KEGAGALAN DALAM MEMBEDAKAN :
by : Ukh Orcela Puspita -Hafizhahallah-
Wahabi-Salafy,
Osama Bin Laden,
Sufi-Thaliban
dan Pengikut Sayyid Qutb
Penulis Haneef James Oliver
Osama bin Laden “Wahhabi” ?
Pada tanggal 30 September 2001,
Seorang analis Timur Tengah dari kantor berita BBC, Roger Hardy,
menulis satu artikel yang berjudul “Di Dalam Islam ‘Wahhabi’.” Hardy
sendiri menulis bahwa istilah “Wahhabi” seringkali disalahgunakan untuk
tujuan menghina.
“Istilah ‘Wahhabi’ seringkali digunakan secara
bebas. Media Rusia, sebagai contoh, menggunakan istilah tersebut untuk
mencela aktivis Islam di Asia Tengah dan Kaukasus sebagaimana mereka
mencela muslim di negara mereka, namun media Barat menggunakan istilah
yang samar dan bersifat menghina, yaitu ‘Islam Fundamental’.”
Akan Tetapi,
amat disayangkan, Hardy terjatuh pada kesalahan yang sama dalam
menggunakan istilah ini ketika ia menyatakan bahwa Osama bin Laden
adalah seorang “Wahhabi.”
“Osama bin Laden, divonis secara
resmi oleh Amerika Serikat sebagai tersangka utama di balik serangan 11
September terhadap Amerika, dia adalah seorang kelahiran Saudi dan
Seorang ‘Wahhabi’.”
Kesalahan tersebut adalah persangkaannya bahwa karena :
Osama dilahirkan di Arab Saudi, maka ia seorang “Wahhabi.”
Padahal, ini adalah kesimpulan dangkal yang telah seringkali disebutkan di media—dan layak untuk dibantah.
Hubungan Bin Laden dengan Sufi
Osama bin Laden datang dari satu keluarga Yaman di Hadramaut, sebuah
daerah pantai di Yaman yang sudah diketahui secara umum sebagai basis
satu kelompok sempalan dalam Islam yang dikenal dengan sebutan Sufi.[1]
Secara ringkas, ajaran sufi bisa disebut sebagai lawan yang pas untuk
“Wahhabi.”
Bin Laden sendiri tidak terlalu peduli dengan keyakinan yang berbeda. Beberapa pernyataannya menunjukkan bahwa :
ia masih melakukan praktek-praktek ajaran Sufi tertentu.
Dia pun menjadikan Taliban sebagai teman dekat dan pelindungnya.
Telah diketahui secara umum bahwa mayoritas dari kelompok ini adalah penganut tarekat Sufi Deobandi.
Bagaimana pun, ada kontradiksi antara anggapan bahwa Osama bin Laden
adalah pelaku praktek-praktek Sufi dan pengakuannya bahwa dia bukanlah
seorang Sufi. Terlepas dari itu semua, Bin Laden memperlihatkan bahwa :
dia tidak terlalu peduli dengan permasalahan keyakinan dan ibadah—yang
orang-orang “Wahhabi” sangat menaruh perhatian dalam hal ini.
Hal tersebut karena kelompok Osama bin Laden tidak membedakan antar keyakinan, selama mereka berada di barisan yang sama.
Kesalahan penggunaan istilah lainnya yang seringkali diulang di
kebanyakan media adalah pendapat bahwa Taliban adalah “Wahhabi.” Pada
tanggal 10 Desember 2001, Ron Kampeas menulis di Washington Post,
“‘Wahhabi’ adalah satu keyakinan puritan yang menolak perubahan, salah
satu bentuk Islam yang menyetir Taliban.”
Faktanya,
ini
adalah ketidakakuratan yang sangat besar dan mengindikasikan bahwa
mereka yang mengulang-ulang klaim seperti ini telah melakukan pendekatan
kepada sesuatu yang kompleks dengan cara sederhana.
