Follow us on:
Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah?

by Abu Aulia on Monday, 17 January 2011 at 17:17

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah (perkara cabang-cabang), seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki. Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah. Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah. Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah.

Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya. Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah, maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman Syiah berbeda dengan rukun Iman Ahlussunah, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur'an mereka juga berbeda dengan Al-Qur'an Ahlussunnah.

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur'annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan. Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan: Bahwa Syiah adalah satu agama tersendiri.



Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah.

1. Ahlussunnah: Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a) Syahadatain

b) As-Sholah

c) As-Shoum

d) Az-Zakah

e) Al-Haj

Syiah: Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a) As-Sholah

b) As-Shoum

c) Az-Zakah

d) Al-Haj

e) Al wilayah


2. Ahlussunnah: Rukun Iman ada 6 (enam) :

a) Iman kepada Allah

b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c) Iman kepada Kitab-kitab Nya

d) Iman kepada Rasul Nya

e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.


Syiah: Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a) At-Tauhid

b) An Nubuwwah

c) Al Imamah

d) Al Adlu

e) Al Ma’ad



3. Ahlussunnah: Dua kalimat syahadat



Syiah: Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.



4. Ahlussunnah: Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.

Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.



Syiah: Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.



5. Ahlussunnah: Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a) Abu Bakar RA.

b) Umar RA.

c) Utsman RA.

d) Ali RA.



Syiah: Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai'at dan mengakui kekhalifahan mereka).



6. Ahlussunnah: Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.

Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah: Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma'’hum, seperti para Nabi.



7. Ahlussunnah: Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah: Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai'at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.


8. Ahlussunnah: Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah: Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.


9. Ahlussunnah: Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :

a) Bukhari

b) Muslim

c) Abu Daud

d) Turmudzi

e) Ibnu Majah

f) An Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).


Syiah: Kitab-kitab Syiah ada empat :

a) Al Kaafi

b) Al Istibshor

c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih

d) Att Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).



10. Ahlussunnah: Al-Qur'an tetap orisinil

Syiah: Al-Qur'an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).


11. Ahlussunnah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.


Syiah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.


12. Ahlussunnah: Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.


Syiah: Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai'at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.



Keterangan: Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.


13. Ahlussunnah: Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah: Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.


14. Ahlussunnah: Khamer/ arak tidak suci.

Syiah: Khamer/ arak suci.



15. Ahlussunnah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.


16. Ahlussunnah: Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.


Syiah: Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).


17. Ahlussunnah: Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.


Syiah: Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.

(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).


18. Ahlussunnah: Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.


Syiah: Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.


19. Ahlussunnah: Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah: Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).


Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah. Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil

seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman catatan ini.


Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).


Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).


Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).


Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).


Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.


Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.


Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita. Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin

semoga bermanfaat

KESAMAAN SYI'AH DENGAN YAHUDI DAN NASRANI

Oleh: Purnomo WD


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Dalam shalat, kita senantiasa memohon kepada Allah agar dikaruniakan hidayah atau petunjuk kepada Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus). Sebuah permohonan yang paling penting dan sangat dibutuhkan oleh seorang hamba. Karenanya, seorang hamba diwajibkan berdoa kepada Allah memohon hidayah ini pada setiap rakaat dalam shalatnya, karena butuhnya dia kepada hidayah tersebut.

Hidayah yang dimaksud dalam ayat adalah petunjuk taufiq kepada jalan yang bisa menghantarkan kepada Allah dan surga-Nya. Yaitu petunjuk untuk menjalankan ajaran dien ini dengan ilmu dan amal. Bentuknya, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, demikian yang dijelaskan Syaikh Abdul Rahman bin Nashir bin al Sa'di dalam tafsirnya.

Jalan petunjuk ini telah ditempuh oleh para nabi, shiddiiqiin, syuhada', dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhaj al Sunnah jilid pertama juga menjelaskan demikian. Bahwa Shirathal Mustaqim dalam QS. Al-Fatihah: 7, mencakup dua perkara: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Lalu beliau menyimpulkan, bahwa orang yang keluar dari Shirathal Mustaqim hanya mengikuti perasangka dan hawa nafsu. Inilah kondisi ahli bid'ah, di antaranya kaum Syi'ah Rafidlah.

Sesungguhnya kesesatan bersumber dari dua hal, yaitu jahil dan mengikuti hawa nafsu. Jahil adalah perilaku orang Nashrani yang meninggalkan kebenaran karena bodoh dan tersesat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah perilaku orang Yahudi yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya. Karenanya, kita berdoa agar tidak dijadikan seperti mereka, ". . . bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al Faatihah: 7)

Mereka yang dimurkai adalah orang Yahudi. Sedangkan mereka yang sesat adalah orang Nashrani. Dan Syi'ah menyerupai Yahudi dalam keburukan dan mengikuti hawa nafsu; dan menyerupai Nasrani dalam masalah ghuluw (melampai batas) dan kebodohan.

kesesatan bersumber dari dua hal, yaitu jahil dan mengikuti hawa nafsu.

Imam Asy-Sya'bi memiliki beberapa perkataan tentang Syi'ah Rafidlah:

- Kalau seandainya Syi'ah dari jenis binatang, ia sebagai keledainya.

- Kalau dari jenis burung, ia sebagai burung rukham.

- Siap membayar berapa saja pada orang yang mau membuat riwayat dusta tentang Ali.

- Masuk Islam didasari kebencian terhadap pemeluknya.

Kesamaan antara Syi'ah dengan Yahudi :

- Orang Yahudi mengatakan yang layak memegang kekuasaan adalah keluarga Dawud. Sedangkan kata Syi'ah; tidak layak menduduki imamah (kekuasaan) kecuali anak turun 'Ali bin Abi Thalib (Ahlul Bait).

- Orang Yahudi meyakini tidak ada jihad di jalan Allah sehingga al-Masih Ad-Dajjal keluar dan membawa pedang yang diturunkan di tangan dari langit. Sedangkan orang Syi'ah berkeyakinan tidak ada jihad di jalan Allah sehingga Imam Mahdi (Imam kedua belas mereka) keluar dan ada yang mengomando dari langit.

- Orang Yahudi mengakhirkan shalat sampai munculnya bintang-bintang. Sedangkan orang Syi'ah Rafidlah mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang-bintang.

- Mereka menyimpangkan dan merubah kitab Taurat. Sedangkan Rafidlah menyimpangkan dan merubah kitab suci Al-Qur'an.

- Dalam Syari'at Yahudi, wanita yang ditalak (cerai) tidak memiliki 'iddah. Begitu juga yang diterapkan orang Syi'ah dalam nikah mut'ah.

- Orang Yahudi tidak murni dalam mengucapkan salam kepada kaum mukminin, yaitu dengan as-sam 'alaikum (kematian atas kalian). Begitu juga perilaku Syi'ah Rafidlah terhadap kaum mukminin selain golongan mereka, khususnya Ahlus Sunnah.

- Orang Yahudi mengharamkan ikan yang tidak bersisik dan belut. Mereka juga mengharamkan kelinci (mermut), kancil, limpa dan biawak. Begitu juga golongan Syi'ah Rafidlah mengharamkan semua itu.

- Orang Yahudi mengingkari bolehnya mengusap khuf (kaos kaki/sepatu slop) dalam bersuci. Begitu juga Rafidlah.

- Orang Yahudi menghalalkan harta seluruh manusia selain golongan mereka, boleh menipu mereka dan menghalalkan darah mereka. Begitu juga Syi'ah Rafidlah terhadap golongan selain mereka, khususnya terhadap Ahlu Sunnah.

- Orang Yahudi membenci Malaikat Jibril 'alaihis salam. Mereka mengatakan: "ia musuh kami dari golongan Malaikat." Sedangkan golongan Syi'ah Rafidlah mengatakan malaikat Jibril 'alaihis salam telah salah alamat ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang seharusnya disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib.

- Orang Yahudi tidak mengakui thalaq wanita kecuali di kala haid. Begitu juga Rafidlah mengakui thalaq (perceraian) ketika si wanita dalam keadaan haid.

- Yahudi tidak memberikan mahar bagi pasangan wanita mereka, mereka hanya memberikan mata' pada mereka. Seperti itulah perilaku Rafidlah dalam nikah mut'ah.

- Mereka sedikit menceng dari kiblat dan mengangguk-angguk dalam shalat. Begitu juga Syi'ah Rafidlah.

- Orang yahudi dibenarkan menipu orang kafir (selain golongan mereka), kalau perlu bersikap bersikap munafik (dua muka) terhadap mereka. Begitu juga orang Yahudi yang murtad akan diperlakukan seperti orang kafir, kecuali jika dilakukan hanya untuk berpura-pura (taqiyyah) saja untuk mengelabuhi orang lain. Itulah konsep ajaran taqiyyah Syi'ah Rafidlah.

Orang Yahudi menghalalkan harta seluruh manusia selain golongan mereka, boleh menipu mereka dan menghalalkan darah mereka.

Begitu juga Syi'ah Rafidlah terhadap golongan selain mereka, khususnya terhadap Ahlu Sunnah.

Kesamaan Syi'ah dengan Nasrani

Nasrani meyakini kaum Hawariyun dan pengikut Nabi Isa lebih mulia dari Nabi Ibrahim dan Musa, bahkan lebih mulia dari seluruh Nabi dan rasul. Mereka juga meyakini kaum Hawariyun adalah rasul yang diajak bicara langsung oleh Allah. Bahkan mereka berkata: "Allah adalah al-Masih dan al-Masih adalah adalah anak Allah." Sedangkan Syi'ah Rafidlah meyakini imam dua belas lebih mulia dan utama daripada sahabat Muhajirin dan Anshar. Bahkan golongamn ekstrim mereka para imam lebih mulia daripada para Nabi, karena mereka memiliki sifat ketuhanan sebagaimana keyakinan kaum Nasrani terhadap al-Masih.

Nasrani meyakini bahwa agama ini diserahkan kepada para pendeta dan rahib. Halal adalah apa yang mereka halalkan, dan haram adalah apa yang meraka haramkan. Dan agama adalah apa yang mereka syari'atkan. Sedangkan kaum Syi'ah Rafidlah meyakini bahwa dien ini diserahkan kepada para imam, halal dan haram sesuai ketentuan mereka dan agama adalah apa yang mereka syariatkan.

kaum Syi'ah Rafidlah meyakini bahwa dien ini diserahkan kepada para imam, halal dan haram sesuai ketentuan mereka dan agama adalah apa yang mereka syariatkan.

Kelebihan Yahudi dan Nashrani atas Syi'ah Rafidhah:

- Menurut Yahudi; orang yang paling baik adalah sahabat Nabi Musa 'alaihis salam.

- Menurut Nasrani; orang paling baik adalah sahabat Nabi Isa 'alaihis salam, hawariyyun, penolong nabi Isa 'alaihis salam.

- Sedangkan menurut Syi'ah; orang yang paling buruk adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka diperintahkan untuk beristighfar (memintakan ampun) untuk para sahabat, tapi mereka malah mencela para sahabat dan menghunuskan pedang kepada mereka sampai hari kiamat.

(PurWD/voa-islam.com)

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/05/23/14884/kesamaan-syiah-dengan-yahudi-dan-nasrani/

semoga bermanfaat


source 

BUKTI KEKUFURAN SYIAH TERHADAP AL-QUR'AN

Salah satu perbedaan yang tajam antara akidah Islam dan doktrin Syi'ah adalah cara pandang terhadap kitab suci Al-Qur'anul Karim.

Pandangan Islam Terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan rujukan pertama dalam memahami Islam. Keimanan kepada al-Qur’an merupakan salah satu rukun dari rukun iman yang enam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini seyakin-yakinnya bahwa Al-Qur’an Al-Karim adalah Kalamullah yang terpelihara dari perubahan, penambahan atau pengurangan. Karena, Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs. Al-Hijr 9).

Ayat ini adalah jaminan dari Allah sendiri, bahwa kitab suci-Nya tidak akan mengalami pengurangan atau penambahan atau pun perubahan. Sebab, Allah sendiri-lah yang akan langsung menjaganya. Allah juga berfirman:

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang padanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Qs. Fushshilat 41-42).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah.

....Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi....

