Follow us on:
Keistimewaan 10 Shahabat Peraih Janji Surga.





bismillaah,

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Abu Bakar di Jannah (surga), Umar di Jannah, Ustman di Jannah, Ali di Jannah, Thalhah di Jannah, Zubair di Jannah, Abdurrahman bin ‘Auf di Jannah, Sa’d di Jannah, Sa’id di Jannah, dan Abu ‘Ubaidah di Jannah)) (HSR. Tirmidzi)

1. Keistimewaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu

Meraih keistimewaan menjadi shahabat pertama yang masuk islam dari kalangan laki-laki. Beliau juga shahabat dekat nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sebelum masa keislaman.
Meraih kemuliaan mendapatkan gelar Ash-Shiddiq dari Allah dan Rasul-Nya.
Meraih keistimewaan menjadi pendamping Nabi dalam menjalankan dakwahnya. Sehingga masuk islam melalui usaha beliau beberapa shahabat mulia, diantaranya adalah Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu.
Meraih keistimewaan Hijrah ke negeri Habasyah.
Meraih keistimewaan hijrah ke negeri Madinah bareng bersama Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Meraih keistimewaan berjihad dengan jiwa dan hartanya fii sabilillah.
Meraih keutamaan menjadi khalifah kaum muslimin yang lurus setelah wafatnya Rasulullah.
Meraih kemuliaan menjadi imam shalat menggantikan Rasul ketika beliau sakit.
Memberangkatkan pasukan Usamah untuk membuka negeri Syam karena menjalankan kehendak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di akhir hayatnya
Menumpas habis Ahlur Riddah (orang-orang yang murtad).
Memperluas daerah kekuasaan kaum muslimin sampai ke beberapa daerah di Iraq dan Syam. Radhiallahu ‘anhu.

2. Keistimewaan Umar bin Khattab

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berdo’a, “Ya Allah, Muliakanlah islam dengan salah satu dari dua Umar!”

Meraih kemuliaan Islam dengan do’a Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Meraih keistimewaan mendapatkan julukan ­Al-Faruq (pembeda), pembeda antara yang hak dan yang bathil.
Meraih keistimewaan mendapatkan julukan Al-Mulham (yang diberi ilham).
Meraih kemuliaan dan kesempatan menjadi mertua Nabi dari putrinya yang bernama Hafshah Radhiallahu ‘anha.
Meraih keutamaan jihad fii sabilillah bersama Rasul diberbagai medan pertempuran.
Meraih keutamaan menjadi khalifah kedua kaum muslimin yang lurus setelah Abu Bakar.
Beliau diberi anugerah menjadi khalifah yang adil, sehingga bertebaran keadilan dan keamanan pada masa kekhilafaannya.
Melanjutkan usaha Abu Bakar dalam menyebarkan islam sampai beliau berhasil menguasai sisa-sisa negeri syam, sebagian negeri Paris, Mesir, dan Baitul maqdis. Radhiallahu ‘anhu.

3. Kestimewaan Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam melalui usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu.
Meraih kemuliaan hijrah ke negeri Habasyah
Meraih kemuliaan hijrah ke negeri Madinah Nabawiyyah.
Meraih berbagai pujian dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Seorang pedagang jujur dan mulia, menginfakkan hasil perdagangannya di jalan Allah.
Meraih kemuliaan dan kesempatan menjadi menantu Rasulullah dengan dua puteri beliau, Ruqoyyah dan Ummu Kultsum karena sebab itulah beliau dijuluki Dzun Nurain.
Meraih janji surga dari Rasul yang tercantum dalam sabdanya, “barangsiapa yang membeli sumur Rumah untuk kepentingan kamu muslimin maka baginya surga.” Maka Utsman pun membelinya.
Meraih janji surga dari Rasul yang tercantum dalam sabdanya, “Barangsiapa yang membantu menyediakan perbekalan tentara ‘usrah maka baginya surga.” Maka Utsmanpun membantu menyiapkan perlengkapannya mereka. Peristiwa ini terjadi pada perang Tabuk.
Meraih kemuliaan menjadi khalifah kaum muslimin ketiga.
Beliau melanjutkan usaha khalifah sebelumnya dalam melakukan perluasaan daerah kekuasaan kaum muslimin baik di daerah timur dan barat.
Pada masa kekhilafaan beliau kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran Dzat Shawari sehinggal menjadikan daerah pesisiran milik kaum muslimin yang sebelumnya di bawah kekuasaan Romawi.
Pada masa kekhilafaan beliau sempurnalah pengumpulan alqur’an dan penyebarannya di berbagai negeri. Radhiallahu ‘anhu.