Meskipun
dalam artikel Roger Hardy dari BBC terdapat kesalahan pada pernyataan
yang menyatakan bahwa Osama adalah seorang “Wahhabi,” dia tidak seperti
Kampeas—yang tetap mengulang-ulang kesalahan ini—saat mengalamatkan
(Taliban) kepada tarekat Sufi Deobandi.
“Tapi Taliban bukanlah ‘Wahhabi.’
Mereka diketahui sebagai tarekat Deobandi; dinamakan sebagai Deobandi
sebagai nisbat kepada suatu kota kecil, Deoband, Himalaya, India. Di
sinilah gerakan tersebut didirikan, pada tahun 1860-an di masa
pendudukan Inggris.”
Pada 9 November,
Hamid Mir dari harian Pakistan, The Dawn, mewawancarai Osama bin Laden, sesaat setelah Kabul jatuh.
Hamid Mir :
“Setelah pengeboman Amerika ke Afghanistan pada 7 Oktober, anda
mengatakan kepada TV Al-Jazeera bahwa serangan 11 September dilakukan
oleh sebagian muslim. Bagaimana anda mengetahui bahwa mereka adalah
muslim?”
Bin Laden:
“Amerika sendirilah yang menyebarkan
daftar tersangka 11 September. Mereka mengatakan bahwa nama-nama mereka
terlibat dalam serangan tersebut. Mereka semua adalah muslim. 15 di
antara mereka diketahui berasal dari Arab Saudi, 2 dari Uni Emirat Arab
(UEA) dan 1 dari Mesir. Berdasarkan informasi yang penulis miliki,
mereka semua adalah penumpang. Al-Fatihah telah dibacakan untuk mereka
di rumah-rumah mereka. Namun Amerika mengatakan bahwa mereka adalah
pembajak.”
Maksud pernyataan bin Laden “Al-Fatihah telah dibacakan untuk mereka di rumah-rumah mereka” adalah :
pembacaan surat pembuka dalam Al-Qur’an untuk jiwa-jiwa yang telah meninggal—praktek yang umum dilakukan oleh kaum Sufi.
Perbuatan yang seperti ini tidak ada dasarnya dalam Islam, baik dari
Al-Qur’an maupun As-Sunnah atau pun contoh perbuatan dari generasi
pertama Islam. Atau lebih tepatnya, ini adalah praktek bid’ah yang
dibuat-buat oleh orang-orang Sufi.
Pernyatan tersebut mengindikasikan bahwa :
Osama bin Laden tidak memiliki pengetahuan tentang Islam.
Jika demikian, bagaimana bisa ia diidentikkan dengan prinsip dan praktek-praktek “Wahhabi”?
Bin Laden Adalah Seorang Quthb i[2]
Berkat kemakmuran yang dihasilkan oleh perusahaan Bin Laden,[3] Osama
bin Laden menggunakan uang keluarganya untuk hidup bebas dengan gaya
hidup yang serba luks. Karena hal ini,
dia tidak pernah duduk dengan ulama “Wahhabi,” sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu atau tekun dalam mempelajari akidah Islam.
Ketidaktahuannya terus berlanjut,
bahkan, setelah menjadi seorang yang religius dan berangkat ke
Afghanistan—bertempur dengan Uni Soviet. Kenyataan bahwa ia gagal dalam
mengambil manfaat dari belajar di bawah pengawasan para ulama di Arab
Saudi membuatnya mencampuradukkan pemikiran Quthbi baru yang sedang naik
daun.
Pada akhirnya,
dia benar-benar menolak metode
“Wahhabi” dan mengeluarkan orang banyak dari lingkaran Islam. Oleh
karena itu, bagaimana bisa dikatakan bahwa Osama bin Laden adalah
seorang “Wahhabi”?
Pada akhirnya,
Osama bin Laden dan Al-Qaeda-nya bukanlah “Wahhabi,” tetapi Quthbi.
