bismillaah,
Akal adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia
dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia
dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia.
Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan
sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati. Lalu bagaimana
kedudukan akal di dalam Islam?
Pengkultusan kepada akal
adalah sumber semua kerusakan di alam semesta, akal dijadikan hakim
bagi semua perkara, jika datang syari’at yang tidak dipahami oleh akal,
maka syari’at itu akan ditolak.
Dengan pengkultusan pada
akal inilah, maka manusia menolak seruan para rasul, karena para rasul
mengajak manusia untuk mendahulukan wahyu diatas semua akal dan
pemikiran, maka terjadilah pertarungan diantara para pengikut rasul dan
para penentangnya.
Para pengikut rasul mendahulukan
wahyu diatas semua akal dan pemikiran, adapun para pengikut iblis maka
mereka mendahulukan akal diatas semua wahyu!
Karena
inilah kita melihat begitu banyak orang-orang awam yang pendek akalnya,
sedikit ilmunya, dan lemah pandangannya terkena virus pengkultusan
akal ini.
Begitu sering kita mendengar seorang yang jahil memprotes Sunnah Nabi!
Begitu sering kita mendengar seorang yang dungu menentang nash syar’i yang mutawatir!
begitu sering kita mendengar seorang yang baru belajar agama dengan lantang menolak aqidah-aqidah yang baku!
Dalam keadaan mereka ini semua menganggap diri-diri mereka pakar-pakar agama yang jempolan!!
Bahkan
mereka kini dielu-elukan oleh manusia dengan sebutan-sebutan yang
mentereng; Ustadz…Pemikir…Mujaddid…Filosof…Cendekiawan…dan
sebutan-sebutan lain yang kosong dari hakekatnya.
Melihat
ini semua, kami memohon taufiq kepada Allah untuk menjelaskan kedudukan
akal secara syar’i sekaligus membantah dan mematahkan syubhat-syubhat
para pendewa akal ini.
1 Definisi Akal
Akal secara bahasa dari mashdar Ya’qilu, ‘Aqala, ‘Aqlaa, jika dia menahan dan memegang erat apa yang dia ketahui.1
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
‘Kata
akal, menahan, mengekang, menjaga dan semacamnya adalah lawan dari
kata melepas, membiarkan, menelantarkan, dan semacamnya. Keduanya
nampak pada jisim yang nampak untuk jisim yang nampak, dan terdapat pada
hati untuk ilmu batin, maka akal adalah menahan dan memegang erat
ilmu, yang mengharuskan untuk mengikutinya. Karena inilah maka lafadz
akal dimuthlakkan pada berakal dengan ilmu.2
Syaikh Al Albani berkata,
“Akal
menurut asal bahasa adalah At Tarbiyyah yaitu sesuatu yang mengekang
dan mengikatnya agar tidak lari kekanan dan kekiri. Dan tidak mungkin
bagi orang yang berakal tersebut tidak lari ke kanan dan kiri kecuali
jika dia mengikuti kitab dan sunnah dan mengikat dirinya dengan
pemahaman salaf.”3
Al Imam Abul Qosim Al Ashbahany berkata,
”akal
ada dua macam yaitu : thabi’i dan diusahakan. Yang thabi’i adalah yang
datang bersamaan dengan yang kelahiran, seperti kemampuan untuk
menyusu, makan, tertawa bila senang, dan menangis bila tidak senang.
Kemudian
seorang anak akan mendapat tambahan akal di fase kehidupannya hingga
usia 40 tahun. Saat itulah sempurna akalnya, kemudian sesudah itu
berkurang akalnya sampai ada yang menjadi pikun. Tambahan ini adalah
akal yang diusahakan.
Adapun ilmu maka setiap hari juga
bertambah, batas akhir menuntut ilmu adalah batas akhir umur manusia,
maka seorang manusia akan selalu butuh kepada tambahan ilmu selama
masih bernyawa, dan kadang dia tidak butuh tambahan akal jika sudah
sampai puncaknya.
Hal ini menunjukan bahwa akal lebih
lemah dibanding ilmu, dan bahwasanya agama tidak bisa dijangkau dengan
akal, tetapi agama dijangkau dengan ilmu.4
2 Pemuliaan Islam Terhadap Akal
Islam
sangat memperhatikan dan memuliakan akal, diantara hal yang menunjukan
perhatian dan penghormatan islam kepada akal adalah :
Islam memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dalam rangka mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupannya.
