Follow us on:
^TENTANG SYI'AH^

Waspadai Syiah, Mereka Siap Menikam dari Belakang
19 Maret 2010
Oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc.

Syi’ah dulu diimpor dari Iran dengan malu-malu kucing; diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Muncul gerakan reformasi tahun 1998, Syi’ah pun menggeliat. Paham dari Persia ini pun mengemas ajarannya dengan berbagai caranya. Dari kemasan ilmiah hingga kemasan syahwat. Hasilnya, banyak anak mudah yang terpedaya.

Banyak yang tidak tahu dan tidak mau tahu tentang bahaya di balik kemasan ajaran Syi’ah. Wajar karena bungkus taqiyahnya begitu kuat. Hakikatnya Syi’ah berbeda dengan kita, ahlussunnah. Kita Ahlussunnah wal jamaah mencintai ahli bait (keluarga Rasulullah e), tidak pilih kasih baik terhadap istri-istri Rasul (ummahatul mukminin) atau dari paman-paman Rasul apalagi dari anak cucu beliau (dari Fatimah ke bawah). Kami membicarakan Syi’ah bukan berarti membicarakan keluarga Rasul.

Kami akan mengungkap orang-orang yang mengkultuskan keluarga Rasul (ahli bait), dalam hal ini yang disponsori oleh Abdullah bin Saba’. Orang ini berasal dari Yahudi kemudian pura-pura masuk Islam dan merusak akidah Islam sejak Khalifah Ustman hingga sekarang. Dia letakkan dasar-dasar kesyirikan dan kekufuran; seperti pengkultusan ahli bait di atas para nabi bahkan sampai dituhankan. Bukan kepada Ali saja sampai keluarga Rasul seperti Fatimah dan Zaenab seterusnya. Ketika haji, mereka hanya membuat keributan di sekitar Baqi, mereka menangis sambil meratap ya.. Fatimah ya.. Zaenab.

1. Tentang Al-Quran mereka menuduh Ahlussunnah telah mengurangi dan menambahi. Ditulis oleh ulama Syi’ah buku berjudul Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Husain bin Muhammad Taqi al-Nuri al-Thabari. Menurut ulama Syi’ah, kaumnya boleh membaca al-Quran sekarang (Utsmani) hingga datang imam ke-12 untuk mengajarinya. Menurut akidah mereka mush-haf yang dibawa imam tersebut tebalnya tiga kali lipat dari al-Quran sekarang.

Jadi kalau ada yang berkampanye penyatuan Suni Syi’ah bagaimana mungkin? Syi’ah meragukan al-Quran kita yang sekarang ini, sedangkan menurut Rasulullah barangsiapa yang ragu dengan al-Quran adalah kafir..

‎2. Akidah terhadap para sahabat terutama kepada Abu Bakar, Umar dan Ustman. Orang Syi’ah meyakini al-Jibtu dan Thaghut adalah Abu Bakar dan Umar, bahkan disebutkan dalam doa ‘dua berhala Quraisy’ dalam kitab mereka (Miftahul Janan) halaman 114, yang terjemahnya ‘Wahai Allah limpahkanlah shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya. Kutuklah dua berhala, dua sesembahan, dua tukang sihir Quraisy beserta kedua anak wanita keduanya.’ Yang dimaksudkan di sini adalah Aisyah dan Hafshah semoga Allah meridhai semua amin.

Termasuk keyakinan mereka adalah setelah Rasulullah meninggal para sahabat kafir kecuali beberapa sahabat yang bisa dihitung dengan jari. Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib halaman 19-20. Hal tersebut bertentangan dengan akidah Ahlussunnah bahwa kita harus mencintai para sahabat, mengikutinya serta tidak boleh mencela, dan meyakini bahwa semua sahabat adalah adil dan selalu mendoakan kebaikan.

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي

“Allah melaknat orang yang mencela sahabatku.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Thabrani dalam Al-Mu’jam.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:10)

Bagimana akidah Syi’ah terhadap Umar? Saking bencinya terhadap Umar, waktu Sayidina Umar dibunuh oleh Abu Luluah si Majusi itu, mereka menjadikan hari terbunuhnya Umar sebagai hari raya bagi Syi’ah. Pelaku pembunuhan dianggap sebagai sang pamberani. Hal ini disebabkan Umar lah yang menaklukkan Persia yang sekarang menjadi Iran. Ini simpulan dari Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib halaman 20..

Akidah Syi’ah dalam Menanti Kedatangan Imam ke-12 (Imam Mahdi)

Menurut Syi’ah, setelah Imam Mahdi turun atau datang atau bangkit dari tidurnya kemudian Allah membangkitkan penguasa umat Islam yang telah lalu terutama Khalifah Abu Bakar dan Umar yang mereka juluki berhala quraisy yang dianggap telah merampas hak Ali dan keturunannya (sebagai khalifah atau pemegang kekuasaan umat Islam).

Menurut keyakinan orang Syi’ah bahwa Imam Mahdi akan membalas dan memerintah untuk membunuh dan memusnahkan setiap 500 orang secara bersama-sama. Akhirnya hingga ia genap membunuh sebanyak 3000 penguasa Islam. Hal ini, masih menurut mereka, akan terjadi sebelum hari kebangkitan atau kiamat kelak. Dikutip dari Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib halaman 21-22.

Syi’ah meyakini bahwa pengetahuan tentang yang ghaib adalah hak imam mereka saja, adapun para nabi tidak punya hak. Bahkan mereka sampai menempatkan imam mereka pada posisi tuhan.

Bagaimana dengan Ahlussunnah? Masalah ghaib adalah khusus milik Allah. Adapun Nabi mendapat petunjuk dari Allah hanya pada saat darurat. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَاشَاء

“, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki- Nya. … .” (Al-Baqarah: 255)..

Akidah Syi’ah tentang Keluarga Rasul (Alul Bait)

Menurut Syi’ah ahli bait Rasulullah terbatas pada Ali dan sebagian anak beliau saja beserta cucu-cucu beliau tersebut. Sementara ahli bait menurut Ahlussunnah adalah pengikut Islam. Ada juga yang mengatakan mereka yang paling bertakwa di antara umatnya. Disebutkan juga ahli bait adalah keluarga Rasul yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Abdulmuththalib, termasuk istri-istri Rasulullah.

Siy’ah dan Taqiyah

Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Memang taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlussunnah. Hanya saja menurut Ahlussunnah taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam. Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Quran Syi’ah adalah sama dengan Quran Ahlussunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah. Padahal kakikatnya orang Syi’ah sangat membenci dan menganggap telah merampas.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang Syi’ah adalah melakukan kawin mut’ah (kawin kontrak), tidak melakukan shalat Jumat sebelum datangnya imam ke-12, suka berdebat membahas tentang wasiat Rasulullah, dan tidak mau menampakkan kesyi’ahannya dengan menyimpan semua akidahnya di dalam dada dengan cara taqiyah. Orang Syi’ah begitu bersemangat melontarkan slogan ‘La syarqiyah wala gharbiyah walakin islamiyah’diterjemahkan dengan ‘tidak Syi’ah tidak juga Suni tetapi Islam’, sesudah terpola dengan tidak mempermasalahkan Syi’ah barulah dimuati dengan akidah Syi’ah.

Saudaraku kaum Muslimin. Perlu diketahui bahwa di antara kota-kota yang dijadikan sebagai pusat penyebaran ajaran Syi’ah adalah Bandung, Pekalongan, dan Bangil. Silakan periksa lebih detil lagi keberadaan yayasan Syi’ah di seluruh Indoensia, bias dicek lewat internet. Tidak rahasia lagi bahwa pada waktu Khumaini berkuasa banyak ulama Suni di Iran yang dibantai dan disiksa, masjid-masjid Muslim pun dihancurkan.
Perlu juga diingat bahwa antara Syi’ah dan Yahudi adalah bersaudara. Karena memang pencetus Syi’ah adalah Abdullah bin Saba yang Yahudi. Ia pura-pura masuk Islam, karena tidak senang melihat persatuan umat Islam dalam Ahlussunnah pada waktu itu. Perhatikan sejarah terbunuhnya Utsman dan pembunuhan-pembunuh an berikutnya.

Sejarah kontemporer juga menguatkan bukti sejarah lampau. Bukan sebuah rahasia jika masuknya Amerika ke Afghanistan tidak lain karena dibantu oleh kaum Syi’ah. Sebelumnya juga begitu, hancurnya Irak pun dengan peran serta kaum Syi’ah Irak dan Iran, hingga sekarang kekuasaan dipegang oleh orang Syi’ah yang menjadi boneka negara penjajah—tidak layak dilupakan kisah sepak terjang pengkhianatan Alqomah yang Syi’ah bekerja sama dengan Tartar meluluhlantakkan Baghdad pada zaman dahulu.

Perhatikan pula perilaku Syi’ah di Palestina, perhatikan orang di dalam Hamas. Lihat pula Libanon. Untuk memancing Amerika masuk, Syi’ah lewat tentaranya, ‘Hizbullah’ melakukan gerakan pura-pura melawan Amerika. Kemudian setelah Amerika lewat Israel melakukan serangan balik mereka lari hingga yang dibantai adalah penduduk yang Ahlussunnah. Akhir-akhir ini Yaman dan perbatasan Saudi Arabia juga digoncang oleh ulah Syi’ah. Orang Syi’ah pura-pura menyerang. Jika terjadi perang mereka berharap akan masuklah Yahudi/Amerika dengan alasan keamanan..


Komentar Ulama tentang Syi’ah

Bagaimana para ulama rabbaniyin berusaha menyelamatkan umat dari pengaruh dan cengkeraman paham Syi’ah? Di antara yang dilakukan adalah menjelaskan tentang kerusahan dan bahaya ajaran Syi’ah. Berikut adalah perkataan sebagian ulama:

• Perkataan Al-Qadhi Abu Ya’la
“Adapun Syi’ah Rafidhah apabila mengkafirkan dan memfasikkan sahabat berarti jelas masuk neraka dan termasuk kafir.” (Al-Mu’tamid hal. 267. Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 84.