Melihat urgensi hal ini, Robert Worth dari New York Times mengatakan,
“Tapi jika ada satu orang yang layak disebut sebagai bapak intelektual
Osama bin Laden dan teman-teman terorisnya, mungkin ia adalah seorang
penulis dan aktivis Mesir: Sayyid Quthub.”[4]
Keberadaan Quthbiyah Sebagai Ideologi
Dalam sebuah artikel yang berjudul “Terror, Islam and Democracy,” Ladan dan Roya Boroumand menyatakan dengan tepat bahwa :
“kebanyakan kader muda Islam hari ini adalah intelektual dan pewaris
spiritual dari Quthbiyah, salah satu sayap dari gerakan Ikhwanul
Muslimin.”
Mereka berdua juga menyatakan,
“Saat
rezim otoriter dari Presiden Gamal Abdul Nasser menekan Ikhwanul
Muslimin pada tahun 1954 (yang pada akhirnya berakhir dengan
penggantungan Sayyid Quthub pada 1966), banyak dari mereka yang
mengasingkan diri ke Aljazair, Arab Saudi, Irak, Suriah dan Maroko. Dari
sana, mereka menyebarkan pemahaman revolusi Islam—termasuk alat-alat
pengorganisasian dan ideologi yang dipinjam dari pemahaman totaliter
Eropa.”[5]
Mengomentari hubungan yang berkembang antara
ideologi revolusi Eropa dengan doktrin Quthbiyah, John Gray dari The
Independent berargumen dalam sebuah artikel berjudul “How Marx Turned
Muslim” bahwa :
Quthbiyah bukanlah berasal dari tradisi Islam,
tapi jauh lebih berakar di dalam sumber pemikiran Eropa.
Dia menjelaskan bahwa :
Sayyid Quthub “Menyatukan banyak unsur yang diambil dari ideologi yang
berasal dari Barat[6] ke dalam pemikirannya.” Quthbiyah juga dapat
dilihat sebagai “campuran eksotis, hasil kawin silang, dalam pertemuan
antara ideologi radikal Eropa dengan intelektualitas Islam.”[7]
Gray menjelaskan bahwa :
Quthbiyah adalah gerakan revolusioner modern dan tidak merepresentasikan bentuk asli dari Islam yang sebenarnya.
“Inspirasi dari pemikiran Quthbi tidak banyak yang berasal dari
Al-Qur’an, tapi cenderung kepada pemikiran Barat yang berasal para
pemikir mereka seperti Nietzsche,[8] Kierkegaard[9] dan Heidegger[10].
Pemikiran Quthbiyah—yang merupakan bingkai pemikiran untuk pengembangan
politik dan teologi Islam radikal—adalah respon terhadap pengalaman
Eropa pada abad ke-20 berupa ‘the death of God‘[11] yang merupakan
sesuatu yang besar dalam tradisi Islam.[12] Quthbiyah sama sekali tidak
tradisional. Seperti semua ideologi fundamentalis,[13] ini tidak salah
lagi sangatlah modern.”[14]
Berbicara tentang hubungan yang
tidak terbantahkan lagi dan betul-betul ada antara Bin Laden dengan
Quthbiyah, Amir Taheri dari Arab News mengatakan,
“Pada saat ini, Maududiyah-Quthbiyah[15] menyediakan sebuah ideologi yang Bin Laden bisa tumbuh di dalamnya.” [16]
Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, ulama salaf yang diketahui telah
menulis beberapa buku bantahan terhadap kesalahan-kesalahan Sayyid
Quthub, menyimpulkan tentang Quthbiyah sebagai berikut.