Pandangan Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

Syi’ah berkeyakinan bahwa tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an dengan lengkap selain Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya. Mereka meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi. Mereka meyakini adanya mushaf (kitab suci) yang disebut mushaf Fathimah. Mushaf ini adalah Al-Qur’an yang asli (belum mengalami perubahan) Yang tiga kali lebih tebal daripada Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin saat ini, dan mushaf tersebut akan kembali hadir ke dunia dengan dibawa oleh Imam yang ke-12 yaitu Imam Mahdi.

Al-Kulaini, seorang ulama Syi’ah, meriwayatkan dalam Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah, dari Abu Bashir dari Abu Abdillah ia berkata:

وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ (عليها السلام) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ: قُلْتُ: وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ

“Sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah -‘alaihas salam-. Tahukah mereka apakah Mushaf Fathimah-‘alaihas salam- itu ?” Saya menjawab, “Apakah Mushaf Fathimah itu?” Dia berkata, “Di dalamnya terdapat seperti al-Qur’an kalian ini sebanyak tiga kalinya. Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian” (Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah).

Kekufuran Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

kaum muslimin sejak zaman Nabi hingga kini telah ber-ijma’ bahwa al-Qur’an yang ada di tengah-tengah umat ini adalah Al-Qur’an yang asli sebagaimana diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Tidak mengalami penambahan, pengurangan, ataupun perubahan. Tidak ada yang menyelisihi ijma’ ini kecuali Syi’ah.

Allah telah berfirman:

“Akan tetapi Allah bersaksi atas apa yang Dia turunkan kepadamu (yakni Al-Qur’an). Allah telah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan para malaikat-pun menjadi saksi (pula). Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS. An-Nisa’ 166).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah . Maka tidak mungkin jika al-Qur’an yang telah disaksikan oleh Allah akan kebenarannya itu ternyata mengalami perubahan meskipun sedikit.

Barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir...

Para ulama juga telah ber-ijma’ bahwa barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya, Ash-Sharimul Maslul: “Barangsiapa mengklaim bahwa Al-Qur’an telah dikurangi sebagian ayat-ayatnya, atau disembunyikan maka tidak ada perselisihan lagi tentang kekafirannya.”

[Sumber: Lajnah Ilmiah Hasmi, “Syiah Bukan Islam?” Bogor: Pustaka MIM].

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2011/06/05/15131/bukti-kekufuran-syiah-terhadap-alquran/

semoga bermanfaat

AJARAN KEJAWEN SAPTO DARMO DALAM PANDANGAN ISLAM

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)
Oleh: Tri Madiyono

Pendahuluan

Banyak pertanyaan dari masyarakat seputar ajaran Kejawen. Pertanyaan tersebut tidak semata disampaikan oleh orang yang awam terhadap Islam, akan tetapi juga oleh para da'i, takmir masjid, dan tokoh masyarakat. Dari 'nada' pertanyaan mereka, penulis menangkap bahwa masyarakat masih menganggap Kejawen merupakan bagian dari Islam, sehingga mereka sering menyebut dengan nama Islam Kejawen. Untuk itulah kami menurunkan tulisan ini, yang insya Allah akan membantu menjawab kerancuan (syubhat) tersebut.

Dalam bagian pertama ini akan dibahas tentang aliran Sapto Darmo, yang merupakan salah satu aliran besar kejawen.

A. Pengertian Kejawen (Kebatinan)
------------------------------------------
Rahnip M., B.A. dalam bukunya “Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan” menjelaskan; “Kebatinan adalah hasil pikir dan angan-angan manusia yang menimbulkan suatu aliran kepercayaan dalam dada penganutnya dengan membawakan ritus tertentu, bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan untuk mencapai persekutuan dengan sesuatu yang mereka anggap Tuhan secara perenungan batin, sehingga dengan demikian –menurut anggapan mereka- dapat mencapai budi luhur untuk kesempurnaan hidup kini dan akan datang sesuai dengan konsepsi sendiri.”1

Dari pengertian diatas didapat beberapa istilah kunci dari ajaran kebatinan yaitu: (i) Merupakan hasil pikir dan angan-angan manusia, (ii) Memiliki cara beribadat (ritual) tertentu, (iii) Yang dituju adalah pengetahuan ghaib dan terkadang juga malah bertujuan menyatukan diri dengan Tuhan, (iv) Hasil akhir adalah kesempurnaan hidup dengan konsepsi sendiri.

B. Sejarah Berdirinya
-------------------------
Secara umum kejawen (kebatinan) banyak bersumber dari ajaran nenek moyang bangsa Jawa yaitu animisme dan dinamisme,2 yang diwariskan secara turun temurun sehingga tidak dapat diketahui asal-muasalnya.

Sapto Darmo —salah satu aliran besar kejawen— pertama kali dicetuskan oleh Hardjosapuro dan selanjutnya dia ajarkan hingga meninggalnya, 16 Desember 1964. Nama Sapto Darmo diambil dari bahasa Jawa; sapto artinya tujuh dan darmo artinya kewajiban suci. Jadi, sapto darmo artinya tujuh kewajiban suci. Sekarang aliran ini banyak berkembang di Yogya dan Jawa Tengah, bahkan sampai ke luar Jawa. Aliran ini mempunyai pasukan dakwah yang dinamakan Korps Penyebar Sapto Darmo, yang dalam dakwahnya sering dipimpin oleh ketuanya sendiri (Sri Pawenang) yang bergelar Juru Bicara Tuntunan Agung.

C. Ajaran pokok Sapto Darmo3 dan Bantahannya
-------------------------------------------------------------

1. Tujuh Kewajiban Suci (Sapto Darmo)
------------------------------------------------
Penganut Sapto Darmo meyakini bahwa manusia hanya memiliki 7 kewajiban atau disebut juga 7 Wewarah Suci, yaitu:

* Setia dan tawakkal kepada Pancasila Allah (Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal).
* Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara.
* Turut menyingsingkan lengan baju menegakkan nusa dan bangsa.
* Menolong siapa saja tanpa pamrih, melainkan atas dasar cinta kasih.
* Berani hidup atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri-sendiri.
* Hidup dalam bermasyarakat dengan susila dan disertai halusnya budi pekerti.
* Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, melainkan berubah-ubah (angkoro manggilingan).

Bantahannya:

Dalam sudut pandang aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah, ajaran Sapto Darmo hanya berisi keimanan kepada Allah sebatas beriman terhadap Rububiyah Allah; itupun dengan pemahaman yang salah. Rububiyah Allah hanya difahami sebatas lima sifat (Pancasila Allah) yaitu Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal. Padahal sifat rububiyah Allah itu banyak sekali (tidak terbatas dengan bilangan).

Keimanan secara benar terhadap Rububiyah Allah saja belum menjamin kebenaran Iman atau Islam seseorang, apalagi yang hanya beriman kepada sebagian kecil dari sifat rububiyah Allah seperti ajaran Sapto Darmo ini. (Baca: Rubrik Tauhid oleh Ustadz Abu Nida', halaman 2).

Inti ajaran Sapto Darmo hanya mengajarkan iman kepada Allah saja. Hal itu menunjukkan batilnya ajaran Sapto Darmo dalam pandangan Islam. Aqidah Islam memerintahkan untuk mengimani enam perkara yang dikenal dengan rukun iman, yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik maupun buruk. al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil 'Izzi4 dalam menjelaskan rukun iman mengatakan; “Perkara-perkara tersebut adalah termasuk rukun iman.” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Artinya; “Rasul telah beriman kepada al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya; demikian pula orang-orang yang beriman; mereka semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya…” (QS. al-Baqarah [2] : 285)

Juga firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala:

Artinya; “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi.” (QS. al-Baqarah [2] : 177)

Maka, keimanan yang dikehendaki oleh Allah adalah iman kepada semua perkara tersebut. Dan orang yang beriman kepada perkara-perkara tersebut dinamakan mukmin; surgalah balasan baginya. Sedangkan yang mengingkari perkara-perkara tersebut dinamakan kafir dan neraka jahannamlah tempat kembali yang pantas untuknya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Artinya; “Barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka Kami sediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang menyala-nyala.” (QS. al-Fath [48] :13)

Dan dalam sebuah hadits yang keshahihannya tidak diperselisihkan lagi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril 'alaihis-salam kepada Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang arti iman. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

Artinya; “Bahwa keimanan itu adalah engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik maupun buruk.”5

Inilah prinsip dasar yang telah disepakati oleh para Nabi dan Rasul.

Seseorang tidak dikatakan beriman kecuali dengan mengimani para Rasul dan rukun iman yang lainnya.

2. Panca Sifat Manusia
---------------------------
Menurut Sapto Darmo, manusia harus memiliki 5 (lima) sifat dasar yaitu:

* Berbudi luhur terhadap sesama umat lain.
* Belas kasih (welas asih) terhadap sesama umat yang lain.
* Berperasaan dan bertindak adil.
* Sadar bahwa manusia dalam kekuasaan (purba wasesa) Allah.
* Sadar bahwa hanya rohani manusia yang berasal dari Nur Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.

Bantahannya:

Salah satu dari ajaran Sapto Darmo dalam Panca Sifat Manusia –yang perlu dikritisi- adalah bahwa hanya ruhani manusia yang berasal dari sinar cahaya Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.

Dalam pandangan Islam keyakinan seperti ini sangat bathil. Sebab semua yang ada di alam semesta ini selain Allah adalah makhluk; dan semua makhluk adalah tidak kekal, termasuk juga manusia, baik ruhnya maupun jasadnya. Manusia adalah makhluk; yang diciptakan oleh Allah dari tanah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surat ash-Shaffat:

Artinya: “…Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.” (QS. ash-Shaffat [37] :11)

Dalam ayat lain disebutkan bahwa manusia diciptakan dari at-thin (tanah), sebagaimana dikatakan oleh Iblis laknatullahu 'alaihi ketika menolak bersujud kepada Adam 'alaihis-salam, ia berdalih:

Artinya; “Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah.” (QS. al-A'raf [7]: 12)

Karena manusia itu makhluk, maka baik ruh maupun jasadnya tidak ada yang abadi.

Keyakinan Sapto Darmo tentang keabadian ruh manusia muncul dari anggapan mereka bahwa pada diri manusia terdapat 'persatuan dua unsur' yaitu unsur jasmani -dari tanah- dan unsur ruhani -yang mereka dakwakan sebagai- cahaya Allah yang abadi. Dalam terminologi kebatinan hal itu disebut dengan ajaran Panteisme, yakni bersatunya unsur Tuhan (Laahut) dan unsur manusia (Naasut).

Terhadap pandangan yang menyatakan bahwa ruh itu abadi, al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil 'Izzi menjelaskan; “Dikatakan bahwa ruh itu azali (qadim). Padahal para Rasul telah bersepakat bahwa ruh itu baru, makhluk, diciptakan, dipelihara, dan diurus. Ini adalah perkara yang telah diketahui secara pasti dalam agama bahwa alam itu baru (muhdats). Para sahabat dan tabi'in juga memahami yang seperti ini kecuali setelah muncul pemikiran yang bersumber dari orang yang dangkal pemahamannya terhadap al-Qur'an dan As-Sunnah lalu menyangka bahwa ruh itu qadim. Dia berhujjah bahwa ruh itu termasuk urusan Allah (min amrillah) sedangkan amrullah bukan makhluk karena di-idhafah-kan kepada Allah seperti 'ilmu, qudrah, sama', bashar', dan tangan. Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah telah sepakat bahwa ruh itu makhluk. Diantara ulama yang menyebutkan tentang ijma' tersebut adalah Muhammad bin Nashr al-Muruziy, Ibnu Qutaibah, dan lainnya. Adapun dalil bahwa ruh itu makhluk adalah firman Allah Ta'ala:

Artinya; 'Allah-lah Pencipta segala sesuatu.' (Q.S. Az Zumar: 62)”

Dalam alenia berikutnya Beliau melanjutkan keterangannya; “Allah Ta'ala adalah Al-Ilah yang memiliki sifat kesempurnaan. Maka ilmu-Nya, Kekuasaan-Nya, hidup-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan semua sifat-sifat-Nya termasuk dalam sebutan nama-Nya. Maka Dia, Allah Subhanahu, Dzat maupun Sifat-Nya adalah Pencipta (Al-Khaliq) dan selain Dia adalah makhluk. Dan telah difahami secara qath'iy bahwa ruh itu bukan Allah dan bukan pula salah satu dari sifat Allah melainkan salah satu dari ciptaan-Nya.” Adapun terkait dengan penisbatan (idhafah) ruh kepada Allah maka Beliau menjelaskan; “Perlu diketahui bahwa penisbatan kepada Allah ada dua macam;

Pertama: Penisbatan sifat yang menyatu dengan dzat Allah seperti ilmu, qudrah, kalam, sama', dan bashar. Maka penisbatan ini adalah penisbatan sifat kepada yang disifati (idhafatu shifah ila maushuf). Oleh karena itu ilmu, kalam, sama', dan bashar adalah sifat Allah. Demikian juga wajah dan tangan Allah.

