربلة لم يبق منهم إلا ما كان لي ، إنهم طال ما اتكؤا على الأرائك ، فقالوا : نحن شيعة علي ، إنما شيعة علي من صدق قوله فعله
” .

“Seandainya aku bedakan (aku pilah-pilah) syiahku niscaya aku tidak menemukan mereka kecuali washifah (namanya/sifatnya saja- wallahu a’lam) , dan kalau aku uji niscaya aku tidak mendapati mereka kecuali murtad, dan kalau saya benar-benar menyeleksi mereka niscaya tidak ada yang lolos dari seribu orang seorangpun, dan kalau aku ayak (saring) mereka niscaya tidak tersisa dari mereka kecuali apa yang untukku, sesungguhnya mereka cukup lama duduk di kursi goyang (ongkang-ongkang kaki), lalu mereka berkata: kami adalah syiah ‘Ali, sesungguhnya syiah ‘Ali adalah orang yang (jujur) ucapannya sesuai dengan kelakuannya.” (sumber: al-Rawdhah minal-Kafi lilkulaini, 8/228).

Imam Ridha (imam kedelapan) Radhiallahu ‘Anhu berkata:

إن ممن ينتحل مودتنا أهل البيت من هو أشد فتنة على شيعتنا من الدجال


Sesungguhynya diantara orang yang mengklaim (bertasyayyu’) mencintai kami ahlul bait ada orang yang lebih dahsyat fitnahnya atas syiah kami dari pada Dajjal.” (sumber: shifat as-Syi’ah karya as-Shaduq)

Benar sekali, Ali mencintai Abu Bakar Umar tetapi syiah memusuhi keduanya.

Ali menghancurkan kuburan tetapi syiah malah membangun kuburan.

Ali tidak mut’ah malah syiah mut’ah.

Ali tidak pernah berkeyakinan bahwa dirinya ditunjuk jadi khalifah Rasul tapi syiah mengkafirkan Abu Bakar dan Utsman dengan alasan katanya mereka merampas hak khilafah milik Ali.

Ali mencintai Aisyah dan Hafshah tapi syiah malah melaknat. Nau’udzu billah min dzalik

Dan orang syiah mengundang imam Husein ke Kufah untuk dibaiat ternyata mereka bunuh. Dan kini mereka meratap pura-pura menangis untuk menuntut balas. Padahal mereka tidaklah menuntut balas kecuali pada diri mereka sendiri....

source :

http://www.gensyiah.com/syiah-di-mata-para-imam-ahlul-bait.html

***

tidak ada yg suka mencela para sahabat dan mengungkit2 kesalahan mereka bahkan tidak tanggung-tanggung mereka dilaknat dan dikafirkan kecuali BEGUNDAL SYI'AH dan yg sepaham dgn mereka yg sama-sama KAFIR-nya

Nabi bersabda: “Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia”

[Hadits Riwayat Thabrani]

kasihan agama syi'ah sekte Yahudi ini, imam2 mereka saja melaknat nya, lalu mereka mencoba menafsirkan Al-Qur'an sekehendak hawa nafsunya. kalau memang mereka jujur, mana al-qur'an mereka yg 17000 ayat itu? disembunyikan Imam fiktip yg merupakan legenda dan dongeng2 anak2 sebelum tidur. Imam khomeini mesum (mereka bilang ma'sum) yg melakukan sesuatu yg dilaknat Allah yg merupakan kejahatan seks sebagaimana kaum Luth. ngaku aja agama syi'ah nggajk usah ngaku2 Islam, apa tidak malu agama syi'ah tak punya kitab suci (Al-Qur'an kan yg diturunkan pada masa sahabat dan dikumpulkan sahabat) yg mereka tuduh kafir????? 


TUNGGU GUA, SAMPE DAJJAL DATANG, NAH DAJJAL ITU IMAM MEREKA...


Shobigh bin ‘Isl tiba di Madinah dengan membawa beberapa kitab. Lalu mulailah dia bertanya tentang ayat-ayat Qur’an yang mutasyabih (samar-samar) –untuk menimbulkan keraguan-. Lalu sampailah berita itu pada Umar, sehingga beliau mengutus orang untuk memanggilnya, dan beliau telah mempersiapkan pelepah kurma untuknya. Manakala dia masuk menghadap beliau dan duduk, bertanyalah beliau padanya,”Siapakah kamu?” Dia berkata,”Saya Shobigh.” Umar berkata,”Aku Umar, hamba Alloh.” Lalu beliau mendekatinya seraya memukulinya dengan pelepah kurma tadi hingga melukai kepalanya. Darahpun mengalir di wajahnya. Maka diapun berkata,”Cukup wahai Amirul Mukminin, demi Alloh, apa yang dulunya kudapati ada di kepalaku telah hilang.” (Al Ibanatul Kubro/Ibnu Baththoh/2/hal. 309/shohih)

kata orang syi'ah (karena tabiatnya benci dengan para sahabat) dalam menanggapi kisah ini berkata : "tanya kok dipukul, aneh"

Apakah kalian mendapati riwayat bgmn ketika dg keyaqinan penuh Ibnu Saba' [Laknat ALLOH seluruh makhluq yg bisa melaknat semoga penuh untuknya] mengaku sbg Rosul , 'Aliy Rodhiallohu 'anhu sbg ALLOH{na'udzubillah tsumma na'udzubillah!!!], lalu dibuang ke negeri yg lain setelah hampir dibakarnya, lalu sepuluh org yg ber'itiqod seperti itu tak mau bertaubat yg akhirnya dibakar dlm lubang ......?

hanca 27 10 11

Semua Manusia Adalah Anak Zina Kecuali Orang Syiah!!!