“Quthbi
adalah para pengikut Sayyid Quthub. Segala yang kalian lihat berupa
kesengsaraan, pertumpahan darah dan masalah-masalah yang terjadi pada
dunia Islam hari ini adalah berasal dari metode (orang ini).”[17]
Sebuah Kegagalan dalam Membedakan
Pada tanggal 26 Oktober 2001,
The Guardian mencetak sebuah laporan berjudul “Salafee Views Unite
Terror Suspects: The Binding Tie” yang dibuat oleh John Hooper dan Brian
Whitaker. Mereka mengklaim, “Beragam kelompok teroris yang melancarkan
serangan 11 September 2001 terlihat menganut dasar pondasi yang sama
dengan Salafi dalam menginterpretasikan Islam.”
Dengan kelicikan untuk :
mencoba menghubungkan antara metodologi Al-Qaeda dengan “Wahhabi,”
mereka melaporkan sebuah laporan yang menyesatkan sebagai berikut,
“Para penyelidik yang memburu jaringan Osama Bin Laden telah menemukan
bahwa seluruh tersangka teroris yang ditangkap di Eropa dalam 10 bulan
terakhir mengikuti kelompok Salafi dalam menafsirkan Islam.”
Selanjutnya,
mereka menghubung-hubungkan interpretasi Islam seperti ini dengan
keyakinan yang dihasilkan dari wilayah Arab Saudi dan
institusi-institusi pendidikannya.[18]
“Hubungan antara Salafi
dengan jaringan teroris Bin Laden akan amat sangat mempermalukan Arab
Saudi, sedangkan keluarga Kerajaan Arab Saudi telah menginvestasikan
jumlah yang tidak sedikit untuk menyebarkan manhaj salaf. Pusat untuk
pendidikan dan pengekspor pemikiran Salafi adalah Universitas Islam
Madinah, Arab Saudi, yang didirikan oleh rajanya pada 1961 ‘untuk
menyampaikan pesan abadi Islam ke seluruh dunia’.”
Jika saja
John Hopper dan Briant Whitaker meneliti asal mula dari ideologi
Al-Qaeda—seperti diungkapkan sebelum ini—yang dibentuk atas dasar :
tulisan tangan Sayyid Quthub—seorang warga Mesir dan bukan Arab Saudi,
maka pembaca mereka akan mendapat manfaat yang berlipat-lipat.
Jika saja
mereka meneliti subjek ini dengan hati-hati, mereka akan mengetahui bahwa :
apa yang diajarkan secara resmi di Universitas Islam Madinah adalah
analisis mendalam tentang kekeliruan sistem kepercayaan Khawarij.
Para pelajar di Universitas Islam Madinah belajar dari
pengajar-pengajar yang telah disebutkan sebelumnya, (seperti) Syaikh
Muhammad bin Hadi’ Al-Madkhali.
Jadi,
jelas
permasalahan ideologi teroris kontemporer bukan berasal dari keyakinan
Salafi, baik mereka itu berasal dari Arab Saudi atau pun bukan, baik
dari dunia muslim itukah atau bukan.
Media dan para pemikir Barat
telah gagal untuk membedakan antara Islam yang murni, Ahlus-Sunnah,
dengan gerakan revolusioner abad ke-20: Quthbiyah—yang itu adalah metode
Khawarij yang dibangkitkan kembali.
Akan menjadi lebih
akurat, bagi Hooper dan Whitaker, bila mengatakan bahwa semua gerakan
Islam pada hari ini, yang keras atau pun tidak, bersumber dari :
Hasan Al-Banna,
Abul A’la Al-Maududi
dan Sayyid Quthub.
Tidak ada dari orang-orang ini yang merupakan ulama Islam, tapi,
mereka adalah orang yang pada masa kini diistilahkan sebagai “pemikir
Islam.” Selain itu, Hasan Al-Banna[19] dan Sayyid Quthub adalah penganut
ajaran Sufi, bukan ajaran Salaf.
Singkatnya,
Osama
bin Laden dan Al-Qaedanya memiliki lebih banyak ikatan emosional dengan
para orientalis dan media, ketimbang kepada kambing hitam media: Salafi.
