Follow us on:
^SUNNAH DAN SYIAH BERDAMPINGAN? MUSTAHIL! (Bagian 1)^

Jun 21
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. hafizhahullah

Alhamdulillâh, salawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , keluarga dan Sahabatnya. Penindasan dan kehinaan yang diderita oleh umat Islam saat ini, menjadikan sebagian umat Islam menyerukan agar diadakan konsolidasi antara semua aliran yang ada. Hanya saja, seruan tersebut sering kali kurang direncanakan dengan baik, sehingga tidak menghasilkan apapun. Di antara upaya konsolidasi dan merapatkan barisan yang terbukti tidak efektif ialah upaya merapatkan barisan Ahlus Sunnah dengan sekte Syi’ah, dengan menutup mata dari berbagai penyelewengan sekte Syi’ah. Konsolidasi semacam ini bukannya memperkuat barisan umat Islam, namun bahkan sebaliknya, meruntuhkan seluruh keberhasilan yang telah dicapai umat Islam selama ini. Karena itu, melalui tulisan ringkas ini, saya ingin sedikit menyibak tabir yang menyelimuti sekte Syi’ah. Dengan harapan, kita semua dapat menilai, benarkah Ahlus sunnah memerlukan konsolidasi dengan mereka?Pandangan Akidah Ahlus Sunnah dan Keyakinan Syi’ah tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebagai seorang Muslim, Anda pasti beriman bahwa sesembahan Anda hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya, dan Dia pula yang mengatur semuanya. Demikianlah keyakinan umat Islam secara umum dan syariat dalam Alqurân,

اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, dan bumi seperti itu pula. Perintah Allah terus-menerus berlaku di antara alam langit dan alam bumi, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Q.S. at-Thalâq/65: 12).

Umat Islam meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mentukan takdir seluruh makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu kejadian pun kecuali atas kehendak-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ)

Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, dan ‘Arsy-Nya berada di atas air. (H.R. Muslim).

Pada suatu hari, Sahabat Ubâdah bin Shâmit radhiallahu ‘anhu memberikan petuah kepada putranya dengan mengatakan,

يَا بُنَىَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ. سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ n يَقُولُ: (إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ). يَا بُنَىَّ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ n يَقُولُ: (مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّيْ)

“Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan dapat merasakan manisnya iman hingga engkau percaya bahwa sesuatu yang (ditakdirkan) menimpamu, tidak mungkin meleset darimu. Sebaliknya, sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, tidak mungkin menimpamu. Aku mendengar Rasulullâh bersabda, ‘Sesungguhnya, pertama kali Allah menciptakan al-Qalam (Pena), Ia befirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Mendengar perintah itu, al-Qalam berkata, ‘Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga kiamat tiba.’”

(Lalu Sahabat Ubâdah bin Shâmit melanjutkan petuahnya dengan berkata), “Wahai anakku! aku telah mendengar Rasulullâh bersabda,’Barangsiapa mati di atas keyakinan menyelisihi keyakinan ini, maka ia tidak termasuk dari golonganku.” (H.R. Abu Dâwud).

Demikianlah sekelumit tentang akidah umat Islam tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, tahukah Anda apa ideologi sekte Syi’ah? Simaklah ideologi mereka dari riwayat yang termaktub dalam kitab terpercaya mereka, yaitu Al-Kâfi karya al-Kulaini:

Abu Hâsyim al-Ja’fary menuturkan, “Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah Abul Hasan (Ali bin Muhammad-pen) ‘alaihissalâm sepeninggal putranya Abu Ja’far (Muhammad-pen). Kala itu aku berencana mengatakan, ‘Seakan kejadian yang menimpa Abu Ja’far dan Abu Muhammad (al-Hasan bin Ali ) pada saat ini serupa dengan yang dialami oleh Abul Hasan Mûsa dan Ismâîl putra Ja’far bin Muhammad ‘alaihimussalâm.’ Kisah keduanya (Ali dan Muhammad bin Muhammad) serupa dengan kisah keduanya (Mûsa dan Ismâîl bin Ja’far), dikarenakan Abu Muhammad al-Murji menjadi imam sepeninggal Abu Ja’far ‘alaihissalâm. Tiba-tiba Abul Hasan menatapku sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun, lalu ia berkata, ‘Benar, wahai Abu Hâsyim, Allah memiliki pendapat baru tentang Abu Muhammad sepeninggal Abu Ja’far yang sebelumnya tidak Dia ketahui. Sebagaimana sebelumnya muncul pendapat baru pada Mûsa (bin Ja’far) sepeninggal Ismâîl (bin Ja’far) suatu pendapat baru yang selaras dengan keadaannya. Kejadian ini sebagaimana yang terbetik dalam jiwamu, walaupun orang-orang yang sesat tidak menyukainya.’“ [Al-Kâfi oleh al-Kulaini 1/327]

Demikianlah Saudaraku! sekte Syi’ah meyakini adanya perubahan pada pengetahuan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Ia berubah pendapat dan keinginan karena terjadi sesuatu yang di luar pengetahuan dan kehendak-Nya.

Menurut hemat Anda! Mungkinkah seorang Muslim memiliki keyakini semacam ini?

-bersambung insya Allah-

Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com

AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (Jalan Golongan Yang Selamat)

semoga bermanfaat
^SUNNAH DAN SYIAH BERDAMPINGAN? MUSTAHIL! (Bagian 2)^

Sebelumnya, silakan baca Sunnah & Syi’ah, Bersandingan? Mustahil (Bagian 1)
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. hafizhahullah

Nabi Muhammad versi Ahlus Sunnah & Syi’ah

Saudaraku! Anda pasti mengetahui bahwa syarat utama untuk menjadi seorang Muslim ialah mengucapkan dua kalimat syahadat. Ikrar bahwa sesembahan Anda hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Muhammad bin `Abdillâh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di antara konsekuensi dari persaksian bahwa beliau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah Anda meyakini bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan seluruh wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umatnya.

Oleh karena itu, pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di Padang Arafah, beliau bertanya tentang hal ini kepada para Sahabatnya,

أَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ ؟

Kalian pasti akan ditanya tentang aku, maka apa yang akan kalian katakan? Simaklah jawaban umat Islam yang menghadiri khutbah beliau ini,

قَالُوا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ: (اللَّهُمَّ اشْهَدِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ) ثَلاَثَ مَرَّاتٍ رواه مسلم

Para Sahabat menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan dan mengemban risâlah dengan sempurna tanpa ada sedikit pun campuran.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan telunjuknya ke arah langit lalu menunjuk ke arah para sahabatnya seraya berdoa, “Ya Allah, persaksikanlah, Ya Allah persaksikanlah (sebanyak tiga kali).” (H.R. Muslim).


Saya yakin, Anda dan juga seluruh umat Islam di seantero dunia pun demikian, bersaksi bahwa beliau telah sepenuhnya menunaikan amanah, menegakkan agama dan menyampaikan seluruh wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umatnya.

Akan tetapi, tahukah Anda, apa kira-kira sikap dan keyakinan sekte Syi’ah? Anda ingin tahu? Temukan jawabannya pada pengakuan revolusioner mereka, yaitu al-Khumaini berikut ini,

لَقَدْ أَثْبَتْنَا فِيْ بِدَايَةِ هَذَاالْحَدِيْثِ بِأَنَّ النَّبِيَّ أَحْجَمَ عَنِ التَّطَرُّقِ إِلَى اْلإِمَامَةِ فِيْ القُرْآنِ، لِخَشْيَتِهِ أَنْ يُصَابَ الْقُرآنُ بِالتَّحْرِيْفِ، أَوْ أَنْ تَشْتَدَّ الْخِلاَفَاتُ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَيُؤَثِّرُ ذَلِكَ عَلَى اْلإِسْلاَمِ

Telah kami buktikan pada awal pembahasan ini, bahwa Nabi menahan diri dari membicarakan masalah imâmah (kepemimpinan) dalam Alqurân;([1]) karena beliau khawatir Alqurân akan diselewengkan, atau timbul perselisihan yang sengit di tengah-tengah kaum Muslimin, sehingga hal itu berakibat buruk bagi masa depan agama Islam.” [Kasyful Asrâr oleh al-Khumaini 149].

Al-Khumaini belum merasa cukup dengan menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa gentar untuk menyampaikan ayat-ayat imâmah kepada umatnya. Lebih jauh, dengan tanpa merasa bersalah al-Khumaini menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penyebab terjadinya seluruh perpecahan dan peperangan yang terjadi di tengah-tengah umat Islam sepeninggal beliau,

وَوَاضِحٌ بِأَنَّ النَّبِيَّ لَوْ كَانَ قَدْ بَلَغَ بِأَمْرِ اْلإِمَامَةِ طَبَقًا لِمَا أَمَرَ بِهِ اللهُ، وَبَذَلَ الْمَسَاعِيَ فِيْ هَذَا الْمَجَالِ، لَمَا نَشَبَتْ فِيْ اْلبُلْدَانِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ كُلُّ هَذِهِ اْلإِخْتِلاَفاَتِ وَالْمُشَاحَنَاتِ وَالْمَعَارِكِ، وَلَمَا ظَهَرَتْ ثَمَّةَ خِلاَفاَتٌ فِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَفُرُوْعِهِ

Sangat jelas, bahwa Andai Nabi telah menyampaikan perihal imâmah (kepemimpinan), sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadanya, dan ia benar-benar mengerahkan segala upayanya dalam urusan ini, niscaya tidak akan pernah terjadi berbagai perselisihan, persengketaan dan peperangan ini di seluruh belahan negeri Islam. Sebagaimana di sana tidak akan muncul perselisihan dalam hal ushûl (prinsip) dan juga cabang furû‘ (cabang) agama.” [Kasyful Asrâr oleh al-Khumaini 155].


Mungkin Anda berkata, “Ah ini hanya salah tulis al-Khumaini saja, dan tidak mewakili ideologi kaum Syi’ah.”

Tunggu sejenak Saudara! Coba Anda bandingkan ucapan al-Khumaini di atas dengan dua riwayat berikut:

Al-Kulaini meriwayatkan, bahwa Imam Abu `Abdillâh Ja’far Ash-Shâdiq, menyatakan,

لَوْلاَ نَحْنُ مَا عُبِدَ اللهُ

Andai bukan karena kami, niscaya Allah tidak akan pernah diibadahi. [Al-Kâfi oleh al-Kulaini 1/144]

Mufti sekte Syi’ah pada abad ke-11 H, yang bernama al-Majlisi menambahkan riwayat di atas menjadi,

لَوْلاَهُمْ، مَا عُرِفَ اللهُ وَلاَ يَدْرِيْ كَيْفَ يَعْبُدُ الرَّحْمَنَ

Andai bukan karena para imam, niscaya Allah tidak akan dikenal, dan tidak akan ada yang tahu bagaimana beribadah kepada Ar-Rahmân (Allah). [Bihârul Anwâr 35/29]
 

Apa perasaan dan pendapat Anda setelah membaca dua riwayat yang termaktub dalam dua referensi terpercaya umat Syi’ah ini?

Berdasarkan kedua riwayat ini, kira-kira apa peranan dan jasa Nabi Muhammad menurut sekte Syi’ah? Mereka meyakini bahwa hingga sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, umat manusia belum juga mengetahui bagaimana harus beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalaulah bukan karena jasa para imam-imam umat Syi’ah, maka tidak ada manusia yang bisa shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Saudaraku! sebagai seorang Mukmin, dapatkah batin Anda menerima tuduhan keji sekte Syi’ah ini kepada Nabi Anda?

Coba sekali lagi Anda bandingkan kedua riwayat ini dengan ucapan al-Khumaini di atas. Al-Khumaini beranggapan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sumber petaka yang menimpa umat ini. Berbagai persengketaan, pertumpahan darah dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah umat berawal dari kegagalan beliau dalam menyampaikan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama yang berkaitan dengan “al imâmah” (kepemimpinan).

Perkenankan saya bertanya, “Menurut hemat Anda, apakah kedua riwayat dan juga ucapan al-Khumaini di atas mencerminkan syahadat “Muhammad Rasulullâh”? Sebagai seorang Muslim yang bersaksi bahwa Muhammad bin `Abdullâh adalah Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa perasaan Anda membaca kedua riwayat dan ucapan al-Khumaini di atas? Kuasakah Anda untuk menutup mata dan telinga dari fakta ini, lalu Anda bergandengan tangan dengan orang-orang yang meyakini demikian itu tentang Nabi Anda?