Menurut orang Syiah, anda, saya dan seluruh manusia yang bukan orang Syiah adalah anak-anak zina…..

Bukan hanya Ahlus Sunnah, tapi seluruh manusia adalah anak-anak zina kata mereka.
Ini merupakan tuduhan kejam kepada kita, mereka menuduh kita seperti itu hanya karena kita bukan orang Syiah….wallahul musta’an

Berikut ini riwayatnya…

Dari Abu Hamzah, dari Abu Ja'far alaihis salam, ia berkata: saya katakan padanya: Sesungguhnya sebagian sahabat kita berdusta dan menuduh orang-orang yang menyelisihi mereka (maksudnya; menuduh mereka telah berzina), ia berkata kepadaku: menahan diri dari mereka lebih bagus, kemudian berkata: Demi Allah wahai Abu Hamzah, Sesungguhnya manusia seluruhnya adalah anak zina kecuali syiah kita..!!!
lihat Kitab Ar-Raudhah Min Al-Kafi, Juz 8, hal 285

Bagi yang ingin membuktikannya, silahkan membaca langsung hasil scan kitab ulama mereka di bawah ini....

(LPPIMakassar.blogspot.com)

Acara Ramah tamah se-syiah-sepermut'ah-an membahas "perburuan Rubah"


Bashar Al-Ashad adalah sunni alawiyin...yang di pengaruhi syion untuk kepentingan politik dajjal Iran

Kaum Syi’ah Bersatu Mendukung Rezim Biadab Syi’ah Nushairiyah Alawiyah Suriah
March 17, 2012 by alfanarku

Setelah Republik Syiah Iran dan milisi Syiah Hizbullah Libanon secara terang-terangan memberikan dukungan politik, ekonomi, militer dan intelijen kepada rezim Nushairiyah Bashar Al-Assad karena faktor kesamaan ideologi, kini dengan alasan yang sama, dukungan serupa juga disuarakan dan diberikan oleh kelompok pemberontak Syiah Houti di Yaman, salah satunya dengan mengirimkan petempurnya untuk membantu rezim Al-Assad dalam membantai ribuan Muslim Sunni di Suriah.

Sebagaimana dilansir Yemen Post (19/2/2012) seorang pengkhotbah dari kelompok pemberontak Syiah Houthi di Sana’a Yaman selama khotbah Jumat lalu telah menyerukan pengikutnya untuk mendukung rezim Al-Assad dengan uang dan senjata, seraya menyatakan bahwa rezim Bashar Al-Assad saat ini tengah memerangi Yahudi dan para pengkhianat sebagai refensi bagi Muslim Sunni.

Laporan-laporan berita Yaman mengatakan pada Ahad bahwa kelompok pemberontak Syiah Houthi mengirim puluhan petempurnya untuk berperang di Suriah di sisi rezim Al-Assad.

Mereka mengatakan para petempur Syiah tersebut dikirim bawah kerahasiaan yang ketat, menunjukkan bahwa kelompok Houthi mengadopsi pendekatan yang sama dengan milisi Syiah Hizbullah Libanon dan Iran yang khawatir dengan pemakzulan Bashar Al-Assad.

Sebuah surat kabar Kuwait, Alsyiasa menegaskan bahwa pemberontak Syiah Houthi merekrut warga Syiah Yaman dengan imbalan tiga ribu dolar AS per bulan.

Para analis Yaman mengatakan sikap Syiah Houthi mencerminkan posisi yang sama dengan Republik Syiah Iran yang berdiri disamping Al-Assad dalam membunuh Muslim Sunni di Suriah.

..kelompok pemberontak Syiah Houthi mengirim puluhan petempurnya untuk berperang di Suriah di sisi rezim Al-Assad..

Para agen dari Garda Revolusi Iran dan milisi Syiah Hizbullah tersebut membantu Presiden Suriah Bashar Assad dalam penumpasan brutal pengunjuk rasa yang menuntut pemecatan Bashar Assad yang melakukan pembantaian terhadap warga Muslim Sunni Suriah.
15.000 tentara Al-Quds dikirim Iran ke Suriah

Beberapa waktu lalu laporan media massa mengungkapkan bahwa Teheran telah mengirimkan 15.000 anggota brigade Al-Quds yang merupakan salah satu pasukan khusus dalam Garda Revolusi Iran.

Laporan itu mengutip dari seorang tokoh Dewan Nasional Suriah yang tidak ingin diungkapkan identitasnya bahwa komandan brigade Al-Quds Iran, Brigadir Jendral Qasim Sulaimani sejak beberapa waktu terakhir telah berkantor di Damaskus dan menjadi instruktur lapangan bagi tentara rezim Suriah, milisi Syi’ah Shabihah dan pasukan khusus Iran dalam membantai para demonstran sipil.

Sementara itu situs Ash-Shahafiyin al-Akhdhar Iran menulis, “Apa yang hari ini ramai dibicarakan tentang pengiriman pasukan khusus brigade Al-Quds sebenarnya telah berlangsung sejak sembilan bulan yang lalu. Kami telah mengisyaratkan hal itu dalam laporan kami dari para ahli pada tanggal 17 Mei 2011 dan kami telah membongkar fakta pemindahan salah satu markas Garda Revolusi ke Damaskus.”

Brigade Al-Quds Iran dilengkapi dengan persenjataan lengkap. Mereka diangkut dengan pesawat sipil Iran sesuai jadwal penerbangan rutin Teheran-Damaskus, untuk mengelabui para wartawan dan dunia internasional.