Islam
mengarahkan kekuatan akal kepada tafakkur (memikirkan) dan merenungi
(tadabbur) ciptaan-ciptaan Allah dan syari’at-syari’atnya sebagaimana
dalam firmanNya,
Dan mengapa mereka tidak memikirkan
tentang (kejadiaan) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi
dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) benar dan
waktu yang telah ditentukan, Dan sesungguhnya kebanyakan diantara
manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rum :
8) ,
“ Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal”, (Al Baqarah : 184),
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada
hari Jum’at, maak bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. (QS. Jumu’ah : 9).
Islam melarang manusia
untuk taklid buta kepada adat istiadat dan pemikiran-pemikiran yang
bathil sebagaimana dalam firman Allah,
Dan apabila
dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,”
mereka menjawab, “(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah
kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”, (Apakah mereka akan
mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui sesuatu
apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al Baqarah : 170).
Islam memerintahkan manusia agar belajar dan menuntut ilmu sebagaimana dalam firman Allah,
”Mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (QS. At Taubah :
122).
Islam memerintahkan manusia agar memuliakan dan
menjaga akalnya, dan melarang dari segala hal yang dapat merusak akal
seperti khomr, Allah berfirman,
“Hai, orang-orang yang
beriman sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk)
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar
kamu mendapat keberuntungan. (Al Maidah, 90).
3 Ruang Lingkup Akal Dalam Islam
Meskipun
islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, tetapi tidak
menyerahkan segala sesuatu kepada akal, bahkan islam membatasi ruang
lingkup akal sesuai dengan kemampuannya, karena akal terbatas
jangkauannya, tidak akan mungkin bisa menggapai hakekat segala sesuatu.
Maka
Islam memerintahkan akal agar tunduk dan melaksanakan perintah syar’i
walaupun belum sampai kepada hikmah dan sebab dari perintah itu.
Kemaksiatan
yang pertama kali dilakukan oleh makhluk adalah ketika Iblis menolak
perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya
yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan
membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam,
Iblis
berkata: ”Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari
api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah..” (QS.Shaad ; 76).
Karena
inilah islam melarang akal menggeluti bidang-bidang yang diluar
jangkauannya seperti pembicaraan tentang Dzat Allah, hakekat ruh, dan
yang semacamnya, Rasulullah bersabda,
”Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, janganlah memikirkan tentang Dzat Allah.5
Allah berfirman,
Dan
mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit.” (QS. Al Isra’ : 85).
Catatan Kaki
…1 Lihat Lisanul Arab, 11/458 dan Bughyatul Murtaad, hal. 249.
…2 Bughyatul Murtaad, hal. 250-251.
…3 Majalah Salafiyyah Riyadh, Edisi 2 tahun 1417 H hal. 24.
…4 Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2 / 502-504.
…5 Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah shahihah: 1788.
_________________________________________________________
^KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM (2/3)^
Posted on March 20th, 2006 by admin
Setelah
mengetahui definisi akal, ruang lingkup dan pemuliaan Islam
terhadapnya, maka pembahasan selanjutnya mulai mengarah kepada
segolongan manusia yang mendewakan akal, mendudukkan akal manusia dengan
kedudukan yang sangat tinggi. Siapa-siapa saja mereka ini?
4 Kelompok Rasionalis (Pendewa Akal)
Rasionalisme
atau ‘Aqlaaniyyah adalah madzhab filsafat yang memandang segala
sesuatu yang tunduk kepada kaidah-kaidah akal, bahkan makna-makna agama
jika tidak sesuai dengan kaidah-kaidah akal harus ditolak!!6
Maka hakekat rasionalisme adalah membuang nash syar’i yang tidak sesuai dengan pandangan akal atau hawa nafsu.7
Bapak
rasionalisme yang pertama kali adalah Iblis, dia mengandalkan akalnya
yang memandang bahwa api lebih mulia dari tanah sehingga menolak
perintah syar’i dari Allah untuk sujud kepada Adam.