Meskipun para Quthbi yang datang dari semenanjung Arab masih
bertahan dengan pengakuan bahwa mereka itu Salafi atau mengutip salah
satu isi perkataan ulama Ahlus-Sunnah, Salafi, sumber penyimpangan
mereka tetap berasal dari :
- keyakinan Khawarij,
- Mu’tazilah
- dan Sufi dari negeri-negeri muslim melalui orang-orang seperti Sayyid Quthub.
»Kelompok Salafi berlepas diri dari orang-orang seperti Sayyid Quthub dan Osama bin Laden.
وَمِنَ الإِبْلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ
حَرَّمَ أَمِ الأُنثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ
الأُنثَيَيْنِ أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ وَصَّاكُمُ اللّهُ بِهَـذَا
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِباً لِيُضِلَّ النَّاسَ
بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah
dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang
ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu
Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih lalim daripada
orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan
manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang lalim.” (Q.S. Al-An’am [6]:144).
SUMBER :
Naskah pracetak Buku VIRUS WAHABI (Mitos Negatif Bagi Salafi) , Penerbit Too Bagus Publishing Bandung, 2010 untuk http://kaahil.wordpress.com/
===
●[1]
Ajaran sufi tidak dikenal pada masa Rasulullahn dan para sahabatnya.
Tidak pula diketahui pada masa tiga generasi awal umat Islam. Sufi
pertama kali muncul di Bashrah, Irak, saat semua orang berlebihan dalam
beribadah dan menghindari kehidupan dunia—sesuatu yang telah
diperingatkan dalam Al-Qur’an,
“Dan mereka mengada-adakan kehidupan rahib, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka.” (Q.S. Al-Hadiid [57] : 27).
Sufi adalah :
salah satu madzhab yang terpengaruh oleh pemikiran yang percaya bahwa
ilmu dan keselamatan dibawa oleh jiwa melalui pelatihan spiritual.
Ahlus Sunnah percaya bahwa :
ilmu yang benar dan keselamatan bisa dicapai melalui ibadah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Para Sufi percaya bahwa :
syaikh mereka juga dapat dijadikan rujukan dalam masalah ibadah.
Mereka akan memerintahkan untuk melakukan suatu ibadah yang tidak ada
dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Orang yang ekstrem di kalangan
mereka seringkali mengaku-aku bahwa Allah berada di dalam salah satu
ciptaanNya (seperti dalam hati manusia). Secara terus-menerus, mereka
menganggap atribut dan kekuatan yang ada pada syaikh Sufi mereka adalah
milik Allah, seperti kekuatan untuk melihat yang gaib. Mereka seringkali
mengaku bahwa dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah makna kulit,
makna lahir, sama baiknya dengan makna yang lebih dalam, makna batin.
Mereka yang memegang makna kulit, makna lahir, adalah mereka yang
diketahui mempraktekkan Islam Ahlus Sunnah. Makna mendalam, makna batin,
dari Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya diketahui oleh mereka. Syaikh-syaikh
ini seringkali mengaku, karena mereka telah memahami makna dalam dan
makna batin, maka mereka tidak perlu lagi untuk shalat, puasa, atau apa
pun—yang bahkan Rasulullahn tidak mendapat keringanan dalam hal-hal
semisal itu.
●[2]
Quthbi adalah mereka yang mengikuti dan
menganut pemikiran Sayyid Quthub, seorang dai modern berpemikiran
revolusioner. Ideologi mereka diistilahkan dengan Quthbiyah.