Beberapa waktu yang lalu Sebuah kelompok oposisi Suriah “Tentara Bebas Suriah” telah merilis sebuah video yang menunjukkan apa yang mereka katakan tujuh warga Iran, termasuk lima anggota Pengawal Revolusi, yang ditangkap di kota Homs.

Video itu menunjukkan dokumen perjalanan dari tawanan, beberapa di antaranya tampak berbicara dalam bahasa Persia.

Kelompok oposisi bersenjata Suriah, yang menyebut dirinya “Brigade Al-Faruq Tentara Bebas Suriah,” juga merilis pernyataan yang menyerukan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamanei untuk mengakui dalam kata-kata secara eksplisit dan jelas bahwa adanya unsur Garda Revolusi Iran di Suriah dalam rangka untuk membantu rezim Assad menindak keras rakyat Suriah.

Iran Sumbang Rp. 9 Triliun untuk Suriah.

Untuk membantu Suriah dalam mengurangi tekanan dan sanksi dari negara-negara Barat, Iran memberikan US$ 1 miliar atau sekitar Rp 9 triliun kepada negara tersebut, belum lama ini. Menurut dokumen dari kantor Presiden Suriah, Iran dikabarkan membantu Suriah yang menghadapi tekanan embargo minyak internasional dan tindakan pembatasan lain tentang wisata dan perdagangan melalui bank sentral.

Posisi Suriah sangat penting bagi Iran, karena melalui rezim suriah ini Iran bisa memelihara dan membesarkan “anak”-nya, milisi Syi’ah yang bertengger di wilayah Lebanon selatan yaitu milisi Syi’ah Hizbullah yang sekarang hampir menguasai Lebanon untuk menjalankan misi proyek Syi’ah Safawid-nya, jika rezim Bashar Al-Assad yang syi’ah Alawite Nushairiyah ini jatuh dan kemudian dikuasai oleh kaum muslimin Ahlus Sunnah, maka akan bisa dipastikan pengaruh Syi’ah di wilayah tersebut akan meredup dan bahkan cepat atau lambat akan lenyap dari wilayah Syam. Inilah alasan mengapa mereka berusaha sekuat tenaga membantu rezim biadab Suriah ini agar tidak tumbang.

Wahai kaum muslimin segera bangunlah dari tidur kalian!, saat ini kaum muslimin Suriah sedang mengalami hari-hari yang sangat buruk, ditindas dan dibantai oleh rezim Bashar Al-Assad yang biadab, rezim syi’ah ekstrim yang dibantu dengan segala daya oleh berbagai komunitas Syi’ah internasional. Rezim ini telah melakukan pembantaian secara sistematik kepada rakyat muslimin di Suriah, begitu banyak bukti yang bisa kita dengar, baca dan bahkan kita tonton di media-media seperti televisi dan internet yang menggambarkan kekejaman rezim ini.

Mari kita terus berdo’a semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kekuatan kepada kaum muslimin Suriah yang sedang terus berjuang, semoga Allah segera memberikan kemenangan. Amin.

Dari berbagai sumber.

http://alfanarku.wordpress.com/2012/03/17/kaum-syiah-bersatu-mendukung-rezim-biadab-syiah-nushairiyah-alawiyah-suriah/

Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah?



by Abu Aulia on Monday, 17 January 2011 at 17:17

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah (perkara cabang-cabang), seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki. Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah. Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah. Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah.

Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya. Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah, maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman Syiah berbeda dengan rukun Iman Ahlussunah, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur'an mereka juga berbeda dengan Al-Qur'an Ahlussunnah.

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur'annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan. Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan: Bahwa Syiah adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah.
1. Ahlussunnah: Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a) Syahadatain

b) As-Sholah

c) As-Shoum

d) Az-Zakah

e) Al-Haj

Syiah: Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a) As-Sholah

b) As-Shoum

c) Az-Zakah

d) Al-Haj

e) Al wilayah

2. Ahlussunnah: Rukun Iman ada 6 (enam) :

a) Iman kepada Allah

b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c) Iman kepada Kitab-kitab Nya

d) Iman kepada Rasul Nya

e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah: Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a) At-Tauhid

b) An Nubuwwah

c) Al Imamah

d) Al Adlu

e) Al Ma’ad

3. Ahlussunnah: Dua kalimat syahadat

Syiah: Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Ahlussunnah: Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.

Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah: Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Ahlussunnah: Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a) Abu Bakar RA.

b) Umar RA.

c) Utsman RA.

d) Ali RA.
Syiah: Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai'at dan mengakui kekhalifahan mereka).
6. Ahlussunnah: Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.

Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah: Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma'’hum, seperti para Nabi.

7. Ahlussunnah: Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah: Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai'at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Ahlussunnah: Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah: Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9. Ahlussunnah: Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :

a) Bukhari

b) Muslim

c) Abu Daud

d) Turmudzi

e) Ibnu Majah

f) An Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syiah: Kitab-kitab Syiah ada empat :
a) Al Kaafi

b) Al Istibshor

c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih

d) Att Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

10. Ahlussunnah: Al-Qur'an tetap orisinil

Syiah: Al-Qur'an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11. Ahlussunnah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Ahlussunnah: Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah: Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai'at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Keterangan: Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13. Ahlussunnah: Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah: Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14. Ahlussunnah: Khamer/ arak tidak suci.

Syiah: Khamer/ arak suci.

15. Ahlussunnah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16. Ahlussunnah: Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

Syiah: Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

17. Ahlussunnah: Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

Syiah: Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.