4. Keistimewaan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam dalam usianya yang sangat muda.
Meraih kemuliaan bermulazamah dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Meraih kemuliaan membantu dakwah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Meraih kemuliaan berjihad fii sabilillah bersama Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam disemua medan pertempuran kecuali perang Tabuk, itupun disebabkan karena Rasulullah menjadikannya sebagai pengganti beliau di Madinah.
Meraih kemuliaan menjadi menantu Rasul dari puterinya tercinta, Fathimah, pemimpin wanita penduduk surga.
Meraih kemuliaan dengan mendapatkan keturunan yang shalih, yaitu Al-Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kultsum, Radhiallahu ‘anhum.
Meraih kemuliaan menjadi khalifah keempat kaum muslimin setelah syahidnya khalifah Utsman bin ‘Affan.
Meraih kemuliaan menjadi shahabat yang ahli dalam bidang fiqih, fatwa, qadha’, beliau juga termasuk shahabat yang paling tahu permasalahan sunnah Rasul. Radhiallahu ‘anhu.
Meraih kemuliaan sanjungan dari Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, “kedudukanmu disisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa hanyasaja tidak ada nabi setelahku.”
Meraih kemuliaan dari Rasul sebagai seorang yang mencintai dan dicintai Allah dan Rasulnya.
Beliau meneruskan usaha para khalifah sebelumnya yaitu memperluas daerah kekuasaan kaum muslimin.

5. Keistimewaan Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam melalui usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu.
Meraih kemuliaan menjadi salah satu ahlu syuro.
Meraih kemuliaan mendapatkan julukan Al-Juud , Al-Khair, dan Al-Fayyadh.
Meraih kemuliaan hijrah ke negeri Madinah.
Meraih kemuliaan jihab fii sabilillah bersama Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam semua pertempuran.
Shahabat yang setia melindungi Nabi pada peristiwa Uhud sehingga tubuh beliau dipenuhi luka. Kemudian Rasul mengusapnya sehingga hilanglah luka tersebut dari tubuhnya, maka hari itu disebut hari Thalhah.

6. Keistimewaan Zubair bin Al-Awwam Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam melalui usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu pada usianya yang belum genap enam belas tahun.
Meraih kemuliaan hijrah ke negeri Habasyah dan Madinah.
Meraih kemuliaan jihad fii sabilillah bersama Rasul dalam semua pertempuran.
Termasuk Shahabat yang setia membela dan melindungi Nabi pada peristiwa Uhud.
Meraih sanjungan kehormatan dari Rasul dalam sabdanya, “Setiap nabi pasti memiliki penolong setia dan penolong setiaku adalah Az-Zubair.”.
Meraih kemuliaan jihad fii sabilillah melawan orang-orang murtad di jaman Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Hadir pada pertempuran Yarmuk.
Umar bin Khatthab menyatakan, “Sesungguhnya Zubair adalah rukun dari rukun-rukun agama.” Radhiallahu ‘anhu.

7. Keistimewaan Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam melalui usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu .
beliau adalah orang kedelapan yang memeluk islam.
Meraih kemuliaan menjadi ahlu syura, yaitu orang-orang yang Rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka.
Meraih kemuliaan hijratain (dua hijrah) ke negeri Habasyah dan Madinah.
Meraih kemuliaan jihad fii sabilillah bersama Rasulullah.
Meraih kemuliaan menjadi imam shalat menggantikan Rasul pada perang Tabuk, maka Rasul mempersaksikan beliau dengan kebaikan.
Beliau adalah shahabat yang dermawan, sering membebaskan budak, bersedekah untuk kaum muslimin, dan menyediakan perbekalan jihad fii sabilillah. Radhiallahu ‘anhu.

8. Keistimewaan Sa’d bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam melalui usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu .
Meraih kemuliaan menjadi paman Rasul.
Darahnya adalah darah pertama yang mengalir dalam islam.
Meraih kemuliaan jihad fii sablilillah bersama Rasul disemua pertempuran.
Menjadi pahlawan dalam peperangan Uhud sebagai pemanah sejati.
Hadir dalam pertempuran Qadisiyah pada pemerintahan Umar dan pertempuran Madain, salah satu kota di Persia. Radhiallahu ‘anhu.