●[3]
Adalah Muhammad bin Awad bin Laden, pendiri Saudi Bin Laden Group. Pada
tahun 1931, ia mendirikan perusahaan konstruksi untuk kepentingan
pembangunan jalan-jalan di beberapa kota di Kerajaan Arab Saudi. Bermula
dari pembangunan jalan-jalan itu, perusahaan ini terus merambah ke
berbagai hal di bidang konstruksi bangunan, sampai kemudian publik
mengenalnya sebagai satu perusahaan favorit sang raja Saudi; Muhammad
bin Laden menjadi kontraktor favorit raja Abdul Aziz bin Saud, pendiri
Kerajaan Arab Saudi modern. Salah satu proyek prestisius perusahaan Bin
Laden ini adalah renovasi Masjid Al-Harom pada tahun-tahun 70-an, abad
20 kemarin. (Ed.)
●[4]
Robert Worth, “The deep intellectual roots of Islamic Terror,” The New York Times, 13 Oktober, 2001.
●[5]
Ladan dan Loya Boroumand, “Terror, Islam and Democracy,” The Journal of Democracy, April 2002.
Catatan:
Sejak Ladan dan Laya Boroumand menghubungkan Quthbiyah dengan
Totaliterisme Eropa dengan benar, maka dapat kita katakan bahwa tidak
benar orang-orang tersebut (baca: Quthbi) disebut sebagai Islamis.
Bahkan, lebih tepat untuk menjuluki mereka sebagai aktivis muslim.
Meskipun mereka itu muslim, ideologi revolusioner mereka tidak dapat disandarkan kepada Islam.
●[6]
Berkaitan dengan pengaruh Eropa terhadap para pengikut Quthub, Robert
Worth dari The New York Times mencatat bahwa ini “sebagaimana Fathi
Yakan, salah satu murid Quthub, yang pada tahun 1960 menulis, ‘Peletak
dasar revolusi Perancis diletakkan oleh Rousseau, Voltaire dan
Montesquieu. Rencana revolusi komunis terwujud berkat Marx, Engels dan
Lenin. Begitu juga pada kita’.” Robert Worth, “The Deep Intellectual
Roots of Islamic Terror,” The New York Times, 13 Oktober 2001.
●[7]
Pemikir-pemikir revolusioner seperti:
Abul A’la Al-Maududi,
Sayyid Quthub,
Hasan Turabi dari Sudan
dan pemikir berkebangsaan Iran, Ali Syariati,
dari sisi pemikiran, terpengaruh Barat setelah mereka menetap di
sana. Meskipun mereka menolak gaya hidup barat dan menyangkalnya, mereka
juga terpengaruh oleh hal itu, lalu memformulasikan ideologi reformasi
radikal. Mereka adalah orang-orang yang tidak banyak tahu soal Islam dan
akidahnya, kemudian mereka membuat pemikiran dan analisis politik
sebagai dasar akidah mereka sendiri serta “mengislamkannya.”
●[8]
Friedrich Nietzsche—seperti yang dikenal banyak orang—adalah salah
seorang pemikir Jerman yang paling berpengaruh terhadap pemikir-pemikir
Eropa pada abad ke-19. Lahir pada tahun 1844, ia tumbuh di bawah asuhan
ibunya. Dengan keadaan seperti itu, ia kemudian belajar di Universitas
Bonn dan Universitas Leipzig, di Jerman sekarang. Sekitar dekade 80-an,
abad 19, ia banyak menelurkan karya-karya tulis. Salah satu karyanya
yang banyak diterbitkan dan dibaca orang adalah Also Sprach Zarathustra.
Memperhatikan dan menyikapi rasionalitas orang-orang di Eropa dan
kaitan dengan agama mereka pada waktu itu, ia adalah orang yang pernah
menyimpulkan ke publik luas, “Tuhan telah mati.” Dalam karyanya yang
lain, Anti-Christ, nyata sekali kebenciannya terhadap agama Kristen.
Pada tahun 1889, akhirnya, ia menjadi gila. Meskipun gila, lewat
buku-buku yang ditulisnya, ia turut mempengaruhi Adolf Hitler sampai
mendorongnya melakukan pemusnahan massal orang-orang Yahudi pada Perang
Dunia II. Pada tahun 1900, dalam usia yang tergolong muda, ia meninggal
dunia. (Ed.)