(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

18. Ahlussunnah: Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.

Syiah: Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

19. Ahlussunnah: Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah: Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah. Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil

seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman catatan ini.

Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita. Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin
semoga bermanfaat

KESAMAAN SYI'AH DENGAN YAHUDI DAN NASRANI


Oleh: Purnomo WD


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Dalam shalat, kita senantiasa memohon kepada Allah agar dikaruniakan hidayah atau petunjuk kepada Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus). Sebuah permohonan yang paling penting dan sangat dibutuhkan oleh seorang hamba. Karenanya, seorang hamba diwajibkan berdoa kepada Allah memohon hidayah ini pada setiap rakaat dalam shalatnya, karena butuhnya dia kepada hidayah tersebut.

Hidayah yang dimaksud dalam ayat adalah petunjuk taufiq kepada jalan yang bisa menghantarkan kepada Allah dan surga-Nya. Yaitu petunjuk untuk menjalankan ajaran dien ini dengan ilmu dan amal. Bentuknya, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, demikian yang dijelaskan Syaikh Abdul Rahman bin Nashir bin al Sa'di dalam tafsirnya.

Jalan petunjuk ini telah ditempuh oleh para nabi, shiddiiqiin, syuhada', dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhaj al Sunnah jilid pertama juga menjelaskan demikian. Bahwa Shirathal Mustaqim dalam QS. Al-Fatihah: 7, mencakup dua perkara: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Lalu beliau menyimpulkan, bahwa orang yang keluar dari Shirathal Mustaqim hanya mengikuti perasangka dan hawa nafsu. Inilah kondisi ahli bid'ah, di antaranya kaum Syi'ah Rafidlah.

Sesungguhnya kesesatan bersumber dari dua hal, yaitu jahil dan mengikuti hawa nafsu. Jahil adalah perilaku orang Nashrani yang meninggalkan kebenaran karena bodoh dan tersesat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah perilaku orang Yahudi yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya. Karenanya, kita berdoa agar tidak dijadikan seperti mereka, ". . . bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al Faatihah: 7)

Mereka yang dimurkai adalah orang Yahudi. Sedangkan mereka yang sesat adalah orang Nashrani. Dan Syi'ah menyerupai Yahudi dalam keburukan dan mengikuti hawa nafsu; dan menyerupai Nasrani dalam masalah ghuluw (melampai batas) dan kebodohan.

kesesatan bersumber dari dua hal, yaitu jahil dan mengikuti hawa nafsu.

Imam Asy-Sya'bi memiliki beberapa perkataan tentang Syi'ah Rafidlah:

- Kalau seandainya Syi'ah dari jenis binatang, ia sebagai keledainya.

- Kalau dari jenis burung, ia sebagai burung rukham.

- Siap membayar berapa saja pada orang yang mau membuat riwayat dusta tentang Ali.

- Masuk Islam didasari kebencian terhadap pemeluknya.

Kesamaan antara Syi'ah dengan Yahudi :

- Orang Yahudi mengatakan yang layak memegang kekuasaan adalah keluarga Dawud. Sedangkan kata Syi'ah; tidak layak menduduki imamah (kekuasaan) kecuali anak turun 'Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait).

- Orang Yahudi meyakini tidak ada jihad di jalan Allah sehingga al-Masih Ad-Dajjal keluar dan membawa pedang yang diturunkan di tangan dari langit. Sedangkan orang Syi'ah berkeyakinan tidak ada jihad di jalan Allah sehingga Imam Mahdi (Imam kedua belas mereka) keluar dan ada yang mengomando dari langit.

- Orang Yahudi mengakhirkan shalat sampai munculnya bintang-bintang. Sedangkan orang Syi'ah Rafidlah mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang-bintang.

- Mereka menyimpangkan dan merubah kitab Taurat. Sedangkan Rafidlah menyimpangkan dan merubah kitab suci Al-Qur'an.

- Dalam Syari'at Yahudi, wanita yang ditalak (cerai) tidak memiliki 'iddah. Begitu juga yang diterapkan orang Syi'ah dalam nikah mut'ah.

- Orang Yahudi tidak murni dalam mengucapkan salam kepada kaum mukminin, yaitu dengan as-sam 'alaikum (kematian atas kalian). Begitu juga perilaku Syi'ah Rafidlah terhadap kaum mukminin selain golongan mereka, khususnya Ahlus Sunnah.

- Orang Yahudi mengharamkan ikan yang tidak bersisik dan belut. Mereka juga mengharamkan kelinci (mermut), kancil, limpa dan biawak. Begitu juga golongan Syi'ah Rafidlah mengharamkan semua itu.

- Orang Yahudi mengingkari bolehnya mengusap khuf (kaos kaki/sepatu slop) dalam bersuci. Begitu juga Rafidlah.

- Orang Yahudi menghalalkan harta seluruh manusia selain golongan mereka, boleh menipu mereka dan menghalalkan darah mereka. Begitu juga Syi'ah Rafidlah terhadap golongan selain mereka, khususnya terhadap Ahlu Sunnah.

- Orang Yahudi membenci Malaikat Jibril 'alaihis salam. Mereka mengatakan: "ia musuh kami dari golongan Malaikat." Sedangkan golongan Syi'ah Rafidlah mengatakan malaikat Jibril 'alaihis salam telah salah alamat ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang seharusnya disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib.

- Orang Yahudi tidak mengakui thalaq wanita kecuali di kala haid. Begitu juga Rafidlah mengakui thalaq (perceraian) ketika si wanita dalam keadaan haid.

- Yahudi tidak memberikan mahar bagi pasangan wanita mereka, mereka hanya memberikan mata' pada mereka. Seperti itulah perilaku Rafidlah dalam nikah mut'ah.