Bersambung insya Allah

Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com

Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12 Tahun XIII

[1]) Aneh bin ajaib, al-Khumaini meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebebasan untuk menyembunyikan masalah al-Imâmah dari umatnya. Anggapan ini nyata-nyata bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. al-Mâidah/5: 67).


^SUNNAH DAN SYIAH BERDAMPINGAN? MUSTAHIL! (Bagian 3)^

Silakan baca tulisan sebelumnya, Sunnah & Syi’ah, Bersandingan? Mustahil (Bagian 1) dan Sunnah & Syi’ah, Bersandingan? Mustahil (Bagian 2)

***
Sahabat Nabi dalam Akidah Ahlisunnah & Kebencian Syi’ah.

Saudaraku, bila Anda mencermati sejarah para nabi dan umatnya, niscaya Anda dapatkan bahwa sahabat setiap nabi adalah orang-orang pilihan dan generasi terbaik dari umat nabi tersebut. Kesimpulan Anda ini benar adanya dan selaras dengan sabda Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ

Tidaklah ada seorang nabi pun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki para pendamping dan sahabat setia, yang senantiasa mengikuti ajarannya dan berpedoman dengan perintahnya. Sepeninggal mereka, datanglah suatu generasi yang biasa mengatakan sesuatu yang tidak mereka perbuat, serta melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. (H.R. Muslim).

Demikian pula halnya dengan Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat beliau adalah generasi terbaik dari umat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah. (Q.S. Ali Imrân/3: 110).

Saya yakin, Anda pun meyakini bahwa generasi pertama dari umat Islam yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik dari umat Islam. Bukankah demikian, Saudaraku!

Akan tetapi, tahukah Anda, siapakah Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mata umat Syi’ah? Anda ingin tahu, silahkan simak riwayat-riwayat mereka berikut,

عَنْ سُدَيْرٍ عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ سَنَةً، إِلاَّ ثَلاَثَةٌ: فَقُلْتُ: وَمَنْ الثَّلاَثَةُ ؟ فَقَالَ: الْمِقْدَادُ بْنُ اْلأَسْودُ وَأَبُوْ ذَرٍّ الْغِفَارِيْ وَسَلْمَانَ اْلفَارِسِيُّ، وَقَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ دَارَتْ عَلَيْهِمُ الرَّحَى وَأَبَوْا أَنْ يُبَايِعُوْا حَتَّى جَاؤُوْا بِأَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ مَكْرَهاَ فَبَايَعَ

Dari Sudair, ia meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali bin al-Husain) ‘alaihissalâm, “Dahulu sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruh manusia murtad selama satu tahun, kecuali tiga orang.” As-Sudair pun bertanya, “Siapakah ketiga orang tersebut?”Dia menjawab, “Al-Miqdâd bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifâri, dan Salmân al-Fârisi,” lalu beliau berkata, “Mereka itulah orang-orang yang tetap kokoh dengan pendiriannya dan enggan untuk membaiat (Abu Bakar As-Shiddîq-pen) hingga didatangkan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thâlib) ‘alaihissalâm dalam keadaan terpaksa, lalu beliaupun berbaiat.” [Bihârul Anwâr oleh al-Majlisy 22/351 dan Tafsir Nur As-Tsaqalain, karya Abdu Ali bin Jum'ah al- 'Arusy al-Huwaizy, 1/396]

Syaikh Mufîd (wafat tahun 413 H) juga meriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad bin Ali bin al-Husain) ‘alaihissalâm,

اِرْتَدَّ النَّاسُ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ إِلاَّ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ: الْمِقْدَادُ بْنُ اْلأَسْو
َدِ وَأَبُوْ ذَرٍّ الْغِفَارِيْ وَسَلْمَانُ اْلفَاِرسِيُّ، ثُمَّ ِإنَّ النَّاسَ عَرَفُوْا وَلَحِقُوْا بَعْدُ

Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali tiga orang, al-Miqdâd bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifâry, dan Salmân al-Fârisi. Kemudian setelah itu manusia mulai menyadari, dan kembali masuk Islam.” [Al-Ikhtishâsh, karya Asy-Syaikh Mufîd, hlm. 6]

Dalam riwayat lain, mereka menambah jumlah yang tetap mempertahankan keislamannya menjadi empat orang:

Mereka meriwayatkan dari Abu Ja’far, bahwa ia berkata,

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ لَمَّا قُبِضَ، صَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ: عَلِيٌّ وَالْمِقْدَادُ وَسَلْمَانُ وَأَبُوْ ذَرٍّ

Sesungguhnya, tatkala Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, seluruh manusia kembali kepada kehidupan jahiliyah, kecuali empat orang saja: yaitu Ali, al-Miqdâd, Salmân dan Abu Dzar.” [Tafsir Al 'Ayyasyi 1/199, karya An-Nadhir Muhammad bin Mas'ûd as-Samarqandi (wafat th: 320 H), Bihârul Anwâr 22/333 karya Al-Majlisy, (wafat th. 1111 H)]

Saudaraku! apa perasaan Anda tatkala membaca beberapa contoh riwayat yang termaktub dalam kitab-kitab terpercaya agama Syi’ah di atas?

Saya yakin, batin Anda menjerit, keimanan Anda menjadi berkobar ketika membaca riwayat-riwayat itu
. Betapa tidak, para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dinyatakan telah murtad, kecuali tiga orang saja.

Saudaraku! Coba tenangkan perasaan Anda, lalu baca kembali dengan seksama riwayat-riwayat di atas. Tidakkah Anda mendapatkan hal yang aneh pada kedua riwayat tersebut? Pada riwayat tersebut dinyatakan bahwa yang tetap berpegang teguh dengan keimanan dan keislamannya hanya ada tiga orang. Dan pada riwayat lainnya dijelaskan maksud dari ketiga orang tersebut, yaitu: Al-Miqdâd bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifâry, dan Salmân al-Fârisi.

Bila demikian adanya, lalu bagaimana halnya dengan Ali bin Abi Thâlib, Fâtimah bintu Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kedua putranya, yaitu al-Hasan dan al-Husain? Mungkinkah mereka termasuk yang murtad, karena yang dinyatakan tetap berpegang dengan keislamannya hanyalah tiga, dan mereka semua tidak termasuk dari ketiga orang tersebut?

Demikianlah Saudaraku! Umat Syi’ah mempropagandakan sebagai para pencinta Ahlul Bait dan pembela mereka. Akan tetapi, faktanya, mereka menghinakan Ahlul Bait, bahkan menganggap mereka telah murtad dari Islam. Bila Anda tidak percaya, silahkan buktikan dan datangkan satu riwayat saja yang menyebutkan bahwa Ahlul Bait tidak termasuk yang murtad sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya yakin Anda tidak akan menemukan riwayat tersebut, walau Anda membaca seluruh kitab-kitab Syi’ah.

Apa yang saya paparkan di atas, menjadi alasan bagi Imam ‘Amir bin Syurahil asy-Sya’bi untuk berkata tentang sekte Syi’ah, “Kaum Yahudi dan Nasrani memiliki satu kelebihan bila dibandingkan dengan agama Syi’ah. Bila dikatakan kepada kaum Yahudi, ‘Siapakah orang terbaik dari penganut agamamu?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Tentu para Sahabat Nabi Mûsa.’ Dan bila dikatakan kepada kaum Nasrani, ‘Siapakah orang terbaik dari penganut agamamu?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Tentu para Sahabat sekaligus pengikut setiap Nabi ‘Isa.’ Akan tetapi, bila dikatakan kepada agama Râfidhah (Syi’ah), ‘Siapakah orang terjelek dari penganut agamamu?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Tentu para Sahabat sekaligus pengikut setia Nabi Muhammad.’”
 
Saudaraku! Mungkin Anda bertanya-tanya, “Mengapa para pengikut agama Syi’ah begitu membenci para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama ketiga Khulafâ‘ur Râsyidin yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsmân? Saudaraku! Benarkah And
a merasa penasaran ingin mengetahui biang kebencian mereka kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Obatilah rasa penasaran Anda dengan jawaban seorang pakar yang telah kenyang dengan pengalaman dalam menghadapi para penganut Syi’ah. Tokoh tersebut adalah Abu Zur’ah ar-Râzi rahimahullah. Beliau menyampaikan hasil studi dan pengalaman beliau pada ucapannya berikut, “Bila engkau dapatkan seseorang mencela seorang sahabat Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang zindîq (kafir yang menampakkan keislaman). Alasannya, karena kami meyakini bahwa Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti benar, dan Alqurân juga pasti benar. Sedangkan yang menyampaikan Alqurân dan Sunnah Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para Sahabat. Dengan demikian, sesungguhnya orang yang mencela para saksi (perawi) kami (yaitu para sahabat), hendak menggugurkan Alqurân dan Sunnah . Karena itu, merekalah yang lebih layak untuk dicela.” (Riwayat al-Khathîb al-Baghdâdi dalam kitab Al-Kifâyah Fî ‘Ilmir Riwâyah).

Bersambung insya Allah

Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com

Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12 Tahun XIII

fin
 
   

Awas! Taring Syi’ah Menancap di Bumi Pertiwi

Sebagian pengamat menyatakan bahwa paham syi’ah masuk ke negri Indonesia jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia. Bahkan kesultanan Pasai atau Samudra Pasai yang berdiri di sekitar kota Kota Lhokseumawe, atau Aceh Utara pada sekitar tahun 1267 M, ditengarai oleh sebagian pengamat berkulturkan Syi’ah. Bahkan salah seorang raja kesultanan ini pernah didampingi dua orang Persia terkenal, yaitu Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraj dan Taj Ad-Din dari Isfahan. ([1])

Bahkan sebagian lain, lebih jauh menengarai bahwa Syi’ah telah masuk ke Indonesia sejak abad ke- 9. Praduganya ini berdasarkan pada asumsi bahwa kerajaan Islam pertama yang berdiri di Nusantara, yaitu kerajaan Peureulak (Perlak) yang konon, didirikan pada 225H/845M telah menganut paham Syi’ah. Sebagaimana diketahui bahwa Kerajan ini didirikan oleh para pelaut-pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat yang mula-mula datang untuk mengislamkan penduduk setempat. Belakangan mereka mengangkat seorang Sayyid Maulana Abdul ‘Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang konon katanya menganut paham politik Syi’ah, sebagai sultan Perlak.([2])

Manapun pendapat yang benar, sebagian pengamat telah menyimpulkan bahwa pengaruh ajaran Syi’ah telah dirasakan di negri kita sejak jauh hari. Dan mereka berusaha menguatkan kesimpulan itu dengan beberapa indikasi berikut:

1. Perayaan Hoyak Tabuik.

Tradisi ini dapat anda temui di Pariaman Sumatra Barat. Perayaan Hoyak Tabuik atau juga dikenal dengan Perayaan Tabot konon pertama kali dilaksanakan oleh Syeikh Burhanuddin Ulakan yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685.

Perayaan ini dimulai pada hari pertama bulan Muharam hingga hari kesepuluh. Puncak dari upacara tradisional ini adalah prosesi mengarak usungan (tabut) yang dilambangkan sebagai keranda jenazah Imam Husain yang gugur di Padang Karbala.

Perayan serupa juga dapat anda temukan di Bengkulu, Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Hanya saja di sebagian daerah perayaan ini lebih dikenal dengan Tabot atau Tabut.
2. Tari Jari-jari Karbala.

Tarian ini adalah salah satu tarian khas daerah Bengkulu ini juga memiliki kultur dan makna yang sama dengan tradisi tabot.
3. Peringatan Syura atau Suro (Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo).

Bagi masyarakat jawa, atau Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya, bulan Muharram atau yang sering disebut dengan bulan Suro adalah bulan yang penuh nahas. Karenannya penduduk setempat berpantangan mengadakan pernikahan atau membangun rumah atau bercocok tanam pada bulan ini. Dan untuk menebus kesialan yang diyakini, mereka mengadakan upacara grebeg suro. Semua itu sebagai bias langsung dari peringatan tragedi pedih yang pernah terjadi di bulan itu, yaitu terbunuhnya Al Husain bin Alin bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma.

4. Tradisi membaca Barzanji dan Diba’i

Sebagian kalangan meyakini bahwa kebiasaan membaca barzanji atau diba’i adalah wujud nyata dari hubungan NU dengan ajaran Syi’ah.

Dan masih banyak lagi tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang diklaim oleh sebagian orang berafiliasi dengan simbul-simbul agama Syi’ah.