Kedua: Penisbatan dzat yang terpisah (munfashilah) dari Allah seperti rumah, hamba, Rasul, dan ruh. Maka penisbatan rumah, hamba, rasul, dan ruh kepada Allah adalah penisbatan makhluk kepada Pencipta-Nya.”

3. Konsep Kitab Suci
-------------------------
Kitab suci penganut Sapto Darmo adalah yang diusahakan oleh Bopo Panuntun Gutama, yang tidak lain adalah pendirinya itu sendiri, Hardjosapuro. Menurut pandangan mereka, kitab ini berasal dari kumpulan 'wahyu' dari Tuhan yang memiliki sifat Pancasila Allah.

Bantahannya:

Kitab Suci penganut Sapto Darmo sebagaimana disebutkan di muka adalah yang diusahakan oleh Bopo Panuntun Gutama, yaitu Hardjosapuro. Menurut pandangan mereka, kitab suci mereka itu berasal dari 'wahyu' yang berasal dari Tuhan yang memiliki sifat Pancasila Allah. Itu berarti bahwa 'kitab suci' tersebut baru, lahir sekitar 40 tahun yang lalu.

Bagaimana kalau dikembalikan kepada ajaran Islam? Aqidah Islam mengajarkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup kenabian dan kerasulan. Dan al-Qur'an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala; karena tidaklah kitab suci itu diturunkan melainkan melalui para Rasul; dan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Ahzab [33] : 40)

Dengan meyakini 'kitab suci' yang dibikin sekitar 40 tahun itu berarti sama saja dengan mengingkari Muhammad sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Itu berarti ajaran ini secara tidak langsung mengakui dan menetapkan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tentu ajaran seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Konsep tentang Alam
-----------------------------
Konsep alam dalam pandangan Sapto Darmo adalah meliputi 3 alam:

* Alam Wajar yaitu alam dunia sekarang ini.
* Alam Abadi yaitu alam langgeng atau alam kasuwargan. Dalam terminologi Islam maknanya mendekati alam akhirat.
* Alam Halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa.

Bantahannya:

Aliran Sapto Darmo meyakini adanya alam halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan atau berkeliaran karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Kata mereka, roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa.

Aqidah Islam tidak mengenal alam yang demikian itu. Setelah manusia meninggal dunia –bagaimanapun cara meninggalnya– maka selanjutnya ia berada dalam suatu alam yang disebut dengan alam kubur atau alam barzakh, sebagaimana dijelaskan oleh al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil 'Izzi. “Ketahuilah, bahwa adzab kubur adalah adzab barzakh. Semua orang yang mati dalam keadaan membawa dosa berhak mendapat adzab sesuai dengan dosa yang dilakukannya, baik jasadnya dikuburkan, dimakan serigala, terbakar sehingga menjadi abu, melayang-layang di angkasa, disalib, atau tenggelam di lautan. Adzab kubur akan dirasakan oleh si mati dengan jasad dan ruh-nya, meski jasadnya tidak terkubur. Hal-hal ghaib yang berkaitan dengan bagaimana duduknya orang yang mati ketika di kubur, seperti apa tulang rusuknya, dan hal-hal yang semacamnya, maka wajib kita pahami (yakini) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah; tidak boleh kita menambah-nambah ataupun menguranginya…”6

Terkait dengan alam, Ibnu Abil 'Izzi pada alenia berikutnya menjelaskan; “Kesimpulannya adalah bahwa alam itu ada tiga; alam dunia (dar ad-dunya), alam barzakh (dar al-barzakh), dan alam akhirat (dar al-qarar). Allah telah memberlakukan hukum-hukum tertentu bagi tiap-tiap alam tersebut, dan manusia (jasad maupun ruh) akan berjalan sesuai dengan hukum tersebut. Allah menjadikan hukum-hukum dunia berlaku bagi jasad dan ruh sesuai keadaannya di dunia. Demikian juga; Allah menjadikan hukum-hukum di alam barzakh berlaku bagi jasad dan ruh sesuai keadaannya di alam barzakh. Kemudian, tatkala datang hari dibangkitkannya semua jasad dan manusia dari kubur mereka, maka akan berlakulah hukum-hukum yang ada di sana; pemberian pahala dan siksa, juga kepada ruh dan jasad secara bersama-sama.” (ed)

–bersambung–
(Bagian Kedua dari Dua Tulisan di Link berikut : 


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1697897929777&set=a.1653325175486.2085068.1307751853&ref=nf)


Catatan Kaki:
---------------
1. ^Rahnip M., B.A., Aliran Kebatinan dan Kepercayaan dalam Sorotan, Pustaka Progressif, hal. 11.
2. ^Animisme adalah kepercayaan kepada ruh-ruh yang mendiami suatu benda (pohon, batu, sungai, gunung, dll), sedangkan dinamisme adalah kepercayaan bahwa sesuatu benda mempunyai tenaga atau kekuatan. (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1997).
3. ^Disarikan dari buku Rahnip M., BA., idem, hal. 73-112.
4. ^Syarah ath-Thahawiyah fi al-Aqidah as-Salafiyah, hal. 183-184, Darul-Fikr, 1408H./1988M.
5. ^Muslim hadits no. 9, at-Tirmidzi hadits no. 2535, Nasa-i hadits no. 4904, Abu Dawud hadits no. 4075, Ibnu Majah hadits no. 62, dan Ahmad hadits no. 179, 186, 346.
6. ^Syarah at-Thahawiyah fi al-Aqidah as-Salafiyah, ibid, hal. 264.

semoga bermanfaat


FIRQAH2 SESAT

SYIAH, JAHMIYAH DAN ATSYARI'AH

Syi’ah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Qadariyah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Khawarij terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak seperti al azriqah, al haruriyyah, an najdat, ash shafariyyah, al ibadhiyyah. Sebagian mereka ghuluw dan sebagian lain tidak.

SYI'AH
--------
Syi’ah adalah mereka yang mengaku-aku mengikuti dan menolong ahli bait. Allah berfirman ketika menyebutkan kisah Nuh:

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).” (QS. Ash Shaffat : 83)

Yaitu Ibrahim mengikutinya dan menolong agamanya (Nuh) karena setelah Allah mengisahkan Nuh ‘Alaihis Salam, Dia berfirman dengan ayat di atas. Makna asal syi’ah berarti mengikuti dan menolong.

Kemudian nama ini diterapkan kepada golongan ini yaitu golongan yang menyatakan bahwasanya mereka mengikuti ahli bait yaitu Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu dan keturunannya.

Mereka menganggap bahwa Ali diwasiati kekhalifahan sesudah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan bahwasanya Abu Bakar, Umar, Utsman dan para shahabat telah menzhalimi Ali dan merampas kekhalifahan darinya. Demikianlah mereka menyatakan. Sungguh mereka telah berdusta tentang hal itu karena sesungguhnya para shahabat berkumpul dan sepakat untuk membaiat Abu Bakar dan Ali pun termasuk dari mereka (shahabat) ketika dia ikut membaiat Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Hal itu berarti bahwa sesungguhnya mereka telah menuduh Ali Radliyallahu ‘Anhu mengkhianati wasiat itu (karena beliau ikut membaiat, ed.).

Mereka mengkafirkan para shahabat kecuali sedikit dari para shahabat yang mereka anggap baik. Mereka melaknat Abu Bakar dan Umar dan memberi gelar keduanya dengan sebutan “dua berhala Quraisy”.

Termasuk dari madzhab mereka, mereka ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap imam-imam dari kalangan ahli bait. Bahkan mereka memberikan hak kepada imam-imam tersebut untuk membuat syariat dan menghapus hukum-hukum.

Mereka juga menyangka bahwa Al Quran telah diselewengkan dan dikurangi. Bahkan perbuatan mereka sudah sampai pada menjadikan para imam sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan mereka membangun kubur-kubur imam tersebut dan memberi kubah-kubah di atasnya kemudian mereka ber-thawaf mengelilinginya. Di atas kuburan itu juga mereka menyembelih dan bernadzar.

Syi’ah terpecah menjadi golongan yang banyak, sebagiannya lebih ringan kesesatannya dari yang lain dan sebagian lebih keras dari yang lain. Di antara golongan syi’ah: Zaidiyyah, rafidlah itsna ‘asyariyah, ismailiyyah dan fathimiyyah, qaramithah dan lain-lain.

Demikianlah setiap orang yang berpaling dari kebenaran, mereka senantiasa dalam perselisihan dan perpecahan. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 137)

Maka barangsiapa yang berpaling dari Al Haq akan diberi musibah dengan kebatilan, penyimpangan, perpecahan dan tidak akan tercapai tujuan bahkan berakhir dengan kerugian. Wal iyadzu billah.

Syi’ah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Qadariyah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Khawarij terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak seperti al azriqah, al haruriyyah, an najdat, ash shafariyyah, al ibadhiyyah. Sebagian mereka ghuluw dan sebagian lain tidak.

JAHMIYYAH
--------------
Jahmiyyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan yang belajar kepada Ja’d bin Dirham. Ja’d bin Dirham belajar kepada Thalut. Thalut belajar kepada Labib bin Al ‘Asham seorang yahudi maka jadilah mereka semua murid-murid yahudi. Ajaran/madzhab jahmiyyah adalah tidak menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah dan mereka beranggapan bahwa Allah adalah zat yang kosong dari nama-nama dan sifat-sifat karena menetapkan nama-nama dan sifat-sifat menurut anggapan mereka akan mengakibatkan kesyirikan dan berbilangnya sesembahan. Perkataan mereka tersebut ini adalah syubhat dan kerancuan yang terkutuk.

Kita tidak tahu apa yang akan mereka katakan tentang diri-diri mereka? Padahal salah satu dari mereka menyatakan bahwa dirinya seorang yang alim, kaya, tukang dan pedagang. Demikian juga mereka menyatakan bahwa mereka mempunyai banyak sifat. Akan tetapi apakah yang demikian itu berarti menunjukkan bahwa ia menjadi banyak orang?

Hal ini bertentangan dengan akal karena tidaklah mesti dengan banyaknya nama-nama dan sifat-sifat menjadikan banyak/berbilangnya ilah (tuhan). Oleh karena itulah ketika orang-orang musyrik dahulu mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

“Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang.” Mereka berkata: “Orang ini (nabi) menyatakan bahwasanya dia hanya menyembah Tuhan yang satu sedangkan dia masih menyeru kepada tuhan yang banyak.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar Rahman dengan nama yang mana saja kamu seru. Dia mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik)24.” (QS. Al Isra : 110)

Nama-nama Allah itu banyak dan hal itu menunjukkan kesempurnaan dan keagungan-Nya tidak menunjukkan kepada berbilangnya sesembahan sebagaimana yang mereka katakan.

Adapun zat kosong yang tidak mempunyai sifat maka tentunya hal ini tidak mempunyai wujud. Mustahil selama-lamanya jika ada sesuatu yang tidak mempunyai sifat, minimal dia mempunyai sifat wujud (ada).

Di antara syubhat mereka adalah bahwa menetapkan sifat akan mengakibatkan penyerupaan karena sifat-sifat tersebut juga terdapat pada makhluk. Perkataan ini adalah batil sebab sifat-sifat pencipta sesuai dengan-Nya dan sifat-sifat makhluk sesuai dengan mereka dan keduanya tidak saling menyerupai.

Sesungguhnya berkumpul pada jahmiyyah kesesatan dalam hal nama-nama dan sifat-sifat, kesesatan jabriyyah dalam hal menetapkan takdir dimana jahmiyyah berkata: “Sesungguhnya seorang hamba tidak mempunyai keinginan/kehendak dan tidak mempunyai pula usaha, dia hanyalah dipaksa dalam perbuatan-perbuatannya.” Ini berarti bahwasanya jika dia disiksa karena kemaksiatannya maka dia adalah orang yang terzhalimi karena (menurut mereka) kemaksiatan itu bukan perbuatan dia dan dia hanyalah dipaksa untuk melakukan hal itu. Maha Tinggi Allah dari hal yang demikian.