Pemikiran Iblis ini kemudian diteruskan oleh para penerusnya seperti :
4.1 Kelompok Mu’tazillah
Kelompok
ini adalah pioner semua kelompok rasionalis dalam Islam, mereka
menjadikan akal sebagai hakim secara mutlak, mereka promosikan akal
setinggi-tingginya, mereka mengatakan,
“Akal diciptakan
dengan tujuan untuk mengetahui segala sesuatu, dia mampu mengetahui
segala sesuatu yang terlihat dan yang tidak terlihat (?!)”
Mereka jadikan akal sebagai penentu kayakinan mereka di semua segi keyakinan mereka.
Karena
itu mereka berbondong-bondong mempelajari filsafat Yunani, sekaligus
mengikuti para filosof Yunani. Mereka jadikan dalil-dalil akal diatas
dalil-dalil syar’i. Mereka dustakan hadits-hadits yang tidak sesuai
dengan akal, walaupun hadits-hadits itu shahih! Mereka takwil ayat-ayat
yang tidak mencocoki dengan pemikiran mereka, meskipun ayat-ayat itu
sangat jelas!, bahkan mereka berusaha menyeret ibarat-ibarat dan
tafsir-tafsir Al Qur’an kepada pemikiran mereka.8
Inilah beberapa perkataan gembong-gembong mereka :
Al Qodhi Abdul Jabbar menyebutkan urutan dalil-dalil syar’i menurutnya,
”Yang
pertama adalah akal, karena dengannya bisa dibedakan baik dan buruk,
dan dengan akallah bahwa kitab adalah hujjah, demikian juga Sunnah dan
Ijma’(!!)9
Amr bin Ubaid menyebut hadits Shadiqul Mashduq dan berkomentar,
”Seandainya
aku mendengar hadits ini langsung dari A’masy, pasti aku akan
dustakan, seandainya aku mendengar dari Rasulullah mengatakannya pasti
akan aku tolak! dan seandainya aku mendengar Allah mengatakannya maka
akan aku katakan,’Bukan atas ini Engkau mengambil mitsaq (perjanjian)
dari kami”!!!
Kami (penulis artikel ini -red. vbaitullah) katakan,” Sesungguhnya ini kesesatan dan kekufuran yang nyata…”
Az Zamakhsyari berkata,
”Berjalanlah dalam agamamu dibawah panji akal, jangan engkau cukup dengan riwayat dari fulan dan fulan!“10
4.2 Kelompok Asy’ariyyah
Kelompok
ini tidak berbeda dengan kelompok Mu’tazilah, hanya saja ibarat mereka
lebih samar, mereka ini disebut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
sebagai Makhanits Mu’tazilah “bancinya kelompok mu’tazilah.11
Inilah beberapa perkataan dari gembong-gembong mereka :
Fakhrur Razy berkata,
”Akal
adalah landasan naql (dalil syar’i), maka mencela akal untuk
membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus
dan ini adalah bathil!”12
Adhudhin Al Lijy berkata,
”Mendahulukan naql diatas akal adalah bathil…”13
Demikianlah ibarat-ibarat mereka menunjukan bahwa sumber pengambilan ilmu menurut kelompok Asy’ariyyah adalah akal.14
4.3 Kelompok Rasionalis Gaya Baru (Pengekor Mu’tazilah)
Mereka
adalah gabungan dari aneka ragam pemikiran-pemikiran, diantara mer eka
ada yang disebut pemikir muslim(!), ada yang disebut cendekiawan
muslim(!), dan ada yang sekadar tukang tulis dan tukang omong dimedia
massa!!