• Perkataan Ibnu Hazm al-Zhahiri
“Adapun perkataan mereka (nashara), mereka menuduh bahwa Rafidhah (Syi’ah) telah mengganti al-Quran. Sedangkan Rafidhah tidak termasuk kaum Muslimin. Sesungguhnya Syi’ah adalah golongan yang baru muncul 25 tahun setelah wafatnya Rasulullah . Rafidhah adalah golongan yang berjalan seperti jalannya Yahudi dan Nashara dalam kebohongan dan dusta.” (Al-Fashlu fil Milal wan Nihal II/213)

“Tidak ada perslisihan di antara firqah-firqah yang menisbatkan kepada Islam baik Ahlussunnah, Mu’tazilah, Khawarij, Murjiah dan Zaidiyah; semuanya bersepakat harus mengambil dalil dari al-Quran yang Ahlussunnah. Hanya Rafidhah ekstrim yang menyelisihi. Kelompok ini kafir dan musyrik menurut para ulama Islam.” (Al-Ihkam Libni Hazm I/96) (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 84)

• Perkataan Al-Qadhi Iyadh
“Kami memutuskan tentang kekafiran Rafidhah ekstrim yang mengatakan bahwa imam-imam mereka lebih mulia dari para nabi. Kami mengkafirkan orang yang mengingkari al-Quran atau hurufnya atau mengubahnya atau menambah sebagaimana halnya telah dilakukan oleh kelompok kebatinan dan Isma’iliyah.” (Fatawa al-Ulama fisy Syi’’h al-Rawafidhi hal. 84)

• Perkataan Al-Shan’ani
“Umat Islam telah bersepakat untuk mengkafirkan Syi’ah Imamiyah. Karena mereka meyakini bahwa sahabat telah sesat di samping mereka juga mengingkari ijma’ (sahabat). Mereka juga telah menjuluki shabat dengan sesuatu yang tidak layak bagi sahabat itu sendiri.” (Al-Ansab II/341) (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 85)

• Perkataan Ibnu Taimiyah
“Barangsiapa yang menuduh bahwa al-Quran ayatnya ada yang ditambahi atau dikurangi atau disimpan atau menuduh mentakwil batiniyah yang menggugurkan amalan-amalan yang disyariatkan tidak ada khilaf tentang kekafiran mereka. Barangsiapa menyangka bahwa para sahabat telah murtad setelah Rasulullah wafat, kecuali tinggal beberapa orang yang tidak sampai 27 orang, atau menuduh kebanyakan sahabat adalah fasik, maka tidak diragukan lagi orang semacam ini telah kafir. Karena telah mendustakan nash al-Quran (dalam al-Quran Allah meridhai dan memuji mereka/para sahabat).” (Al-Sharimul Maslul hal. 586-587)

“Sesungguhnya [Syi’ah] lebih jelek dari ahli hawa dan lebih layak untuk diperangi daripada Khawarij.” (Majmu’ al-Fatawa XXVIII/482) (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 85)..



• Fatwa Lajnah Daimah
Soal: Penanya tinggal di perbatasan utara. Di wilayah tersebut ada beberapa markas Irak. Di dalamnya ada orang yang beraliran Syi’ah ja’fariyah. Sebagian ada yang membolehkan makan sembelihannya, sebagian lagi melarangnya. Kami tanyakan apakah boleh memakan sembelihannya sedangkan jelas mereka itu pada waktu susah dan senang selalu meminta kepada Ali, Hasan, Husain, dan sayid-sayidnya.

Jawaban: Kalau keadaannya seperti yang disebutkan oleh penanya—mereka memohon kepada Ali, Hasan, Husain, dan sayidnya—berarti termasuk musyrik, murtad dari Islam; wal’iyadzubillah. Jadi, tidak halal memakan sembelihan mereka, karena status sembelihannya seperti bangkai. Sekalipun mereka menyebut bismillah saat menyembelih.
Wabillahit taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbibi wa sallam.

Ketua: Syaikh Abdulaziz bin Baz
Wakil: Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghadyan dan Abdullah bin Qu’ud

Fatwa al-Lajnah al-Daimah hal. 15

• Syaikh Muhammad Nashituddin al-Albani
“Bismillahirrahmanir rahim. Setelah kami pelajari lima pernyataan yang terdapat di dalam kitab yang berjudul “’Ruhullah’ al-Khumaini”, ingin kami jelaskan hukum tentag isinya. Kami berkata dengan nama Allah yang Esa dan kami meminta pertolongan kepada-Nya. Bahwa setiap pernyataan dari lima poin yang terdapat dalam buku ‘Ruhullah’ al-Khumaini tersebut adalah jelas perkataan kufur dan syirik. Kalimat-kalimatnya menyelisihi al-Quran dan al-Sunnah maupun ijma’ kaum Muslimin. Karena kelima perkara tersebut darurat maka harus diketahui oleh kaum Muslimin. Jadi, siapa yang berkata seperti hal tersebut dengan keyakinan, sekalipun hanya sebagian, berarti termasuk musyrik.

Orang itu kafir meskipun melakukan puasa dan shalat serta mengira dirinya muslim. … . Kami heran selalu saja ada orang yang mengaku dirinya sebagai Ahlussunnah tetapi mengadakan ta’awun (saling membantu) dengan Khumaini dalam urusan dakwah. Bahkan ada yang mendukung dalam penegakan negara mereka di bumi kaum Muslimin. Apakah orang-orang tersebut memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa hal tersebut adalah kufur dan sesat. Mereka termasuk perusak. Bukankah Allah tidak senang terhadap orang-orang yang merusak?!….. (Nafsul (?) Kitab hal. 79)

• Syaikh bin baz
Pertanyaan: Berangkat dari pengetahuan Syaikh tentang sejarah Rafidhah (Syi’ah), apa sikap Syaikh terhadap pemikiran pendekatan antara Alussunnah dan Syi’ah?..

Jawaban: “Pendekatan antara Syi’ah dan Ahlussunnah tidaklah mungkin. Karena akidahnya saja memang sudah berbeda. Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah ialah men-tauhid-kan Allah secara ikhlas beribadah karena Allah l. Allah adalah Dzat yang mengetahui hal yang ghaib. Ahlussunnah juga tidak menyekutukan Allah sedikit pun—baik dengan malaikat maupun dengan rasul dan nabi yang diutus—dan bahwa hanya Allahlah yang tahu hal-hal yang ghaib. Termasuk akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mencintai para sahabat. Sahabat adalah orang yang paling mulia di antara makhluk yang ada,di bawah kemuliaan para nabi. Di antara jajaran para sahabat yang paling mulia adalah Abu Bakar, kemudian Umar, disusul Utsman dan Ali.
Sedangkan Rafidhah/Syi’ah menyelisihi semua keyakinan lurus tersebut. Jadi, tidak mungkin Syi’ah bersatu dengan Ahlussunnah sebagaimana Yahudi dan Nashara atau penyembah berhala dengan Ahlussunnah. Demikian pula Rafidhah dan Ahlussunnah tidak mungkin bersatu disebabkab sudah berbeda akidah, sebagaimana sudah dijelaskan.” (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidh hal. 78)

Demikianlah bahaya dan kerusakan Syi’ah, berikut pandangan ulama dari zaman dahulu hingga sekarang. Yang jelas kewaspadaan dan pembenahan internal kaum muslimin mendesak dilakukan. Jelas dai Syi’ah selalu bergerak dari hari ke hari memanfaatkan berbagai momentum dan sarana. Di Indonesia Negara Iran telah membangun Islamic Cultural Center (ICC), sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari sinilah kemudian disebar lembaga yang bernama Iranian Cornen (IC). Menurut sebuah sumber di antara yang aktif mengajar di ICC adalah akak beradik Umar shihab (seorang ketua MUI) dan Umar Shihab (penulis Tafsir Misbah). Jalaluddin Rahmat (akrab disapa Kang Jalal), Haidar Baqir, dan O Hashem (salah satu penulis yang secara serius menfitnah Abu Hurairah). Juga ikut sejumlah keturunan alawiyin seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

Di antara perguruan tinggi yang memiliki Iranian Corner, masih menurut sumber yang sama, adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas ahmad dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tidak cukup di situ dana Negara Iran juga digelontorkan dengan menawarkan bea siswa kepada para pemuda untuk belajar ke Iran. Tidak kurang ada 300 mahasiswa Indonesia yang tengah digodog di Iran, sementara sejulah 200-an yang lain sudah pulang ke Indonesia dengan mengemban tugas menyebar ajaran Syi’ah lewat pengajian, PT, maupun membuat yayasan. Sebut saja Ahmad Baraqbah dengan pondoknya Al-Hadi Pekalongan, Husain al-Kaff dengan Yayasan Al-Jawwad Bandung, dan masih ada puluhan yayasan Syi’ah yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Ya, paham Syi’ah Rafidhah sedang mengepung Indonesia, masihkan kita akan lengah dan lemah?!..



Rujukan:

1. Mas-alatut Taqrib baina Ahlissunah wasy Syi’ah. Dr. Nashir Abdullah bin Ali al-Ghifari. Dua jilid.
2. Al-Mausu’ah al-Muyassarah fi Al-Adyani wal Madzahib wal Ahzab al-Mu’ashirah. Dua jilid. Dr. Mani’ bin Hammad al-Juhni.
3. Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib.
4. ‘Aqa-idusy Syi’ah fil Mizan. Muhammad Kamil al-Hasyimi.
5. Shuratani al-Mutadhatani ‘inda Ahlissunnah wasy Syi’ah al-Imamiyah. Abul HAsan al-Nadwi.
6. Al-Tasyayu’ baina Mafhumil A-immah wal Mafhumil Farisi. Muhammad al-Yandari.
7. Al-Tahrafu al-Dini fi Irani. Abdul Jalil.
8. Al-Muamarah ‘alal Ka’bah minal Qaramithah ilal Khumaini Tarikh wa Wasya-iq. Dr. Abdul Mun’im al-Namiri.
9. Hakikat Syi’ah, terjemahan. Abdullah bin Abdillah al-Maushuli.
10. Bantahan dan PEringatan Atas Syi’ah Rafidhah, terjemahan. Al-Imam Muhammad bin Abdilwahhab.
11. Sikap Ahlul Bait Terhadap Sahabat Nabi, terjemahan. Muhammad bin Ali al-Syaukani.

Sumber Buku Syi’ah:
1. Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Husain bin Muhammad Taqi al-Nuri al-Thabari.
2. Al-Ushulu minal Kafi. Al-Kulaini al-Razi. Dua jilid.
Disalin ulang dari atturots.or. id

***


 Innalillahi Tokoh Syiah: Ahmadinejad Menghina Dua Shahabat Rasul
http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/10/13/2009/06/23/innalillahi-ahmadinejad-menghina-dua-sahabat-rasul/


http://www.gensyiah.com/iran-vs-israel.html

http://www.albayyinat.net/jwb1t.html


syi'ah tidak punya kekuatan untuk menghancurkan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah secara terang2an di indonesia, lalu bagaimana cara syi'ah menghancurkan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah?

"Memfitnah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dengan Sebutan aliran sesat Salafy Wahabbi, lalu apa yg terjadi? Timbul kebencian umat Muslim kepada Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yg bermanhaj Salaf, ya Haq, yg Memurnikan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم ..
Wallahu'alam

Sekilas Kajian Islam Ilmiah oleh Ustadz Ali Syaman,Lc Hafidzahullah


Syi`ah itu bagaimana kah sesungguhnya..?

1. Aqidah nya sudah beda dengan kita, mereka memiliki aqidah taqiyyah-->menghalalkan dusta demi melancarkan ajaran bathil nya. Dan ini aqidah wajib baginya. Mereka tak akan mengaku, "Ya, kami Syi`i:, ketika ditanya, "Apakah kamu beraqidah syi`ah..?"
2. Mereka memiliki Al Qur`an tersendiri namanya Mush`af Fatimah yg jauh lebih tebal dr Al QUr`an kita. Bayangkan isinya..?
3. Mereka bahkan menganggap Umar bin Khattab telah mengubah isi Al QUr`an
4. Mereka membenci bahkan mencela, melaknat shahabat Rasulullaah ( Abu Bakar dan Umar -radhiyallaahu `anhuma-), bahkan dalam shalat mereka ada do`a utk melaknat shahabat, , bahkan mereka juga mengkafirkan shahabat yg 2 di atas.
Begitu juga Ummul Mu`minin (Aisyah bin Abu Bakar radhiyallaahu `anha), mereka menganggap Aisyah adalah seorang pezina yg tempatnya di neraka. Begitu juga Hafshah radhiyallaahu `anha. Padahal mereka mencintai Ahlul Bait, katanya. Namun, yg namanya Ahlul bait, mencakup seluruh keluarga Rasulullaah, begitu juga istri beliau juga termasuk ahlul bait, tetapi apa..? Mereka mencela, membenci, melaknat istri2 Rasulullaah. Apakah kita rela bila Ibu kita dilaknat..? Tentu tidak, bukan..?
5. Mereka banyak mendustakan hadits, yg baru diketahui sekitar 300ribu-an hadits. Beyangkan, berapa banyak amalan2 yg tak dicontohkan...!
6. Mereka tak jauh beda dengan Yahudi, bahkan mereka bukanlah dari Islam lagi. Syi`ah itu sekte nya banyak sekali. Begitu juga Imam nya, ntah berapa. Kalau ditanya kpd pengikut2 mereka, ndak jelas berapa jumlah pasti Imamnya. Ibnu Hazm mengatakan bahwa Syi`ah itu kafir. Walaupun ada ulama yg memperinci, krn ada sekte2 Syi`ah yg tak sampai derajat klimaks, spt sekte Zaidiyyah. Namun, secara general, mereka sudah sangat melenceng sekali dr Islam yang benar.
7. Mereka sangat mengagung2kan Ali radhiyallaahu `anhu, bahkan derajat beliau melebihi Rasulullaah.
8. Mereka tak menggunakan riwayat Ahlussunnah, bahkan mereka mengkafirkan, menyiksa Ahlussunnah.
  