Dengan demikian mereka mengumpulkan antara jabriyah dalam masalah takdir dan jahmiyah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat dan mereka mengumpulkan pula dalam hal itu kepada perkataan murjiah yang mereka gabungkan dengan pernyataan bahwa Al Quran adalah makhluk maka jadilah mereka di atas kesesatan yang bertumpuk.

Berkata Ibnu Qayyim:

(Huruf) jim dan jim kemudian bersama keduanya beriringan huruf-hurufnya dalam satu wazan jabriyyah, murjiah dan jim jahmiyyah. Maka perhatikanlah semuanya dalam satu timbangan maka hukumilah dengan memperhatikan siapa yang sampai terlepas dari ikatan iman25.

Maksudnya semua kelompok sesat tersebut terdapat padanya huruf jim yaitu jabariyyah, murjiah dan jahmiyyah jadi semuanya ada tiga jim. Ketahuilah bahwa jim yang keempat adalah Jahannam.

Kesimpulannya bahwa ajaran jahmiyyah ini terkenal dalam hal meniadakan nama-nama dan sifat-sifat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pecahan dari jahmiyyah adalah ajaran mu’tazilah, asy’ariyyah dan maturidiyyah.

Ajaran mu’tazilah menetapkan nama-nama dan meniadakan sifat-sifat tetapi dalam menetapkan nama-nama mereka menetapkan semata-mata hanya lafazh yang tidak menunjukkan kepada makna dan sifat.

Mereka dinamakan dengan mu’tazilah (kelompok yang memisahkan diri) karena imam mereka yaitu Washil bin Atha’ adalah salah seorang murid Hasan Al Bashri Rahimahullah, seorang imam tabi’in yang mulia. Ketika Hasan Al Bashri ditanya tentang pelaku dosa besar apa hukumnya? Maka beliau berkata dengan perkataan Ahlus Sunnah wal Jamaah: “Sesungguhnya dia seorang Mukmin yang kurang imannya, dinamakan Mukmin karena imannya dan fasik karena dosa besarnya.”

Akan tetapi Washil bin Atha’ tidak mau menerima jawaban dari gurunya maka dia keluar dan berkata: “Tidak, saya beranggapan bahwa pelaku dosa besar bukan termasuk orang Mukmin dan bukan pula orang kafir, ia berada di suatu kedudukan di antara dua kedudukan.”

Kemudian dia memisahkan diri dari gurunya, Hasan Al Bashri dan duduk di salah satu sisi masjid dan berkumpul dengan kaum dari kalangan awam jahil yang mau mengambil ucapannya.

Seperti itulah dai yang sesat di setiap waktu pasti akan ada yang bergabung kepadanya dari kebanyakan manusia, inilah hikmah Allah. Mereka meninggalkan majlis Hasan Al Bashri, Syaikh Ahlus Sunnah yang majlisnya merupakan majlis kebaikan dan majlis ilmu tetapi mereka lebih suka memilih bergabung kepada majlis seorang yang berpaham mu’tazilah yaitu Washil bin Atha’ seorang yang sesat dan menyesatkan.

Banyak orang-orang yang serupa dengan mereka di jaman kita ini, mereka meninggalkan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bergabung dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang menyimpang26.

Sejak waktu itulah mereka dinamakan dengan mu’tazilah karena mereka memisahkan diri dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dimana mereka menafikan sifat-sifat yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan bagi-Nya nama-nama yang kosong dari makna dan menghukumi pelaku dosa besar sebagaimana yang diyakini oleh khawarij yaitu mereka kekal di neraka. Akan tetapi mu’tazilah menyelisihi khawarij tentang hukum pelaku dosa besar di dunia dimana mereka mengatakan: “Sesungguhnya dia berada di suatu kedudukan di antara dua kedudukan bukan orang Mukmin bukan pula kafir.” Sedangkan khawarij mengatakan: “Kafir.”

Maha Suci Allah! Apakah masuk akal bahwa manusia tidak Mukmin dan tidak pula kafir? Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah berfirman:

“Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (QS. Ath Thaghabun : 2)

Tidaklah Dia (Allah) mengatakan di antara kalian ada yang berada di suatu kedudukan di antara dua kedudukan. Tetapi apakah mereka (mu’tazilah) memahaminya? Kemudian bercabang dari madzhab mu’tazilah yaitu madzhab asy’ariyah.

ASY'ARIYAH
---------------
Asy’ariyah dinisbatkan kepada Abul Hasan Al Asy’ari Rahimahullah. Dulunya Abul Hasan Al Asy’ari seorang yang berpemahaman mu’tazilah kemudian Allah mengaruniai anugerah hidayah kepadanya sehingga dia mengetahui kebatilan madzhab mu’tazilah maka dia berdiri di masjid pada hari Jumat dan mengumumkan bahwa ia berlepas diri dari madzhab mu’tazilah dan melepaskan bajunya seraya berkata:

“Saya melepaskan madzhab mu’tazilah sebagaimana saya melepaskan bajuku ini.” Akan tetapi setelah berlepasnya dia dari madzhab mu’tazilah lalu beralih kepada madzhab kullabiyyah yaitu pengikut Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Abdullah bin Sa’id bin Kullab adalah seorang yang menetapkan 7 (tujuh) sifat dan menafikan selainnya. Dia berkata: “Akal tidak dapat membuktikan kecuali hanya tujuh sifat saja yaitu Al Ilmu, Al Qudrah, Al Iradah, Al Hayah, As Sam’u, Al Bashar dan Al Kalam (sifat Mengetahui, Mampu, Iradah, Hidup, Mendengar, Melihat dan Berbicara).”

Dia berkata: “Inilah yang dapat dibuktikan/dipahami oleh akal, adapun apa yang tidak ditunjukkan oleh akal (menurut dia) tidak bisa ditetapkan.”

Kemudian Allah mengaruniakan kembali hidayah kepada Abul Hasan Al Asy’ari sehingga dia meninggalkan madzhab kullabiyyah dan kembali kepada ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan dia berkata: “Sekarang saya mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahlus

Sunnah wal Jamaah Ahmad bin Hanbal. Sesungguhnya Allah bersemayam di atas Arsy dan sesungguhnya Dia mempunyai tangan dan wajah.” Beliau menyebutkan hal ini dalam kitabnya, Al Ibanah ‘an Ushul Ad Diyanah dan juga dalam kitabnya yang kedua, Maqaalat Al Islamiyyin wa Ikhtilaf Al Mushallin.

Disebutkan bahwasanya Abul Hasan Al Asy’ari berada di atas madzhab Imam Ahmad bin Hanbal walaupun masih tersisa padanya beberapa penyimpangan ..

Sedangkan pengikut Abul Hasan Al Asy’ari tetap berada di atas madzhab kullabiyyah dan kebanyakan mereka senantiasa berada di atas madzhabnya yang pertama sehingga mereka dinamakan dengan asy’ariyyah sebagai nisbat (penyandaran) kepada Abul Hasan Al Asy’ari dalam madzhabnya yang pertama. Adapun setelah beliau kembali ke madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah maka penisbatan madzhab ini (asy’ariyyah) kepada beliau adalah suatu kekeliruan. Yang benar adalah madzhab kullabiyyah bukan madzhab Abul Hasan Al Asy’ari Rahimahullah karena dia telah bertaubat dari hal tersebut. Dan beliau telah menulis tentang hal tersebut dalam kitabnya, Al Ibanah ‘an Ushul Ad Diyanah yang menjelaskan secara terang-terangan kembalinya beliau berpegang sebagaimana yang diyakini pada Ahlus Sunnah wal Jamaah khususnya Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah. Walaupun masih ada padanya beberapa penyimpangan misalnya perkataannya tentang Al Kalam:

“Sesungguhnya Kalamullah adalah makna tersendiri yang berdiri sendiri dengan Dzat-Nya. Dan Al Quran adalah pengulangan ucapan atau ungkapan dari Kalamullah. Al Quran itu bukan Kalamullah itu sendiri.”

Inilah madzhab asy’ariyyah pecahan dari madzhab mu’tazilah dan madzhab mu’tazilah pecahan dari madzhab jahmiyyah kemudian terpecah-pecah menjadi madzhab-madzhab yang banyak. Semuanya berasal dari madzhab jahmiyyah.

Inilah kira-kira pokok firqah-firqah (golongan-golongan) 27.
Yang secara berurutan sebagai berikut:

Pertama qadariyyah.
Kemudian asy’ariyyah.
Kemudian khawarij.
Kemudian jahmiyyah.

Kemudian firqah-firqah tersebut terpecah-pecah menjadi golongan yang banyak, tidak ada yang dapat menghitung jumlahnya kecuali Allah, dimana telah disusun kitab tentang perkara ini di antaranya:

1. Kitab Al Farqu baina Al Firaq, Al Baghdadi.
2. Kitab Al Milal wa An Nihal, Muhammad bin Abdil Karim Asy Syahristani.
3. Kitab Al Fishal fi Al Milal wa An Nihal, Ibnu Hazm.
4. Kitab Maqaalat Al Islamiyyin wa Ikhtilafi Al Mushallin, AbulHasan Al Asy’ari.

Setiap kitab tersebut menjelaskan tentang golongan-golongan beserta macamnya, jumlahnya, penyimpangannya dan perkembangannya. Hingga sampai di jaman kita ini senantiasa berkembang, bertambah dan tumbuh darinya menjadi madzhab yang lain dan berpecah darinya pemikiran-pemikiran yang baru yang muncul dari pokok pemikiran 4 kelompok tersebut. Tidak satu pun kelompok yang masih tetap berada di atas kebenaran kecuali Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di setiap jaman dan tempat mereka selalu di atas kebenaran sampai terjadinya hari kiamat.

Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang terang-terangan di atas Al Haq (kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang perkara Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu 28.”

Segala puji bagi Allah, sungguh mereka Ahlus Sunnah wal Jamaah menyelisihi qadariyyah nufat (yang menolak takdir). Mereka beriman kepada takdir yang sesungguhnya ini termasuk dari rukun iman yang enam. Bahwasanya tidak terjadi sesuatu pun di alam ini kecuali dengan Qadha dan Qadar-Nya Subhanahu wa Ta’ala karena Dia Maha Pencipta, Pengatur, Raja dan Penguasa.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar : 62)

Tidak ada yang dapat mengatur alam ini kecuali karena Kehendak-Nya, Iradah-Nya, Qudrah-Nya dan Takdir-Nya. Allah mengetahui segala apa yang ada dan segala apa yang akan terjadi sejak azali.

Kemudian Dia menulisnya di Lauh Mahfuzh kemudian Dia menghendaki dan mengadakan serta menciptakannya. Sesungguhnya seorang hamba mempunyai kehendak dan usaha serta pilihan. Tidaklah seorang hamba dicabut iradahnya hingga ia dipaksa dalam semua perbuatan-perbuatannya sebagaimana yang dikatakan oleh jabriyyah al ghullat maka Ahlus Sunnah menyelisihi mereka dalam perkara ini.

Madzhab mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) tentang para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bahwa mereka berwala’ (berloyalitas) kepada semua para shahabat, baik itu Ahlul Bait maupun bukan. Berwala’ kepada semuanya, Muhajirin, Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang dengan itu mereka telah merealisasikan firman Allah Ta’ala:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman ….” (QS. Al Hasyr : 10)

Berbeda dengan syi’ah, Ahlus Sunnah wal Jamaah menyelisihi mereka karena syi’ah membedakan di antara para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka berloyalitas kepada sebagian shahabat dan membenci/memusuhi sebagian shahabat yang lain sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah berwala’ mencintai mereka semua. Semua shahabat saling mempunyai keutamaan dan yang paling utama di antara mereka adalah Khulafa Ar Rasyiddin kemudian sepuluh orang yang diberi kabar masuk Surga kemudian Muhajirin yang lebih mulia dari Anshar, para shahabat yang ikut perang Badr, yang ikut Baiat Ridwan maka mereka semua Radliyallahu ‘Anhum memiliki keutamaan.

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini adanya keharusan mendengar dan taat terhadap pemerintah berbeda dengan khawarij.