Inilah ibarat-ibarat mereka :
Muhammad Abduh berkata,
”Telah
sepakat kelompok-kelompoak islam kecuali sedikit dari orang-orang yang
tidak dianggap perkataannya bahwa jika terjadi pertentangan antara
akal dan naql maka apa yang diambil apa yang ditunjukkan oleh
akal”!!!15
Seorang wartawan yang menganggap dirinya
cendekiawan muslim bernama Fahmi Huwaidi menulis sebuah ulasan yang
berjudul para penyembah berhala adalah para penyembah nash-nash syar’i,
dia katakan bahwa usaha pembekuan akal di depan nash menurut
ungkapannya adalah
“Paganisme (penyembahan kepada
berhala) gaya baru, karena paganisme tidak hanya menyembah kepada
berhala saja, karena ini bentuk paganisme gaya lampau, tetapi paganisme
gaya sekarang adalah penyembahan kepada nash-nash syar’i!”16
Muhammad al Ghazaly berkata,
”Hendaknya
kita mengetahui bahwa apa saja yang dihukumi bathil oleh akal mustahil
kalau dia itu adalah agama… Agama yang benar adalah kemanusiaan yang
benar, sedangkan kemanusiaan yang benar adalah akal yang menentukan
suatu hakekat… tidak henti-hentinya kita tegaskan bahwa setiap hukum
yang ditolak oleh akal… mustahil kalau dia itu adalah agama“(!!)17
Karena
inilah kita melihat Muhammad Al Ghazaly begitu berani menolak banyak
sekali hadits hadits yang shahih karena tidak mencocoki akalnya,
seperti hadits Musa yang menempeleng malaikat maut, hadits sholatnya
wanita dimasjid, hadits mayit diadzab karena tangis keluarganya, dan
masih banyak lagi yang lainnya. Untuk melihat bantahan kepada Al
ghazaly dalam masalah ini bisa dilihat kitab Syaikhuna Al Allamah Rabi’
bin Hadi Al Madkhaly yang berjudul Kasyfu Mauqif Al Ghazaly minass
Sunnati wa Ahliha.
Hasan At Turaby As Sudany berkata,
”Adapun rujukan yang wajib bagi kita anggap sebagai rujukan pokok maka adalah akal….”18
Dengan bimbingan akalnya maka dia berkata,
”Boleh bagi seorang muslim sebagaimana seorang masehi untuk mengganti agamanya”19
Dengan akalnya pula ia ingkari hukum rajam kepada pezina dan hukum dera kepada peminum khamr.20
Yusuf
Qardhawy tidak berbeda jauh dengan Muhammad Al Ghazaly, dia merasa
heran kepada orang-orang yang selalu menyebutkan kepada khalayak ramai
hadits lalat (yang shahih) atau hadits (shahih) tentang Musa yang
menempeleng malaikat maut…21
Di lain waktu dengan lantang dia berkata,
”Kami
tidak memerangi orang-orang Yahudi dengan landasan aqidah tetapi
karena masalah tanah, kami tidak memerangi mereka karena kekafiran
mereka, tetapi kami memerangi mereka karena mereka merampas tanah-tanah
kami…”22
Catatan Kaki
…6 Mu’jam Musthalahat Ilmiyyah, Yusuf Khoyyath.
…7 Fi Fiqh Waqi’, Abdus-salam Baisuny, hal. 29.
…8 Manhaj Madrasah Aqliyyah Hadiitsah fi tafsir, Fahd Ar Rumy, hal. 53-54.
…9 Fadhlul I’tizal, hal. 139).
…10 Athwaqu Dzahab fil Mawa’izh wal khuthub, hal. 28.
…11 Majmu Fatawa, 6/359.
…12 Asasut Taqdis, hal. 221.
…13 Mawaqif fi Ilmi kalam, hal. 40.
…14 Al Aqlaniyyun, hal. 60.
…15 Islam dan Nasraniyyah, hal. 59.
…16 Majalah Araby, Edisi 235, hal. 34 kanon kedua 1978.
…“(!!)17 Majalah Dauhah, Qathar, Edisi 101 Rajab 1404 H.
…18 Tajd Fikr Islamy, Hal. 26.
…19 Ceramah dengan judul Tahkim Syari’at, sebagaimana dalam Sharim Maslul ala at Turaby Syatimir Rasul, hal.12.
…20 Sharim Maslul ala At Turaby Syatimir Rasul, hal. 12.
…21 Kaifa Nata’amalu ma’a Sunnah Nabawiyyahm, hal. 86.
…22 Wawancara dengan koran Rayah Qathar Edisi 4696, 24 Sya’ban 1415 H.
_______________________________________________________________________
^KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM (3/3)^
Posted on March 21st, 2006 by admin
(red.
vbaitullah): Dari pembahasan yang kedua, nyatalah penolakan kaum
‘aqlaniyun (para pendewa akal) terhadap syari’at, terutama khabar-khabar
yang tidak dapat dicerna oleh akal-akal mereka. Lalu (memangnya)
kenapa pemikiran / paham mereka itu sesat? Di mana letak kesesatannya?