9. Orang Syiah telah berbuat ghuluw (melampaui batas) terhadap imam-imam mereka, dan bahkan sampai pada tingkat ‘menuhankan’ mereka, bahkan imam2nya itu tak jelas berapa jumlahnya, ada yg mengatakan 12, sekian dan sekian.
10. Orang Syiah –dalam hal ini diwakili oleh Khomaini– mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menyembunyikan sebagian risalah dan gagal membina umat. Nih, lihatlah betapa bathilnya ucapannya, bahkan sudah membatalkan keislamannya.
11. Shalat mereka sangat berbeda dengan shalat kita, begitu juga wudhu. Sampai dalam shalatpun, do`a melaknat Abu Bakar dan Umar, termasuk rukun shalatnya.
12. Sampai kapanpun, Ahlussunnah dan Syi`ah tak akan pernah bersatu.

Allaahummanshur Muslimina Ahlussunnah fiy Suriah..

http://www.facebook.com/notes/abu-musa-alam-al-indunisiy/waspadai-misi-rahasia-syiah/392888744073508

WASPADAI MISI RAHASIA SYI'AH

By: Abu Musa 'Alam Al-Indunisiy

Semoga bermanfaat

┈┈»̶✽♈̷̴✽«̶┈┈
 


Berikut adalah poin-poin sebagian kebiadaban syi'ah la'tanullah di Suriah, yg disebutkan oleh seorang ulama Doktor bidang aqidah asli suriah melalui Radio Rodja dan diterjemahkan oleh Ust.Firanda Hafizhahullah...:

-pasukan syiah mengumpulkan anak-anak dan mencabuti kuku-kuku anak-anak tsb didepan orangtua2 mereka, seraya berkata: "jika kalian tidak bisa memberikan keturunan yg bagus, hayo datangkan istri-istri kalian biar kami setubuhi...
- memasukkan racun ke saluran PAM
- membom perkampungan ahlussunnah
- memperkosa gadis 8 tahun
- memperkosa wanita, kemudian mencincang tubuhnya, ada juga yg dipanggang
- mencabut bulu kemaluan wanita di depan suaminya, hingga suami gila tak tahan dihinakan
- menembaki para pemuda, memotong tubuhnya, meletakannya di depan rumah keluarganya, lantas meminta ongkos pelurunya
- mensodomi para pemuda
- ahlussunah dipaksa sujud dan menyembah pada foto bashar
- -seorang ibu dipaksa mengganti nama anaknya dari abdulloh menjadi abdulbashar
-Tahanan kehausan disuruh mangap, trus mulutnya dikencingi...
-Al-Quran dibolongin dg dicolok-colok pake rokok..
-Al-Quran juga jadi target latihan nembak tentara
-Ketika disiksa ada yg teriak "Allahu Akbar" maka mereka membentak dengan mengatakan "Rabbmu sudah lama mati, "ucapkan Basharu Akbar"

Masih banyak lagi kebiadaban syiah la'natullah yg tidak bisa disebutkan semuanya....

:'(


source  

:: SEMUA BID’AH ADALAH KESESATAN ::

"Semua bid'ah adalah kesesatan", demikianlah kaidah yang merupakan wahyu dari Allah yang telah dilafalkan oleh Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam-.

Sebagaimana telah diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

Dari Jabir bin Abdillah berkata : Jika Rasulullah berkhutbah maka merahlah kedua mata beliau dan suara beliau tinggi serta keras kemarahan (emosi) beliau, seakan-akan beliau sedang memperingatkan pasukan perang seraya berkata

"Waspadalah terhadap musuh yang akan menyerang kalian di pagi hari, waspadalah kalian terhadap musuh yang akan menyerang kalian di sore hari !!".

Beliau berkata, "Aku telah diutus dan antara aku dan hari kiamat seperti dua jari jemari ini –Nabi menggandengkan antara dua jari beliau yaitu jari telunjuk dan jari tengah-, dan beliau berkata :

"Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur'an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid'ah adalah kesesatan" (HR Muslim no 2042)
Dalam riwayat An-Nasaai ada tambahan

وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

"Dan semua perkara yang baru adalah bid'ah dan seluruh bid'ah adalah kesesatan dan seluruh kesesatan di neraka" (HR An-Nasaai no 1578)

Kaidah ini juga merupakan penggalan dari wasiat Nabi yang telah mengalirkan air mata para sahabat radhiallahu 'anhum, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat 'Irbaadh bin Sariyah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :

«فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ»

"Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku maka dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaaur rosyidin yang mendapat petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dengan sunnah-sunnah tersebut, dan gigitlah ia dengan geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru, karena semua perkara baru adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah kesesatan" (HR Abu Dawud no 4069)

^INI DALILNYA (3): TIDAK SEMUA YANG BARU BERARTI BID’AH^

Posted: 04 Nov 2011 04:00 PM PDT
Syubhat 1: Tidak Semua Yang Baru Berarti Bid’ah

Banyak orang yang salah faham akan makna bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah kesesatan. Mereka menganggap bahwa dengan memahami hadits ‘kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin finnaar’ [1] secara tekstual,
maka semua orang akan masuk neraka, sebab kehidupan kita dipenuhi dengan bid’ah. Cara berpakaian, berbagai jenis perabotan rumah tangga, sarana transportasi, pengeras suara, permadani yang terhampar di masjid-masjid, lantai masjid yang terbuat dari batu marmer, penggunaan sendok dan garpu, hingga berbagai kemajuan teknologi lainnya, semua itu merupakan hal baru yang tidak pernah ada di zaman Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Semuanya adalah bid’ah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya di neraka.[2]

Pemahaman yang rancu semacam ini muncul dari ketidaktahuan mereka akan uslub (gaya bahasa) Al Qur’an, Hadits, atau ucapan para ulama yang senantiasa membedakan pengertian suatu kata dari segi etimologis (bahasa) dan terminologis (istilah/syar’i). Kerancuan tadi juga disebabkan oleh ketidak fahaman orang tersebut akan konteks suatu nash (ayat/hadits), atau karena pemahaman parsial — yang memegangi satu nash dan mengabaikan nash-nash lainnya–, atau akibat mencomotnash tersebut dari konteks selengkapnya. Dan yang terakhir ini cukup fatal akibatnya, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti.

Pentingnya membedakan antara definisi lughawi (bahasa) dan syar’i.

Sebagai contoh, kata ‘ash-shalah’ (الصَّلاَة) merupakan mashdar (bentukan/noun) dari kata صَلَّى- يُصَلِّي, yang dalam bahasa Arab memiliki tak kurang dari lima makna. Al Fairuzabadi[3]) mengatakan:

وَالصَّلاَةُ: الدُّعَاءُ, وَالرَّحْمَةُ, وَالاِسْتِغْفَارُ, وَحُسْنُ الثَّنَاءِ مِنَ اللهِ عَلىَ رَسُولِهِ, وَعِبَادَةٌ فِيْهَا رُكُوعٌ وَسُجُودٌ.

‘ash shalaah’ artinya:

(1)doa,
(2)rahmat,
(3)istighfar,
(4) pujian yang baik dari Allah terhadap Rasul-Nya, dan
(5)ibadah yang mengandung ruku’ dan sujud [4]).

Ketika menemukan definisi (الصلاة) semacam ini, seseorang harus menentukan terlebih dahulu mana yang merupakan definisilughawi dan mana yang syar’i. Lalu ketika hendak mengartikan suatu hadits atau ayat tertentu, ia harus memperhatikan konteks ayat/hadits di mana istilah ini berada, kemudian menentukan apakah shalat di sini yang dimaksud ialah shalat secaralughawi ataukah syar’i. Kalau secara bahasa ia memiliki lebih dari satu makna, maka ia harus meneliti makna apa yang diinginkan dalam konteks ini.

Bagaimana jika ia hanya memahami satu makna saja dari kata shalat tadi, lantas menerapkannya dalam seluruh konteks kalimat….? Jelas, cara seperti ini pasti mengacaukan pemahaman yang sebenarnya. Cobalah Anda simak jika shalat dalam ayat berikut diartikan secara lughawi sebagai doa umpamanya:

“Dirikanlah doa dari sejak matahari tergelincir hingga malam gelap…” (Al Isra’: 78). Tentu aneh kedengarannya, karena (الصلاة) disini maksudnya ialah shalat secara syar’i yang pakai ruku’ dan sujud, bukannya sekedar doa. Demikian pula kalau ia hanya mengartikannya dengan pengertian syar’i tanpa mengindahkan makna lughawinya. Maka ketika mendapati ayat berikut pemahamannya akan kacau:
“Ambillah sebagian harta mereka sebagai zakat yang membersihkan dan menyucikan mereka; dan ‘shalatlah(?)’ kepada mereka, karena shalatmu menimbulkan ketenangan bagi mereka…(?)” (QS. 9:103).

Dengan pola pikir semacam ini, tak menutup kemungkinan kalau suatu saat akan ada yang mengatakan bahwa menyolatkan orang yang masih hiduphukumnya sunnah!! Padahal yang dimaksud dengan (وَصَلِّ عَلَيْهِمْ) di sini artinya: “doakanlah mereka”, karena doa beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam menimbulkan ketenangan bagi mereka.

Membongkar Kebid'ahan Dan Penyimpangan Satu Tugas Pengemban Ilmu

Membongkar Kebid'ahan Dan Penyimpangan Satu Tugas Pengemban Ilmu

Kamis, 12 Mei 2011 22:02:35 WIB

MEMBONGKAR KEBID’AHAN DAN PENYIMPANGAN SATU TUGAS PENGEMBAN ILMU



Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُلُهُ يَنْفُوْنَ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَ انْتِحِال الْمُبْطِلِيْنَ وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

Ilmu ini akan dipikul orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka menolak tahrif orang yang melewati batas, menolak intihaal ahli kebatilan dan ta’wil orang bodoh.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan dari jalan periwayatan yang banyak, diantaranya:
1. Riwayat Ibrahim bin Abdirrahman Al ‘Udzri secara mursal [1] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra 10/209, dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/233. Mereka meriwayatkan dari jalan Al Walid bin Muslim dari Ibrahim bin Abdirrahman dari orang tsiqah dari para gurunya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Demikian juga ada jalan periwayatan lain dari Ibrahim ini, dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats Tsiqah, Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil, Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Ash Shahabah 1/53, Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid 1/59, Al Khathib dalam Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 29 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/233 dari jalan Mu’an bin Rifa’ah As Salami.