Ahlus Sunnah meyakini keharusan untuk mendengar dan taat kepada penguasa/pemerintah Muslimin dan mereka berpendapat tidak bolehnya keluar (memberontak) terhadap imam Muslimin meskipun mereka melakukan kesalahan selama kesalahannya bukan kekafiran dan kesyirikan. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang memberontak terhadap mereka karena semata-mata maksiat sebagaimana beliau bersabda:

“Kecuali kalian lihat kekufuran yang nyata yang di sisi kalian ada keterangan dari Allah tentangnya 29.”

Demikian juga Ahlus Sunnah wal Jamaah menyelisihi jahmiyyah dan sempalan-sempalan mereka dalam hal Asma Allah dan Sifat-Nya. Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman sebagaimana yang Allah sifatkan bagi Diri-Nya dan sebagaimana yang Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sifatkan Bagi-Nya dan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dalam hal tersebut tanpa penyerupaan (tasybih), pemisalan (tamtsil), penyelewengan (tahrif) dan menolak (ta’thil).

“ … tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura : 11)

Segala puji bagi Allah, sesungguhnya pada madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah telah terkumpul Al Haq dalam semua perkara dan terhadap semua masalah dan mereka berselisih/berbeda dengan setiap apa yang ada pada firqah (golongan) yang sesat dan aliran yang batil. Maka barangsiapa yang menginginkan keselamatan sesungguhnya inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bab ibadah. Mereka beribadah kepada Allah berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh syariat berbeda dengan sufi atau ahlul bid’ah dan khurafiyyin (orang-orang yang meyakini khurafat yang tak berdalil) yang tidak mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dalam peribadatan mereka tetapi mereka mengikuti apa-apa yang ditetapkan bagi mereka oleh syaikh-syaikh thariqat dan imam-imam mereka yang sesat. Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan saya dan kalian termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan karunia-Nya dan kemuliaan-Nya, semoga Dia memperlihatkan kepada kita yang haq (kebenaran) itu suatu kebenaran dan memberikan kita (kekuatan) mengikutinya dan memperlihatkan pada kita kebatilan itu suatu kebatilan dan memberikan kita (kekuatan) untuk menjauhinya.

Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan (permohonan).

Demikianlah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kepada keluarganya serta para shahabatnya

Catatan Kaki:
----------------
25 Nuniyah Ibnul Qayyim halaman 115. Yakni mereka mengumpulkan antara jabriyyah dan jahmiyyah dan murjiah tiga huruf jim dan jim yang keempat adalah Jahannam.

26 Maka kamu akan menjumpai mereka mengumpulkan kaset-kaset, kitab-kitab mereka dan mereka bersemangat untuk mendapatkannya. Apabila kamu katakan kepada mereka bahwa di kitab-kitab ini terdapat kesalahan-kesalahan yang menyelisihi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah Salaful Ummah dimana terdapat padanya perkataan Al Quran adalah makhluk atau ta’wil terhadap sifat-sifat Allah atau hasutan untuk memberontak kepada pemerintah Muslimin atau kesalahan- kesalahan lainnya maka mereka akan berkata: “Ini adalah kesalahan yang sepele tidak menghalangi kamu untuk membaca dan mendengarnya.” Padahal dalam kitab- kitab ulama kita baik dahulu maupun sekarang telah mencukupi semuanya. Demikianlah mereka berusaha menyesatkan setiap orang yang mendengar omongan mereka.

“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh- penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An Nahl : 25)

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa pendahulu (Salaf) kita ada yang menjauhi orang yang hanya berkata dengan satu bid’ah atau hanya mentakwil satu sifat saja? Abdul Wahhab bin Abdul Hakam Al Waraq, salah seorang sahabat Imam Ahmad Rahimahullah ditanya tentang Abu Tsaur maka dia berkata: “Saya tidak beragama padanya kecuali dengan perkataan Ahmad bin Hanbal. Dijauhi Abu Tsaur dan orang yang berkata seperti perkataannya.”

Hal itu karena (Abu Tsaur) menafsirkan hadits tentang gambar yang tafsirnya menyelisihi dari perkataan Salaf. Maka bagaimana dengan orang yang tidak bisa dikumpulkan banyaknya kesalahan dan dihitung (kesalahan tersebut) kecuali melalui kitab-kitab (ulama). Walaupun demikian kamu masih mendengar sebagian mereka berkata: “Kesalahan-kesalahan yang sepele tidak berarti menghalangi untuk membacanya.”
Dan tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dari Allah.

27 Berkata Ibnu Abi Randaq Ath Thurthusyi dalam kitabnya, Kitab Al Hawadits wal Bida’ halaman 14:
Ketahuilah bahwa ulama kita --Radliyallahu ‘Anhum-- berkata: “Pokok bid’ah ada 4 (empat) dan jenisnya ada 72 kelompok yang merupakan pecahan dan sempalan dari 4 pokok yaitu khawarij, mereka adalah kelompok pertama yang memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu kemudian rawafidh, qadariyyah dan murjiah.”

28 Telah terdahulu takhrij-nya, catatan kaki halaman 17 nomor 10.

29 Bagian dari hadits Ubadah bin Ash Shamit dan lafazhnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyeru kami maka kami membaiatnya dan yang beliau ambil dari kami adalah agar kami berbaiat untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan semangat maupun lesu, dalam keadaan susah maupun senang dan kita dalam keadaan dizhalimi dan tidak mencabut ketaatan dari pemiliknya. Beliau bersabda:

“Kecuali kalian lihat padanya kekufuran yang nyata berdasarkan keterangan dari Allah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari (7056) dan Muslim (III/1470, 42).

===




added note

source 1 

source 2

semoga bermanfaat

^SEPAK TERJANG SYI'AH DI INDONESIA^

Oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Perjalanan kaum Syi’ah di negeri ini semakin jelas. Dimulai ketika terjadi revolusi Iran yang mengantarkan ajaran atau (tepatnya disebut) dîn (agama) Syi’ah menguasai Iran sebagai agama penguasa setelah pemerintahan Reza Pahlevi runtuh. Setelah terjadi revolusi di Iran di penghujung tahun 1979, mereka mulai menyebarkan ajaran mereka keseluruh negeri Islam dengan mengatas-namakan dakwah Islam. Terutama ke negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah kaum Muslimin.

Ada tiga faktor yang menyebabkan Syi’ah mudah masuk ke Indonesia. Yaitu:

Pertama, kaum Muslimin terbelakang dalam pemahaman terhadap aqidah Islam yang shahîhah (benar) yang berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah.

Kedua, mayoritas kaum Muslimin pada saat itu sangat jauh dari manhaj Salafush Shâlih. Mereka hanya sekedar mengenal nama yang agung ini, namun dari sisi pemahaman pengamalan dan dakwah jauh sekali dari pemahaman dan praktek Salaful Ummah (generasi terbaik umat Islam). Memang ada sebagian kaum Muslimin yang menyeru kepada al-Qur’ân dan Sunnah, tetapi menurut pemahaman masing-masing tanpa ada satu metode yang akan mengarahkan dan membawa mereka kepada pemahaman yang shahîh (benar).

Ketiga, kebanyakan kaum Muslimin termasuk tokoh-tokoh mereka di negeri ini kurang paham atau tidak paham sama sekali tentang ajaran Syi’ah yang sangat berbahaya terhadap Islam dan kaum Muslimin, bahkan bagi seluruh umat manusia. Pemahaman mereka terhadap ajaran Syi’ah sebatas Syi’ah sebagai madzhab fiqh, sebagaimana madzhab-madzhab yang ada dalam Islam yang merupakan hasil ijtihad para ulama seperti Imam Syafi’i, Abu Hanîfah, Mâlik, dan Ahmad dan lain-lain. Mereka mengira perbedaan antara Syi’ah dengan madzhab yang lain hanya pada masalah khilâfiyah furû’iyyah (perbedaan kecil). Oleh karena itu, sering kita dengar, para tokoh Islam di negeri kita ini mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara kita dengan Syi’ah kecuali sekedar perbedaan furu’iyyah.

Dengan tiga sebab ini, Syi’ah bisa masuk ke negeri ini dan mempengaruhi sebagian kaum muslimin. Mereka menamakan perjuangan mereka perjuangan islam untuk menegakan Daulah Islamiyah.[1] Padahal pada hakekatnya untuk menegakan Daulah Râfidhah.

Mereka hendak menyebarkan dan mendakwahkan ajaran mereka. Karena dalam pandangan mereka, tidak ada hukum Islam kecuali yang diambil dari ajaran ini (Syi’ah) dan ditegakkan oleh mereka.

Khomaini, pemimpin mereka telah menulis beberapa kitab. Tiga diantara kitab-kitab ini menjelaskan dengan gamblang kepada kita tentang jati diri penulis dan para pengikutnya. Tiga kitab itu adalah:

Kitab Hukumâtul Islamiyah
Kitab Tahrîrul Wasîlah
Kitab Jihâdun Nafs atau dengan judul Jihâdul Akbar.

Dalam tiga kitab ini, khususnya dalam kitab Hukumâtul Islamiyah, Khomaini secara tegas tanpa taqiyyah menyatakan beberapa hal penting sebagai dasar pada agama mereka. Diantaranya dua hal yang sangat mendasar yaitu:

Tidak ada hukum kecuali hukum Syi’ah. Jadi yang dimaksudkan dengan Hukumatul Islamiyah adalah hukum Râfidhah.
Tidak ada negeri islam kecuali yang ditegakkan oleh mereka.

Karena itu mereka menyeru agar kaum Muslimin mengikuti mereka. Berbagai upaya dilakukan, misalnya mengirimkan dai-dai ke seluruh negeri-negeri Islam atau dengan istilah pertukaran pelajar, atau cendekiawan, mempertemukan tokoh-tokoh mereka dengan tokoh-tokoh kaum Muslimin untuk mempersatukan Islam. Sebuah tanda tanya besar! Padahal yang diinginkan adalah agar kaum Muslimin mengikuti mereka.

Dalam kitab Hukumâtul Islamiyah juga, Khomaini dengan tegas mengatakan bahwa derajat imam-imam mereka lebih tinggi dari derajat para Nabi dan Rasul bahkan para Malaikat. Dalam kitab itu juga, Khomaini tidak mengenal Daulah Islamiyah kecuali yang ditegakkan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dan Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu’anhu, adapun tiga khalifah sebelum Ali radhiyallâhu’anhu yaitu Abu Bakar radhiyallâhu’anhu, Umar radhiyallâhu’anhu, dan Utsman radhiyallâhu’anhu tidak dianggap sebagai kaum Muslimin.

Bahkan dalam kitab Jihâdul Akbar, Khomaini dengan tegas melaknat sahabat agung, penulis wahyu, ipar Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dan pamannya kaum Muslimin yaitu Mu’âwiyah bin Abi Sufyân radhiyallâhu’anhu. Khomaini mengatakan bahwa Mu’âwiyah radhiyallâhu’anhu terlaknat di dunia dan di akhirat dengan mendapat adzab di akhirat. Seolah-olah dengan perkataannya ini, dia mengetahui perkara yang ghaib. Apakah Allâh Ta’âla telah mengikat perjanjian dengan dia? Apakah Allâh Ta’âla telah memberikan berita ghaib kepadanya? Sehingga dengan tegas dia berani mengucapkan perkataan ini?

Ini menunjukkan betapa kuat kebencian dan dendamnya yang membara kepada para pembesar kaum Muslimin yaitu para Sahabat radhiyallâhu’anhum. Oleh karena itu, ketika mengetahui perkataan-perkataan Khomaini dalam ketiga kitabnya tersebut, sebagian tokoh kaum Muslimin berbalik dan menyadari bahwa apa yang disuarakan “Persatuan dan Kesatuan Umat Islam”, “Tidak ada perbedaan antara mereka kecuali masalah furu’ saja”, semuanya adalah kebohongan.

AJARAN SYI’AH MASUK INDONESIA

Diawal tahun 1980, ajaran Syi’ah mulai masuk ke Indonesia, walaupun (sebatas yang saya ketahui) ketika itu, pemerintah awalnya menolak kedatangan tokoh-tokoh Syi’ah ke Indonesia untuk memperkenalkan ajaran mereka. Tetapi ada beberapa tokoh di Indonesia ini yang sangat berjasa bagi kelompok Rafidhah ini, diantaranya ada dua orang tokoh.