9. Keistimewaan Sa’id bin Zaid Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam sebelum rasul berdakwah dirumah Arqam.
Meraih kemuliaan hijrah ke negeri Habasyah dan Madinah
Meraih kemuliaan berjihad fii sabilillah bersama Rasul.
Hadir dalam pertempuran Yarmuk dan pembukaan kota Damaskus.
Meraih kemuliaan menjadi shahabat yang doanya selalu mustajab. Radhiallahu ‘anhu

10. Keistimewaan Abu ‘Ubaidah Radhiallahu ‘anhu

Meraih kemuliaan islam melalui usaha dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu .
Keislimannya berbarengan dengan keislaman Utsman bin Mazh’un, Ubaidah bin Harits bin Mutthalib, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu Salamah bin Abul Asad. Radhiallahu ‘anhum.
Kokoh dalam keislamannya walaupun diboikot oleh kaumnya.
Meraih kemuliaan jihad fii sabilillah bersama Rasul disemua pertempuran.
Meraih kemuliaan sanjungan dari Rasul dalam sabdanya, “Setiap umat memiliki seorang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah.”.
Meraih kemuliaan menjadi duta Rasul untuk negeri Yaman dan Najran dalam rangka mengajarkan syariat islam.
Memimpin pasukan Syam untuk memerangi Yarmuk, membuka kota Damaskus, Ladziqiyah dan daerah-daerah di negeri Syam.
Meninggal di Syam karena penyakit Tha’un. Radhiallahu ‘anhu.

Lihat biografi mereka selengkapnya di:

Al-Ishabah fii Ma’rifah Ash-Shahabah, karya Al-Hafizh

Tadzkiratul Huffazh dan Siyar, karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi.

أن النبي صلى الله عليه وسلم صعد أحدا، وأبو بكر وعمر وعثمان، فرجف بهم، فقال: "اثبت أحد، فإنما عليك نبي وصديق، وشهيدان"

Bahwa Nabi telah mendaki Uhud, dan Abu Bakr dan `Umar dan `Usman. Maka ia bergegar dengan mereka. Maka dia berkata: «Tetaplah Uhud, maka sesungguhnya di atas kamu terdapat seorang Nabi dan seorang Siddiq dan dua orang syahid» [Al-Bukhariy/ 3675]

Apabila Nabi menyebut bahawa Abu Bakr adalah As-Siddiq, dan `Umar serta `Usman adalah dua orang yang syahid dibunuh, maka di manakah tempat bagi orang yang membenci mereka




Semoga bermanfaat

KEGAGALAN DALAM MEMBEDAKAN : Wahabi-Salafy, Osama Bin Laden, Sufi-Thaliban dan Pengikut Sayyid Qutb


KEGAGALAN DALAM MEMBEDAKAN : 

by : Ukh Orcela Puspita -Hafizhahallah-

Wahabi-Salafy,
Osama Bin Laden,
Sufi-Thaliban
dan Pengikut Sayyid Qutb

Penulis Haneef James Oliver

Osama bin Laden “Wahhabi” ?

Pada tanggal 30 September 2001,
Seorang analis Timur Tengah dari kantor berita BBC, Roger Hardy, menulis satu artikel yang berjudul “Di Dalam Islam ‘Wahhabi’.” Hardy sendiri menulis bahwa istilah “Wahhabi” seringkali disalahgunakan untuk tujuan menghina.

“Istilah ‘Wahhabi’ seringkali digunakan secara bebas. Media Rusia, sebagai contoh, menggunakan istilah tersebut untuk mencela aktivis Islam di Asia Tengah dan Kaukasus sebagaimana mereka mencela muslim di negara mereka, namun media Barat menggunakan istilah yang samar dan bersifat menghina, yaitu ‘Islam Fundamental’.”

Akan Tetapi,
amat disayangkan, Hardy terjatuh pada kesalahan yang sama dalam menggunakan istilah ini ketika ia menyatakan bahwa Osama bin Laden adalah seorang “Wahhabi.”

“Osama bin Laden, divonis secara resmi oleh Amerika Serikat sebagai tersangka utama di balik serangan 11 September terhadap Amerika, dia adalah seorang kelahiran Saudi dan Seorang ‘Wahhabi’.”

Kesalahan tersebut adalah persangkaannya bahwa karena :
Osama dilahirkan di Arab Saudi, maka ia seorang “Wahhabi.”
Padahal, ini adalah kesimpulan dangkal yang telah seringkali disebutkan di media—dan layak untuk dibantah.