Demikian juga Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa’ 4/256, Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 2/17 meriwayatkan darinya.

2. Riwayat sahabat Usamah bin Zaid yang dikeluarkan oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam Syaraf Ashhabil Hadits, hal 28 dengan sanad yang lemah.

3. Riwayat Abdullah bin Mas’ud yang dikeluarkan oleh Al Khathib dalam kitab Syaraf Ashhabil, hadits hal. 28 dengan sanadnya dari Abu Shalih Abdullah bin Shalih dari Laits bin Sa’ad dari Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Al Musayyab dari Ibnu Mas’ud. Abu Shalih seorang shaduq katsirul ghaladz [2] (teliti dalam menulis namun memiliki kelalaian).

4. Riwayat Ali bin Abi Thalib yang dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil dengan sanad mu’dhal [3].

5. Riwayat Abu Umamah Al Bahili yang dikeluarkan oleh Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa’, Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil dengan sanad yang lemah.

6. Riwayat Mu’adz bin Al Jabal yang dikeluarkan oleh Al Khathib dalam Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 11 dengan sanad yang lemah sekali.

7. Riwayat Abu Hurairah yang diriwayatkan dari beliau melalui tiga jalan.
a. Jalan periwayatan Abu Hazim Salman Al Asyja’i yang dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil. Dalam sanadnya ada Yazid bin Kisan seorang yang shaduq yukhti.[4]
b. Jalan periwayatan Abu Shalih Al Asy’ari yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil dan Al Khathib dalam Syaraf Ashhabil Hadits, hal 28 dengan sanad yang agak lemah.
c. Jalan periwayatan Abu Qubail Huyaiy bin Hani’ yang dikeluarkan oleh Al Bazar dalam Kasyful Astar, 1/86 dan Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa dengan sanad yang lemah sekali.

8. Riwayat Abdullah bin Umar bin Al Khathab yang dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dengan sanad yang lemah sekali.

9. Riwayat Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash yang diriwayatkan oleh Al ‘Uqaili dalam Adh Dhu’afa’, dengan sanad yang lemah sekali.

10. Riwayat Jabir bin Abdillah, disebutkan oleh Al Iraqi dalam At Taqyid Wal Idhah, hal. 139 belum dapat diketahui sanadnya.

11. Riwayat Ibnu Abbas disebutkan As Sakhawi dalam Fathul Mughits, 1/294 dan belum diketahui sanadnya. [5]

Kesimpulannya.
Syaikh Abdul Aziz Ali Abdillathif menyatakan,“Sanad yang lemah sekali hanya ada pada riwayat Mu’adz bin Jabal, riwayat Al Bazzar dan ‘Uqaili, dari jalan periwayatan Abu Qubail dari hadits Abu Hurairah, riwayat Abdilah bin Umar dan Abdullah bin ‘Amr. Yang lainnya kelemahannya tidak berat.”[6]

Hadits ini dishahihkan Imam Ahmad dan dilemahkan oleh Imam Al Iraqi. Yang rajih, hadits ini adalah hadits hasan dengan banyaknya jalan periwayatan, sebagaimana dinyatakan Syaikh Ali Hasan Al Halabi, dalam kitab beliau At Tashfiyah Wat Tarbiyah, hal. 24 dan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam Hilyatul ‘Alim Al Mu’alim Wa Bulghatit Thalib Al Muta’allim, hal. 77. Wallahu a’lam.

SYARAH KOSA KATA
• يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْم : ilmu disini ialah ilmu kitab dan sunnah atau agama. Dinyatakan oleh Imam yang mulia Muhammad bin Sirin,“Sesungguhnya ilmu ini ialah agama. Maka lihatlah, dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [7]

• مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُلُهُ : bermakna, ilmu kitab dan sunnah ini akan dibawa pada setiap generasi yang datang setelah Salaf oleh orang yang ‘adil [8] dari mereka. Ibnul Qayim menyatakan,“Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan, bahwa ilmu yang dibawanya akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari umatnya pada setiap generasi, sehingga tidak terlantar dan hilang.” [9] Kemudian yang dimaksud orang adil disini ialah para ulama pewaris para nabi, yang bertugas di atas tiga hal. Yaitu, menolak sikap ghuluw (melampaui batas), menghancurkan kebatilan dan membongkar kebodohan, sebagaimana dalam hadits di atas. [10]

• يَنْفُوْنَ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ : bermakna menolak perubahan orang yang melampaui batas dalam permasalahan agama.

Tahrif, adalah berpaling dari posisi dan kebenaran kepada yang lainnya [11]. Tahrif ini terbagi menjadi dua, yaitu tahrif lafadz dan tahrif makna. Tahrif makna inilah yang dinamakan oleh ahli bid’ah sebagai ta’wil.

Ibnul Qayyim menyatakan, tahrif terbagi menjadi dua, (yaitu) tahrif lafdzi dan tahrif maknawi. Tahrif lafdzi bermakna merubahnya, adakalanya dengan penambahan atau pengurangan lafadz atau dengan perubahan harakat i’rob atau perubahan selain i’robnya. Demikian ini empat bagian tahrif lafadz. Al Jahmiyah dan Rafidhah melakukan itu semua, namun mereka hanya melakukan tahrif terhadap nash hadits dan tidak dapat melakukannya pada lafadz Al Qur’an. Walaupun demikian Rafidhah tetap banyak melakukannya terhadap lafazd Al Qur’an dan menuduh Ahlus Sunnah yang melakukan perubahan Al Qur’an.

Lalu Ibnul Qayyim menyatakan, adapun tahrif maknawi ialah tahrif yang mereka tampakkan dan kembangkan dengan nama ta’wil. Demikian ini merupakan istilah yang salah, diada-adakan dan tidak pernah digunakan dalam bahasa Arab. Ta’wil ini bermakna memalingkan makna dari yang semestinya. Hakikatnya, ialah memberikan kepada lafadz makna lain dengan adanya sedikit kesamaan diantara makna asal dan makna ta’wil tersebut. [12]

• وَ انْتِحِال الْمُبْطِلِيْن : membongkar kedustaan ahli bathil, karena intihal. Artinya, bila seseorang mendakwakan (mengklaim) sesuatu untuk dirinya secara dusta, baik berupa sya’ir atau perkataan, padahal itu milik orang lain.

• وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ : menolak takwil orang yang melakukannya tanpa dasar ilmu dan pemahaman terhadap ayat dan hadits Nabi, lalu memalingkannya dari dzahir lafadznya.[13]

SYARAH HADITS
Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan para ulama setelah meninggalnya para nabi dan rasul. Mereka menunjuki orang tersesat kepada petunjuk dan membuat mereka dapat melihat kebenaran agama Allah secara benar. Berapa banyak orang yang tertolong dengan sebab ajaran dan perjuangan dakwah mereka. Alangkah baiknya pengaruh mereka terhadap masyarakat dan umat ini.

Demikianlah tugas para ulama pengemban ilmu. Mereka harus menjaga agama Islam dan umatnya dari seluruh kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Mereka menjaganya dari perpecahan dan kerusakan akibat hal-hal tersebut.

Namun apa yang mereka terima? Cercaan, teror dan berbagai kecaman datang silih berganti. Mereka dihujat sebagai pemecah belah umat, peruncing perbedaan umat, suka memfitnah dan segudang tuduhan lainnya. Itulah segala resiko, dari tugas pengemban ilmu yang mereka peroleh. Mereka tetap melaksanakan tugas menjaga agama dan umat ini dari perpecahan dan kehancuran, dengan mencurahkan kasih-sayangnya agar umat ini hidup di bawah lindungannya. Mereka hentikan para penyesat dan musuh Allah dari kegiatan pemurtadan dan penyesatan umat, dengan beramar makruf nahi mungkar, mengajak manusia bertauhid dan menjauhi segala kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan.
Merekalah yang dapat menjaga persatuan dan kesatuan umat, menegakkan tiang, kekuatan dan kejayaan Islam atas agama yang lainnya dan menghancurkan hawa nafsu, kebidahan, kefajiran dan kemaksiatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,“Para ulama memiliki kewajiban atas umat untuk menjaga dan menyampaikan agama ini. Jika mereka tidak menyampaikan ilmu agama ini kepada mereka atau melalaikan tugas menjaga agama, maka demikian itu merupakan kedzaliman yang paling besar terhadap kaum muslimin. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآأَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَابَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلاَئِكَ يَلْعَنَهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. [Al Baqarah:159].

Hal ini, karena dampak jelek (bahaya) dari menyembunyikan ilmu mereka, berimbas kepada binatang dan yang lainnya. Sehingga semua melaknat mereka termasuk para binatang.” [14]

Oleh sebab itu para ulama salaf senantiasa membongkar dan menjelaskan kepada umat, tentang kebid’ahan dan para ahlinya. Tidak cukup hanya disitu, bahkan memperingatkan fitnah dan bahaya mereka terhadap persatuan dan kesatuan umat Islam. Lihatlah apa yang dinyatakan imam ahli sunnah Ibnul Qayim, ketika berbicara tentang sikap para salaf terhadap kebid’ahan. Beliau rahimahullah berkata,” “Pengingkaran para salaf dan imam mereka semakin keras terhadap kebidahan. Mereka membantah pelakunya dari segala penjuru dunia dan memperingatkan dengan keras fitnah ahli bid’ah. Sampai pengingkaran mereka terhadap kebida’han melebihi pengingkaran mereka terhadap kekejian, kedzaliman dan permusuhan. Karena bahaya kebid’ahan, kehancuran agama dan penentangannya lebih besar.”[15]

Lihatlah wahai saudaraku kaum muslimin, bagaimana para ulama berusaha menjaga agama dan umat Islam dengan mengerahkan segenap kemampuannya membongkar kesalahan dan kebid’ahan yang ada! Semua itu, karena bahaya dan implikasi bid’ah yang demikian mengerikan terhadap persatuan dan kesatuan kaum muslimin.

Jadi membongkar penyimpangan agama, bukanlah memecah persatuan umat dan memperuncing perselisihannya. Namun itu sangat membantu kaum muslimin merapikan barisannya menuju persatuan dan kejayaan Islam di muka bumi ini. Demikian ini dapat dilihat dalam sejarah kaum muslimin yang sangat panjang, sejak masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hingga saat ini.

Membongkar kesalahan dan penyimpangan agama, merupakan perkara penting dan menjadi tugas mulia para pengemban ilmu. Juga menjadi nikmat dan anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kaum muslimin. Sehingga umat dapat mengerti kesalahan mereka, lalu dapat memperbaikinya agar lebih baik dan sempurna.



Memang demikianlah yang disinyalir dalam hadits yang mulia ini, yang tentunya juga menunjukkan keutamaan dan ilmu mereka.

Imam Ibnul Qayim menyatakan: Hadits ini menunjukkan sanjungan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap para ulama yang membawa ilmu warisannya. Ilmu ini diisyaratkan beliau n dalam sabdanya:

(هَذَا الْعِلْمَ). Semua pengemban ilmu yang disebutkan itu mesti seorang yang ‘adil. Oleh karena itu, sudah terkenal di kalangan umat ini sifat ‘adil para penukil dan pengemban ilmu tersebut, tanpa ada keraguan dan kebimbangan lagi.