Hanya saja dari mencermati berbagai data di atas, ada satu fenomena unik yang pantas untuk dicermati dan sekaligus disyukuri, yaitu:

1. Anggapan bahwa berbagai tradisi dan kesultanan di atas adalah bernuansakan atau bahkan berasal dari ajaran Syi’ah tidak sepenuhnya dapat diterima. Karenanya ternyata banyak pihak, diantaranya Buya Hamka meragukan anggapan tersebut.

2. Diantara hal yang mementahkan anggapan sebagian orang itu ialah fakta umat islam di Indonesia sendiri. Anda pasti mengetahui bahwa umat islam di Indonesia sejak dahulu kala menganut mazhab Imam As Syafi’i dan tidak menganut mazhab Ja’fari. Ini bukti kuat nan akurat bahwa Islam masuk ke Indonesia tidak melalui para penganut ajaran Syi’ah.

3. Kalaupun kesultanan dan berbagai warisan budaya di atas benar berafiliasi dengan ajaran syi’ah, maka ini menjadi bukti kuat bahwa ajaran Syi’ah sejak jauh hari telah terbukti tidak cocok untuk disebarkan di Indonesia. Oleh karena itu, para penggiat ajaran Syi’ah kala itu hanya berhasil membuat suatu tradisi atau upacara atau amalan ritual belaka. Padahal sebagian tokohnya telah berhasil menjadi orang kepercayaan sebagian raja-raja Islam kala itu. Sedangkan inti dari doktrin agama Syi’ah, berupa pengkafiran sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, meragukan keabsahan Al Qur’an, dan lainnya tetap saja tidak dapat merubah arah keagamaan muslim Indonesia.

Ini bukti kuat bahwa berbagai doktrin agama Syi’ah nyata-nyata bertentangan dengan kultur penduduk Indonesia yang lembut dan jauh dari permusuhan, caci maki dan kebencian. Masyarakat Indonesia memiliki karakter lemah lembut, tenggang rasa, sehingga tidak sejalan dengan ajaran Syi’ah yang lembaran sejarahnya dilumuri oleh cacian, kekerasan dan pertumpahan darah.

4. Adanya kesamaan dalam beberapa hal, tidak serta merta dapat dijadikan bukti bahwa masyarakat setempat berpahamkan Syi’ah atau telah memiliki hubungan langsung dengan ajaran Syi’ah. Karenanya tidak ada seorangpun yang mengklaim bahwa agama Islam masuk ke Indonesia di bawa oleh para penganut agama hindu, padahal betapa banyak tradisi dan ritual agama Hindu yang diamalkan oleh umat Islam.

Sekelumit Metode Penyebaran Agama Syi’ah Di Indonesia.

1. Berusaha menyusupkan ajaran Syi’ah pada berbagai tradisi masyarakat.

Sejak jatuhnya ORBA dan ditabuhnya genderang reformasi, para penggiat agama Syi’ah di negri kita mendapatkan ruang gerak yang lebih luasa guna melancarkan propagandanya. Karenanya mereka berusaha memanfaatkan berbagai tradisi dan simbol yang diyakini berafiliasi dengan ajaran Syi’ah, untuk dijadikan sebagai media sosialisasi dan penyebaran agama Syi’ah.

Mereka berusaha menyusupkan ajaran syi’ah kedalam berbagai ritual dan budaya yang ada di tengah masyarakat.

Karenanya, betapa girangnya DUBES Iran ketika mengetahui adanya tradisi Tabut atau Tabot di tanah Minang Dan Bengkulu. Tidak ingin kehilangan momentum, ia segera mengadakan kunjungan ke sana. Yang sangat disayangkan, panitia perayaan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan memberikan kata sambutan. Bahkan tidak ada satupun dari ormas Islam, termasuk MUI setempat yang merespon kunjungan ini.

Sudah dapat ditebak, dalam orasinya DUBES Iran Behrooz Kamalvandi memuja agama Syiah. Bukan sebatas itu, kunjungannya ini berlangsung selama 2 hari dan dengan membawa rombongan 10 orang dan mengikut sertakan Televisi Nasional Iran untuk meliput acara Tabuik Pariman (Tabut Pariaman). ([3])

Gayungpun bersambut, Dubes Iran terus melanjutkan upaya penjinakan salah satu “basis ahlissunnah” yang selama ini memiliki slogan: “Adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah.” Ia menjanjikan akan memindahkan daerah tujuan wisata (DTW) warganya ke Asia Tenggara dari Malaysia ke Sumatera Barat (Sumbar) pada 2009. Dan konon jumlah wisatawan Iran ke Malaysia berjumlah 15 ribu orang. ([4])

Anda bisa bayangkan bila wisatawan Iran benar-benar berpindah ke SUMBAR:

- Jerat nikah mut’ah terbuka lebar.
- Penyebaran agama Syi’ah menjadi pesat.

- Tidak dapat dihindari, gadis-gadis SUMBAR pun berpeluang memperpanjang daftar korban nikah mut’ah.
asyura Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)
Acara Arba’in/peringatan Asyura’ Di Kutai asyura2 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)
Pj Bupati Kutai Kartanegara (H.Sjahruddin)Ketika memberi sambutan pada acara Asyura’

2. Meningkatkan Hubungan Bilateral Antara Kedua negara.

Hubungan bilateral, baik dalam sekala pemerintah pusat atau pemerintah daerah terus semakin diintensifkan. Dimulai dari kunjungan kepala negara, menteri, mahkamah agung, dewan perwakilan rakyat, dan tidak ketinggalan berbagai pemerintah daerah kedua belah pihak.

Diantara pemerintah daerah yang telah menjalin hubungan dengan beberapa pemerintah daerah, dan bahkan telah berganti kunjungan ialah Pemda Pariaman dan Bogor.

Sebagaimana kedua negara juga berkomitmen untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara kedua negara.

Dari wujud meningkatnya hubungan perdagangan Iran ke Indonesia ialah dengan dibangunnya kilang minyak di Banten dan Tuban-Jawa Timur.

Sudah barang tentu, dengan adanya perusahaan-perusahaan Iran yang masuk ke Indonesia, jumlah warga negara Iran di Indonesia turut meningkat pula. Dan bersama meningkatnya jumlah warga negara Iran di Indonesia, maka meningkat pula penebaran agama Syi’ah.

3. Meberangus Ketabuan Syi’ah Di Tengah Umat Islam Indonesia.

Hingga saat ini, umat Islam di Indonesia masih tetap bangga dan yakin bahwa mereka beragama Islam dengan pahaman ahlissunnah wal jama’ah. Tidak mengherankan bila merekapun merasa bersebrangan dengan paham bersebrangan dengan paham Syi’ah. Oleh karena itu para penjaja paham Syi’ah mendapatkan tantangan yang cukup berat untuk menyebarkan pahamnya di masyarakat Indonesia. Dan salah satu langkah yang mereka tempuh guna memudahkan dakwah mereka, ialah dengan mengikis ketabuan dan memperpendek jurang pemisah antara mereka dengan umat Islam Indonesia. Bila langkah ini telah tercapai, maka jalan menjadi mulus dan hamparan karpet merahpun terbentang di hadpan para penjaja paham Syi’ah. Berikut beberapa indikasi yang menunjukkan akan adanya fase ini:

A. Pendekatan Terhadap Sebagian ORMAS Islam.

Diantara indikasi yang menunjukkan akan hal itu ialah pernyataan Dr. Said Aqil Siraj mantan Wakil Katib Syuriah PBNU, dan mantan Mentri Agama RI: ” Harus diakui pengaruh Syi’ah di NU sangat besar dan mendalam. Kebiasaan membaca barzanji atau diba’i yang menjadi ciri khas masyarakat NU misalnya secara jelas berasal dari tradisi Syi’ah.”

Ungkapan senada dalam beberapa kesempatan juga disampaikan oleh Gus Dur (Abdurrahman Wahid). ([5])

Saya yakin anda tidak dapat menerima ucapan kedua tokoh ini, karena anda mengetahui bahwa ormas NU berasaskan paham asy ‘ariyah dan bermazhabkan dengan mazhab Imam As Syafi’i. Fakta ini mementahkan anggapan mereka berdua, karena Syi’ah berpaham dan bermazhabkan Ja’fariyah.

Ucapan keduanya ini mengindakasikan telah adanya pendekatan yang begitu kuat yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Syi’ah kepada kedua tokoh ini secara khusus dan ormas NU secara umum.

B. Propaganda bahwa Perbedaan antara Sunni dan Syi’ah hanya sebatas Masalah Furu’.

Propaganda ini rupanya cukup ampuh, sampai-sampai tokoh sekaliber Din Syamsuddin yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terpengaruh dengannya. Pada Konferensi Islam Sedunia, Senin (5/05/2008), yang berlangsung di Teheran beliau menegaskan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat pada penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

Lebih jauh, Din Syamsuddin menyatakan: “Kedua kelompok (Sunnah & Syi’ah) harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. ([6])

Aneh bin ajaib, tokoh sekaliber bapak Din Syamsyudin beranggapan bahwa perbedaan antara Syi’ah dan Sunnah hanya sebatas masalah furu’.

Anda pasti bertanya-tanya, apakah menurut beliau pengkafiran seluruh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah masalah furu’? Apakah idiologi imamah yang menyatakan bahwa seluruh pemimpin umat Islam selain dari ke 12 imam agama Syi’ah adalah pemimpin yang tidak sah, juga termasuk masalah furu’? Apakah kultus terhadap ke-12 imam juga masalah furu’?

C. Anggapan Syi’ah ekstrim telah punah, yang tersisa Syi’ah Moderat

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, seorang tokoh yang konon ahli di bidang tafsir Al Qur’an dalam bukunya yang berjudul : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah? menekankah bahwa kelompok ekstrim Syi’ah yang menuhankan para Imam telah punah. Yang tersisa pada zaman ini hanyalah Syi’ah Imamiyah.([7])

Walau demikian penjelasan beliau, akan tetapi pada buku yang sama beliau banyak menukil ucapan salah seorang tokoh Syi’ah Imamiyah yang bernama: Abdul Husain Syarafuddin Al Musawi. ([8])

Anda bisa bayangkan, dari namanya saja telah terbaca sikap ekstrim yang begitu kelewat batas, Abdul Husain (Hamba Husain). Saya heran, mengapa tokoh sekaliber Prof. Dr. Quraish Shihab kok dapat melewatkan fakta semacam ini tanpa ada komentar atau kritikan sedikitpun. Apakah adanya nama-nama semacam ini pada para tokoh Syi’ah Imamiyah belum cukup sebagai bukti akan sikap ekstrim Syi’ah Imamiyyah?

Saudaraku! Nama-nama semacam ini dapat anda temukan dengan mudah pada masyarakat Syi’ah, baik di zaman dahulu atau sekarang. Berikut beberapa nama tokoh Syi’ah yang serupa dengan itu:

Abdul Husain bin Ali wafat tahun 1286 H, ia adalah seorang tokoh terkemuka agama syi’ah pada zamannya, sampai-sampai dijuluki dengan Syeikhul ‘Iraqain (Syeikh kedua Iraq/ Iraq & Iran).
Abdul Husain Al Aminy At Tabrizi 1390 H, penulis buku Al Ghadir.
Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy Al ‘Aamily 1377 H, penulis buku Abu Hurairah, kitab Kalimatun Haula Ar Riwayah, Kitab An Nash wa Al Ijtihaad, Al Muraja’aat
Abdul Husain bin Al Qashim bin Sholeh Al Hilly wafat tahun 1375 H.
Abduz Zahra’ (Hamba Az Zahra’/Fatimah) Al Husainy, penulis kitab: Mashaadiru Nahjil Balaaghah wa Asaaniduhu.

Lebih mengherankan, pada buku yang sama, hal: 104, Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab menukilkan ucapan Khumeini berikut:

إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل.

“Sesungguhnya imam memiliki kedudukan yang terpuji serta tingkat yang tinggi serta kekhilafahan terhadap alam yang tunduk kepada kekuasaannya (kekhilafahan itu) semua atom (butir-butir) alam raya. Sesungguhnya merupakan bagian dari pemahaman aksioma mazhab kami adalah bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh malaikat yang didekatkan (Allah ke sisi-Nya) tidak juga oleh nabi yang di utus (Allah).”

Ingin sekali rasanya bertanya epada Prof Dr. Qurish Shihab: Adakah idiologi yang lebih ekstrim dibanding idiologi yang diucapkan oleh tokoh revolusioner sekter Syi’ah Imamiyah ini? Bila ini adalah sikap dan keyakinan tokoh terkemuka, lalu bagaimana sikap rakyat dan masyarakat awam mereka?