- Mereka sedikit menceng dari kiblat dan mengangguk-angguk dalam shalat. Begitu juga Syi'ah Rafidlah.

- Orang yahudi dibenarkan menipu orang kafir (selain golongan mereka), kalau perlu bersikap bersikap munafik (dua muka) terhadap mereka. Begitu juga orang Yahudi yang murtad akan diperlakukan seperti orang kafir, kecuali jika dilakukan hanya untuk berpura-pura (taqiyyah) saja untuk mengelabuhi orang lain. Itulah konsep ajaran taqiyyah Syi'ah Rafidlah.

Orang Yahudi menghalalkan harta seluruh manusia selain golongan mereka, boleh menipu mereka dan menghalalkan darah mereka.

Begitu juga Syi'ah Rafidlah terhadap golongan selain mereka, khususnya terhadap Ahlu Sunnah.

Kesamaan Syi'ah dengan Nasrani

Nasrani meyakini kaum Hawariyun dan pengikut Nabi Isa lebih mulia dari Nabi Ibrahim dan Musa, bahkan lebih mulia dari seluruh Nabi dan rasul. Mereka juga meyakini kaum Hawariyun adalah rasul yang diajak bicara langsung oleh Allah. Bahkan mereka berkata: "Allah adalah al-Masih dan al-Masih adalah adalah anak Allah." Sedangkan Syi'ah Rafidlah meyakini imam dua belas lebih mulia dan utama daripada sahabat Muhajirin dan Anshar. Bahkan golongamn ekstrim mereka para imam lebih mulia daripada para Nabi, karena mereka memiliki sifat ketuhanan sebagaimana keyakinan kaum Nasrani terhadap al-Masih.

Nasrani meyakini bahwa agama ini diserahkan kepada para pendeta dan rahib. Halal adalah apa yang mereka halalkan, dan haram adalah apa yang meraka haramkan. Dan agama adalah apa yang mereka syari'atkan. Sedangkan kaum Syi'ah Rafidlah meyakini bahwa dien ini diserahkan kepada para imam, halal dan haram sesuai ketentuan mereka dan agama adalah apa yang mereka syariatkan.

kaum Syi'ah Rafidlah meyakini bahwa dien ini diserahkan kepada para imam, halal dan haram sesuai ketentuan mereka dan agama adalah apa yang mereka syariatkan.

Kelebihan Yahudi dan Nashrani atas Syi'ah Rafidhah:

- Menurut Yahudi; orang yang paling baik adalah sahabat Nabi Musa 'alaihis salam.

- Menurut Nasrani; orang paling baik adalah sahabat Nabi Isa 'alaihis salam, hawariyyun, penolong nabi Isa 'alaihis salam.

- Sedangkan menurut Syi'ah; orang yang paling buruk adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka diperintahkan untuk beristighfar (memintakan ampun) untuk para sahabat, tapi mereka malah mencela para sahabat dan menghunuskan pedang kepada mereka sampai hari kiamat.

(PurWD/voa-islam.com)

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/05/23/14884/kesamaan-syiah-dengan-yahudi-dan-nasrani/

semoga bermanfaat

BUKTI KEKUFURAN SYIAH TERHADAP AL-QUR'AN


Salah satu perbedaan yang tajam antara akidah Islam dan doktrin Syi'ah adalah cara pandang terhadap kitab suci Al-Qur'anul Karim.
Pandangan Islam Terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan rujukan pertama dalam memahami Islam. Keimanan kepada al-Qur’an merupakan salah satu rukun dari rukun iman yang enam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini seyakin-yakinnya bahwa Al-Qur’an Al-Karim adalah Kalamullah yang terpelihara dari perubahan, penambahan atau pengurangan. Karena, Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs. Al-Hijr 9).

Ayat ini adalah jaminan dari Allah sendiri, bahwa kitab suci-Nya tidak akan mengalami pengurangan atau penambahan atau pun perubahan. Sebab, Allah sendiri-lah yang akan langsung menjaganya. Allah juga berfirman:

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang padanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Qs. Fushshilat 41-42).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah.

Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi....

Pandangan Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

Syi’ah berkeyakinan bahwa tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an dengan lengkap selain Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya. Mereka meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi. Mereka meyakini adanya mushaf (kitab suci) yang disebut mushaf Fathimah. Mushaf ini adalah Al-Qur’an yang asli (belum mengalami perubahan) Yang tiga kali lebih tebal daripada Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin saat ini, dan mushaf tersebut akan kembali hadir ke dunia dengan dibawa oleh Imam yang ke-12 yaitu Imam Mahdi.

Al-Kulaini, seorang ulama Syi’ah, meriwayatkan dalam Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah, dari Abu Bashir dari Abu Abdillah ia berkata:

وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ (عليها السلام) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ: قُلْتُ: وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ


“Sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah -‘alaihas salam-. Tahukah mereka apakah Mushaf Fathimah-‘alaihas salam- itu ?” Saya menjawab, “Apakah Mushaf Fathimah itu?” Dia berkata, “Di dalamnya terdapat seperti al-Qur’an kalian ini sebanyak tiga kalinya. Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian” (Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah).

Kekufuran Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

kaum muslimin sejak zaman Nabi hingga kini telah ber-ijma’ bahwa al-Qur’an yang ada di tengah-tengah umat ini adalah Al-Qur’an yang asli sebagaimana diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Tidak mengalami penambahan, pengurangan, ataupun perubahan. Tidak ada yang menyelisihi ijma’ ini kecuali Syi’ah.