●[9]
Lahir pada tanggal 5 Mei tahun 1813, ia
dikenal publik dengan nama Sǿren Kierkegaard. Ia adalah seorang pemikir
Denmark yang religius dan banyak mempengaruhi pemikiran tokoh-tokoh
filsafat Eropa. Banyak berkarya—sekitar 20 buku lebih dalam 14 tahun, ia
menerbitkan karya-karyanya tersebut dengan nama samaran (pseudonyms).
Kini, banyak kalangan yang mencoba (dan memang) mengaitkan filsafat
eksistensialisme dengan pemikiran filsafatnya. Pada tahun 1855, dalam
usia yang sangat muda, ia meninggal dunia. (Ed.)
●[10]
Lahir pada tahun 1889, Martin Heidegger dikenal sebagai seorang pemikir
Jerman yang berpengaruh pada abad ke-20 kemarin. Ia belajar di
Universitas Freiburg dan diangkat menjadi asisten Edmund Husserl—bapak
aliran filsafat fenomenologi. Heidegger sendiri mulai mengajar di
universitas pada tahun 1915. Kemudian, dari tahun 1923 sampai tahun 1928
ia pindah mengajar ke Universitas Marburg. Karena dukungannya terhadap
Adolf Hitler dan partai Nazinya, ia dipecat dari aktifitas mengajar.
Heidegger banyak berbicara tentang “ada.” Manusia, menurutnya, harus
mengerti tentang “ada,” sebab ini penting. Karena itu, fokus pandangan
filsafatnya adalah “ada” ini (Apa itu “ada”? Mengapa kita ada? Bagaimana
cara kita untuk ber-ada?). Ia kemudian meninggal dunia pada tahun 1976.
(Ed.)
●[11]
Bermula dari keinginan untuk memisahkan agama
dan politik, kemudian beralih untuk memisahkan antara agama dan sains,
orang-orang Eropa, pada abad ke-19 menyadari bahwa memang agama dan
sains tidak akan bisa bersatu, tidak akan berjalan selaras. Mereka yang
setuju akan pandangan ini menjadikan buku Charles Darwin (1809 – 1882),
The Origin of Species by Means of Natural Selection, sebagai bukti telak
dunia sains-ilmiah yang pertama akan anggapan ini. Karena itu, manusia,
menurut mereka, harus memilih salah satu: agama atau rasionalitas
sains. Orang-orang yang memilih rasio (akal), yang ternyata lebih
banyak, meyakini bahwa kebenaran adalah sesuatu yang dapat dibuktikan
dengan akal; rasionalitas adalah “agama” itu sendiri. Lebih dari itu,
mereka yakin bahwa hanya orang-orang dungu yang percaya kepada Tuhan.
Mereka menolak Tuhan atau—dengan meminjam kata-kata Nietzsche—mereka
telah membunuh Tuhan. “Kita telah membunuhNya,” tulis Nietzsche dalam
bukunya, The Gay Science, “kau dan aku—kita semua pembunuhNya.”
Ternyata, ketiadaan Tuhan tersebut, dan ini disadari oleh sebagian
mereka, pada satu titik tertentu, membuat semacam lubang kosong di dalam
diri-diri mereka, yang pada suatu waktu sebelum itu pernah diisi oleh
Tuhan. (Ed.)
●[12]
Konsep yang menyatakan kematian Tuhan
ini, baik itu secara tersurat atau pun tersirat, adalah sangat tidak
mungkin. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
“Dan bertawakkallah
kepada Allah yang hidup lagi tidak mati. Bertasbihlah dengan memuji-Nya.
Cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hambaNya.” (Q.S Al- Furqaan [25]
: 58).
●[13]
Akan terasa lebih tepat kalau Gray
mengatakan, “Seperti semua ideologi ekstrimis, tidak salah lagi ini
modern” daripada menggunakan kata yang bermakna ambigu “fundamentalis.”