D. Publikasi buku-buku yang menghujat para sahabat.

Beberapa waktu silam, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan sebuah buku dalam edisi Indonesia, yang berjudul: “Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin” , karya Faraj Fouda (Judul aslinya: al-Haqiqah al-Ghaybah).

Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa yang oleh penulis disebut sebagai sisi kelam dari sejarah Islam.

Saudaraku! Tahukan, apa yang dimaksud dengan sisi kelam dari sejarah Islam? Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan ialah zaman Khulafaurrasyidin. Zaman yang menurut umat islam sebagai masa keemasan, ternyata oleh Fouda dianggap sebaliknya. Menurutnya, zaman itu tidak layak disebut sebagai masa keemasan umat Islam, tapi “zaman biasa”. “Tidak banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak jejak memalukan.” ([9])

Pada buku ini, Faraj Fouda nyata-nyata melecehkan sayyidina Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu, khalifah ketiga dan sekaligus menantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , bukan hanya sekali bahkan dua kali.

Berikut contoh dari ucapan Fouda yang begitu biadab tentang sahabat Utsman:

”Namun Usman membawa umat Islam ke dalam polemik tentang sosok dirinya. Para pemimpin di dalam Ahl al-Hall wa al-’Aqdi membuat konsensus untuk melarikan diri dari kepemimpinannya, baik lewat cara pemecatan menurut kalangan ahli pikirnya, maupun kekerasan menurut kalangan garis kerasnya. Wibawanya terguncang di mata rakyat, sampai sebagian masyarakatnya menghunus pedang yang siap mencincangnya dan menohoknya ketika berada di atas mimbar. Bahkan sebagian menghinanya dengan sebutan Na’tsal, sebutan untuk orang Kristen Madinah bernama Na’tsal yang kebetulan berjenggot lebat seperti Usman. Para pemuka sahabat pun menentangnya, ini adalah sesuatu yang sangat terang benderang menunjukkan bahwa ia keluar dari ketentuan al-Quran dan Sunnah. Karena itu, muncul seruan secara terang-terangan untuk membunuhnya. Hadits Aisyah meriwayatkan: “Bunuhlah Na`tsal, dan terlaknatlah Na`tsal.” ([10])

Selanjutnya, untuk lebih mempertajam citra buruk Usman Radhiallahu ‘Anhu Fouda menulis secara dramatis kisah kematian Usman dan pemakamannya:

”Ia terbunuh oleh tangan umat Islam sendiri yang bersepakat memberontak dan mengepung rumahnya. Dan anda dapat saja membayangkan bahwa kematian Usman telah melegakan hati sebagian umat Islam. Bahkan, permusuhan sebagian umat Islam atas dirinya berlangsung setelah kematiannya….” ([11])

Walau demikian adanya, buku ini mendapat apresiasi yang begitu istimewa dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, yang dikenal sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY). Berikut sebagian dari komentar beliau tentang buku ini : ”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.

Sanjungan beliau di atas dimuat pada sampul belakang buku ini. ([12])

Mengherankan bukan? Seorang yang bergelar Prof. Dr. di bidang filsafat sejarah, dapat berhati dingin membaca hujatan kepada sahabat Utsman bin Affan, dan bahkan memuji pelakunya.

4. Sandiwara Iran “bermusuhan” Dengan Israel & Amerika.

Diantara metode yang ditempuh oleh para penggiat agama Syi’ah ialah dengan memanfaatkan sandiwara yang berjudul : Iran “bermusuhan” dengan Negara Yahudi Israel dan Amerika.

Isu ini sangat efektif untuk menarik simpati umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Sampai-sampai terkesan bahwa negara Iran yang nota bene adalah penganut agama Syi’ah adalah satu-satunya negara pembela kepentingan umat Islam di zaman sekarang.

Karenanya tatkala Indonesia yang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB turut menyetujui resolusi no: 1747 yang hanya berisikan kecaman terhadap Iran atas kegiatannya pengayaan uranium. Betapa solidaritas umat Islam di Indonesia begitu besar kepada Presiden SBY, sampai-sampai DPR mengajukan hak interpelasi.

Dengan adanya kejadian semacam ini, menjadikan masyarakat kurang peka terhadap berbagai trik para penggiat agama Syi’ah bahkan menjadi lebih terbuka untuk menerima berbagai kenylenehan ajaran mereka.

Saudaraku, agar anda menjadi tahu apa sebenarnya isu “permusuhan” dengan bangsa Yahudi, saya mengajak saudara untuk merenungkan beberapa fakta berikut:

A- Iran adalah negara yang memiliki komunitas yahudi terbesar setelah Israel. Menurut sumber resmi pemerintah Iran, jumlah pemeluk agama Yahudi di Iran berkisar antara 25- 30 ribu penduduk. Bahkan di kota Teheran didapatkan lebih dari 10 Synagogue (tempat ibadah umat Yahudi). Akan tetapi, masjid-masjid Ahlussunnah tidak satupun yang mereka biarkan berdiri tegak di sana. Bukan sekedar itu saja, orang-orang Yahudi diberi ruang yang begitu istimewa, yaitu dengan diberikan kesempatan untuk memiliki perwakilan di parlemen. Sebagaimana umat Yahudi di Iran memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan para penganut agama Syi’ah. Suatu hal yang tidak mungkin dirasakan oleh komunitas ahlussunnah. Bahkan komunitas Yahudi Iran hingga saat ini bebas untuk berkunjung ke karib-kerabat mereka di Israel, tanpa ada gangguan sedikitpun, baik dari pemerintah Iran atau penduduk setempat.([13])

B- Adanya hubungan perdagangan antara Iran dan Israel. Sejak zaman Syah Vahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Israel. Dan hubungan dagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syi’ah yang dipimpin oleh Khumaini. Pada tahun 1982 M, Israel menjual persenjataan yang berhasil mereka rampas dari para pejuang Palestina di Lebanon dengan harga 100 juta dolar Amerika. ([14])

Bahkan pada tahun 1980 s/d1985, Israel merupakan negara pemasok senjata terbesar ke Iran. ([15])

Sandiwara “permusuhan” Iran dan Israel mulai terbongkar, ketika pesawat kargo Argentina yang membawa persenjataan dari Israel ke Iran tersesat, sehingga masuk ke wilayah Uni Soviet, dan akhirnya ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan Uni Soviet. Dikisahkan Iran membeli persenjataan dari Israel seharga 150 juta Dolar Amerika, sehingga untuk mengirimkan seluruh senjata tersebut, dibutuhkan 12 kali penerbangan.([16])

C- Perdagangan antara kedua negara (Iran & Israel) hingga kini juga terus berkelanjutan. Sebagai salah satu buktinya, harian Palpress News Agency (وكالة فلسطين برس للأنباء) edisi 25/04/2009 melaporkan bahwa di kota Teheran, telah dipasarkan buah-buahan yang diinpor dari Israel.

D- Bila anda mengikuti berita internasional, anda pasti pernah membaca pemberitaan bahwa pada hari Selasa 12/1/2010 ahli nuklir Iran yang bernama Masoud Ali-Mohammadi yang berdomisili di kota Teheran ibu Kota Iran mati di dekat rumahnya akibat serangan bom. Dan Kementerian Luar Negeri Iran langsung menuduh kaki tangan AS dan Israel di balik serangan bom itu.

Aneh bukan? Iran telah memiliki bukti bahwa Israel dan Amerika telah mengadakan sernagan di Teheran dan telah menewaskan ahli nuklirnya. Walau demikian, tidak ada reaksi pemerintah Iran dan para penganut Syi’ah tetap berdarah dingin dan tidak satupun tentara Iran yang dikirim untuk membalas serangan tersebut.
5. Jaringan Kantor Berita IRIB, Mass Media Lokal, Situs dan Penerbit.

Diantara metode yang digunakan para penggiat agama Syia’ah ialah memanfaatkan keberadaan IRIB (radio Iran sesi bahasa Indonesia), beberapa mass media, penerbi dan situs di jaringan internet yang memiliki loyal terhadap agama Syi’ah.

Diantara yang terbaru ialah masuknya televisi Al Manar milik Hizbullah-Lebanon.

Diketahui bersama bahwa Indosat telah menyewakan transponder Satelit Palapa C selama tiga tahun dari April 2008 sampai April 2011 M kepada TV Al Manar. Dengan kerjasama ini, televisi Al Manar dapat menjangkau berbagai negara di Asia Tenggara, Cina, Taiwan sampai ke Australia.

Sudah bisa di tebak, bahwa televisi Al Manar ini pasti berperan sebagai pencair kebekuan dan kekakuan sikap umat Islam di Indonesia terhadap Syi’ah yang merupakan idiologi Hizbullah pemilik stasiun ini.

Adapun mass media lokal, penerbit buku, dan berbagai yayasan yang menjajakan paham Syi’ah mulai banyak bertebaran, dan biasanya mereka menggunakan nama ahlul bait, atau salah satu tokoh mereka sebagai nama yayasan atau penerbit mereka.

Artikel www.salafiyunpad.wordpress.com
Disalin dari www.gensyiah.com

[1] ) Sebagaimana yang dilakukan oleh Ahmad Baso, salah seorang staf PBNU. Majalah SYIAR edisi Muharram 1428 H.
[2] ) Sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, pada makalahnya yang berjudul: Sunnah-Syi’ah di Indonesia: Perspektif Ilmu Hadits
[3] ) Sumber: www.hidayatullah.com
[4] ) Sumber http://www.antara.co.id/view/?i=1230902078&c=EKB&s
[5] ) Babak Kedua Sengketa Gus Dur – Abu Hasan, oleh Ulil Abshar Abdallah, Tempo Interaktif, Selasa, 26 Maret 1996 | 09:36 WIB
[6] ) Sumber : http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1101.
[7] ) Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah? Hal: 70 & 83
[8] ) Sebacai contoh, silahkan buka buku : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?, hal: 58, 123 &124.
[9] ) Kebenaran yang Hilang, hal.xv.
[10] ) Kebenaran yang Hilang, hal. 25.
[11] ) Idem.
[12]) Sumber: Memuja Fouda, Menfitnah Sahabat, oleh Asep Sobari, Lc, http://www.darulkautsar.net/article.php?ArticleID=879
[13] ) Roger Cohen of The International Herald Tribune, 22 Februari 1999 M.
[14] ) Sumber:
(الحرب المشتركة: إيران وإسرائيل) حسين علي هاشمي ص 35. والقبس الكويتية 4/12/1986، مجلة أكتوبر المصرية في عددها آب1982، مجلة ميدل إيست البريطانية في عددها تشرين الثاني 1982.
[15] ) Sumber :
( الحرب المشتركة إيران وإسرائيل) حسين علي هاشمي ص 35
[16] ) Sumber :
( الحرب المشتركة إيران وإسرائيل ( حسين علي هاشمي ص 23، والمجلة السويدية TT في 18 آذار 1984.

AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (Jalan Golongan Yang Selamat)

semoga bermanfaat

Waspadai! Deklarasi Wadah Aliran Sesat Syiah Dihadiri Aliran Sesat LDII

Deklarasi Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia: Jalaluddin Rakhmat; Daud Poliraja, dan Furqan Bukhari (VIVAnews/Nur Eka Sukmawati) JUM’AT, 20 MEI 2011, 14:57 WIB (kanan). orang syi’ah peringatan asyura, bid’ah munkaraoh. (kiri) albainah.net

Sesama aliran sesat tampaknya saling dukung mendukung. Hingga walaupun berbagai ormas Islam bahkan MUI menolak adanya deklarasi wadah aliran sesat syi’ah bernama MUHSIN (Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah Indonesia) ternyata nekat diselenggarakan dan juga aliran sesat LDII hadir.

Deklarasi kelahiran Muhsin (Majelis Ukhuwah Sunni—Syiah Indonesia) dilangsungkan di Masjid Akbar Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5 2011), setelah gagal karena ditolak oleh berbagai pihak ketika akan mendeklarasikannya di Masjid Istiqlal bulan lalu.

Penamaan Sunni-Syiah itu sendiri telah diprotes MUI, karena jelas syi’ah itu beda prinsip dalam aqidah dengan sunni (Ahlus Sunnah). Sehingga DMI (Dewan Masjid Indonesia) yang bekerjasama dengan Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlul Bait) wadah aliran sesat syi’ah mendirikan apa yang disebut MUHSIN (Majelis Ukhuwah Sunni—Syiah Indonesia) itu tidak bisa mewakili Sunni. Tapi itu hanya DMI dan Ijabi, menurut Amidhan dari MUI bernada protes keras.