Hubungan Bin Laden dengan Sufi


Osama bin Laden datang dari satu keluarga Yaman di Hadramaut, sebuah daerah pantai di Yaman yang sudah diketahui secara umum sebagai basis satu kelompok sempalan dalam Islam yang dikenal dengan sebutan Sufi.[1] Secara ringkas, ajaran sufi bisa disebut sebagai lawan yang pas untuk “Wahhabi.”

Bin Laden sendiri tidak terlalu peduli dengan keyakinan yang berbeda. Beberapa pernyataannya menunjukkan bahwa :
ia masih melakukan praktek-praktek ajaran Sufi tertentu.
Dia pun menjadikan Taliban sebagai teman dekat dan pelindungnya.
Telah diketahui secara umum bahwa mayoritas dari kelompok ini adalah penganut tarekat Sufi Deobandi.

Bagaimana pun, ada kontradiksi antara anggapan bahwa Osama bin Laden adalah pelaku praktek-praktek Sufi dan pengakuannya bahwa dia bukanlah seorang Sufi. Terlepas dari itu semua, Bin Laden memperlihatkan bahwa :


dia tidak terlalu peduli dengan permasalahan keyakinan dan ibadah—yang orang-orang “Wahhabi” sangat menaruh perhatian dalam hal ini.
Hal tersebut karena kelompok Osama bin Laden tidak membedakan antar keyakinan, selama mereka berada di barisan yang sama.

Kesalahan penggunaan istilah lainnya yang seringkali diulang di kebanyakan media adalah pendapat bahwa Taliban adalah “Wahhabi.” Pada tanggal 10 Desember 2001, Ron Kampeas menulis di Washington Post, “‘Wahhabi’ adalah satu keyakinan puritan yang menolak perubahan, salah satu bentuk Islam yang menyetir Taliban.”

Faktanya,
ini adalah ketidakakuratan yang sangat besar dan mengindikasikan bahwa mereka yang mengulang-ulang klaim seperti ini telah melakukan pendekatan kepada sesuatu yang kompleks dengan cara sederhana.

Meskipun dalam artikel Roger Hardy dari BBC terdapat kesalahan pada pernyataan yang menyatakan bahwa Osama adalah seorang “Wahhabi,” dia tidak seperti Kampeas—yang tetap mengulang-ulang kesalahan ini—saat mengalamatkan (Taliban) kepada tarekat Sufi Deobandi.

“Tapi Taliban bukanlah ‘Wahhabi.’
Mereka diketahui sebagai tarekat Deobandi; dinamakan sebagai Deobandi sebagai nisbat kepada suatu kota kecil, Deoband, Himalaya, India. Di sinilah gerakan tersebut didirikan, pada tahun 1860-an di masa pendudukan Inggris.”


Pada 9 November,
Hamid Mir dari harian Pakistan, The Dawn, mewawancarai Osama bin Laden, sesaat setelah Kabul jatuh.


Hamid Mir :
“Setelah pengeboman Amerika ke Afghanistan pada 7 Oktober, anda mengatakan kepada TV Al-Jazeera bahwa serangan 11 September dilakukan oleh sebagian muslim. Bagaimana anda mengetahui bahwa mereka adalah muslim?”

Bin Laden:
“Amerika sendirilah yang menyebarkan daftar tersangka 11 September. Mereka mengatakan bahwa nama-nama mereka terlibat dalam serangan tersebut. Mereka semua adalah muslim. 15 di antara mereka diketahui berasal dari Arab Saudi, 2 dari Uni Emirat Arab (UEA) dan 1 dari Mesir. Berdasarkan informasi yang penulis miliki, mereka semua adalah penumpang. Al-Fatihah telah dibacakan untuk mereka di rumah-rumah mereka. Namun Amerika mengatakan bahwa mereka adalah pembajak.”

Maksud pernyataan bin Laden “Al-Fatihah telah dibacakan untuk mereka di rumah-rumah mereka” adalah :
pembacaan surat pembuka dalam Al-Qur’an untuk jiwa-jiwa yang telah meninggal—praktek yang umum dilakukan oleh kaum Sufi.
Perbuatan yang seperti ini tidak ada dasarnya dalam Islam, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah atau pun contoh perbuatan dari generasi pertama Islam. Atau lebih tepatnya, ini adalah praktek bid’ah yang dibuat-buat oleh orang-orang Sufi.

Pernyatan tersebut mengindikasikan bahwa :
Osama bin Laden tidak memiliki pengetahuan tentang Islam.
Jika demikian, bagaimana bisa ia diidentikkan dengan prinsip dan praktek-praktek “Wahhabi”?