Sudah pasti, setiap orang yang telah di sanjung Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak didapatkan jarh (celaan) pada mereka. Sehingga seluruh para imam yang telah terkenal sebagai periwayat ilmu nabawi dan warisannya, adalah orang-orang yang ‘adil dengan sanjungan (ta’dil) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, tidaklah diterima celaan sebagian mereka terhadap sebagian yang lainnya.

Bebeda dengan orang yang terkenal dari kalangan umat ini dengan sifat tercela dan buruk. Semisal tokoh ahli bid’ah dan yang mengikuti mereka dari orang yang diragukan keshalihanya. Karena mereka, menurut umat ini bukan termasuk pengemban ilmu nabawi. Sehingga, tidaklah mengemban ilmu Rasulullah n , kecuali orang yang ‘adil.

Namun terkadang, terdapat kesalahan dalam memahami istilah ‘adil ini. Sehingga menganggap, bahwa yang dimaksudkan ialah orang yang tidak memiliki dosa. Sesungguhnya, tidaklah demikian. Yang benar ialah bermakna ‘adil, dipercaya atas agama ini.[16]

Pantaslah demikian, karena mereka merupakan pewaris para nabi dan rasul, sebagaimana dinyatakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:




وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewarisi dinar dan tidak pula dirham, namun mewarisi ilmu. Sehingga siapa yang telah mengambilnya, berarti telah mengambil bagian yang sempurna.[17]

Sungguh aneh bila seseorang yang berusaha meluruskan kesalahan sekelompok kaum muslimin atau jama’ah, lalu dianggapnya sebagai penyebar fitnah, pemecah persatuan dan persaudaraan Islam. Bahkan lebih dari itu, mereka harus diteror dengan berbagai celaan dan makian serta tuduhan tanpa bukti dan keterangan jelas, seperti julukan, sebagai antek Amerika dan Yahudi, penjilat pemerintah, atau bodoh tidak mengenal fiqih waqi’ dan lain-lainnya. Sungguh suatu tuduhan yang keji dan tak berperi-kemanusiaan, apalagi sesuai dengan syari’at. Tuduhan yang tidak mungkin akan keluar dari seseorang yang mengerti hak pengemban ilmu. Layak dan pantaskah tuduhan ini dialamatkan kepada orang yang membongkar penyimpangan suatu jama’ah atau sekelompok kaum muslimin, agar semua sadar dan kembali bertaubat kepada Allah l ?! Sungguh tidak pantas dan teramat sangat tidak pantas.

Demikianlah sunatullah yang bakal menimpa penegak kebenaran, dari para rasul dan nabi, serta para pengikut mereka.

وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيلاً

Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. [Al Ahzab:62].

Hujatan dan gelaran buruk telah menimpa para ulama Ahlu Sunnah sejak zaman dahulu. Imam Abu Utsman Ash Shabuni menjelaskan,“Saya melihat sikap ahli bid’ah dalam memberi gelaran-gelaran jelek kepada Ahlu Sunnah merupakan sikap meniru cara kaum musyrikin terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka (kaum musyrikin) telah telah menggelari beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan berbagai julukan. Sebagian mereka menggelarinya sebagai tukang tukang sihir. Ada yang menggelarinya dengan gelar dukun, sya’ir, orang gila, kesurupan, pembual dan pendusta. Padahal beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat jauh dan suci dari aib-aib tersebut. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, semata-mata hanyalah seorang Rasul dan Nabi yang terpilih. Allah berfirman.

انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ اْلأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلاَيَسْتَطِيعُونَ سَبِيلاً

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). [Al Isra:48].

Demikian juga ahli bid’ah –semoga Allah Azza wa Jalla menghinakan mereka- telah memberikan gelaran yang banyak terhadap para ulama perawi hadits Nabi, orang yang menyampaikannya kepada orang lain dan pengikut sunnah Rasulullah n . Sebagian mereka menggelarinya dengan gelar hasyawiyah. Yang lainnya menjulukinya dengan gelaran musyabihah, nabitah, nashibah dan jabariyah. Padahal Ashhabul Hadits sendiri amatlah terjaga, jauh dan bersih dari aib celaan ini. Mereka tak lain adalah pengikut sunnah yang terang, pemilik peri kehidupan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala, orang yang berjalan di jalan yang lurus dan di atas hujjah yang kokoh dan kuat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan taufiq kepada mereka untuk mengikuti kitab, wahyu dan kalamNya. Mereka mendapatkan taufiq juga dalam mengikuti Rasulullah atas seluruh haditsnya. Hadits-hadits beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berisi perintah kepada umatnya untuk berbuat kemakrufan dalam perkataan dan perbuatan, berisi larangan dari seluruh kemungkaran.

Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta'ala membantu mereka untuk berpegang teguh dan mengambil petunjuk kepada perilaku dan sunnah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Juga melapangkan dada mereka untuk mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para imam syari’at dan para ulamanya. Maka, barangsiapa yang mencintai satu kaum, maka ia bersama mereka pada hari kiamat nanti, dengan dasar sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Sesorang itu bersama orang yang dicintainya.[18]

Hadits yang mulia ini juga menjelaskan bahaya tahrif yang dilakukan seseorang yang melampaui batas, kedustaan ahli batil dan ta’wil, orang yang bodoh terhadap agama ini. Sehingga pemurnian Islam dari perkara ini, merupakan satu kewajiban dan tugas syar’i bagi para pengemban ilmu. Fardhu kifayah yang harus dilaksanakan dengan adab dan kaidah-kaidah syari’at, sehingga dapat menghilangkan dosa dan kewajiban umat ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas kepada para ulama dengan kebaikan yang berlipat ganda.

BAHAYA MENDIAMKAN KEMUNGKARAN DAN KEBID’AHAN
Mendiamkan kebid’ahan dan kemungkaran yang menyebar di masyarakat Islam akan menimbulkan berbagai kerusakan dan bahaya. Diantara kerusakan dan kemudharatan tersebut ialah:

1. Kehilangan unsur penting kehidupan dan kejayaan umat Islam, yaitu amar makruf nahi mungkar dan memerangi kebatilan.
2. Menyebabkan kemenangan ahli batil dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah
3. Menyebarkan dan mengembangkan amalan atau orang yang menyelisihi kebenaran, baik dalam masalah i’tikad, pemikiran dan amalan.
4. Berkembang syubhat-syubhat yang merusak aqidah dan akhlak, serta hati umat Islam.
5. Melemahkan kekuatan iman dan i’tikad (aqidah) yang benar.
6. Menghilangkan hukuman syar’i terhadap ahli hawa dan ahli bid’ah serta ahli syahwat.
7. Menghilangkan pembatas antara bid’ah dan sunnah, kemakrufan dan kemungkaran. Juga menghilangkan ghirah membela kesuciam agama ini.
8. Menyebabkan orang yang mampu melakukan perbuatan ini berdosa; karena membantah dan membongkar kebid’ahan dan kesalahan tersebut merupakan satu kewajiban.
9. Merusak agama ini dengan tercampurnya kebenaran dan kebatilan.[19]


Melihat sebagian bahaya dan kerusakan yang timbul, tentunya kita harus berusaha melaksanakan hal ini. Tentu semuanya dengan adab dan di atas koridor syari’at. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan menegur kaum muslimin untuk berhati-hati dalam bersikap. Wallahu a’lam. (Disusun Oleh : Abu Aisyah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Mursal menurut istilah para ulama hadits, ialah hadits yang ada pernyataan tabi’in langsung menukil dari Rasulullah n .
[2]. Shaduq katsirul ghaladz, ialah perawi yang shaduq (baik dalam keadilan agamanya), namun umumnya berbuat salah dalam meriwayatkan hadits. Menurut Ibnu Abi Hatim, ini termasuk yang tidak diambil hujjah haditsnya dalam halal dan haram. Lihat Dhawabit Al Jarh Wa Ta’dil, hal. 158.
[3]. Mu’dhal, ialah hadits yang dihapus dua orang perawi atau lebih secara berurutan di tengah sanad.
[4]. Shaduqun yukhti, ialah shaduq dalam agamanya, namun berbuat banyak kesalahan dalam hadits. Ini termasuk martabat kelima dalam martabat jarh dan ta’dil menurut Imam Ibnu Hajar. Hadits orang yang demikian, sifatnya ini diterima bila ada penguat yang menunjukkan diterimanya hadits tersebut. Lihat Dhawabith Al Jarh Wa Ta’dil, hal. 166.
[5]. Takhrij ini diringkas dari kitab Dhawabith Al Jarh Wat Ta’dil, karya Syaikh Abdilaziz bin Muhammad Ali Abdillathif, hal. 23-25 dengan penambahan.
[6]. Dhawabith Al Jarh Wat Ta’dil, hal. 25.
[7]. Lihat At Tashfiyah Wat Tarbiyah, hal. 24.
[8]. Adil atau ‘adalah disini, ialah orang yang memiliki kemampuan untuk terus dalam keadaan taqwa dan jauh dari dosa-dosa besar dan hal-hal yang merusak harga dirinya.
[9]. Miftah Daris Sa’adah, 1/495.
[10]. Juga lihat keterangan Syaikh Ali Hasan dalam Tashfiyah Wat Tarbiyah, hal. 25.
[11]. Dinukil oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Ar Rudud, hal 133 dari kitab Ash Shawa’iqul Mursalah, 1/215.
[12]. Lihat foot note Aqidah Salaf Ashhabul Hadits, hal. 163 menukil dari Mukhtashar Shawa’iqul Mursalah, 2/147.
[13]. Ad Dinul Khalish, karya Shidiq Hasan Khan, hal. 261-263, dinukil dari Tashfiyah Wat Tarbiyah, hal. 25-26.
[14]. Majmu’ Fatawa, dinukil dari kitab Ar Rudud, karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, hal. 8.
[15]. Madarijus Salikin 1/372.
[16]. Miftah Daris Sa’adah 1/495-496.
[17]. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya dalam kitab Al Ilmu, Bab Al Hatsu ‘Ala Thalabil Ilmi, no.3157 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya kitab Muqadimah, Bab Fadhlul Ulama Wal Hats ‘Ala Thalabil Ilmi, 219 dan dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
[18]. Aqidah Salaf Ashhadul Hadits, hal. 305-306.
[19]. Diambil dari kitab Ar Rudud, karya Syaikh Bakr Abu Zaid, hal. 81-83 dengan pengurangan dan penambahan.

http://almanhaj.or.id/content/3066/slash/0

semoga bermanfaat


source  

MUSIK = HARAM


by Al-Ukhti Aaliyah Mazeeun -Hafizhahallah-

bismillaah,

Ada yang bertanya, KALAU Musik itu haram. lalu kenapa para Ustadz sekarang pada jadi 'PENYANYI'?
  sebuah pertanyaan yg bagus, jk pertanyaan tersebut karena ingin kebenaran, dan menjadi sebuah pertanyaan buruk jika itu digunakan untuk mencari pembenaran.

jawabnya :

Pertanyaan tersebut layaknya diajukan pada para Ustadz yang menjadi Penyanyi 'dadakan tersebut', KEMANA MEREKA MENGAMBIL RUJUKAN HUKUMNYA TENTANG KEBOLEHAN MENYANYI DAN BERMUSIK RIA TERSEBUT,
bukan mempertanyakan kedudukan Hukumnya, sebab Hukum tak gugur hanya karena seorang yang 'dianggap faqih' telah mencontohkannya.