Vivanews memberitakan, Deklarasi Sunni-Syiah Indonesia ini digagas Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia yang diwakili oleh Ketua Departemen Kepemudaan dan Remaja, Daud Poliradja. Sementara, dari kalangan Syiah digagas Pengurus Pusat Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi).

Deklarasi dibacakan sebelum shalat Jum’at oleh Ketua Dewan Syuro Ijabi, Jalaluddin Rakhmat; Ketua Departemen Kepemudaan dan Remaja DMI, Daud Poliraja, dan Ketua Ijabi, Furqan Bukhari. Dewan Ketahanan Nasional sendiri merupakan lembaga yang langsung diketuai Presiden SBY.

Mediaindonesia.com memberitakan, Deklarasi itu dihadiri oleh Lembaga Macan Kemayoran (LMK), Aliansi Masyarakat Peduli Bangsa (AMPB), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Dihadiri pula oleh Staf Ahli Bidang Ideologi dan Konstitusi Kemenko Polhukam Laksma TNI Christina M Rantetana, Sekretaris Jendral Dewan Ketahanan Nasional Manahan Daulay, dan Duta Besar Republik Islam Iran Mahmoud Farazandeh.

Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan beberapa perwakilan lembaga Islam dan organisasi masyarakat seperti MUI, FPI dan FBR, tidak tampak hadir, padahal mereka sudah diundang. “Kami tidak tahu mengapa tidak hadir, tapi kami sudah mengirimkan undangannya,”kata Daud.

” Pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga kami undang tetapi menolak untuk hadir,” kata Ketua Dewan Syura IJABI Jalaludin Rakhmat di sela pendeklarasian.

Berbagai pihak dikhabarkan telah menolak deklarasi itu ketika akan dilangsungkan di Masjid Istiqlal bulan lalu. DMI tidak pernah terdengar mengaku dirinya Syi’ah, sebagaimana jarang terdengar pula apa kegiatannya, kecuali di antaranya semacam menarik-narik orang untuk kepentingan tertentu. Misalnya di masa Orde Baru, DMI akan menyelenggarakan apa yang disebut saat itu sebagai kebulatan tekat, yakni semacam “sumpah” politik yang berisi dukungan kepada partai penguasa yang sedang jaya yaitu Golkar. Namun khabarnya acara kebulatan tekat nasional itu gagal total, karena Menteri Agama saat itu konon tidak mengizinkannya, padahal di antara undangan dari luar Jawa sudah ada yang hadir. Khabar berikutnya, setelah acara kebulatan tekat nasional itu gagal, lalu di antara pengurus DMI jatuh sakit.

Sementara itu sabili.co.id memberitakan, MUHSIN juga akan merencanakan deklarasi di seluruh Indonesia.

Kalau nanti benar dilaksanakan, berarti DMI tidak mau peduli kepada penderitaan Ummat Islam Sunni yang didhalimi di negeri syi’ah di Iran. Para ulama Sunni dibunuhi, masjid-masjidnya dihancurkan, bahkan madrasah Sunni juga tidak dibolehkan. Sampai sekarang Ummat Islam Sunni tidak punya masjid di Teheran ibukota Iran. Konon kalau berjum’atan mereka harus ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Islam di Teheran. Dan kalau mengadakan shalat Jum’at di rumah maka bisa digerebeg.

Sedangkan syi’ah itu bencinya terhadap Islam lebih besar dibandingkan orang kafir . Contohnya di Taheran Iran tidak ada lagi satu pun masjid Sunni (Ahlus Sunnah), Syaikh Taskhiri ulamanya orang-orang Syi’ah ketika ditanya wartawan di Afrika Utara bagaimana kalau dibangun masjid Sunni di Taheran? Ia menjawab kalau saat ini belum saatnya. Malah saat sebuah rumah menyelenggarakan Shalat Jum’at berjamaah malah digrebeg. Kemudian pemerintah Syi’ah di Iran itu membunuhi para ulama Sunni dan menghancurkan masjid-masjid Sunni. Padahal di London dan negeri-negeri kafir lainnya saja masjid boleh didirikan.

Di antaranya seperti berita ini:

Negeri Syi’ah Iran lebih kejam terhadap Islam dibanding negeri-negeri kafir

Perlu diketahui, sikap Iran terhadap Islam (Sunni) lebih kejam dibanding sikap negeri-negeri kafir sekalipun. Hingga di Iran terutama ibukotanya, Teheran, tidak ada masjid Islam (Sunni). Hingga Ummat Islam (Sunni) bila berjum’atan maka ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Timur Tengah di Teheran. Tidak ada pula Madrasah Islam (Sunni). Karena semuanya sudah dihancurkan. Para ulama Sunni pun sudah disembelihi atau dibunuhi. (Lihat Ma’satu Ahlis Sunnah fi Iran, oleh Abu Sulaiman Abdul Munim bin Mahmud Al-Balusy, diindonesiakan dengan judul Kedholiman Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah di Iran, LPPI, Jakarta, 1420H/ 1999).

Di Iran tidak ada pula anggota parlemen dari Islam (Sunni) apalagi menteri. Padahal dari Yahudi diberi prioritas jadi anggota parlemen, punya tempat-tempat ibadah (sinagog) dan sekolah-sekolah Yahudi di Iran.

Ulama Syiah terkemuka Iran, Taskhiri, pernah ditanya wartawan di satu negeri di Afrika Utara, apakah tidak boleh di Iran didirikan Masjid Islam Sunni. Pertanyaan itu dijawab, sampai sekarang belum saatnya.

AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (Jalan Golongan Yang Selamat)

semoga bermanfaat

Orang bodoh itu bernama Ahmad Dinejad....

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan Jahiliyyah (meratap)”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1294 & 1297 & 1298 & 3519, Muslim no. 103, At-Tirmidziy no. 999, An-Nasaa’iy no. 1860, Ibnu Maajah no. 1584, Ibnul-Jaaruud no. 516, Ahmad 1/432 & 456 & 465, Ibnu Hibbaan no. 3149, Al-Baihaqiy 4/63, dan Al-Baghawiy no. 1534].

added link video :

http://www.youtube.com/watch?v=HaxM9oUv8FU&feature=endscreen&NR=1&noredirect=1


source 

^KESAMAAN KESESATAN SUFI DAN SYIAH^

Siapapun yang mengetahui hakikat tasawwuf (Sufi) dan tasyayyu’ (Syi’ah), ia akan mendapatkan keduanya seperti pinang dibelah dua. Keduanya berasal dari sumber yang sama, dan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, kedua firqah ini memiliki kesamaan dalam pemikiran dan aqidah. Di antara persamaan dua golongan tersebut, ialah:

Pertama. Kaum Syi’ah mengaku memiliki ilmu khusus yang tidak dipunyai kaum muslimin selain mereka. Mereka menisbatkan kedustaan ini kepada Ahlul bait dengan seenak perutnya. Mereka juga mengklaim memiliki mushaf (Al-Qur‘ân) tersendiri, yang mereka sebut Mushaf Fathimah. Menurut keyakinan mereka, mushaf ini memiliki kelebihan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Al- Qur‘ân yang ada di tangan kaum muslimin.2 Mereka menganggap Muhammad diutus dengan tanzil, sedangkan Ali diutus dengan takwil.3

Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menganggap memiliki ilmu hakikat. Sedangkan orang dari luar kalangan mereka, hanya baru sampai pada tingkat ilmu syariat. Mereka beranggapan, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan ilmu laduni kepada mereka, saat orang-orang selain mereka mesti menimba ilmu dengan susah payah dari para ulama. Bahkan salah seorang tokoh Sufi , yaitu al-Busthami sampai berkoar: “Kami telah menyelam di dalam lautan ilmu, sementara para nabi (hanya) berdiri di tepinya”.4 Demikian, persamaan antara Sufi dan Syi’ah dalam masalah ilmu kebatinan.

Kedua. Orang-orang Syi’ah mengkultuskan imam-imam mereka dan menempatkan imam-imam itu dengan kedudukan yang lebih tinggi dari para malaikat dan para rasul. Mereka mengatakan, para imam adalah katub pengaman bagi penduduk bumi sebagaimana bintang-bintang menjadi pengaman bagi penduduk langit. Apabila para imam diangkat dari muka bumi -walaupun sekejap- maka bumi dan para penduduknya ini akan hancur.5

Khumaini, salah seorang tokoh besar Syi’ah berkata: “Di antara keyakinan madzhab (baca: agama) kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa diraih, sekalipun oleh para malaikat dan para rasul”.6

Bahkan orang-orang Syi’ah memberikan sifat ketuhanan kepada para imam itu, dan menganggap mereka mengetahui segala sesuatu, meski sekecil apapun di alam ini.

Sifat seperti ini pula yang disematkan orang-orang Sufi kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai wali. Katanya, “para wali” itu ikut berperan dalam pengaturan alam semesta ini, dan mengetahui ilmu ghaib. Oleh karenanya, orangorang Sufi membentuk suatu badan khusus yang terdiri dari para wali mereka. Tugas badan khusus ini adalah mengatur alam dan seisinya.

Dengan pernyataan ini, maka tidak tersisa lagi hak pengaturan alam semesta bagi Allah Ta’ala. Padahal, hanya milik Allah 'Azza wa Jalla hak untuk mencipta dan mengatur segala urusan. Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Ketiga. Anggapan bahwa agama ini memuat perkara zhahir dan batin telah menjadi kesepakatan antara Syi’ah dan Sufiyyah. Menurut mereka, hal yang batin adalah suatu hakikat yang tidak diketahuinya kecuali oleh para imam dan para wali. Sedangkan yang zhahir ialah apa yang terdapat dalam masalah nash-nash yang dipahami oleh orang kebanyakan.

Dr. Abu al-’Ala’ al-’Afifi menjelaskan kronologi munculnya anggapan batil ini yang merasuki aqidah Islamiyyah dengan berkata : “Munculnya pembagian agama kepada syariat dan hakikat, ialah ketika ada pembagian agama menjadi zhahir dan batin. Pembagian seperti ini tidak dikenal oleh kaum muslimin generasi pertama. Pemikiran seperti ini muncul ketika Syiah mengatakan bahwa segala sesuatu memuat perkara yang zhahir dan batin. Al-Qur`ân pun demikian. Bahkan menurut anggapan mereka, setiap ayat dan kalimat Al-Qur`ân mengandung pengertian zhahir dan yang batin. Dan hal-hal yang batin ini tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali orang-orang khusus dari para hamba Allah, yang khusus dipilih untuk memperoleh keutamaan ini. Semua rahasia Al- Qur`ân akan terbuka untuk mereka. Oleh karena itu, mereka memiliki metode khusus dalam menafsirkan Al-Qur`an yang akhirnya melahirkan kumpulan-kumpulan takwil kebatinan terhadap nash-nash Al-Qur`an dan bisikan-bisikan khayalan mereka yang dikenal dengan istilah ilmu bathin. Menurut mereka, hasil penafsiran diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam kepada ‘Ali bin Abi Thâlib. Lantas diwariskan dari beliau kepada orang orang yang memiliki ilmu batin yang menamakan diri mereka dengan sebutan al-Waratsah (para ahli waris).

Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menempuh jalan takwil ini dalam memahami Al- Qur‘ân, dan banyak mengambil istilah yang dipakai oleh orang-orang Syi’ah. Dengan demikian, kita mengetahui hubungan yang begitu erat antara orang Syi‘ah dan orang Sufiyyah”.7

Keempat. Pengagungan terhadap kuburan serta kunjungan kepada makam-makam merupakan salah satu dasar akidah Syiah. Mereka itulah golongan pertama yang membangun kuburan dan menjadikannya sebagai syiar mereka.8

Kemudian muncul orang-orang Sufi yang syiar terbesarnya adalah pengagungan terhadap kuburan, membangun dan menghiasinya, melakukan thawaf mengelilinginya meminta berkah dan meminta pertolongan kepada penghuninya. Bahkan kuburan Ma’rûf Al Kurkhi, seorang tokoh Sufi diyakini menjadi obat yang mujarab.9

Untuk mengetahui lebih mendetail mengenai hubungan erat antara golongan Syiah dan Tarekat Sufi, Dr. Kâmil Asy Syaiby telah membukukan sebuah kitab melalui pendekatan historis yang berjudul ash- Shilah Bainat Tashawwufi Wat Tasyayyu’.

Sisi persamaan antara Syiah dan Sufi tidak terbatas pada dimensi perkataan dan keyakinan saja. Akan tetapi juga merambah pada sepak terjang nyata yang dapat disaksikan lewat sejarah.