Allah telah berfirman:

“Akan tetapi Allah bersaksi atas apa yang Dia turunkan kepadamu (yakni Al-Qur’an). Allah telah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan para malaikat-pun menjadi saksi (pula). Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS. An-Nisa’ 166).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah . Maka tidak mungkin jika al-Qur’an yang telah disaksikan oleh Allah akan kebenarannya itu ternyata mengalami perubahan meskipun sedikit.

Barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir...

Para ulama juga telah ber-ijma’ bahwa barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya, Ash-Sharimul Maslul: “Barangsiapa mengklaim bahwa Al-Qur’an telah dikurangi sebagian ayat-ayatnya, atau disembunyikan maka tidak ada perselisihan lagi tentang kekafirannya.”

[Sumber: Lajnah Ilmiah Hasmi, “Syiah Bukan Islam?” Bogor: Pustaka MIM].

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/06/05/15131/bukti-kekufuran-syiah-terhadap-alquran/

semoga bermanfaat

TAREKAT SUFI NAQSYABANDIYAH

by Al-Ukhti Orcela Puspita -Hafizhahallah-

Oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta

Pertanyaan :
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Ada sebuah perkumpulan wanita dari Kuwait. Mereka menyebarkan dakwah sufi beraliran Naqsyabandiyah secara sembunyi-sembunyi, perkumpulan wanita tersebut berada dibawah naungan lembaga resmi.

Kami telah mempelajari kitab-kitab mereka, dan berdasarkan pengakuan mereka, yang pernah ikut perkumpulan wanita ini, tarekat ini memiliki pemahaman diantaranya :

[a] Barangsiapa yang tidak mempunyai syaikh, maka yang menjadi syaikhnya adalah syetan.
[b] Barangsiapa yang tidak bisa mengambil ahlak syaikh/gurunya, maka tidak akan bermanfaat baginya Kitab dan Sunnah.
[c] Barangsiapa yang mengatakan pada syaikhnya, "Mengapa begitu ?" Maka, tak akan sukses selamanya.

Selain itu, mereka berdzikir (dengan tata cara sufi, tentunya) seraya membawa gambar syaikhnya.
Mereka suka mencium tangan gurunya yang bergelar Al-Anisaa, dan berasal dari negeri Arab. Mereka menganggap akan mendapat berkah dengan meminum air sisa sang gurunya.

Mereka menulis do'a dengan do'a khusus yang dinukil dari buku Al-Lu'lu wa Al-Marjan Fi Taskhiri Muluki Al-Jann. Dan dalam lapangan pendidikan, perkumpulan ini membangun madarasah khusus untuk kalangan sendiri, mereka didik anak-anak berdasarkan ide-ide kelompoknya, bahkan ada di antaranya yang mengajar di sekolah-sekolah negeri umum, baik jenjang setingkat SMP maupun SMA. Sebagian mereka ada yang berpisah dengan suami dan meminta cerai lewat pengadilan, hal itu terjadi manakala sang suami menyuruh sang istri agar menjauh dari aliran yang sesat ini.

Pertanyaan yang kami ajukan :
[1] Bagaimanakah menurut syariat tentang perkumpulan wanita tersebut ?.
[2] Diperbolehkan mengawini mereka ?.
[3] Bagaimana pula hukumnya dengan akad nikah yang telah berlangsung selama ini ?.
[4] Sekarang, nasihat dan ancaman yang bagaimana yang pantas untuk mereka ?.

Mohon penjelasan.

Jawaban :

Tarekat sufi, salah satunya Naqsyabandiyah, adalah aliran sesat dan bid'ah, menyeleweng dari Kitab dan Sunnah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Jauhilah oleh kalian perkara baru, karena sesuatu yang baru (di dalam agama) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat". [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim]

Tarekat sufi tidak semata bid'ah.
Bahkan, di dalamnya terdapat banyak kesesatan dan kesyirikan yang besar, hal ini dikarenakan mereka mengkultuskan syaikh/guru mereka dengan meminta berkah darinya, dan penyelewengan-penyelewengan lainnya bila dilihat dari Kitab dan Sunnah.

Diantaranya, pernyataan-pernyataan kelompok sufi sebagaimana telah diungkap oleh penanya.

Semua itu adalah :
pernyataan yang batil dan tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, sebab, yang patut diterima perkataannya secara mutlak adalah perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah". [Al-Hasyr : 7]

"Artinya : Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya". [An-Najm : 3]

Adapun selain Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam, walau bagaimana tinggi ilmunya, perkataannya tidak bisa diterima , kecuali kalau sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah.

Adapun yang berpendapat wajib mentaati seseorang selain Rasul SECARA MUTLAK, hanya lantaran memandang "si dia/orang"nya, maka ia murtad (keluar dari Islam).

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam ; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa ; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". [At-Taubah : 31]

Ulama menafsirkan ayat ini, bahwa :
makna kalimat "menjadikan para rahib sebagai tuhan" ialah bila mereka menta'ati dalam menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan. Hal ini diriwayatkan dalam hadits Adi bin Hatim.

Maka
wajiblah berhati-hati terhadap aliran sufi, baik dia laki-laki atau perempuan, demikianlah pula terhadap mereka yang berperan dalam pengajaran dan pendidikan, yang masuk kedalam lembaga-lembaga. Hal ini agar tidak merusak aqidah kaum muslimin.

Lantas,
diwajibkan pula kepada seorang suami untuk melarang orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya agar jangan masuk ke dalam lembaga-lembaga tersebut ataupun sekolah-sekolah yang mengajarkan ajaran sufi.
Hal ini sebagai upaya memelihara aqidah serta keluarga dari perpecahan dan kebejatan para istri terhadap suaminya.