Kalau sesat, bagaimana seharusnya kedudukan akal dan naql (wahyu) dalam
Islam? Akhirnya, insya Allah pertanyaan-pertanyaan itu akan dijawab
pada bagian akhir ini.
5 Mengikis Habis Modal Utama Kaum Rasionalis
Demikianlah
kaum rasionalis, mereka jadikan akal semata sebagai sumber ilmu
mereka, mereka agungkan akal, dan mereka jadikan iman dan Al Qur’an
tunduk dibawah akal23
Maka modal utama mereka adalah
kaidah umum yang mereka dengung-dengungkan yaitu bahwa akal adalah
landasan naql Dalil syar’i, maka mencela akal untuk membenarkan naql
akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus, dan ini adalah
bathil!
Syubhat mereka ini telah dikikis habis dan
dihancurkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang agung
yang berjudul Dar’u Ta’arudh Aql wa Naql yang tersusun dalam 10 jilid,
kemudian diringkas oleh muridnya Al Allamah Ibnul Qoyyim dalam
kitabnya Shawa’iq Mursalah yang tersusun dalam dua jilid.
Ibnul Qoyyim menyebut dalam kitabnya tersebut 54 argumen dalam membantah syubhat mereka ini, diantaranya :
Perkataan
mereka bahwa akal adalah landasan naql adalah bathil karena apa yang
dikhabarkan oleh Allah dan Rasulnya adalah shahih dari dirinya, entah
kita ketahui dengan akal kita atau tidak kita ketahui, entah dibenarkan
oleh manusia atau didustakan oleh mereka, sebagaimana Rasulullah
adalah haq, meskipun didustakan oleh manusia, dan sebagaimana wujud
Allah dan keberadaan nama-nama dan sifat-sifatnya adalah haq, entah
akal kita mengetahui atau tidak.
Mendahulukan akal atas
naql adalah cela pada akal dan naql sekaligus, karena akal telah
bersaksi bahwa wahyu lebih tahu daripada akal. Jika hukum akal
didahulukan atas wahyu maka itu adalah cela pada persaksian akal, jika
persaksiannya batal maka tidak boleh diterima ucapannya, maka
mendahulukan akal atas wahyu adalah cela pada akal dan wahyu sekaligus.
Syari’at
diambil dari Allah dengan perantaraan malaikat dan Rasul-Nya, dengan
membawa ayat-ayat, mukjizat mukjizat, dan bukti-bukti atas
kebenarannya, hal ini diakui oleh akal. lalu bagaimana perkataan Allah
pencipta semesta alam ditentang oleh pemikiran-pemikiran Plato,
Aristoteles, Ibnu Sina dan pengikut-pengikut mereka?
Bagaimana
perkataan seorang Rasul ditentang oleh perkataan seorang filosof,
padahal filosof wajib mengikuti Rasul, bukan Rasul yang mengikuti
filosof, karena Rasul diutus oleh Allah dan filosof adalah Umatnya.
Syaikh Ali bin hasan Al Halaby berkata,
”Jika
seorang rasionalis dan pendewa akal tertimpa penyakit, maka segera dia
pergi ke seorang dokter yang terpercaya, kemudian dia mengadukan
kepada dokter itu keluhan dan penyakitnya, dan dia serahkan dirinya
kepada dokter itu untuk ditangani dengan kepasrahan yang sempurna,
walaupun dokter itu membedah tubuhnya!!
Jika dokter itu
kedudukannya diruang periksa dan dia sebutkan hasil diagnosa dan resep
obatnya, maka dia ambil langsung tanpa menanyakan susunan obat dan
susunan kimianya!!
Jika dia disuruh dokter untuk minum obat sehari tiga kali… maka dia lakukan tanpa membantah!!
…
Subhanallah!! hukum-hukum dokter yang dia adalah manusia biasa bisa
benar dan bisa salah dia terima tanpa perdebatan, bahkan tanpa akal!!