Keduanya berhasil meyakinkan pemerintah bahwa yang datang ini bukanlah murid-murid Khomaini tetapi lawan-lawannya serta mereka tidak membawa ajaran Khomaini. Pemerintah yang memang tidak paham ajaran Syi’ah[2], akhirnya memberikan ijin. Sejak itu, masuklah ajaran Syi’ah ke negeri kita ini.

Secara pribadi, ketika itu, saya (penulis) telah mengingatkan kepada sebagian ustadz dan kaum Muslimin bahwa kalau kita tidak menjelaskan masalah Syi’ah ini kepada ummat, maka ajarannya akan berkembang dan masuk ke berbagai lapisan masyarakat. Namun, sangat disesalkan, mereka tidak mengindahkannya dan tetap menganggap perbedaan antara kita dengan Syi’ah hanya dalam masalah furu’iyyah.

Padahal perbedaan kita dengan Syi’ah Râfidhah adalah perbedaan ushûl (pokok-pokok agama) dan furu’ yang keduanya tidak mungkin disatukan kecuali kalau salah satunya meninggalkan ajaran agamanya. Di antara perbedaan ushûl (pokok) yang sangat mendasar sekali yang kalau diyakini oleh seseorang maka akan menyebabkan seorang itu murtad yaitu :

Pertama; keyakinan mereka bahwa al-Quran yang ada ditangan kaum muslimin saat ini, yang dibaca, yang dihafal dan diyakini sebagai kitabullâh yang diwahyukan kepada hambaNya dan RasulNya Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam melalui perantara Malaikat jibril ‘alaihissalam , telah tidak asli lagi.

Menurut Syi’ah, al-Qur’ân telah dirubah, atau dikurangi oleh para sahabat yang dipimpin oleh tiga sahabat mulia yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsmân dan para sahabat lainnya -radhiyallâhu’anhum-. Keyakinan ini bisa menghancurkan seluruh isi al-Qur’ân, karena Allâh Ta’âla telah berfirman :

(Qs al Hijr/15:9)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya
(Qs al Hijr/15:9)

Sedangkan ajaran Râfidhah yang terus-menerus mereka katakan sampai saat ini, baik dengan lisan maupun tulisan bahwa al-Qur’ân yang asli adalah al-Qur’ân yang tiga kali lebih besar dan sangat berbeda dibandingkan al-Qur’ân yang ada ditangan kaum muslimin saat ini. Menurut mereka Al-Qur’an yang asli ini nanti akan dibawa oleh Imam Mahdi dan dinamakan Mushaf Fathimah.

Ini keyakinan mereka, walaupun sebagian mereka mengingkarinya tetapi pengingkaran itu hanya omong kosong karena ini merupakan taqiyah mereka. Kalau keyakinan ini diyakini oleh kaum muslimin maka tidak diragukan lagi bahwa dia telah murtad, keluar dari agama Islam.
Kedua; Pengkafiran mutlak terhadap seluruh sahabat, seperti Abu Bakar as-Shiddîq radhiyallâhu’anhu, Umar al-Fârûq radhiyallâhu’anhu, Utsmân Dzunnûrain radhiyallâhu’anhu dan seluruh sahabat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam kecuali beberapa sahabat yang jumlahnya sangat sedikit.

Meyakini ini berarti membantah isi al-Qur’ân yang menyatakan keimanan dan kebesaran para sahabat serta keridhaan Allâh Ta’âla terhadap mereka. Kalau seorang muslim dan muslimah meyakini keyakinan ini (pengkafiran mutlak terhadap seluruh sahabat, kecuali beberapa sahabat) berarti mereka telah murtad, keluar dari Islam.
Kedua keyakinan Râfidhah ini tidak mungkin disatukan dengan keyakinan yang ada dalam Islam. Artinya, tidak mungkin seorang muslim dan seorang Râfidhi (Penganut agama Syi’ah) bersatu, karena keyakinannya sangat berbeda. Ini berdasarkan dalil naqliyah dan aqliyah yang shahih yang memiliki ketegasan.

Oleh karena itu para ulama zaman dahulu menyatakan bahwa orang yang paling bodoh terhadap dalil dalil naqliyah dan aqliyah serta paling sesat jalannya diantara orang-orang mengaku Islam adalah Syi’ah atau Rafidhah ini. Karena dengan tegas, mereka membenarkan apa yang didustakan dengan dalil-dalil naqliyah sam’iyah (dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunnah) dan juga yang didustakan oleh akal.

Sebaliknya, mereka mendustakan apa yang jelas dan terang telah datang dari dalil-dalil naqliyah sam’iyah dan berdasarkan akal yang shahih. (Minhâjus Sunnah, 1/8)
Ketiga, perbedaan ushûl lainnya adalah penyembahan terhadap manusia. Diantara orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam, yang pertama kali membangun kubur-kubur dan kubah-kubah adalah kaum Râfidhah. Mereka mengadakan peribadatan kepada selain Allâh Ta’âla. Padahal ini sangat diharamkan dalam Islam dan merupakan syirik besar.

Mewakili pengikutnya, Khomaini dalam bukunya “Hukûmâtul Islâmiyah”, halaman 52 mengatakan:

“Sesungguhnya sesuatu yang pasti dari madzhab kami bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh seorangpun, baik seorang rasul yang diutus maupun oleh malaikat yang dekat.”

Ini pernyataan tegas Khomaini. Ini menunjukkan sikap ghuluw mereka terhadap para imam mereka, yang mereka klaim memiliki derajat yang lebih tinggi dari para nabi dan rasul.

Dalam kitab yang sama, Khomaini menyatakan bahwa imam mereka tidak pernah lupa dan lalai. Padahal ini adalah sifat Allâh Ta’âla, karena hanya Allâh Ta’âla yang tidak pernah lupa dan lalai.

Allâh Ta’âla berfirman :

(Qs Maryam/19:64)

Dan Rabbmu tidaklah lupa.
(Qs Maryam/19:64)

Ini merupakan salah satu bentuk penyembahan terhadap makhluk. Sikap ini tidak mungkin bisa disatukan dengan seorang muslim yang beraqidah shahih, yang bermanhaj dengan manhaj salaful ummah, yang hanya ruku’ dan sujud kepada Allâh Ta’âla, yang meminta pertolongan hanya kepada Allâh Ta’âla.

Oleh karena itu mereka membangun kuburan dan merekalah yang pertama kali memasukkan penyembahan terhadap kubur ke dalam Islam, membangunnya serta mendirikan kubah-kubah. Itulah beberapa ushûl (masalah pokok) diantara banyak ushûl lainnya yang membedakan Râfidhah (Syi’ah) dengan Islam sehingga tidak mungkin disatukan kecuali salah satunya meninggalkan agamanya.

Masalah ini sering tidak diketahui oleh tokoh-tokoh kaum muslimin khususnya di negeri kita ini. Karena Syi’ah selalu menyembunyikan keyakinan-keyakinan mereka kepada orang-orang yang belum menjadi pengikut setia mereka.

PERKEMBANGAN SYI’AH DI INDONESIA

Kurang lebih 30 tahun sudah berlalu sejak mulai menancapkan kukunya di Indonesia, kini kaum Râfidhah terutama di negeri kita ini telah berani memperlihatkan sebagian ajaran mereka secara terang-terangan. Ini mereka lakukan secara bertahap. Cara-cara mereka dalam memberikan pengajaran sangat halus dan awalnya tidak diketahui. Saya sebutkan diantaranya :

Pertama, mereka mengatasnamakan diri ahlul bait (keluarga) Nabi. Padahal pada hakekatnya, mereka telah berbohong atas nama ahlul bait[3]. Kita tahu bahwa kaum muslimin, terutama di Indonesia sangat mencintai ahlul bait tetapi kecintaan yang tidak berdasarkan ilmu tentang siapa ahlul bait ? Apa manhaj mereka ?

Kecintaan seperti ini bisa menyeret seseorang kepada kultus dan al-ghuluw (berlebih-lebihan). Hal inilah yang diinginkan Syi’ah. Oleh karena itu, orang yang menyerang Syi’ah selalu dituduh benci kepada ahlul bait. Dan para pendahulu-pendahulu mereka seperti kaum Qarâmithah, Isma’iliyah, Bathiniyah telah membuat beberapa ajaran yang disusupkan ke tengah-tengah kaum muslimin untuk mendukung madzhab mereka. Diantaranya adalah perayaaan maulid Nabi. Merekalah yang membuat acara ini pertama kali, bukan Sulthan Shalahuddin al-Ayyubi. Menisbatkan perayaan maulid kepada Shalahuddin adalah penyimpangan, penipuan dalam sejarah.[4]

Cinta ahlul bait adalah merupakan keyakinan Islam. Kita mencintai keluarga Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam sesuai dengan syariat Allâh dan Rasulnya, tidak ditambah dan tidak dikurangi, tidak mengadakan penyembahan terhadap ahlul bait. Kita meyakini bahwa tidak ada yang ma’shûm (bebas dari dosa dan kesalahan) kecuali Nabi yang mulia. Jadi kecintaan kita tetap dalam batasan-batasan Islam bukan sebagaimana yang dikatakan oleh Syi’ah.

Kedua, dalam memberikan pengajaran, mereka menggunakan ayat-ayat al-Qur’ân, tafsir-tafsir al-Qur’ân tidak melalui hadits atau sunnah. Karena mereka jauh sekali dari sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bahkan mereka menolak hadits. Bagaimana mungkin mereka bisa menerima hadits Bukhâri, Muslim dan lain-lain sementara para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits ini dianggap kafir ?! Mereka juga menvonis kufur kepada ahlus sunnah termasuk Bukhâri, Muslim dan ulama ahli hadits lainnya. Oleh karena itu, mereka selalu memulainya dengan tafsir dengan meruju’ ke kitab-kitab tafsir Syi’ah[5].

Melalui kajian tafsir-tafsir al-Qur’ân yang awalnya biasa tapi lama-kelamaan menjadi aneh, karena seluruh ayat al-Qur’ân mereka tafsirkan dengan penafsiran mereka. Mereka selalu membuka kajian tafsir al-Qur’ân, tidak ada yang membuka kajian shahih Bukhâri kecuali untuk di hina, di kritik dan selanjutnya di tolak. Mereka mulai menafsirkan, ini untuk Ali radhiyallâhu’anhu dan siksaan ini untuk Abu Bakar radhiyallâhu’anhu dan lain sebagainya. Walaupun pada awalnya, mereka belum menyebut nama Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallâhu’anhum karena ketiga shahabat ini memiliki kedudukan tinggi di hati kaum muslimin termasuk Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu’anhu.

Syi’ah menempuh cara-cara kaum zindiq yaitu meninggikan sebagian dan merendahkan sebagian dalam waktu yang bersamaan agar mereka dapat menghancurkan secara keseluruhan. Mereka meninggikan Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu’anhu setinggi-tingginya sampai disamakan dengan Rabbul a’lamin sementara mereka merendahkan Abu Bakar, Umar, Utsman radhiyallâhu’anhum dan hampir seluruh para sahabat Rasûlullâh dengan serendah-rendahnya.

Ketiga, mengkritik sebagian sahabat. Mereka mulai dari Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu kemudian yang lainnya sampai hampir seluruh para sahabat. Untuk mencapai tujuan ini, di negeri kita mereka memerlukan waktu bertahun-tahun. Sehingga saat ini, Abu Bakar As-Shiddiq, Umar al-Fârûq, Utsmân Dzunûrain, mereka hinakan dan kafirkan secara terang-terangan. Bahkan tersebar selebaran yang mengkafirkan sayyidah Aisyah radhiyallâhu’anha dan para sahabat lainnya.

Mereka memasukan berbagai macam syubhat kepada kaum muslimin lalu mulai mengklasifikasikan para sahabat menjadi yang betul-betul sahabat Nabi dan yang munafiq. Selanjutnya dibawakan sebagian ayat-ayat al-Qur’ân sehingga sebagian kaum muslimin yang mengikuti majelis mereka terpengaruh dan tidak memperdulikan serta tidak lagi memakai ijmâ’ para ulama mengenai para shahabat, yaitu semua para sahabat adalah adil.

Keempat, mengkritik hadits-hadits. Awalnya, mereka mengkritik satu atau dua buah hadits dalam Shahîh Bukhâri yang dinyatakan tidak sah, mustahil atau dusta. Semua justifikasi ini berdasarkan akal dan ra’yu mereka yang jahil. Dan itulah salah satu sifat mereka, mengkritik, membantah, dan menolak tanpa hujjah.