Barangsiapa yang merasa cukup dengan aliran sufi, maka ia lepas dari manhaj Ahlus Sunnah wa Jamaah, jika berkeyakinan bahwa syaikh sufi dapat memberikan berkah, atau dapat memberikan manfa'at dan madharat, menyembuhkan orang sakit, memberikan rezeki, menolak bahaya, atau berkeyakinan bahwa wajib menta'ati setiap yang dikatakan gurunya/syaikh, walaupun bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Barangsiapa berkeyakinan dengan semuanya itu, maka dia telah berbuat syirik terhadap Allah dengan kesyirikan yang besar, dia keluar dari Islam, dilarang berloyalitas padanya dan menikah dengannya. !!!

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrikah sebelum mereka beriman, .......... Dan janganlah kalian menikahkan (anak perempuan) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman ........". [Al-Baqarah : 221]

Wanita yang telah terpengaruh aliran sufi, akan tetapi belum sampai pada keyakinan yang telah kami sebutkan diatas, tetap tidak dianjurkan untuk menikahinya. Entah itu sebelum terjadi aqad ataupun setelahnya, kecuali bila setelah dinasehati dan bertaubat kepada Allah.

Yang kita nasehatkan adalah :

 
bertaubat kepada Allah,
kembali kepada yang haq,
meninggalkan aliaran yang batil ini
dan berhati-hati terhadap orang-orang yang menyeru kepada kejelekan-kejelekan.


Hendaknya
berpegang teguh dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, membaca buku-buku bermanfa'at yang berisi tentang aqidah yang shahih, mendengarkan pelajaran, muhadharah dan acara-acara yang berfaedah yang dilakukan oleh ulama yang berpegang dengan teguh pada manhaj yang benar.

Juga kita nasehatkan kepada para istri agar taat kepada suami mereka dan orang-orang yang bertanggung jawab dalam hal-hal yang ma'ruf.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya.

[Fatwa ini dikeluarkan tanggal 18 Jumadil Awal 1414H dengan No. Fatwa 16011, dan dimuat di majalah As-Sunnah Edisi 17/II/1416H-1996M. Diterjemahkan oleh Andi Muhammad Arief Mardzy]

http://almanhaj.or.id/content/1485/slash/0/tarekat-sufi-naqsyabandiyah/


photo by Orcela 

SEPAK TERJANG PARA HABIB ( HABIB WAHABI-pen) MEMBERANTAS SYRIK DAN BID'AH (yang dilakukan HABIB SUFI DAN HABIB SYI'AH-pen)


by Al-ukhti Orcela Puspita -Hafizhahallah-

bismillaah,

Untuk lebih mengenal sepak terjang para Habib wahabi yang getol membela sunnah leluhur mereka dan memerangi bid'ah yang tidak pernah diajarkan oleh leluhur mereka, maka kami sangat berharap kepada para pembaca sekalian untuk mengunjungi website-website berikut ini:

Pertama :
www.dorar.net , sebuah website yang dimiliki dan dikelola oleh Habib 'Alawi bin 'Abdil Qoodir As-Saqqoof. Dalam web ini para pembaca bisa melihat sepak terjang beliau dalam berdakwah di atas manhaj salaf dan memberantas bid'ah.

Bahkan
dalam website beliau ada penjelasan tentang bahwa nasab :
As-Syaikh Abdul Qoodir Al-Jailaani
dan juga As-Syaikh Ahmad Ar-Rifaa'i
bukanlah termasuk Ahlul Bait. Karena dalam rangka melariskan pemahaman yang sesat maka kaum sufi menisbahkan kedua Syaikh ini kepada Ahlul Bait. 


(silahkan lihat : http://www.dorar.net/enc/firq/2400)

Kedua :
www.alsoufia.com, website ini dimiliki dan dikelola Habib Muhammad bin Abdillah Al-Maqdiy. Dalam web ini sangat nampak bagaimana usaha Habib Muhammad Al-Maqdy untuk membantah bid'ah sufi.

Ketiga :
alalbayt.com, dalam web ini juga para pembaca yang budiman bisa melihat betapa banyak Ahlul Bait yang berjuang membela sunnah leluhur mereka dan memberantas ajaran baru (bid'ah) yang tidak pernah dilakukan oleh leluhur mereka. Bahkan para pembaca akan dapati bagaimana Ahlul Bait wahabi membantah Ahlul Bait Sufi dan Ahlul Bait Syi'ah

Demikian juga kami sangat berharap para pembaca untuk menelaah kitab-kitab berikut yang ditulis oleh para habib wahabi untuk membantah para habib sufi.

Pertama :
kitab نسيم حاجر في تأكيد قولي عن مذهب المهاجر, karya Mufti Hadromaut Habib Al-'Allaamah Abdurrohman bin Abdillah As-Saqqoof (wafat tahun 1375 H), yang kitab ini sungguh menggoncang para sufi di kota Hadromaut di Yaman. 


Silahkan mendownloadnya di (http://www.soufia-h.com/soufia-h/book/naseem-hajer.rar). 
Adapun resensi buku ini bisa dilihat di (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=171629)

Kedua :
Kitab التصوف بين التمكين والمواجهة, karya Habib Muhammad bin Abdillah Al-Maqdi. 