Kaum Syiah bahu-membahu dengan musuh (pasukan Mongol) untuk menghancurkan Daulah Islamiyyah ‘Abbasiyyah. Mereka kemudian menyebarkan ajaran zindîq dan ilhâd (kekufuran). Sampai pada akhirnya, Shalâhuddin al-Ayyubi Rahimahullaht berhasil menumpas salah satu dari kelompok mereka yaitu rejim al-’Ubaidiyyah yang berakar pada ajaran Majusi (penyembah api). Maka, kembalilah Daulah Islam ke pangkuan kaum muslimin.

Dan lagi, ketika kaum muslimin berusaha untuk membersihkan Daulah Islam dari para Salibis (kaum Nashara), orang syiah Rafidhah, Nashîr ath-Thûsi dan Ibnul ‘Alqami justru membantu pasukan Mongol untuk masuk ibukota Daulah Islamiyyah, Baghdad. Maka, timbullah kerusakan dan pembantaian kaum muslimin dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya.

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : “Musuh-musuh Islam, mereka berhasil masuk Baghdad karena bantuan dari kaum munafikin seperti kaum Isma’iliyyah dan Nushairiyyah (dari golongan Syiah pent). Mereka berhasil menguasai negeri Islam, menjadikan para wanita sebagai tawanan, merampas harta, menumpahkan darah dan kejadian memilukan lainnya. Ini dialami oleh kaum muslimin karena bantuan yang mereka berikan kepada musuh-musuh Islam…...10

Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Sufi. Setali tiga uang. Mereka juga banyak membantu musuh-musuh Islam untuk merebut negeri Islam dari tangan kaum muslimin. Sebagai contoh, ketika mereka membantu tentara Perancis untuk merebut kota Qairawân. Begitu pula, campur tangan mereka dalam mendukung pasukan Perancis menginjakkan kakinya di bumi negeri Aljazair. Bahkan salah seorang tokoh mereka, Syaikh Muhammad at-Tijâni, penerima amanat Ahmad At-Tijâni (pendiri golongan Tijâniyyah) untuk memegang tongkat kepemimpinan setelahnya, mengatakan pada tanggal 28 Dzulhijjah 1350 H : “Sesungguhnya wajib bagi kami untuk membantu tentara Perancis, yang kami cintai, baik secara materi, maknawi dan politis. Oleh karena itu, saya nyatakan di sini dengan penuh rasa bangga dan tanggung jawab bahwa kakek moyangku telah memilih jalan yang benar ketika mendukung pasukan Perancis sebelum mereka datang ke negeri kita, dan sebelum menjajah wilayah-wilayah kita”.?!

Masih banyak lagi peristiwa lain yang sangat merugikan kaum muslimin yang didukung baik dari kaum Syiah ataupun golongan Sufi. Ahli sejarah Islam, Ibnu Khaldûn Rahimahullah telah menyinggung perihal tersebut dalam tulisannya. Inilah beberapa titik persamaan Syiah dan Tarekat Sufiyyah sehingga jelaslah bagi kita bahwa mereka berasal dari sumber yang satu. Wallahul Musta’ân.

1 Dikutip dari al-Jamâ’at Al Islâmiyyah Fi Dhauil Kitâbi Was Sunnah Bifahmi Salafil Ummah karya Syaikh Saliim bin Id al-Hilâli hlm. 115-127 , Dârul Atsariyyah Th. 1425H-2004M dengan ringkasan.
2 Ad-Dîn Baina Sâil Wal Mujîb karya Al-Hajj Mirza al-Hairi al-Ahqaqi hal 89
3 Firaq asy-Syîah hal 38
4 al-Futûhât al-Makkiyah 1/37
5 Kamâluddin Tamâmunni’mah Ibnu Babuyah al-Qummi 1/208
6 al-Hukûmah al-Islâmiyah 53
7 At-Tasawwuf Wats-Tsaurah Ar-Rûhiyyah Fil Islâm
8 Rasâil Ikhwân Ash Shafâ
9 Thabaqât as- Shûfiyyah, as-Sulami hal 85
10 Minhâjus Sunnah An-Nabawiyyah 1/10-11

AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (Jalan Golongan Yang Selamat)

semoga bermanfaat


^BIARKAN SYI'AH BERCERITA TENTANG KESESATAN AGAMANYA (1)^

Prolog

Segala puji bagi Allah Robb semesta alam, sholawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, istri-istrinya dan orang-orang yang senantiasa setia mengikuti jalannya hingga hari akhir nanti.

Enam tahun yang silam di salah satu pesantren terbesar di Indonesia, penulis menjadi salah satu peserta dauroh yang diadakan oleh Jami’ah Islamiyah Madinah. Kebetulan ada suatu kisah yang tidak terlupakan hingga detik ini.

Seperti biasanya, sebelum pelajaran dimulai, para dosen (baca: masyayikh) mengabsen peserta dauroh satu persatu. Hingga sampai ke suatu nama, dosen tersebut mengernyitkan dahinya dan terheran-heran, nama itu adalah Ayatullah Khomeini, (kebetulan dia salah seorang teman akrab penulis di pesantren).

Dosen itu bertanya, “Kamu sunni (termasuk golongan ahlus sunnah)?”, dengan tenangnya peserta itu menjawab, “Iya”, “Mengapa kamu pakai nama dedengkot Syiah?”, “Karena bapak ana ngasih nama seperti itu”, sahutnya. Setelah dialog singkat itu sang dosen minta agar teman kami tersebut mengganti namanya.

Penulis -dengan lugunya- berkata dalam hati, “Memangnya kenapa sich nggak boleh pakai nama tokoh Syi’ah tersebut? Masa gitu saja dipermasalahkan! Toh dia juga salah satu pejuang besar dunia?!”

Hari berganti hari, bulan berganti bulan; setahun kemudian penulis diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menuntut ilmu di kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tepatnya di Jami’ah Islamiyah. Di situlah wawasannya mulai terbuka sedikit demi sedikit, pengetahuannya tentang kelompok-kelompok yang menisbatkan diri mereka kepada agama Islam sedikit demi sedikit mulai bertambah. Hingga terbelalaklah matanya tatkala mengetahui hakikat kelompok Syi’ah. Dan hilanglah sudah keheran-heranan dia enam tahun yang silam, mengapa sang dosen pengajar dauroh itu begitu ‘ngotot’-nya minta agar peserta Ayatullah Khomeini mengganti namanya.

Maka, dalam rangka menyampaikan ilmu walaupun hanya sedikit, juga berhubung semakin menjamur dan larisnya ajaran itu di tanah air kita, penulis merasa berkewajiban untuk menyampaikan sedikit dari apa yang diketahuinya tentang agama yang satu ini.

Tulisan ini ditranskrip, diterjemahkan dan diringkas dari sebuah ceramah ilmiah dalam suatu kaset yang berjudul “Waqafat Ma’a Du’at at-Taqrib” (Beberapa renungan beserta para da’i penyeru persatuan antara Ahlusunnah dengan Syi’ah) yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah as-Salafy. Kaset ini bukan hanya membawakan fakta dari perkataan-perkataan ulama klasik Syi’ah saja, tapi juga membawakan fakta dari perkataan-perkataan ulama kontemporer mereka yang suaranya sempat terekam dalam kaset, dan jatuh ke tangan Ahlusunnah(*). Kami ucapkan kepada para pembaca yang budiman, Selamat menikmati!

(*) Perkataan-perkataan ulama klasik mereka kami sebutkan dengan referensinya beserta nomor jilid dan halamannya. Bagi yang menginginkan bukti otentik fakta-fakta tersebut bisa merujuk ke kitab Ulama asy-Syi’ah Yaqulun, Watsaiq Mushawwarah Min Kutub asy-Syi’ah, yang diterbitkan oleh Markaz Ihya Turots Alul Bait. Adapun perkataan-perkataan ulama kontemporer mereka jika terdapat dalam suatu kaset, maka kami sebutkan dengan kata-kata, “Dengarlah perkataan fulan…” Suara asli mereka bisa didengarkan dalam kaset Waqafat Ma’a Du’at at-Taqrib.

FAKTA PERTAMA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Ahlul Bait (keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi (menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait (keluarga) nya.

Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi mereka (Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum melainkan hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keyakinan mereka juga: wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.

Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (Rafidhah adalah salah satu julukan kelompok Syi’ah. Julukan ini disebutkan oleh ulama kontemporer mereka Al Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar hal 68, 96 dan 97. Kata-kata Rafidhah berasal dari fi’il rafadha yang berarti menolak. Adapun asal muasal mengapa mereka digelari Rafidhah, ada berbagai versi. Antara lain:

Karena mereka menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar.
Versi lain mengatakan karena mereka menolak agama Islam. (lihat Maqalat al-Islamiyin, karya Abu al-Hasan al-Asy’ary jilid I, hal 89).

Selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan! Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling kufur.

Di antara sikap ekstrem mereka, klaim mereka bahwa para imam mengetahui hal-hal yang gaib, dan mereka mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, tidak terkecuali. Mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam hati, apa-apa yang ada dalam tulang belakang kaum pria dan apa-apa yang ada dalam rahim kaum wanita. Mereka juga mengetahui apa yang telah lalu dan yang akan datang hingga hari kiamat.

Al Kulainy dalam kitabnya al-Kaafi -yang mana ini merupakan kitab yang paling shahih menurut Rafidhah-, dia telah mengkhususkan di dalamnya bab-bab yang menguatkan sikap ekstrem tersebut. Contohnya: di jilid I, hal 261, dia berkata, “Bab bahwasanya para imam mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang, serta bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka.” Dia juga telah meriwayatkan dalam halaman yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka mendengar Abu Abdillah ‘alaihis salam (yang dia maksud adalah Ja’far ash-Shadiq) berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit dan di bumi, aku mengetahui apa-apa yang ada di dalam surya dan aku mengetahui apa yang telah lalu serta yang akan datang.”

Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali dengan kemauan mereka sendiri.”

Di antara bukti-bukti sikap ekstrem orang-orang Syi’ah, klaim mereka para imam memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta ini semau mereka; mereka bisa menghidupkan orang yang telah mati, juga menyembuhkan orang yang buta, orang yang terkena kusta, kemudian dunia akhirat milik para imam, mereka berikan kepada siapa saja sesuai dengan kehendak mereka.

Al-Kulainy di jilid I, hal 470 meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Bashir bahwa ia bertanya kepada Abu Ja’far ‘alaihis salam, “Apakah kalian pewaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Benar!” Lantas aku bertanya lagi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pewaris para nabi mengetahui apa yang mereka ketahui?” “Benar!”, jawabnya. Aku kembali bertanya, “Mampukah kalian menghidupkan orang yang sudah mati dan menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit kusta?” “Ya, dengan izin Allah”, sahutnya.”

Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari berkata,

“Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya.

Berkata al-Kasany dalam kitabnya ‘Ilm al-Yaqin fi Ma’rifati Ushul ad-Din jilid II, hal 597, “Semua makhluk diciptakan untuk mereka (para imam), dari mereka, karena mereka, dengan mereka dan akan kembali kepada mereka. Karena -tanpa diragukan lagi- Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan dunia dan akhirat hanya untuk mereka. Dunia dan akhirat untuk mereka dan milik mereka. Para manusia adalah budak-budak mereka!”

Dengarlah salah seorang syaikh mereka Baqir al-faly yang mengatakan bahwasanya Nabiyullah Isa ‘alaihis salam mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali rodhiallahu ‘anhu, “Wahai para manusia, beberapa hari yang lalu telah dirayakan hari kelahiran Isa al-Masih, yang telah mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali bin Abi Thalib!”

Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”

Sulaim bin Qois dalam kitabnya hal 245 dengan ‘gagahnya’ berdusta dengan perkataannya, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali, “Wahai Ali, sesungguhnya engkau adalah ilmu pengetahuan Allah yang paling agung sesudahku, engkau adalah tempat bersandar yang paling besar di hari kiamat. Barang siapa bernaung di bawah bayanganmu niscaya akan meraih kemenangan. Karena hisab (penghitungan amal) para makhluk berada di tanganmu, tempat kembali mereka adalah kepadamu. Mizan (timbangan amalan), shirath (jalan yang mengantarkan para hamba ke surga), dan al-mauqif (tempat berkumpulnya semua makhluk di hari akhir) semua itu adalah milikmu. Maka barang siapa yang bersandar kepadamu, niscaya akan selamat dan barang siapa yang menyelisihimu niscaya akan celaka dan binasa! Ya Allah, saksikanlah 3x!”