Oleh karena itu ahlus sunnah menyatakan bahwa bantahan dan penolakan semata bukanlah ilmu. Ilmu adalah memberikan jawaban secara ilmiyah, membantah secara ilmiyah dengan menegakkan hujjah yang selanjutnya menyelesaikan permasalahan. Ini yang disebut ilmu. Adapun semata-mata menolak, mungkin anak-anak yang telah tamyiz mampu melakukannya.

Inipun mereka lakukan secara bertahap serta membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka mengkritik dan menolak hadits-hadits riwayat Bukhâri dan Muslim. Tapi anehnya, apabila ada hadits yang menguatkan madzhab mereka, mereka memakainya padahal mereka telah mengkafirkan Imam Bukhâri dan Muslim !?

Kelima, memberikan kesan bahwa bahwa Syi’ah merupakan madzhab yang kelima dalam Islam dan perbedaan mereka adalah perbedaan furu’iyah, ijtihadiyah, ilmiyah secara global tanpa ta’shîl (penegakan terhadap hujjah) dan tafshîl (terperinci) sehingga ini juga mempengaruhi kaum Muslimin.

Keenam, mendakwahkan ajaran yang sangat menarik bagi orang-orang memiliki penyakit hati yaitu nikah mut’ah. Nikah mut’ah (kontrak) tanpa wali tanpa saksi kecuali dengan mahar pemberian dan ada ikatan perjanjian antara kedua pihak laki dan wanita. Biasanya dilakukan selepas majelis mereka. Mereka mengikat perjanjian kontrak satu hari, dua hari dan seterusnya dan boleh untuk satu kali berhubungan saja (tidak ada bedanya dengan zina). Bahkan Khomaini di sebagian fatwanya membolehkan bermut’ah dengan pelacur !!!

Ketujuh, berusaha menjauhkan kaum Muslimin dan memberikan kesan buruk terhadap sebuah ajaran yang mereka benci yaitu Wahabi. Kalimat ini sering diulang-ulang, tanpa ada penjelasan terperinci, siapa dan apa ajaran Wahabi itu. Sehingga setiap ajaran dakwah atau yang berlawanan dengan Syi’ah dijauhi oleh kaum Muslimin.

Padahal sebenarnya, lafadz ini (Wahabi) disematkan oleh musuh-musuh Islam kepada ajaran dakwah al-Imam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullâh. Lalu mereka memanfaatkannya untuk menjauhkan kaum Muslimin dari dakwah yang haq ini.

KEPADA SIAPA MEREKA MASUK ?

Sepanjang penelitian saya selama kurang lebih tiga puluh tahun tentang mereka secara berjauhan maupun berdekatan, saya melihat bahwa mereka memasuki semua lapisan masyarakat dengan cara-cara yang berbeda. Berikut perinciannya :

Tingkatan Pertama; Mereka mempegaruhi masyarakat awam dengan cara-cara yang dapat diterima oleh orang-orang awam. Dikalangan orang-orang awam ini, mereka tidak akan mampu mengkafirkan seluruh para sahabat karena orang-orang awam walaupun mereka beragama dengan cara taqlid buta, mereka sangat mencintai para sahabat. Kalau mereka langsung mengkafirkan atau mengkritik Abu Bakar radhiyallâhu’anhu, Umar radhiyallâhu’anhu, Utsmân radhiyallâhu’anhu dan para sahabat yang lainnya –radhiyallâhu’anhum– ditengah masyarakat awam, tentu mereka akan ditinggalkan.

Mereka mendekati masyarakat awam dengan cara mengkultuskan manusia atas nama ahlul bait. Bahkan mereka membuat berbagai bait-bait syair yang mengantarkan kepada pengkultusan terhadap Nabi. Mereka meninggikan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam lebih tinggi dari yang telah tetapkan oleh Allâh Ta’âla, dengan cara tawassul ataupun istighatsah, yang berujung pada syirik besar.

Dimulai dari pendekatan dengan mengatasnamakan ahlul bait kemudian berlanjut dengan pemujaan terhadap manusia, yaitu dengan membangun kubur-kubur dan meminta kepada penghuni kubur serta penyebaran berbagai macam bid’ah lainnya.

Tingkatan kedua; Mendakwahi para pelajar khususnya mahasiswa. Untuk lapisan ini, mereka masuk lewat penyebaran nikah mut’ah karena para pemuda ini memang sangat aktif mencari hal-hal baru untuk kemudian dicoba. Setelah memberikan kenikmatan syaithaniyah, mereka mulai mendekati para pemuda ini dengan memberikan image (gambaran) bahwa ajaran Syi’ah itu benar dan lain sebagainya.

Oleh karena itu tokoh-tokoh mereka mengajar diberbagai perguruan tinggi untuk menjerat para mahasiswa yang mayoritasnya kosong dari ajaran Islam, aqidah shahihah serta tidak gemar duduk di majelis-majelis ilmu. Para mahasiswa ini terus didekati sampai akhirnya menjadi Rafidhah tulen dan diharapkan menjadi kaum intelektual yang memegang pemerintahan di negeri ini.

Ini harapan mereka, Semoga Allâh Ta’âla menghancurkan rencana buruk mereka.

Tingkatan Ketiga; Memasuki media masa, yang cetak maupun elektronik. Melalui media-media ini, mereka menampilkan tentang Rafidhah sedikit demi sedikit, dengan dalih sebagai khazanah islamiyah. Stasiun televisi tidak luput dari mereka.

Namun tentunya, mereka tidak terang-terangan membawakan ajaran mereka. Kecuali salah satu dari tokoh mereka yang pernah saya dengar langsung dengan telinga saya dan saya lihat dengan kedua mata saya bahwa dia mengatakan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallâhu’anhu adalah seorang penakut (Allahu Akbar).

Orang yang hina ini telah merendahkan seorang sahabat mulia, alim lagi ‘âbid yang dikatakan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam :

hadits
“Sebaik-baik orang adalah Abdullah Bin Umar kalau sekiranya dia shalat malam.”(HR Bukhari, no. 3738, 3739, 3740 dan 3741)

Sejak itu, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan shalat malam.

Tingkatan keempat; Mereka memberikan pengajaran kepada kaum intelektual khususnya kepada pendukung mereka yang saya istilahkan alumni dari orientalis. Mereka ini dididik, dijadikan anak angkat dan disusui oleh orang-orang Yahudi di negeri-negeri Barat yang notabene sangat membenci Islam. Mereka mendapat dukungan kuat sehingga paling tidak kaum intelektual ini bersikap netral atau toleran, tidak mempermasalahkan antara Sunni dengan Syi’ah.

Ini langkah pertama, langkah kedua dan selanjutnya, mereka mulai membuat program-program yang bisa menjebak tokoh-tokoh ini kedalam Râfidhah tulen.

Tingkatan kelima; Mendekati para pejabat negeri yang memegang tampuk pemerintahan untuk diberikan pelajaran-pelajaran tentang Syi’ah. Paling tidak, mereka merasa untung dan menang kalau pejabat ini mengetahui ajaran Râfidhah, apalagi mendukungnya.

Tingkatan keenam; Masuk ke partai politik dengan menjadi tim-tim sukses partai-partai politik.

Tingkatan ketujuh; Membuat pengajian-pengajian untuk ibu-ibu karena peran wanita sangat penting sekali dan sangat besar sekali. Oleh karena itu mereka membutuhkan ibu-ibu untuk mendukung ajaran mereka. Berdasarkan kenyataan ini, saya sering mengingatkan bapak-bapak agar hati-hati dan memperhatikan pengajian istrinya, jangan sampai istri-istri mereka terjebak dalam ajaran Syi’ah.

Barang kali ini yang bisa kita bahas sekilas tentang perkembangan dan gerakan Syi’ah di Indonesia. Mereka membuat tipu daya, semoga Allah menghancurkan tipu daya mereka. Dan, alhamdulillah saat ini perkembangan dakwah sunnah sangat mengkhawatirkan mereka.

[1] Ini merupakan taqiyah mereka karena taqiyah adalah bagian dari agama mereka. Mereka mengatakan bahwa “Taqiyah (bohong) adalah agama kami.” Para pembaca dapat meruju’ ke muqodimah yang sangat berharga oleh al-imam as-salafi Muhibbudien al-Khatib dalam muqodimahnya terhadap kitab Adz Dzahabi yang meringkas kitab gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Minhâjus Sunnah” dengan judul al-Muntaqa’
[2] Jangankan pemerintah bahkan sebagian besar tokoh agama pun tidak paham
[3] Untuk lebih mengetahui masalah ini, para pembaca bisa meruju’ ke kitab Prof. Ihsan Ilahi Dzhahir yang berjudul “Syiah dan Ahlul Bait”. Sebuah kitab yang sangat menarik karya seorang alim yang mengetahui tentang ajaran Syi’ah
[4] Para pembaca yang terhormat dapat merujuk kepada buku ustadz Ibnu Saini yang telah menulis dan menyingkap masalah sebenarnya tentang hal ini
[5] Dan faktanya, kaum Muslimin memang sangat awam sekali terhadap kitab-kitab tafsir. Oleh karena, seyogyalah kaum Muslimin, para tokohnya, asatidzah, dan pelajar meninggikan kitab-kitab tafsir ahlu sunnah yang berjalan diatas manhaj salafus shalih seperti tafsir al-Imam ath-Thabari, tafsir al-Haafidz Ibnu Katsir atau kitab tafsir sebelumnya yaitu tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

(Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII) dipublikasikan oleh www.salafiyunpad.wordpress.com


source 1 

source home 

RUKUN HIKMAH


Ilmu al-Hilmu at-ta’anni

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Allah Ta'ala berfirman :

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (al-Baqarah: 269)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “(Dalam ayat-ayat yang sebelumnya) Allah memerintahkan beberapa hal besar yang mengandung banyak rahasia dan hikmah yang mulia.Tidak setiap orang bisa mendapatkannya. Yang bisa mendapatkannya hanyalah orang-orang yang diberi karunia hikmah oleh Allah Ta'ala. Hikmah yang dimaksud di sini adalah ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, serta pengetahuan tentang rahasia kandungan syariat dan hikmahnya. Barang siapa dikaruniai hikmah ini oleh Allah, sungguh Dia telah mengaruniakan banyak kebaikan kepadanya. Termasuk kebaikan yang paling agung yang mengandung kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.”

Tentang rukun hikmah, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Hikmah memiliki tiga rukun :

ilmu, al-hilmu (santun), dan al-anah (tidak tergesa-gesa).
Lawan-lawannya adalah al-jahl (kebodohan), ath-thaisy (ngawur, bertindak serampangan), dan al-’ajalah (tergesa-gesa bertindak). Jadi,orang yang bodoh dan tidak berilmu tidak bisa memiliki sifat hikmah. Demikian juga orang yang bertindak serampangan dan orang yang tergesa-gesa bertindak.” (Madarijus Salikin,2/480)

Dari pernyataan al-Allamah Ibnul Qayyim tersebut, rukun hikmah dapat kita rincikan sebagai berikut.

1. Ilmu

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam Kitabul ‘Ilmi (hlm. 13), “Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu tentang al- bayyinah (penjelasan) dan al-huda (petunjuk) yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya n. Hal ini karena ilmu tersebutlah yang mendapatkan pujian dan sanjungan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

“Sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya berarti ia tela mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu ad-Darda ) Ilmu tentang Al-Kitab dan As-Sunnah adalah rukun hikmah yang paling pokok. Oleh karena itulah, Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk berilmu dahulu sebelum berbicara dan beramal.

Allah Ta'ala berfirman :

“Maka ilmuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab khusus tentang hal ini dalam kitab Shahih-nya karena kandungan mulia yang ada dalam ayat di atas. Beliau memberi judul bab tersebut dengan nama “Bab Ilmu sebelum berbicara dan beramal.”