Sedangkan
hukum-hukum Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya maka dia
membantahnya, membahasnya, mengeceknya, bahkan membantah dan
menolaknya!! Manakah dua hukum diatas yang lebih wajib diterima secara
akal!!24
6 Sikap Salaf Terhadap Akal dan Naql
Salafush shalih memahami dangan yakin bahwasanya
“Agama
adalah ketundukan dan kepasrahan, tanpa membantahnya dengan akal,
karena akal yang sebenarnya adalah yang membawa pemiliknya untuk
menerima sunnah, adapun yang membawa pemiliknya membatalkan sunnah maka
dia adalah kejahilan, dan bukanlah akal.”25
Ketika
Abdullah bin Mughaffal menyampaikan hadits tentang larangan Rasulullah
dari melontar bintang dengan pelanting, ada seorang laki-laki berkata
kepadanya,”Apa masalahnya dengan pelanting ini? “, maka Abdullah bin
Mughaffal berkata,
”Aku sampaikan hadits Rasulullah kemudian kau katakan ini! Demi Allah aku tidak akan berbicara denganmu selama lamanya!”26
Lihatlah bagaimana orang ini memprotes hadits dengan akalnya! Bagaimana Abdullah bin Mughaffal menyikapinya?!
Padahal
orang ini memprotes hadits dengan kata-kata yang sopan, tidak
sebagaimana kelancangan kaum rasionalis abad ini yang dengan kasarnya
menolak setiap hadits yang tidak masuk akalnya!!
Kita katakan kepada seluruh kaum rasionalis pendewa akal selama mereka masih mengaku muslim :
Apa
logikanya sholat maghrib tiga raka’at, sedangkan sholat isya’ empat
raka’at, padahal keduanya sama-sama dilaksanakan pada malam hari?! Apa
logikanya perpindahan qiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram?!
Kenapa Thawaf harus ke Ka’bah?! Kenapa Thawaf harus tujuh putaran?!
Kami
katakan tidak ada jalan bagi akal dalam hal-hal seperti ini kecuali
mengimani dan melaksanakannya dengan keimanan yang sempurna, dan
kepasrahan yang mutlak sebagaimana dalam firman Allah,
”Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36).
Maka
para sahabat tidak pernah sekalipun mempermasalahkan nash-nash dengan
akalnya padahal mereka manusia-manusia terbaik umat ini yang paling
sempurna akalnya.
Para sahabat begitu sangat kepasrahannya
kepada Sunnah, walaupun akal mereka belum bisa menerima, bahkan mereka
begitu keras pengingkarannya kepada siapa saja yang menolak Sunnah.
Nash-nash
yang datang dari Rasulullah lebih agung di hati-hati mereka dari
membantahnya dengan sebab perkataan siapapun dari manusia.27
Pembahasan ini disarikan dari kitab Al Aqlaniyyun Afrakhu Mu’tazilah Al Ashriyyu, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby. Al Atsary).
7 Penutup
Pemisah
antara Ahli Sunnah dan Ahlil Bid’ah adalah dalam masalah akal: Ahlil
Bid’ah menjadikan landasan agamanya adalah akal dan mereka jadikan
Ittiba’ (mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -red.
vbaitullah) dan atsar sebagai pengikut akal.
Adapun Ahli
Sunnah mengatakan bahwa landasan agama adalah Ittiba’ sedangkan akal
sebagai pengikutnya. Seandainya agama didasarkan pada akal, maka
sungguh para makhluk tidak butuh kepada wahyu, tidak butuh kepada para
nabi, hilanglah makna perintah dan larangan, dan setiap orang akan
mengatakan apa yang dia mau.
Jika kita mendengar sesuatu
dari perkara-perkara agama, kemudian kita bisa memahaminya dengan akal
kita, maka kita bersyukur kepada Allah atas Taufiq-Nya. Jika akal kita
belum sampai kepadanya, maka kita beriman dan membenarkannya.
Maka
kita memohon taufiq dan keteguhan kepada Allah, semoga Allah
mewafatkan kita diatas agama Rasulullah dengan anugerah dan
kemurahan-Nya28
Catatan Kaki
…23 Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, 5/338.
…24 Al Aqlaniyyun, hal. 175.
…25 Al Hujjah fi Baynil Mahajjah, 2/509.
…26 Muttafaqun Alaih.
…27 Shawa’iq Mursalah, 3/1053,1065.
…28 Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 1/317.
__________________________________________________________