Dalam masalah ini para Ulama dari empat Mazhab tidak berbeda pendapat tentang haramnya alat Musik. sehingga sangat dipertanyakan kemana para Ustadz itu mengambil rujukan hukumnya dengan membolehkan bagi dirinya sendiri, bahkan mencontohkan kepada khalayak, sehingga hal tersebut dianggap boleh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

bahkan lebih jauh tentang kesepakatan para Ulama terhadap hukum Musik bs disimak di sini :

http://ustadzaris.com/kata-sepakat-ulama-dalam-haramnya-musik

lalu bagaimana dengan nyanyian?

Empat Ulama Madzhab Mencela Nyanyian

Imam Abu Hanifah. Beliau membenci nyanyian dan menganggap mendengarnya sebagai suatu perbuatan dosa.
[1] Lihat Talbis Iblis, 282.

Imam Malik bin Anas. Beliau berkata, “Barangsiapa membeli budak lalu ternyata budak tersebut adalah seorang biduanita (penyanyi), maka hendaklah dia kembalikan budak tadi karena terdapat ‘aib.”
[2] Lihat Talbis Iblis, 284.

Imam Asy Syafi’i. Beliau berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”
[3] Lihat Talbis Iblis, 283.

Imam Ahmad bin Hambal. Beliau berkata, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku pun tidak menyukainya.”
[4] Lihat Talbis Iblis, 280.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.”
[5] Majmu’ Al Fatawa, 11/576-577.


lalu baiklah, jika masih ada orang berpendapat, kemungkinan Ulama kholaf memiliki penafsiran berbeda. Benarkah?

jawabnnya adalah TIDAK, berikut buktinya :


Hukum Alat Musik [Malahi] Menurut Keputusan Muktamar NU dan Muhammadiyah

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1 Di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 M


21. Alat-alat Orkes untuk Hiburan


Soal : Bagaimana hukum alat-alat orkes (mazammirul-lahwi) yang dipergunakan untuk bersenang-senang (hiburan)? Apabila haram, apakah termasuk juga terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala dan seruling permainan anak-anak (damenan, Jawa)?


Jawab : Muktamar memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak dan lain-lain sebagainya yang tidak dimaksudkan dipergunakan hiburan.

Keterangan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din:

فَبِهَذِهِ الْمَعَانِي يَحْرُمُ الْمِزْمَارُ الْعِرَقِيُّ وَ الْأَوْتَارُ كُلُّهَا كَالْعُوْدِ وَ الضَّبْحِ وَ الرَّبَّابِ وَ الْبَرِيْطِ وَ غَيْرِهَا وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَلَيْسَ فِي مَعْنَاهَا كَشَاهِيْنٍ الرُّعَاةِ وَ الْحَجِيْجِ وَ شَاهِيْنٍ الطَّبَالِيْنَ.

“Dengan pengertian ini maka haramlah seruling Irak dan seluruh peralatan musik yang menggunakan senar seperti ‘ud (potongan kayu), al-dhabh, rabbab dan barith (nama-nama peralatan musik Arab). Sedangkan yang selain itu maka tidak termasuk dalam pengertian yang diharamkan seperti bunyi suara (menyerupai) burung elang yang dilakukan para penggembala, jama’ah haji, dan suara gendering”.

Sumber :
Buku "Masalah Keagamaan" Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni.

Hasil scan KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1 Di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 M
bisa dilihat di sini :

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/10/hukum-alat-musik-malahi-menurut.html#more


KEPUTUSAN TARJIH MUHAMMADIYAH

4. HUKUM ALATUL MALAHI
الة اللهو. يراد بها الالة المضروبة وحكمها يدور مع علتها, وهي علي ثلاثة اقسام : قسم يجلب الفضيلة آما يضرب لتشجيع الجنود عند الحرب فحكمه سنة, وقسم يضرب للغو فقط (لايجلب شيئا من الفضيلة ولا الرذيلة) فحكمه مكروه لقوله ضلى الله عليه وسلم من حسن اسلام المرء ما لا يعنيه (رواه الترمذىّ عن ابي هريرة)و و قسم مجلب المعصية فحكمه حرام.


Alatul Malahi yang di maksud adalah alat bunyi-bunyian (musik) dan hukumnya berkisar kepada illatnya (sebabnya). Dan ia ada 3 macam :
a. Menarik kepada keutamaan seperti menarik kepada keberanian di medan peperangan, hukumnya sunat.

b. Untuk main-main belaka (tak mendatangkan apa-apa) hukumnya makruh, menilik hadits :”Termasuk kesempurnaan keislaman seseorang ialah meninggalkan barang yang tak berarti”. (hadits ini di riwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah).

c. Menarik kepada ma’siyat hukumnya haram


Soal : Sebagaian ulama/kiai yang mengatakan kepada masyarakat awam bahwa orang mendengarkan gending-gending Jawa seperti: gong, ludruk, wayang, dan sebagainya itu haram. Benarkah kata pak Kiai tersebut?

1. Sampai sejauh mana keharaman mendengarkan gending-gending tersebut? Mohon penjelasan dengan dalil-dalil al-Quran/al-Hadist.

2. Bagaimana dengan mendengarkan suara-suara musik: dangdut, band, keroncong, samroh, dan sebagainya? Karena itu juga menjadi tambahan ilmu bagi kami. Dan semoga kami dipahamkan oleh Allah. Amin.

Jawaban:

1. Kata Pak Kyai tersebut benar, berdasar:

Dasar pengambilan hukum:

1. Tafsir Ibnu Katsir juz 3, halaman 442:
وَقَالَ الحَسَن البَصْرِى: نَوَلَتْ هَذِهِ الأيَةِ (وَمِنَ النَاسِ مَنْ يَشْتَرِى لَهْوَ الحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذُهَا هُزُوا ، أولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِيْنٌ) فِى الغِنَاءِ وَالمَزَامِير.

"Imam Hasan al-Bashri berkata: "telah turun ayat ini (dan diantara manusia ada yang mempergunakan perkataaan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperolah azab yang menghinakan) mengenai nyanyian dan macam-macam seruling."

2. Dalam kitab Al-Mu’jamul Mufahras juz 2 halaman 342 disebutkan sebuah hadits riwayat an-Nasa’i sebagai berikut:

"Pekerjaanmu membunyikan suara jenis-jenis kecapi dan jenis-jenis seruling adalah bid’ah dalam Islam."

Gending dan alat musik tersebut dapat menimbulkan kemunafikan dalam hati. Gending dan alat musik tersebut mengalihkan perhatian orang dari ceramah-ceramah agama Islam seperti sekarang ini. Gending dan alat musik tersebut menjadikan ayat al-Qur’an dan hadits, sebagai olok-olokan, seperti ayat-ayat dan hadits-hadits yang diterjemahkan kemudian dijadikan nyanyian. Gending dan alat musik itu dapat merangsang nafsu seksual, perbuatan durhaka dan lain sebagainya.

Dasar pengambilan hukum:
1. Surat Luqman ayat 6 seperti tersebut diatas.
2. Hadits riwayat Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud sebagai berikut:
"Sesungguhnya nyanyian itu dapat menaburkan kemunafikan dalam hati."
3. Kitab Kulfur Ru’a juz 1 halaman 306:

"Orang yang menceritakan keharaman alat-alat musik tersebut seluruhnya adalah Abu al-Abbas al-Qurthubi. Beliau adalah orang yang terpercaya dan adil. Sesungguhnya beliau telah berpendapat sebagaimana yang telah beliau kutip dan para imam kita dan para imam tersebut, membenarkannya: "Adapun macam-macam seruling, macam-macam gitar (alat-alat petik) dan gendang, maka tidak diperselisihkan) dan keharaman mendengarkannya. Dan saya tidak mendengar dari seseorang yang pendapatnya dapat dijadikan pegangan dari ulama salaf dan para imam khalaf, orang yang membolehkan mendengarkan hal tersebut. Dan bagaimana tidak haram, sedangkan alat tersebut adalah syi’ar dari pemabuk, tukang melakukan pelanggaran agama, menimbulkan pelanggaran agama, menimbulkan nafsu sahwat, kerusakan dan lawak. Dan apa yang demikian halnya, maka tidak diragukan lagi kefasikan dan kedosaan pelakunya."

Asalkan dapat menimbulkan hal-hal seperti tersebut di atas, maka hukumnya juga haram!

  Selengkapnya,silahkan klik dan baca link ini !:

http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1995/01.single?seemore=y%EF%BB%BFS

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/10/hukum-alat-musik-malahi-menurut.html#more

  Jadi, sama sekali tidak ada bukti bahwa kedua hal di atas yaitu Musik dan Nyanyian 'pernah' dihalalkan. baik oleh Ulama Salaf maupun Ulama khalaf. kecuali hanya oleh Ulama Jadi Jadian. ^^

semoga bermanfaat

berikut STATEMENT sahabat sekaligus guru kami di latar facebook ini, introducing :





Syeh Abu Ayaz -hafizhahullah-

Afwan, Rhoma "terlalu" irama itu orang bodoh yang bicara agama dengan hawa nafsunya.

Saya ini mantan musisi jazz, Pianist, Keyboardist, Guitarist, Banjoist, yang bahkan musikalitas saya jauh lebih hebat dari rhoma "terlalu" irama yang hanya sekedar faham musik dangdut.

Musik saya adalah musik kelas dunia, musik kalangan atas, yang hanya dapat di fahami oleh orang yang seleranya bagus dan intelegensianya cukup baik, sedangkan musiknya rhoma "terlalu" irama adalah musik kelas kampung.

TAPI APA YANG TERJADI?
Setelah datang hidayah, setelah tegak hujjah dan dalil yang shahih.
Saya tinggalkan dunia musik, yang dimasa lalu sempat membuat saya jadi kaya raya.
Saya tinggalkan semua itu.
Saya tidak peduli lagi, dengan yg namanya musik, apakah itu jazz, klasik, rock, pop, dangdut...EGP
Itu semua ada talbis iblis.

Adapun perkataan rhoma "terlalu" irama "musik dan seni bisa jadi ajang berdakwah" , maka ini adalah TALBIS IBLIS.

Allahul musta'an

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
“Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan ucapan yang tidak berguna” [QS. Luqman : 6]

Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits (ucapan yang tidak berguna) dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu.

Al Wahidi dalam tafsirnya menyatakan bahwa kebanyakan para mufassir mengartikan “lahwal hadits” dengan “nyanyian”.

Penafsiran ini disebutkan oleh Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu. Dan kata Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya, Jami’ Ahkamul Qur’an, penafsiran demikian lebih tinggi dan utama kedudukannya.

Hal itu ditegaskan pula oleh Al Qurthubi, dalam "Kasyful Qina’ halaman 62, bahwa di samping diriwayatkan oleh banyak ahli hadits, penafsiran itu disampaikan pula oleh Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, sahabat yang telah dijamin oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan doa beliau :

“Ya Allah, jadikanlah dia (Ibnu Abbas) faham terhadap agama ini dan ajarkanlah dia ta’wil (penafsiran Al Qur’an).” [SHAHIH.HR. Bukhari 4/10 dan Muslim 2477 dan Ahmad 1/266, 314, 328, 335].