●[14]
John Gray, “How Marx turned Muslim,” The Independent, 27 Juli, 2002.
●[15]
Taheri merujuk kepada hubungan antara Abul A’la Al-Maududi, “pemikir”
muslim Asia Selatan, dengan Sayyid Quthub, yang sangat terpengaruh oleh
tulisan-tulisan Al-Maududi. Berkenaan dengan hal ini, tentang Sayyid
Quthub The Telegraph menyatakan, “Penulis dan Pemikir Mesir, mengambil
ide Abul A’la Al-Maududi (1903 – 1979) yang menyatakan bahwa dunia
muslim kini telah kembali kepada masa jahiliyah yang tidak bertuhan.”
“A-Z of Islam,” The Telegraph, 15 November 2002.
●[16]
Amir Taheri, “Bin Laden no longer exist: Here is why,” The Arab News, 29 Agustus, 2002.
●[17]
Syaikh Rabi’ bin Hadi dalam “Imaam al-Albaanee dan Irjaa.” (sumber: 11 Januari 2002, Telelink dari Inggris,
www.salafipublications.com (Article ID: MSC060014)).
●[18]
Dalam sebuah wawancara yang berjudul “Arab Saudi’s Wahhabis Are Not
Spreading Intolerance,” The New Perspective Quarterly mewawancari Dr.
Khaled M. Al-Ankary—menteri pendidikan tinggi Arab Saudi dan ketua dari
Konferensi Islam untuk Pendidikan yang Lebih Tinggi. Ia ditanya,
“Banyak kritik yang menyatakan bahwa sejak pembajak-pembajak pesawat
dan pembom bunuh diri datang dari Arab Saudi, maka pasti ada sesuatu
dalam sistem pendidikan dan pengajaran yang mendasari mereka menjadi
teroris. Sebagai menteri yang bertanggung jawab atas pendidikan,
bagaimana anda menanggapinya?”
Dr. Al-Ankary menjawab dengan mengatakan,
“Apakah ada fakta statistik atau logis pada pendapat ini? Jika
seandainya ya, maka sistem pendidikan di Amerika Serikat juga perlu
untuk diperiksa karena kasus penembakan di Columbine atau bahkan di
Waco, Texas. Jika seandainya ya, maka sistem di Kerajaan Inggris perlu
untuk diubah karena IRA.”
Catatan:
Maksud Al-Ankary,
Al-Qaeda dan IRA sama-sama menjuluki diri mereka sendiri sebagai
“pejuang kebebasan” yang bertempur atas dasar agama. Kedua kelompok ini
jelas-jelas adalah organisasi teroris, namun tidak ada seorang pun yang
berbicara untuk mengganti dasar dari sistem pendidikan di Irlandia atau
mengubah agama, budaya dan masyarakat di sana.
“Arab Saudi Wahhabis Are Not Spreading Intolerance,” New Perspective Quarterly, Jilid 19 #2, Musim panas 2002.
[19]
Hasan Al-Banna (1906 – 1949),
seorang pemikir Sufi dan aktivis politik, adalah pendiri Ikhwanul-Muslimin.
Dia mengaku sendiri bahwa ia meluangkan waktu untuk mengunjungi
kuburan-kuburan dan tempat-tempat keramat dalam jangka waktu beberapa
minggu sekali yang kebanyakan perbuatan syirik dilakukan di sana.
Dalam bukunya, Mudhakkiratud-Da’wah, Al-Banna mengungkapkan daya
tariknya kepada ajaran Sufi; bagaimana ia menyertai aliran Sufi
Hasafiyyah dan bagaimana ia menyisihkan waktu yang banyak di tempat
keramat di Damanhur. Hasan al-Banna, Mudhakiratud-Da’wah, hal. 24-30.
Terjemah oleh: Salafi Publications.
Catatan:
Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub dan semua pengikut mereka jelas bukan “Wahhabi.”
link