Na’udzubillah…

Dengarlah Basim al-Karbalaiy menghasung dan mendorong orang-orang Rafidhah untuk pergi ke kuburan Ali radhiallahu ‘anhu dan meminta kesembuhan darinya, berihram dan thawaf di sekitar kuburannya, “Wahai yang berada di bawah kubah putih di kota Najaf! Wahai Ali! Barang siapa yang berziarah ke kuburanmu dan meminta kesembuhan darimu niscaya dia akan sembuh!”

Di dalam kitab Wasail ad-Darojat karangan ash-Shaffar (hal 84), Abu Abdillah berkata: Konon Amirul Mu’minin pernah berkata, “Aku adalah ilmu Allah, aku adalah hati Allah yang sadar, aku adalah mulut Allah yang berbicara, aku adalah mata Allah yang melihat, aku adalah pinggang Allah, aku adalah tangan Allah.”

Na’uzubillah dari ghuluw ini!

Dengarlah Muhsin al-Khuwailidy dalam khotbah kufurnya di mana dia melekatkan kepada Ali sifat-sifat rububiyah Allah, “Dan di antara khutbah-khutbahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku mempunyai semua kunci hal-hal yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya sesudah Rasulullah kecuali aku. Aku-lah penguasa hisab, aku pemilik sirath dan mauqif, aku pembagi (distributor) surga dan neraka dengan perintah Robb-ku. Akulah yang menumbuhkan dedaunan dan mematangkan buah-buahan. Akulah yang memancarkan mata air dan mengalirkan sungai-sungai. Akulah yang menyimpan ilmu, akulah yang meniupkan tiupan pertama yang mengguncangkan alam, akulah sang petir, akulah shaihah.

Aku adalah Al Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya. Akulah asma al-husna yang para hamba diperintahkan untuk berdoa dengannya. Akulah yang memiliki sangkakala dan yang membangkitkan manusia dari dalam kubur.

Akulah penguasa hari kebangkitan. Akulah yang menyelamatkan Nuh, yang menyembuhkan Ayub. Akulah yang menegakkan langit dengan perintah Tuhanku. Akulah si pemegang keputusan yang tidak dapat diubah, hisab para makhluk berada di tanganku. Para makhluk menyerahkan urusannya kepadaku. Akulah yang mengokohkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, yang memancarkan mata air, dan yang menciptakan alam semesta. Akulah yang membangkitkan para mayat, yang menurunkan kuburan.

Akulah yang memberi cahaya matahari, bulan dan bintang. Akulah yang membangkitkan hari kiamat, yang mengetahui hal yang telah lalu dan yang akan datang. Akulah yang membinasakan para raja lalim terdahulu dan yang melenyapkan negeri-negeri. Akulah yang menciptakan gempa, yang membuat gerhana matahari dan bulan. Aku pula yang menghancurkan fir’aun-fir’aun dengan pedangku ini. Akulah yang ditugasi Allah untuk melindungi orang-orang lemah dan Allah perintahkan mereka taat kepadaku.”

Dalam kitab Kasyf al-Yaqin Fi Fadhail Amir al-Mu’minin karya Hasan bin Yusuf bin al- Muthahhir al-Hilly (hal 8) disebutkan, Akhthab Khawarizm meriwayatkan dari Abdulloh bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tatkala Allah ciptakan Adam dan Dia tiupkan ruh-Nya ke dalamnya, Adam bersin lantas mengucapkan, “Alhamdulillah!”

Maka Allah mewahyukan padanya, “Engkau telah memuji-Ku wahai hamba-Ku, demi kekuatan dan keagungan-Ku kalau bukan karena dua hamba yang akan Kutempatkan mereka di dunia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu wahai Adam!” Serta merta Adam bertanya,

“Mereka berdua dari keturunanku?”, “Betul wahai Adam. Angkatlah kepalamu dan lihatlah!” Maka Adam mengangkat kepalanya, dan ternyata telah tertulis di atas ‘Arsy, “Tidak ada yang berhak disembah selain Allah, Muhammad nabi kasih sayang dan Ali penegak hujjah. Barang siapa yang mengetahui hak Ali maka dia akan suci dan bahagia, dan barang siapa yang taat kepadanya meskipun dia berbuat maksiat kepada-Ku akan Kumasukkan ke dalam surga. Aku bersumpah demi kepekerkasaan-Ku; barang siapa yang tidak taat kepada Ali meskipun dia taat kepada-Ku, niscaya akan Kumasukkan ke dalam neraka!”

Lihatlah wahai para hamba Allah, bagaimana dia mengedepankan ketaatan kepada Ali di atas ketaatan kepada Allah!!!

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 33): Pengarang buku Masyariq al-Anwar telah meriwayatkan dengan sanadnya kepada al-Mufadhal bin ‘Amr: Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah ‘alaihis salaam tentang perihal sang imam; bagaimana ia bisa tahu apa yang ada di penjuru bumi, padahal ia berada di rumah yang tertutup? Lantas ia menjawab, “Wahai Mufadhal, sesungguhnya Allah telah menciptakan di dalam diri mereka 5 ruh:

Ruh kehidupan, yang dengannya dia bisa memukul dan naik.
Ruh kekuatan, yang dengannya dia bisa bangkit.
Ruh syahwat, yang dengannya dia bisa makan dan minum.
Ruh keimanan, yang dengannya dia memerintahkan dan berbuat adil.
Ruh kudus, yang dengannya dia mengemban kenabian. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, berpindahlah ruh kudus ke tubuh sang imam, maka dia tidak akan pernah lalai dan lengah. Dengan ruh itulah dia bisa melihat apapun yang ada di penjuru dunia. Tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang tersembunyi dari sang imam. Dia bisa mengetahui semua yang ada di langit semesta, sekecil dan selirih apapun dia. Barang siapa yang tidak memiliki sifat-sifat ini, maka dia bukanlah seorang imam!”

Na’udzubillah dari ghuluw ini!

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 30), Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku bersama Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api dan akulah yang menjadikan api itu dingin serta menyelamatkan. Aku juga bersama Nuh di kapalnya lantas akulah yang menyelamatkan dia dari ketenggelaman. Aku juga bersama Musa, lantas aku ajarkan Taurat kepadanya. Aku jugalah yang menjadikan Isa berbicara saat dia masih dalam buaian, kemudian kuajarkan Injil padanya. Akulah yang bersama Yusuf di dalam sumur, lantas kuselamatkan dia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani, kemudian aku hembuskan angin baginya.”

Lantas apa yang tersisa untuk Allah?! Na’udzubillah dari ghuluw ini!

Ziarah Makam Husain Lebih Utama Dari Haji Ke Baitullah

Dalam kitab Wasail asy-Syiah karangan al-Hurr al-’Amily (jilid I, hal 371) dan di dalam kitab al-Mazar karangan al-Mufid (hal 58) disebutkan: Dari Yunus bin Dzobyan, berkata Abu Abdillah, “Barang siapa yang ziarah ke makam Husain pada malam pertengahan bulan Sya’ban, malam Idul Fitri dan malam hari Arafah dalam satu tahun, niscaya Allah akan tuliskan baginya pahala 1000 ibadah haji yang mabrur, 1000 ibadah umrah yang diterima dan akan dikabulkan baginya 1000 doa yang berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan dia di dunia dan akhirat.”

Bahkan menurut orang-orang Rafidhah, para penziarah makam Husain itu lebih utama daripada orang-orang yang berada di padang Arafah. Dalam kitab Wasail asy-Syiah karangan al-Hurr al-’Amily (jilid X,hal 361) dan kitab Tahdzib al-Ahkam karya Abu Ja’far ath-Thusy (jilid VI, hal 42) disebutkan: Dari Ali bin Asbath, dari sebagian sahabat-sahabat kami, dari Abu Abdillah ‘alaihi salam bahwa dia ditanya, “Benarkah Allah mendahulukan ‘menengok’ para peziarah makam Ali bin Husain ‘alaihi salam sebelum ‘menengok’ orang-orang yang berada di padang Arafah?”, “Betul” jawabnya. Lantas dia kembali ditanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?” Dia menjawab, “Karena di antara orang-orang yang berada di padang Arafah terdapat anak-anak hasil perzinaan, adapun para penziarah makam Husain seluruhnya suci tidak ada satupun anak hasil perzinaan.” (Bagaimana mungkin mereka menganggap semua orang Syi’ah suci dan bukan hasil perzinaan, padahal zina (baca: nikah mut’ah) sendiri mereka anggap merupakan salah satu ritual ibadah yang paling utama?!! (-pen).

Na’udzubillah!

Dalam kitab Tahdzib al-Ahkam karya Abu Ja’far ath-Thusy (jilid V, hal 372) disebutkan: Dari Zaid asy-Syahham, dari Abu Abdillah ‘alaihi salam berkata, “Barang siapa yang ziarah makam Abu Abdillah (Husain) ‘alaihis salam pada hari ‘Asyura sedang dia mengetahui hak-haknya, seakan-akan dia telah menziarahi Allah di ‘Arsy-Nya.”

Na’udzubillah dari ghuluw dan kesesatan ini!

***

Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zaen, Lc. (Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)

^BIARKAN SYI'AH BERCERITA TENTANG KESESATAN AGAMANYA (2)^
FAKTA KEDUA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Al Quran.

Semua umat Islam telah berijma’ bahwasanya kitab Allah selalu terjaga dari pengubahan, penambahan ataupun pengurangan. Ia terjaga dengan penjagaan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Para ulama besar Ahlusunnah telah menegaskan bahwa barang siapa yang meyakini di dalam Al Quran terdapat tambahan atau kekurangan, maka sesungguhnya ia telah dianggap keluar dari agama Islam (murtad). Akidah ini sudah amat sangat masyhur dan mutawatir di kalangan Ahlusunnah, sampai-sampai tidak lagi dibutuhkan seseorang untuk mendatangkan dalil-dalil tentangnya. Berkata Ibnu Qudamah dalam kitab Lum’ah al-I’tiqad (hal 19), “Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam, bahwa barang siapa yang mengingkari satu surat, atau satu kata, atau satu huruf dari Al Quran yang telah disepakati, maka sesungguhnya dia telah kafir.”

Syi’ah dan Keyakinan Mereka Tentang Tahrif (distorsi, pengubahan) Al Quran

Ulama-ulama Syi’ah yang paling menonjol yang berpendapat bahwa Al Quran telah mengalami distorsi adalah: Al-Kulainy, al-Qummy, al-Mufid, ath-Thobarsy, al-Kaasyany, al-Jazairy, al-Majlisy, al-’Amily, al-Khuu’iy, dan masih banyak yang lainnya.

Pertama:

Mari kita mulai dari al-Kulainy pengarang kitab al-Kaafi, kitabnya yang paling terpercaya di kalangan orang-orang Rafidhah. Pengarang berkata dalam jilid II, hal 634, ((Dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah ‘alaihis salam ia berkata, “Sesungguhnya Al Quran yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiri dari 17.000 ayat”)). Padahal sepengetahuan kita ayat-ayat Al Quran hanya berjumlah 6.000 ayat lebih sedikit. Riwayat kedua disebutkan dalam (jilid I, hal 228). Riwayat ketiga disebutkan dalam (jilid I, hal 228).

Riwayat keempat disebutkan dalam jilid I, hal 229: ((Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah ia berkata, “Sesungguhnya yang berada di tangan kami adalah mushaf Fathimah. Tahukah kalian apa itu mushaf Fathimah?” Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fathimah?” Ia menjawab, “Mushaf Fathimah tebalnya tiga kali lipat Al Quran kalian. Demi Allah tidak ada satu huruf pun dari Al Quran kalian, disebutkan di dalam mushaf Fathimah!”)).

Kedua:

Di antara ulama Rafidhah yang berpendapat bahwa Al Quran telah mengalami distorsi; Ali bin Ibrahim al-Qummy yang berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal 36): ((Di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran:110). Berkata Abu Abdillah kepada yang membaca ayat ini, “Umat yang terbaik, lantas membunuh amirul mukminin Hasan dan Husain bin Ali ‘alaihima salam??” Lantas ada yang bertanya, “Bagaimana sebenarnya ayat tersebut diturunkan wahai putra Rasulullah?” Dia menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan: (Kalian para imam terbaik yang dilahirkan untuk manusia)”)).

Ketiga:

Ni’matullah al-Jazairy dalam jilid II, hal 363.

Keempat:

Al-Faidl al-Kaasyaany salah seorang ahli tafsir mereka yang tersohor dan pengarang Tafsir ash-Shafy, berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal 49), ((Kesimpulan yang dapat diambil dari berita-berita ini dan riwayat-riwayat lainnya yang berasal dari ahlul bait ‘alaihis salam bahwasanya Al Quran yang ada di hadapan kita ini tidaklah sempurna, sebagaimana yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Di dalamnya ada yang diubah dan banyak pula yang telah dihapus; seperti nama Ali dari berbagai ayat, lafadz aalu (keluarga) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, nama-nama kaum munafikin dan hal-hal lainnya. Juga Al Quran tersebut tidak sesuai dengan susunan yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam)).