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bersumpah bahwa yang dimaksud dengan kata lahwul hadits dalam ayat diatas adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu tersebut diiringi oleh musik rebab, kecapi, biola, serta gendang, maka kadar keharamannya semakin bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat musik hukumnya adalah haram, maka wajib untuk dijauhi. Dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berpendapat.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya,mengenai tafsir surat Luqman ayat 6 diatas , diriwayatkan bahwa sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam yang bernama Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu berkata : ”yang dimaksud dengan itu (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Allah yang tiada sesembahan kecuali dia (3 kali)”.

Adapun dalil dari assunah tentang haramnya musik :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Akan muncul di kalangan umatku nanti beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat musik (al Ma'azif)". [SHAHIH.HR.Bukhari no 5590, Musnad Imam Ahmad V/342, Sunan Abu Daud no. 3688, Sunan Ibnu Majah no. 4036].

Yang dimaksud al-ma’azif dalam hadits ini adalah segala macam jenis alat musik.

Wallahu a'lam.
______________________

Semoga bisa menjadi bahan renungan
Simak lg ƴα̍Ϟƍ berikut

Kontroversi tentang musik seakan tak pernah berakhir. Baik yang pro maupun kontra masing-masing menggunakan dalil. Namun bagaimana para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf memandang serta mendudukkan perkara ini? Su

dah saatnya kita mengakhiri kontroversi ini dengan merujuk kepada mereka.

Musik dan nyanyian, merupakan suatu media yang dijadikan sebagai alat penghibur oleh hampir setiap kalangan di zaman kita sekarang ini. Hampir tidak kita dapati satu ruang pun yang kosong dari musik dan nyanyian. Baik di rumah, di kantor, di warung dan toko-toko, di bus, angkutan kota ataupun mobil pribadi, di tempat-tempat umum, serta rumah sakit. Bahkan di sebagian tempat yang dikenal sebagai sebaik-baik tempat di muka bumi, yaitu masjid, juga tak luput dari pengaruh musik.

Merebaknya musik dan lagu ini disebabkan banyak dari kaum muslimin tidak mengerti dan tidak mengetahui hukumnya dalam pandangan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang mubah, halal, bahkan menjadi konsumsi setiap kali mereka membutuhkannya. Jika ada yang menasihati mereka dan mengatakan bahwa musik itu hukumnya haram, serta merta diapun dituduh dengan berbagai macam tuduhan: sesat, agama baru, ekstrem, dan segudang tuduhan lainnya.

Namun bukan berarti, tatkala seseorang mendapat kecaman dari berbagai pihak karena menyuarakan kebenaran, lantas menjadikan dia bungkam. Kebenaran harus disuarakan, kebatilan harus ditampakkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ في حَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ أَوْ سَمِعَهُ

“Janganlah rasa segan salah seorang kalian kepada manusia, menghalanginya untuk mengucapkan kebenaran jika melihatnya, menyaksikannya, atau mendengarnya.” (HR. Ahmad, 3/50, At-Tirmidzi, no. 2191, Ibnu Majah no. 4007. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Silsilah Ash-Shahihah, 1/322)

Terlebih lagi, jika permasalahan yang sebenarnya dalam timbangan Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah perkara yang telah jelas. Hanya saja semakin terkaburkan karena ada orang yang dianggap sebagai tokoh Islam berpendapat bahwa hal itu boleh-boleh saja, serta menganggapnya halal untuk dikonsumsi kaum muslimin. Di antara mereka, adalah Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Al-Ghazali Al-Mishri, dan yang lainnya dari kalangan rasionalis. Mereka menjadikan kesalahan Ibnu Hazm rahimahullahu sebagai tameng untuk membenarkan penyimpangan tersebut.

Oleh karenanya, berikut ini kami akan menjelaskan tentang hukum musik, lagu dan nasyid, berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta perkataan para ulama salaf

DEFINISI MUSIK :
Musik dalam bahasa Arab disebut ma’azif, yang berasal dari kata ‘azafa yang berarti berpaling. Kalau dikatakan: Si fulan berazaf dari sesuatu, maknanya adalah berpaling dari sesuatu. Jika dikatakan laki-laki yang ‘azuf dari yang melalaikan, artinya yang berpaling darinya. Bila dikatakan laki-laki yang ‘azuf dari para wanita artinya adalah yang tidak senang kepada mereka.

Ma’azif adalah jamak dari mi’zaf (مِعْزَفٌ), dan disebut juga ‘azfun (عَزْفٌ). Mi’zaf adalah sejenis alat musik yang dipakai oleh penduduk Yaman dan selainnya, terbuat dari kayu dan dijadikan sebagai alat musik. Al-‘Azif adalah orang yang bermain dengannya.

Al-Laits rahimahullahu berkata: “Al-ma’azif adalah alat-alat musik yang dipukul.” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Al-ma’azif adalah alat-alat musik.” Al-Qurthubi rahimahullahu meriwayatkan dari Al-Jauhari bahwa al-ma’azif adalah nyanyian. Yang terdapat dalam Shihah-nya bahwa yang dimaksud adalah alat-alat musik. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah suara-suara yang melalaikan. Ad-Dimyathi berkata: “Al-ma’azif adalah genderang dan yang lainnya berupa sesuatu yang dipukul.” (lihat Tahdzib Al-Lughah, 2/86, Mukhtarush Shihah, hal. 181, Fathul Bari, 10/57)

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata: “Al-ma’azif adalah nama bagi setiap alat musik yang dimainkan, seperti seruling, gitar, dan klarinet (sejenis seruling), serta simba.” (Siyar A’lam An-Nubala`, 21/158)

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata bahwa al-ma’azif adalah seluruh jenis alat musik, dan tidak ada perselisihan ahli bahasa dalam hal ini. (Ighatsatul Lahafan, 1/260-261)

Masih ada lagi iyαααº°˚ª˚°ºαα ...

Ishbir

MENGENAL MACAM-MACAM ALAT MUSIK

Alat-alat musik banyak macamnya. Namun dapat kita klasifikasi alat-alat tersebut ke dalam empat kelompok:

Pertama:
Alat-alat musik yang diketuk atau dipukul (perkusi).
Yaitu jenis alat musik yang mengeluarkan suara saat digoncangkan, atau dipukul dengan alat tabuh tertentu, (misal: semacam palu pada gamelan, ed.), tongkat (stik), tangan kosong, atau dengan menggesekkan sebagiannya kepada sebagian lainnya, serta yang lainnya. Alat musik jenis ini memiliki beragam bentuk, di antaranya seperti: gendang, kubah (gendang yang mirip seperti jam pasir), drum, mariba, dan yang lainnya.

Kedua:
Alat musik yang ditiup.
Yaitu alat yang dapat mengeluarkan suara dengan cara ditiup padanya atau pada sebagiannya, baik peniupan tersebut pada lubang, selembar bulu, atau yang lainnya. Termasuk jenis ini adalah alat yang mengeluarkan bunyi yang berirama dengan memainkan jari-jemari pada bagian lubangnya. Jenis ini juga beraneka ragam, di antaranya seperti qanun dan qitsar (sejenis seruling).

Ketiga:
Alat musik yang dipetik.
Yaitu alat musik yang menimbulkan suara dengan adanya gerakan berulang atau bergetar (resonansi), atau yang semisalnya. Lalu mengeluarkan bunyi saat dawai/senar dipetik dengan kekuatan tertentu menggunakan jari-jemari. Terjadi juga perbedaan irama yang muncul tergantung kerasnya petikan, dan cepat atau lambatnya gerakan/getaran yang terjadi. Di antaranya seperti gitar, kecapi, dan yang lainnya.

Keempat:
Alat musik otomatis.
Yaitu alat musik yang mengeluarkan bunyi musik dan irama dari jenis alat elektronik tertentu, baik dengan cara langsung mengeluarkan irama, atau dengan cara merekam dan menyimpannya dalam program yang telah tersedia, dalam bentuk kaset, CD, atau yang semisalnya. (Lihat risalah Hukmu ‘Azfil Musiqa wa Sama’iha, oleh Dr. Sa’d bin Mathar Al-‘Utaibi)

Semoga bermanfaat

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menulis surat kepada guru anaknya:

“Hendaklah pertama kali yang diyakini anak-anakku dari tata-kramamu adalah membenci nyanyian, yang awalnya dari setan dan akhirnya adalah kemurkaan Ar-Rahman Jalla Wa ‘

Alla.

Karena sesungguhnya telah sampai kepadaku dari para ulama yang terpercaya bahwa menghadiri alat-alat musik dan mendengarkan nyanyian serta menyukainya

akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air akan menumbuhkan rerumputan.

Demi Allah, sesungguhnya menjaga hal itu dengan tidak mendatangi tempat-tempat tersebut, lebih mudah bagi orang yang berakal, daripada bercokolnya kemunafikan di dalam hati.” (Muntaqan Nafis Min Talbis Iblis, hal. 306).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
“Aku mendapati di Iraq sesuatu yang bernama taghbir, yang dimunculkan oleh orang-orang zindiq guna menghalangi orang-orang dari membaca AL-Qur`an.” (Riwayat Abu Nuaim dalam Al-Hilyah: 9/146 dan Ibnu Al-Jauzi dalam Talbis Iblis hal. 283 dengan sanad yang shahih)

Taghbir adalah kumpulan bait syair yang berisi anjuran untuk zuhud terhadap dunia, yang dilantunkan oleh seorang penyanyi sementara yang hadir memukul rebana mengiringinya.

Kami katakan:
Kalau lirik taghbir ini seperti itu (anjuran zuhur terhadap dunia) dan hanya diiringi dengan satu alat musik sederhana, tapi tetap saja dibenci oleh Imam Asy-Syafi’i, maka bagaimana lagi kira-kira jika beliau melihat nasyid yang ada sekarang, apalagi jika melihat nyanyian non religi sekarang?!

Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah berkata mengomentari ucapan Asy-Syafi’i di atas,

“Apa yang disebutkan oleh Asy-Syafi’i bahwa taghbir ini dimunculkan oleh orang-orang zindiq adalah ucapan dari seorang imam yang mengetahui betul tentang landasan-landasan Islam. Karena mendengar taghbir ini, pada dasarnya tidak ada yang senang dan tidak ada yang mengajak untuk mendengarnya kecuali orang yang tertuduh sebagai zindiq.”
(Majmu’ Al-Fatawa: 11/507)

Ibnu Al-Jauzi berkata, “Murid-murid senior Asy-Syafi’i radhiallahu anhum mengingkari perbuatan mendengar (nyanyian).” (Talbis Iblis hal. 283)

Ibnu Al-Qayyim juga berkata dalam Ighatsah Al-Luhfan hal. 350, “Asy-Syafi’i dan murid-murid seniornya serta orang-orang yang mengetahui mazhabnya, termasuk dari ulama yang paling keras ibaratnya dalam hal ini (pengharaman nyanyian).”