Dalam ayat di atas, Allah Ta'ala memerintahkan dua hal penting kepada Nabi-Nya, yaitu berilmu kemudian beramal. Allah mengawali perintah-Nya dengan ilmu :

“Maka ilmuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah.” (Muhammad: 19)

Perintah tersebut disusul oleh perintah-Nya untuk beramal dalam firman-Nya :

“… dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad : 19)

Hal ini menunjukkan bahwa ilmu lebih didahulukan daripada amal dan ilmu adalah syarat untuk meluruskan perkataan dan amalan. Artinya, keduanya (perkataan dan amalan) tidak bermakna melainkan jika dilandasi oleh ilmu. Oleh karena itu, ilmu didahulukan daripada perkataan dan amalan, karena ilmu akan meluruskan niat dan niat akan meluruskan amalan. (Hasyiyah Tsalatsatil Ushul, hlm. 15)

Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya yang mulia sering memberi motivasi kepada kita untuk berilmu. Di antara ayat-ayat tersebut adalah :

Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar: 9)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (al- Mujadilah: 11)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Dalam sunnah yang mulia, Rasulullah n juga memberikan dorongan kepada umatnya untuk menuntut ilmu. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut :

“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya, Dia akan memahamkannya tentang agama.” (Muttafaqun ‘alaih dari Mu’awiyah )

“Barang siapa menempuh sebuah jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ) Untuk lebih meyakinkan kita tentang kemuliaan ilmu, mari kita perhatikan akibat yang ditimbulkan oleh kebodohan, baik yang menimpa diri sendiri maupun orang lain.

Rasulullah mengabarkan :

“Sungguh, Allahl tidak mencabut ilmu dari manusia dengan sekali ambil dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika Dia tidak menyisakan lagi seorang alim pun di bumi, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka lalu ditanya dan memberi fatwa tanpa ilmu. Mereka pun sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash )

Syaikhul Islam mengatakan, “Tidaklah engkau dapati seorang pun yang jatuh dalam perbuatan bid’ah melainkan karena kekurangannya dalam mengikuti sunnah, baik secara ilmu maupun amal. Bagaimana tidak. Jika seseorang mengilmui sunnah dan mengikutinya maka tidak ada yang mendorongnya untuk mengikuti bid’ah. Yang terjatuh dalam bid’ah hanyalah orang-orang yang jahil (tidak mengetahui) sunnah.” (Syarh Hadits La Yazni, hlm. 35)

Al-Imam asy-Syaukani berkata, “Kecenderungan kepada pendapat-pendapat yang batil bukanlah sikap ahli tahqiq (para peneliti) yang memiliki pengertian yang sempurna, pemahaman yang kuat, kelebihan dalam penelitian,dan kesahihan dalam pengambilan riwayat. Sifat itu adalah sikap orang yang tidak memiliki bashirah (ilmu dan keyakinan) yang berjalan dan pengetahuan yang bermanfaat.” (Adab ath-Thalab,hlm. 40)

Rukun yang pertama ini sangat dibutuhkan dalam berdakwah. Terkadang kemuliaan dan keagungan dakwah salafiyah tercoreng oleh tindakan para penyusup tak berilmu yang menyelinap ke medan dakwah.

Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan, “Tidak ada penyakit yang lebih membahayakan ilmu dan ahli ilmu daripada para penyusup. Mereka bukan ahli ilmu. Mereka adalah orang-orang jahil yang meyakini dirinya berilmu. Mereka adalah para perusak (dakwah) yang meyakini dirinya sebagai orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (al-Akhlaq was Siyar, hlm. 91)

Ketika al-Imam asy-Syaukani t menyebutkan biografi Ali bin Qasim dalam al-Badr ath-Thali’ (1/473), beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan, “Di antara pendapat bagus yang saya dengar dari beliau adalah bahwa umat manusia (kaum muslimin, -pen.) terbagi menjadi tiga tingkatan.

a. Tingkatan yang tinggi (ath-thabaqat al-’ulya)

Mereka adalah para ulama besar yang mengilmui mana kebenaran dan kebatilan. Apabila mereka berbeda pendapat, tidak akan menimbulkan berbagai fitnah disebabkan pengetahuan mereka terhadap ilmu yang dimiliki oleh masing- masing mereka.

b. Tingkatan yang rendah (ath- thabaqat as-sufla)

Mereka adalah orang-orang awam yang berada di atas fitrahnya. Mereka tidak akan lari dari kebenaran (ketika kebenaran itu datang). Mereka adalah orang-orang yang mengikuti (para pembimbing mereka). Apabila pembimbingnya adalah orang yang mengikuti kebenaran, mereka pun akan mengikuti kebenaran tersebut.

Sebaliknya, apabila pembimbingnya adalah orang yang mengikuti kebatilan niscaya mereka akan mengikutinya dalam kebatilan tersebut.

c. Tingkatan yang pertengahan (ath-thabaqat al-wustha)

Inilah tingkatan yang menjadi sumber fitnah. Berbagai fitnah yang muncul dalam agama, merekalah sumbernya. Mereka adalah orang-orang yang belum mapan keilmuannya. Seandainya keilmuan mereka mapan, tentu mereka akan naik ke tingkatan yang tinggi. Di sisi lain, mereka juga tidak meninggalkan ilmu seluruhnya sehingga tidak dapat digolongkan sebagai tingkatan yang rendah.

Apabila mereka mendengar seorang alim (dari tingkatan yang tinggi) berpendapat tentang suatu masalah yang tidak bisa dicapai oleh ilmu mereka, mereka akan tergelincir. Mereka akan segera menegur orang alim tersebut dengan keras. Bisa jadi, mereka mengeluarkan ucapan-ucapan yang keji terhadap diri si orang alim. Akibatnya, mereka merusak fitrah orang-orang yang berada di tingkatan yang rendah sehingga tidak mau menerima kebenaran karena adanya gambaran-gambaran yang batil/keliru. Ketika hal ini terjadi, muncullah berbagai fitnah dalam agama.

Al-Imam asy-Syaukani mengomentari pendapat Ali bin Qasim di atas, “Inilah makna ucapan yang kami dengarkan dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Apa yang beliau katakan sungguh tepat. Barangsiapa yang memerhatikan keadaan umat dengan baik niscaya akan mendapatkan kenyataan sebagaimana yang beliau ungkapkan.”

Al-Imam Ibnul Jauzi berkata, “Urusan yang paling utama adalah membekali diri dengan ilmu karena barangsiapa merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, dia akan merasa yakin bahwa keilmuannya akan mencukupinya. Akibatnya, dia menjadi keras kepala. Dia akan menjadi orang yang membanggakan dirinya sendiri.Akhirnya, dia tidak ma mengambil faedah ilmu dari orang lain. Dia juga tidak mau bermudzakarah (mengulang pelajaran ilmu) dengan orang lain, padahal hal ini bisa menunjukkan kesalahan (atau kekurangannya).” (Shaidul Khathir, hlm. 158)

2. Al-hilmu (santun)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Al-hilmu adalah seseorang mampu mengendalikan diri ketika marah. Ketika marah, dia tetap bersikap santun meskipun dia mampu melampiaskan kemarahannya. Dia tidak mengikuti nafsu amarahnya dan tidak pula tergesa-gesa melampiaskannya.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/285)
Allah l memuji hamba-hamba-Ny yang memiliki sifat yang mulia ini dalam firman-Nya :

“… Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan di ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

Rasulullah bersabda :

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah rahimahullah ) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri telah memberikan teladan dalam mempraktikkan sikap santun.

Diantara yang bisa kita sebutkan adalah :

a. Ibnu Mas’ud rahimahullah menceritakan bahwa seusai perang Hunain, Rasulullah membagikan ghanimah (harta rampasan perang). Beliau melebihkan pembagian kepada beberapa orang. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam memberikan seratus ekor unta kepada al-Aqra’ bin Habis, sejumlah itu pula kepada ‘Uyainah. Beliau juga memberikan bagian ghanimah kepada pemuka orang-orang badui lebih dari yang lain. Ada seseorang yang berkomentar, “Demi Allah, sungguh pembagian ini tidak adildan tidak ikhlas karena Allah Ta'ala.”

Ibnu Mas’ud lalu berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan melaporkan ucapan ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.” Dia kemudian mendatangi Rasulullah dan memberitahukan ucapan tersebut kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau lalu berkata :

“Siapa lagi yang mampu berbuat adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak berbuat adil ? Semoga Allah merahmati Abu .Sungguh dia telah disakiti (oleh kaumnya) lebih daripada ucapan ini, tetapi dia bersabar.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Kisah ini adalah sebuah bentuk al-hilmu (kesantunan) yang agung dalam berdakwah kepada (jalan) Allah. Kebijaksanaan beliau mengharuskan ghanimah dibagi kepada beberapa orang muallaf.

Adapun para sahabat yang hatinya penuh dengan keimanan beliau menyerahkan mereka kepada keimanan mereka.” (Fathul Bari, 8/49)

b. Anas bin Malik mengatakan, “Aku berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam memakai burdah dari Najran yang tebal dan kasar. Tiba-tiba ada seorang badui menemui beliau dan menarik burdah beliau n dengan keras hingga membekas di pundak beliau . Orang itu lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, berilah aku sebagian harta Allah yang ada padamu!’ Beliau shallallahu 'alaihi wasallam lalu menoleh kepadanya sembari tertawa dan memberikan sesuatu kepadanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rmenga akan, “Ini termasuk sikap santun beliau yang menakjubkan dan kesempurnaan akhlak beliau. Ini adalah sikap
pemaafan dan kesabaran beliau menghadapi ujian dan cobaan pada jiwa dan harta. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak membalas sikap kasar dari orang yang beliau n harapkan masuk Islam. Hendaknya para dai dan pemimpin sepeninggal beliau shallallahu 'alaihi wasallam meneladaninya.” (Fathul Bari,10/507)

c. Salah satu sikap santun beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah tidak mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang menyakiti beliau padahal beliau sangat mampu melakukannya. Allah Ta'ala pun akan mengabulkannya. Akan tetap beliau n dengan sifat santunnya justru mengharapkan keislaman mereka atau anak keturunan mereka. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu mengatakan :

“Seakan-akan aku melihat Rasulullah n sedang menceritakan seorang nabi dari para nabi alaihissalam yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah. Nabi sahallallahu 'alaihi wasallam tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui’.” (Muttafaqun alaih)

Dalam sebuah hadits yang panjang disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada malaikat Jibril 'alaihissalam :

“Aku justru mengharapkan Allah Ta'ala akan mengeluarkan dari tulang-tulang sulbi mereka sebuah generasi yang beribadah kepada Allah Ta'ala semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Muttafaqun ‘alaih dari Aisyah radhiyallahu 'anha )

3. At-ta’anni (tidak tergesa-gesa bertindak)

At-ta’anni adalah memperjelas permasalahan dan tidak tergesa-gesa (bertindak). (al-Mishbah, 1/28) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “At-ta’anni dalam berbagai urusan dan tidak tergesa-gesa adalah seseorang tidak mengambil sikap hanya berdasarkan lahiriahnya lalu tergesa-gesa membuat keputusan. Dia langsung mengambil keputusan sebelum memperjelas dan meneliti masalah.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/285)

Dalam banyak firman-Nya, Allah Ta'ala memerintah hamba-hamba-Nya untuk bersikap at-ta’anni dalam berbagai urusan.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (al-Hujurat:6)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepadamu, ‘Kamu bukan seorang mukmin’ (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak.

Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (an-Nisa: 94)

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Demikian pula tarbiyah yang diberikan oleh Rasulullah n kepada umatnya. Beliau membimbing umatnya untuk bersikap tenang dalam berbagai urusan, terlebih dalam hal ibadah. Beliau n bersabda:
“Apabila shalat telah ditegakkan, janganlah kalian mendatanginya sambil berlari.Datangilah dengan berjalan.Wajib bagi kalian untuk tenang.

Apa yang kalian dapatkan dalam shalat itu, shalatlah. Adapun yang kalian tertinggal darinya maka sempurnakanlah.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah )

Sebagian salaf berkata, “Janganlah kalian tergesa-gesa,karena sikap tergesa-gesa itu dari setan.”

‘Amr bin al-’Ash berkata, “Seseorang senantiasa akan menuai penyesalan dari ketergesa-gesaannya.”

Sebagai penutup, kita memohon kepada Allah saja agar memberi kita karunia hikmah dalam seluruh urusan kita.

Sungguh Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar danMe ngabulkan permohonan hamba-hamba-Nya.

Aamiin.

sumber : http://asysyariah.com/rukun-hikmah-ilmu-al-hilmu-at-taanni.html

semoga bermanfaat


source