Kelima:

Ahmad bin Manshur Ath-Thabarsy dalam kitabnya al-Ihtijaj (jilid I, hal 55) telah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tatkala menceritakan kisah-kisah yang berkenaan dengan dosa-dosa dalam Al Quran, Allah telah menyebutkan secara terang-terangan nama para pelaku dosa tersebut. Akan tetapi para sahabat telah menghapus nama-nama tersebut, jadilah kisah-kisah itu disebutkan tanpa nama-nama pelakunya.

Keenam:

Berkata Muhammad bin Baqir Al Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar (jilid 89, hal 66): ((Bab distorsi dalam ayat-ayat Al Quran, sehingga tidak sesuai lagi dengan apa yang diturunkan oleh Allah)).

Ketujuh:

Muhammad bin Muhammad an-Nu’man yang dijuluki al-Mufid dalam kitabnya Awaail al- Maqaalaat (hal 91).

Kedelapan:

Abul Hasan Al ‘Aamily dalam muqaddimah kedua dari kitab tafsirnya Mira’ah al-Anwar wa Misykaah al-Asraar (hal 36) menyatakan, ((Ketahuilah, sesungguhnya Al Haq yang kita tidak bisa elakkan -berdasarkan kabar-kabar yang mutawatir ini dan lainnya- bahwa Al Quran yang ada di hadapan kita, telah diubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan tugas untuk menyampaikan Al Quran telah menghapus banyak kata-kata dan ayat-ayat)).

Kesembilan:

Abul Qasim al-Khuu’iy (Ulama kontemporer syiah) dalam kitabnya al-Bayan (hal 236).

Dengarlah Adnan al-Waa’il yang memberikan contoh salah satu distorsi yang dialami Al Quran: ((Ketika turun ayat (yang artinya) “Hai para rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu tentang Ali. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia.” (QS Al Maaidah: 67)).
 
FAKTA KETIGA:

Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai para sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummahatul mu’minin.

Keutamaan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tingginya kedudukan serta derajat mereka, sudah merupakan sesuatu yang diketahui oleh semua orang. Hal itu juga termasuk hal-hal yang diketahui dari agama Islam secara dharurah. Ini disebabkan karena melimpahnya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut, baik dari Al Quran maupun As Sunnah. Sekarang bukan waktunya untuk menyebutkan semua dalil-dalil itu, akan tetapi barangkali kami akan menyebutkan sebagian saja:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

((مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْأِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً)) الفتح:29

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath: 29)

Ayat yang mulia ini mencakup seluruh sahabat karena mereka semua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menguatkan apa yang telah lalu: hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim; dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari dari Abu Sa’id dia berkata: ((Pada suatu saat terjadi suatu masalah antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin ‘Auf, lantas Khalid memaki Abdurrahman. Ketika mendengar hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki salah seorang dari sahabatku, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan dapat menyamai (pahala) satu genggam atau setengah genggam (nafkah) salah seorang dari mereka.” Hadits ini juga mencakup seluruh sahabat, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki salah seorang dari sahabatku.”

Syi’ah dan Penghinaan Mereka Terhadap Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam kitab ar-Raudhah min al-Kafi (hal 245) disebutkan, ((Dari Hanan, dari bapaknya, dari Abu Ja’far ‘alaihis salam, ia berkata, “Sesungguhnya para manusia telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya tiga orang.” Lantas aku bertanya: “Siapakah tiga orang itu?” Dia menjawab: “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan Salman al-Farisy.”)).
 
Ash-Shafy dalam tafsirnya (jilid V, hal 28) berkata, ((Dari Abdurrahman bin Katsir, dari Abu Abdillah, dalam firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas
bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad: 25). Dia berkata, “fulan dan fulan”, yang dia maksud adalah Abu Bakar dan Umar)).

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 53), ((Telah diriwayatkan dalam berita-berita khusus bahwa tatkala Abu Bakar sholat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menggantungkan berhala di lehernya, dan sujudnya adalah untuk berhala itu)). Na’udzubillah dari kedustaan ini!

Dengarlah salah seorang syaikh orang Syi’ah yang tanpa tedeng aling-aling melaknat Ash Shiddiq, ((Para ulama Syi’ah telah bersaksi bahwa ada riwayat-riwayat valid yang kevalidannya melahirkan dalil-dalil atas si penjahat Abu Bakar, hal tersebut karena adanya dia di masjid dan kembalinya dia dari pasukan pertama. Kedua melanggar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga tidak sholatnya dia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dengarlah wahai siapa yang berkata, Tidak boleh melaknat. Semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dan semoga Allah melaknat Umar dan para pembangkang lainnya! Semoga Allah melaknat siapa saja yang tidak rela dengan dilaknatnya mereka! Kebencian-kebencian umat ini…)).

Dengan busuknya Ni’matullah al-Jazary berkata dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 63), ((Konon Umar terkena penyakit di duburnya dan tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air mani para lelaki)).

Berkata Zainudin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 129), ((Sebenarnya Umar itu telah menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan keislaman)).

Dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah milik Ni’matullah al-Jazairy (jilid I, hal 81) disebutkan, ((Telah disebutkan dalam riwayat-riwayat khusus bahwasanya syaitan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi jahanam lantas digiring ke padang mahsyar, tiba-tiba sesampainya di sana dia melihat seseorang di depannya yang ditarik oleh malaikat azab dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari belenggu-belenggu jahanam, dengan terheran-heran syaitan itu mendekat lantas bertanya, “Apa yang dikerjakan orang yang amat malang ini hingga siksaannya jauh lebih berat dariku? Padahal aku telah menyesatkan para makhluk hingga aku masukkan mereka ke dalam pintu-pintu kebinasaan.” Maka berkatalah Umar (Maksudnya makhluk malang yang dibelenggu dengan 120 rantai neraka jahanam adalah amirul mu’minin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu! Qaatalahumulloh! -pen) kepada si syaitan, “Tidak ada yang kukerjakan melainkan hanya merampas kekhilafahan Ali bin Abi Thalib.”)).

Di antara yang dituduhkan gerombolan orang-orang Rafidhah terhadap amirul mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu; apa yang disebutkan oleh Zainuddin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 30), ((Pada suatu saat di zaman Utsman didatangkan seorang perempuan untuk dihukum hadd, lantas oleh Utsman perempuan tersebut dizinai terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk dirajam)).

Belum puas Rafidhah dengan tuduhan keji ini, bahkan dalam kitab yang sama dan halaman yang sama disebutkan bahwa Utsman itu termasuk orang-orang yang dipermainkan (para laki-laki) dan bertingkah laku seperti perempuan, serta suka main rebana.

Dengarlah bagaimana Hasan ash-Shaffar berbangga karena Rafidhah-lah yang telah membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu, ((Sesungguhnya Syiah-lah yang telah membunuh Utsman, semoga Allah memberikan pahala yang baik buat mereka)).

Al-Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar (jilid XXX, hal 237) berkata, ((Kisah-kisah yang menerangkan kekafiran Abu Bakar dan Umar, penyelewengan mereka, serta pahala orang yang melaknat dan berlepas diri dari mereka dan dari bid’ah-bid’ah mereka amat sangat banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau dalam buku yang berjilid-jilid lainnya)).

Muhammad al-’Ayasyi dalam tafsirnya (jilid III, hal 20) surat an-Nahl:

وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS. An Nahl: 90)

Al-’Ayasyi berkata: Al- Fahsyaa (perbuatan keji) yaitu yang pertama (maksudnya Abu Bakr), al-Munkar (kemungkaran) yaitu yang kedua (maksudnya Umar al-Faruq), al-Baghy (permusuhan) yaitu yang ketiga (maksudnya: Utsman bin Affan).

Semoga Allah meridhai seluruh shahabat.

Bahkan al-Majlisy dalam (jilid XXX, hal 235) menukil dari Tafsir al-Qummy dalam firman Allah ta’ala,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: aku berlindung dari Rabb al Falaq.”

Al-Falaq adalah kawah di Jahanam, seluruh penghuni neraka memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya, lantas kawah itu minta izin untuk bernafas, maka diizinkanlah, akibatnya terbakarlah neraka jahanam. Dan di dalam kawah tersebut ada sebuah peti yang mana penghuni kawah tersebut memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya. Peti itulah yang dinamakan Tabut. Di dalam Tabut itu ada enam orang terdahulu dan enam orang yang hidup setelah zaman mereka. Adapun enam orang yang hidup setelah zaman mereka adalah: nomor pertama, kedua, ketiga dan keempat. Nomor pertama maksudnya Abu Bakar, yang kedua maksudnya Umar, yang ketiga Utsman dan yang keempat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhum.

Al-Majlisy berkata dalam (jilid XXX, hal 237), ((Keterangan tentang dua orang Arab badui yang pertama dan kedua -yakni Abu Bakar dan Umar-, yang tak pernah beriman kepada Allah sekejap mata pun)). Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Belum cukup Rafidhah sampai sini, bahkan mereka melampaui batas hingga ‘menyerang’ Ummahatul Mukminin. Berkata Ja’far Murtadho dalam bukunya Hadits al-Ifk (hal 17), ((Sesungguhnya kami meyakini, sebagaimana (keyakinan) para ulama-ulam
a besar kami pakar pemikiran dan penelitian, bahwa isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir sebagaimana istri Nuh dan istri Luth)), dan yang dimaksud istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah ‘Aisyah. Hasyim al-Bahrany berkata dalam tafsirnya al-Burhan (jilid IV, hal 358) surat at-Tahrim, ((Berkata Syarafuddin an-Najafy, “Diriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihis salam bahwa dia berkata dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir.” (QS. At Tahrim: 10)

Perumpamaan ini Allah buat untuk Aisyah dan Hafshah, karena keduanya demo terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuka rahasianya)).

Ali bin Ibrahim al-Qummy berkata, ((Lantas Allah membuat perumpamaan untuk ‘Aisyah dan Hafshah dan berkata, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba-hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat.” Demi Allah yang dimaksud dengan berkhianat tidak lain hanyalah berzina (na’udzubillah). Niscaya akan dilakukan hukum had atas fulanah (yang dia maksud adalah ‘Aisyah) atas apa yang dikerjakannya di jalan Bashrah. Dikisahkan bahwa fulan (yang dia maksud Thalhah) mencintai ‘Aisyah. Tatkala ‘Aisyah akan safar ke Bashrah, berkatalah Thalhah, “Kamu itu tidak boleh safar kecuali dengan mahram.” Lantas Aisyah mengawinkan dirinya dengan fulan, dalam suatu naskah disebutkan dengan Thalhah)).

Berkata Muhammad al-’Ayasyi dalam tafsirnya (jilid XXXII, hal 286) surat Ali Imran, dari Abdush Shamad bin Basyar dari Abi Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Tahukah kalian Nabi itu meninggal atau dibunuh? Sesungguhnya Allah berfirman,

أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

“Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad).” (QS. Ali Imran: 144). Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diracuni sebelum wafatnya, dan mereka berdualah yang meracuninya (yakni ‘Aisyah dan Hafshah)! Sesungguhnya dua perempuan tersebut dan bapak mereka adalah sejahat-jahat ciptaan Allah! Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Belum cukup al-Majlisy sampai di situ, bahkan dia berkata dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid XXXII, hal 286), ((Dari Salim bin Makram dari bapaknya ia berkata, Aku mendengar Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata di dalam firman Allah,

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan-perlindungan selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba.” (QS. Al Ankabut: 41). Laba-laba itu adalah al-Humaira (Aisyah-pen). Kenapa dimisalkan dengan laba-laba? karena dia adalah binatang yang lemah dan membuat sarang yang lemah; begitu pula al-Humaira (yakni Aisyah), dia itu binatang yang lemah, lemah kedudukan dan akal serta agamanya. Hal itu menjadikan pendapatnya lemah dan akalnya yang tolol, hingga melakukan pelanggaran dan permusuhan terhadap Tuhannya. Persis dengan sarang laba-laba yang lemah!))

–bersambung insya Allah–

Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zaen, Lc. (Mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah)

Artikel www.muslim.or.id

AL-FIRQAH AN-NAJIYAH (Jalan Golongan Yang Selamat)

semoga bermanfaat