Karenanya Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Talbi Iblis hal. 283,
“Maka inilah ucapan para ulama Syafi’iyah dan orang-orang yang baik agamanya di antara mereka (yakni pengharaman nyanyian). Tidak ada yang memberikan keringanan mendengarkan musik kecuali orang-orang belakangan dalam mazhabnya,
mereka yang minim ilmunya dan telah dikuasai oleh hawa nafsunya.”
Dalam sejarh hidup Nabi dan perjuangannya kita tak banyak menemukan nabi suka dihibur dgn lagu3 (musik), lihat ketika Aisah dihibur oleh seorang biduan dan Abubakar Ayahnya memarahinya

Nabi membela namun stelah selesai lagunya nabi ber

kata "sungguh saya melihat syetan dihidungnya", pdhal yg dinyanyikan hanya lagu2 saja (bukan isi Alquran) yg selama ini kita temukan,

DemiAllah sungguh jika isi Alquran di suarakan dengan musik maka Syetan akan tertawa, krn tak petunjuk atau anjuran membawakan isi Alquran disertai musik, kita hanya dianjurkan untuk membacakannya, sangat beda MEMBACA dengan MENYANYIKAN,

Kalau mau jujur ada berapa pengakuan org2 bertaubat atau sadar krn dengar lagu atau makin rajin sholat krn dengar lagu berisi Bacaan ALQURAN yg dinyanyikan,, yg pasti banyak yg begadang dan menyanyi lagu itu dgn bergoyang dan makin lupa Sholat dsb, maaf mari kita renungkan dgn hati yg jernih,

terima kasih
Nyanyian dan Musik

Bismillaah,

Islam tidak melarang sesuatu kecuali ada madharat yang ditimbulkannya.


Adapun kerusakan dan bencana mendengarkan nyanyian dan musik banyak sekali, diantaranya :

Akan merusakkan hati dan menumbulkan nifak didalamnya.

Ibnu Mas’ud berkata : “ Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan didalam hati, seperti air yang menumbuhkan sayuran, sedangkan dzikir menumbuhkan iman dalam hati seperti air yang menumbuhkan tanaman ”.

Diantara seluruh kemaksiatan yang lain, dimana sisi nyanyian itu dapat menimbulkan kemunafikan dalam hati ?

Ketahuilah, bahwa nyanyian itu memiliki karakter yang dapat berpengaruh besar dalam mewarnai hati dengan kemunafikan, dan tumbuhnya tanaman disebabkan adanya air.

Nyanyian dan Al-Qur’an selamanya tidak akan menyatu dalam hati karena kedua jenis tersebut berlawanan dan bertolak belakang.

Al-Qur’an melarang mengikuti hawa nafsu, memerintahkan memelihara kesopanan dan kebersihan hati, menjauhi keinginan-keinginan nafsu dan sebab-sebab kesesatan serta melarang mengikuti langkah-langkah syaithan.

Sedangkan nyanyaian memerintahkan kebalikan itu semua, ia akan membangkitkan jiwa untuk melakukan keinginan-keinginan dan akan mendorong
kepada setiap keburukan yang dianggap manis.

Jika seorang telah kecanduan
nyanyian akan menyebabkan Al Qur’an terasa berat bagi hati untuk menerimanya, serta menjadikan hati tidak suka mendengarnya, jika ini bukan kemunafikan, maka apalagi sebenarnya yang dinamakan kemunafikan itu ?

Penyanyi penyeru hati untuk mengikuti fitnah syahwat, sedangkan orang munafik menyeru kepada fitnah syubhat.

Akan menimbulkan terjadinya syirik, misalnya : cinta kepada penyanyi itu melebihi cintanya kepada Allah.

Naudzubillah

dan musik tak akan pernah bersatu dengan Al-Qur'an

semoga kita diberi Istiqomah

آمِّـــــــيْنْ اَللّــــــهمَ آمِّـــــــيْنْ
 Bernyanyi Tanpa Alat Musik

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

‘Bernyanyi’ tanpa alat musik memang pernah dilakukan para sahabat. Namun apa yang mereka praktikkan amat berbeda dengan cara bernyanyi di masa sekarang.
Pada asalnya, nyanyian itu berasal dari lantunan bait-bait syair yang menerangkan tentang sesuatu. Sehingga tidak benar jika kita menyebutkan bahwa nyanyian itu haram secara mutlak, tidak pula dinyatakan boleh secara mutlak. Oleh karenanya, Nabi n bersabda:
إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً
“Sesungguhnya di antara syair ada hikmahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5793)

Rasulullah n bersabda tatkala ditanya tentang syair: “Itu adalah ucapan. Yang baiknya adalah baik dan yang jeleknya adalah jelek.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dihasankan Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 1/447)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t memberikan beberapa syarat bolehnya nyanyian/nasyid:

1. Bait-bait syairnya diperbolehkan dan bukan hal yang terlarang.
2. Tidak dilantunkan seperti lantunan nyanyian yang rendah dan hina.
3. Tidak dengan suara yang menimbulkan fitnah.
4. Tidak dijadikan sebagai kebiasaan siang dan malam.
5. Tidak menjadikannya sebagai satu-satunya nasihat untuk hatinya, sehingga memalingkannya dari nasihat Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Jika tidak terpenuhi salah satu dari syarat-syarat ini, maka hendaklah ditinggalkan. (Kaset Nur ‘Alad Darb, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, no. 337, side A)

Oleh karena itu, para ulama membolehkan nyanyian orang-orang yang berangkat haji di saat mereka menghibur perjalanan mereka, nyanyian orang-orang yang berperang untuk memberi semangat jihad, nyanyian para musafir, dan yang semisalnya. Namun mereka melantunkan bait syair tersebut tidak dengan cara lantunan lagu yang biasanya disertai musik.

Asy-Syathibi t menjelaskan apa yang dahulu dilakukan mereka (Al-I’tisham, 1/368):

“Orang-orang Arab dahulu tidak mengenal cara memperindah lantunan seperti apa yang dilakukan manusia pada hari ini. Mereka melantunkan syair secara mutlak, tanpa mempelajari notasi yang muncul setelahnya. Mereka melembutkan suara dan memanjangkannya, sesuai kebiasaan kaum Arab yang ummi yang tidak mengetahui alunan musik. Sehingga tidak menimbulkan keterlenaan dan membuat bergoyang yang melenakan. Hal itu hanyalah sesuatu yang membangkitkan semangat. Sebagaimana Abdullah bin Rawahah melantunkan bait-bait syairnya di hadapan Rasul , juga ketika kaum Anshar melantunkannya ketika menggali galian Khandaq:

نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدًا
عَلىَ الْجِهَادِ مَا حَيِينَا أَبَدًا

Kamilah yang membai’at Muhammad
Untuk berjihad selamanya selama kami masih hidup
Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawabnya:

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُ الْآخِرَةِ
فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْـمُهَاجِرَةِ

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat
Ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin
(HR. Al-Bukhari no. 2680)
Perbedaan Rebana dan Genderang

Rebana (duf) adalah alat musik yang menyerupai genderang (thabl). Hanya saja thabl adalah yang tertutup dengan kulit dari dua arah atau dari satu arah. Sedangkan duf terbuat dari kayu yang ditutup dengan k

ulit dari satu arah, terkadang pada lubang-lubang bagian pinggirnya diberi sesuatu yang mengeluarkan bunyi gemerincing. (Al-Qaulur Rasyid fi Hukmil Ma’azif wal Ghina` wan Nasyid, Abu Karimah hal. 19)

Menabuh Rebana Khusus bagi Wanita
Hadits-hadits tersebut di atas menjelaskan bahwa yang dibolehkan memukul rebana adalah para wanita. Al-Hulaimi berkata dalam Syu’abul Iman (4/283):

“Memukul rebana tidak dihalalkan kecuali untuk para wanita, sebab pada asalnya itu termasuk dari amalan mereka. Sungguh Rasulullah n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Hadits-hadits yang kuat menunjukkan diizinkannya untuk para wanita, dan tidak diqiyaskan kepada para lelaki, berdasarkan keumuman larangan dari menyerupai para wanita.” (Fathul Bari, 9/134)
lalu benrkah tentang Hadits Thala’al Badru?

Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah datang ke Madinah, lalu anak-anak dan para wanita mendendangkan syair:

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعَا لِلهِ دَاعِ

Bulan purnama telah nampak di hadapan kami
dari Tsaniyyatul Wada’
Wajib bagi kami bersyukur
pada seorang penyeru yang berseru karena Allah

Ini adalah hadits yang lemah. Sanadnya mu’dhal, telah terjatuh tiga atau lebih perawinya. Silahkan dilihat rincian bahasannya dalam Silsilah Adh-Dha’ifah, karya Al-Albani (2/598), dan kitab At-Tahrim (hal. 123).
dan satu hal yang sering kita lupakan adl Musik Sebagai Ringtone

Sebagian kaum muslimin juga tidak menyadari bahwa yang termasuk musik adalah menjadikan nada dan lantunan musik serta lagu sebagai ringtone (nada dering) di ponsel. Hal in

i termasuk dalam keumuman larangan musik yang telah kita bahas.

Sebagai gantinya, hendaklah menggunakan bunyi-bunyi yang tidak mengandung unsur musik dan nyanyian, seperti suara burung, ayam berkokok, atau yang semisalnya. Juga diperbolehkan menggunakan jenis bel tertentu yang tidak menyerupai bel gereja, seperti bunyi kring kring yang biasa terdapat di telepon rumah (zaman dahulu), atau yang semisalnya yang tidak bernada musik. Wallahu a’lam. (lihat pembahasan tentang bel dalam kitab Jilbab Al-Mar`ah Al-Muslimah, Al-Albani hal. 169)...

barakallahu fiik.

Adakah Musik yang Dihalalkan Saat Walimah?
http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/05/09/tanya-jawab-adakah-musik-yang-dihalalkan-saat-walimah/

Apakah Ada Nasyid Islami?
http://muslimah.or.id/manhaj/bingkisan-istimewa-untuk-saudariku-agar-bersegera-meninggalkan-nasyid-%E2%80%9Cislami%E2%80%9D-2.html

Bagai mana Hukum merusak Alat2 musik atau perlengkapan Musik milik pemain musik., Boleh gak?

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata : ”Aku pernah mendengar ayahku (Ahmad bin Hanbal) berkomentar tentang seorang laki-laki yang kebetulan me
lihat (beberapa alat musik seperti) thanbur (gitar/rebab), ’uud, thabl (gendang), atau yang serupa dengannya, maka apa yang harus ia lakukan dengannya ?. Beliau berkata :

اذا كان مغطى فلا وان كان مكشوفا كسره

”Apabila alat-alat tersebut tidak tampak, maka jangan (engkau rusak). Namun bila alat-alat tersebut nampak, maka hendaknya ia rusakkan” [Masaailul-Imam Ahmad bin Hanbal no. 1174].

Suatu Peristiwa menarik pernah terjadi ketika Syuraih Al-Qadli rahimahullah menjadi qadli.

Abu Hushain mengatakan :

أن رجلاً كسر طنبور رجل ، فخاصمه شريح ، فلم يضمّنه شيئاً

“Bahwasannya ada seorang laki-laki yang mematahkan thanbur (mandolin) milik seseorang.

Maka hal itu diperkarakan kepada Syuraih (sebagai seorang Qadli pada waktu itu).

Maka ia (Syuraih) memutuskan bahwa orang yang mematahkan thanbur tersebut tidak memberi jaminan ganti sedikitpun”

[Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 7/312/3275 dengan sanad shahih.

Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi 6/101 dan Al-Khallal halaman 26,

dimana disebutkan bahwa sesuadah itu

Abu Hushain berkata : Telah berkata Hanbal : Aku mendengar Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) berkata :

“Hal tersebut adalah munkar, sehingga Syuraih tidak memberikan keputusan apa-apa (pada si pemilik thanbur)”.].

Kalau ada orang seperti Syuraih Al-Qadli rahimahullah yg jadi Pemimpin sekarang ini.., Gak akan kita biarkan ada acara2 musik kecuali peralatan musik mereka sudah di hancurkan !

sumbernya:

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/05/hukum-musik-dan-nyanyian-3.html


photo by Aaliyah