Silahkan mendownload kitab tersebut di (http://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/single3/ar_altasouf_bain_altamkeen.pdf),

Ketiga :
Kitab إلى أين أيها الحبيب الجفري؟, ini adalah kitab karya Habib Doktor Kholduun Makkiy Al-Hasaniy yang disusun UNTUK MEMBANTAH Habib Ali Al-Jufri. Kitab ini sangat penting dan memiliki keterkaitan dengan Habib Munzir.
Karena Habib Ali Al-Jufri dan Habib Munzir sama-sama berguru kepada guru yang sama yaitu Habib Umar bin Hafiizh, ——►yang Habib Umar bin Hafiiz inilah yang pernah dihadirkan oleh Habib Munzir di Jakarta dan digelari sebagai Al-Musnid.

Habib Umar bin Hafiz inilah yang memberi kata pengantar bagi kitab Muridnya Habib Al-Jufri yang berjudul معالم السلوك للمرأة المسلمة yang telah dibantah oleh Habib Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy.

Habib Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy berkata di pengantar kitabnya tersebut :
"Dan gurunya Habib Umar bin Hafiizh telah memberikan kata pengantar terhadap buku ini, ia telah memuji kitab dan penulisnya (Habib Ali Al-Jufri) dengan pujian yang sangat tinggi. Bahkan sang guru telah menyifati buku tersebut dengan menyatakan bahwa buku tersebut adalah nafas-nafas (tulisan-tulisan) yang penuh keberkahan dan peringatan-peringatan yang mulia… telah dialirkan oleh Allah pada lisan Habib Al-Jufriy. Dan sang guru telah memuji Allah atas dimudahkannya dicetaknya kitab ini.

Jadi kitab ini adalah karya As-Syaikh Habib Al-Jufry dan telah diberkahi dan diberi pengantar oleh gurunya Habib Umar bin Hafiizh. Dengan demikian maka Habib Al-Jufry bertanggung jawab atas perkara-perkara yang ia tuliskan dalam buku ini" (lihat kitab Ila aina Ayyuhal Habiib Al-Jufriy hal 17).

Silahkan mendownload kitab ini di (http://www.4shared.com/document/bw_ToTWs/____.html)

Habib Al-Jufri ini memiliki KESALAHAN-KESALAHAN FATAL dalam masalah AQIDAH, bukan di sini perinciannya. Akan tetapi sekedar untuk wawasan maka silahkan lihat (http://www.youtube.com/watch?v=wPSbtto9wmM&feature=related).

Dan lihat cara ibadahnya (http://www.youtube.com/watch?v=EhO2OfBFZns&feature=related)

Dan
Al-Jufriy ini juga suka mencela para ulama wahabi dan merendahkan mereka, sama seperti teman sejawatnya Habib Munzir. Silahkan lihat (http://www.youtube.com/watch?v=WBLWOOCJRrg).

Dinukil dr. Ustadz Firanda Andirja, MA, -hafidzohullah-


http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/214-nasehat-habib-habib-wahabi-kepada-habib-habib-sufi-syiah



source and photo by Orcela

***

Nukilan Comment :

Comment :
anas mengatakan:
6 Desember 2011 pada 10:11 am

Di Hadramaut Yaman, terdapat tokoh ahlu sunnah seperti Al-Habib As-Sayyid Umar bin Hafidz (masih keturunan Rasulullah SAW [ maksudnya Shallallahu ‘alaihi Wa sallam-pen]).
Beliau tidak menganggap SYIAH sebagai KAFIR, sebagaimana anggapan Sekte WAHABY dari berbagai fatwa ulama wahaby.

JAWAB :
Uztads Abu Hudzaifah Al Atsary, mengatakan:
6 Desember 2011 pada 10:24 am

Umar bin Hafizh bukan Ahlussunnah, tapi SUFI KELAS BERAT. Biarpun keturunan Rasulullah kalau menyimpang ya tetap menyimpang. Tuh khomeini juga mengklaim dirinya Rasulullah..

bahkan
rata2 dedengkot syi’ah juga mengklaim sbg keturunan Rasulullah. Dan banyak tokohnya yg habib juga… (ada apa sebenarnya??)

Persamaan Sufi dengan Syi’ah:
1. Sama2 ahli bid’ah dan khurafat
2. Sama2 ghuluw thd orang shalih
3. Sama2 memusuhi dakwah salaf (wahhabi).
4. Sama2 qubury

Perbedaan utama Sufi dengan Syi’ah:
Sufi tidak mencaci para sahabat, tapi syi’ah mencaci dan bahkan mengkafirkan para sahabat.

Kalau persamaannya demikian banyak,
mana mungkin menganggap mereka kafir? Wong tokoh2 syi’ah sendiri banyak yg habib kok…
kan berabe jadinya kalau sesama habib saling mengkafirkan??

Contoh habib2 yg syi’ah di Indonesia:
Quraisy Shihab, Alwi Shihab, Omar Shihab, Husein Alatas, Haidar Bagir, Husein Al Habsyi (Bangil), dan masih puluhan atau bahkan ratusan lain yg syi’ah…

Adapun
sisanya (99 %) sufi tarekat, dan (1 %) yg benar-benar ahlussunnah sesuai manhaj salaf, atau mungkin ga’ nyampe.

Sungguh tragis nasibmu wahai para haba-ib…
dan lebih tragis lagi yang taklid kpd kalian.


Dinukil dr.
Uztads Abu Hudzaifah Al-Atsary , -hafidzohullah-
http://basweidan.wordpress.com/2011/12/01/fatwa-syaikh-al-allamah-abdul-muhsin-al-abbad-ttg-jihad-di-dammaj/

Uztads Abu Hudzaifah Al-Atsary adalah Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ulumul Hadits, Islamic University of Medina, KSA. ( http://basweidan.wordpress.com/about/ )