Bin Laden Adalah Seorang Quthb i[2]

Berkat kemakmuran yang dihasilkan oleh perusahaan Bin Laden,[3] Osama bin Laden menggunakan uang keluarganya untuk hidup bebas dengan gaya hidup yang serba luks. Karena hal ini,
dia tidak pernah duduk dengan ulama “Wahhabi,” sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu atau tekun dalam mempelajari akidah Islam.

Ketidaktahuannya terus berlanjut,
bahkan, setelah menjadi seorang yang religius dan berangkat ke Afghanistan—bertempur dengan Uni Soviet. Kenyataan bahwa ia gagal dalam mengambil manfaat dari belajar di bawah pengawasan para ulama di Arab Saudi membuatnya mencampuradukkan pemikiran Quthbi baru yang sedang naik daun.

Pada akhirnya,
dia benar-benar menolak metode “Wahhabi” dan mengeluarkan orang banyak dari lingkaran Islam. Oleh karena itu, bagaimana bisa dikatakan bahwa Osama bin Laden adalah seorang “Wahhabi”?

Pada akhirnya,
Osama bin Laden dan Al-Qaeda-nya bukanlah “Wahhabi,” tetapi Quthbi.

Melihat urgensi hal ini, Robert Worth dari New York Times mengatakan,
“Tapi jika ada satu orang yang layak disebut sebagai bapak intelektual Osama bin Laden dan teman-teman terorisnya, mungkin ia adalah seorang penulis dan aktivis Mesir: Sayyid Quthub.”[4]


Keberadaan Quthbiyah Sebagai Ideologi


Dalam sebuah artikel yang berjudul “Terror, Islam and Democracy,” Ladan dan Roya Boroumand menyatakan dengan tepat bahwa :
“kebanyakan kader muda Islam hari ini adalah intelektual dan pewaris spiritual dari Quthbiyah, salah satu sayap dari gerakan Ikhwanul Muslimin.”


Mereka berdua juga menyatakan,

“Saat rezim otoriter dari Presiden Gamal Abdul Nasser menekan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1954 (yang pada akhirnya berakhir dengan penggantungan Sayyid Quthub pada 1966), banyak dari mereka yang mengasingkan diri ke Aljazair, Arab Saudi, Irak, Suriah dan Maroko. Dari sana, mereka menyebarkan pemahaman revolusi Islam—termasuk alat-alat pengorganisasian dan ideologi yang dipinjam dari pemahaman totaliter Eropa.”[5]

Mengomentari hubungan yang berkembang antara ideologi revolusi Eropa dengan doktrin Quthbiyah, John Gray dari The Independent berargumen dalam sebuah artikel berjudul “How Marx Turned Muslim” bahwa :
Quthbiyah bukanlah berasal dari tradisi Islam,
tapi jauh lebih berakar di dalam sumber pemikiran Eropa.

Dia menjelaskan bahwa :
Sayyid Quthub “Menyatukan banyak unsur yang diambil dari ideologi yang berasal dari Barat[6] ke dalam pemikirannya.” Quthbiyah juga dapat dilihat sebagai “campuran eksotis, hasil kawin silang, dalam pertemuan antara ideologi radikal Eropa dengan intelektualitas Islam.”[7]

Gray menjelaskan bahwa :
Quthbiyah adalah gerakan revolusioner modern dan tidak merepresentasikan bentuk asli dari Islam yang sebenarnya.

“Inspirasi dari pemikiran Quthbi tidak banyak yang berasal dari Al-Qur’an, tapi cenderung kepada pemikiran Barat yang berasal para pemikir mereka seperti Nietzsche,[8] Kierkegaard[9] dan Heidegger[10]. Pemikiran Quthbiyah—yang merupakan bingkai pemikiran untuk pengembangan politik dan teologi Islam radikal—adalah respon terhadap pengalaman Eropa pada abad ke-20 berupa ‘the death of God‘[11] yang merupakan sesuatu yang besar dalam tradisi Islam.[12] Quthbiyah sama sekali tidak tradisional. Seperti semua ideologi fundamentalis,[13] ini tidak salah lagi sangatlah modern.”[14]

Berbicara tentang hubungan yang tidak terbantahkan lagi dan betul-betul ada antara Bin Laden dengan Quthbiyah, Amir Taheri dari Arab News mengatakan,
“Pada saat ini, Maududiyah-Quthbiyah[15] menyediakan sebuah ideologi yang Bin Laden bisa tumbuh di dalamnya.” [16]


Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, ulama salaf yang diketahui telah menulis beberapa buku bantahan terhadap kesalahan-kesalahan Sayyid Quthub, menyimpulkan tentang Quthbiyah sebagai berikut.
“Quthbi adalah para pengikut Sayyid Quthub. Segala yang kalian lihat berupa kesengsaraan, pertumpahan darah dan masalah-masalah yang terjadi pada dunia Islam hari ini adalah berasal dari metode (orang ini).”[17]


Sebuah Kegagalan dalam Membedakan

Pada tanggal 26 Oktober 2001,
The Guardian mencetak sebuah laporan berjudul “Salafee Views Unite Terror Suspects: The Binding Tie” yang dibuat oleh John Hooper dan Brian Whitaker. Mereka mengklaim, “Beragam kelompok teroris yang melancarkan serangan 11 September 2001 terlihat menganut dasar pondasi yang sama dengan Salafi dalam menginterpretasikan Islam.”

Dengan kelicikan untuk :
mencoba menghubungkan antara metodologi Al-Qaeda dengan “Wahhabi,” mereka melaporkan sebuah laporan yang menyesatkan sebagai berikut,

“Para penyelidik yang memburu jaringan Osama Bin Laden telah menemukan bahwa seluruh tersangka teroris yang ditangkap di Eropa dalam 10 bulan terakhir mengikuti kelompok Salafi dalam menafsirkan Islam.”

Selanjutnya,
mereka menghubung-hubungkan interpretasi Islam seperti ini dengan keyakinan yang dihasilkan dari wilayah Arab Saudi dan institusi-institusi pendidikannya.[18]

“Hubungan antara Salafi dengan jaringan teroris Bin Laden akan amat sangat mempermalukan Arab Saudi, sedangkan keluarga Kerajaan Arab Saudi telah menginvestasikan jumlah yang tidak sedikit untuk menyebarkan manhaj salaf. Pusat untuk pendidikan dan pengekspor pemikiran Salafi adalah Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, yang didirikan oleh rajanya pada 1961 ‘untuk menyampaikan pesan abadi Islam ke seluruh dunia’.”

Jika saja
John Hopper dan Briant Whitaker meneliti asal mula dari ideologi Al-Qaeda—seperti diungkapkan sebelum ini—yang dibentuk atas dasar :
tulisan tangan Sayyid Quthub—seorang warga Mesir dan bukan Arab Saudi, maka pembaca mereka akan mendapat manfaat yang berlipat-lipat.

Jika saja
mereka meneliti subjek ini dengan hati-hati, mereka akan mengetahui bahwa :

apa yang diajarkan secara resmi di Universitas Islam Madinah adalah analisis mendalam tentang kekeliruan sistem kepercayaan Khawarij.
Para pelajar di Universitas Islam Madinah belajar dari pengajar-pengajar yang telah disebutkan sebelumnya, (seperti) Syaikh Muhammad bin Hadi’ Al-Madkhali.


Jadi,
jelas permasalahan ideologi teroris kontemporer bukan berasal dari keyakinan Salafi, baik mereka itu berasal dari Arab Saudi atau pun bukan, baik dari dunia muslim itukah atau bukan.
Media dan para pemikir Barat telah gagal untuk membedakan antara Islam yang murni, Ahlus-Sunnah, dengan gerakan revolusioner abad ke-20: Quthbiyah—yang itu adalah metode Khawarij yang dibangkitkan kembali.


Akan menjadi lebih akurat, bagi Hooper dan Whitaker, bila mengatakan bahwa semua gerakan Islam pada hari ini, yang keras atau pun tidak, bersumber dari :
Hasan Al-Banna,
Abul A’la Al-Maududi
dan Sayyid Quthub.
 

Tidak ada dari orang-orang ini yang merupakan ulama Islam, tapi, mereka adalah orang yang pada masa kini diistilahkan sebagai “pemikir Islam.” Selain itu, Hasan Al-Banna[19] dan Sayyid Quthub adalah penganut ajaran Sufi, bukan ajaran Salaf.


Singkatnya,
Osama bin Laden dan Al-Qaedanya memiliki lebih banyak ikatan emosional dengan para orientalis dan media, ketimbang kepada kambing hitam media: Salafi.
Meskipun para Quthbi yang datang dari semenanjung Arab masih bertahan dengan pengakuan bahwa mereka itu Salafi atau mengutip salah satu isi perkataan ulama Ahlus-Sunnah, Salafi, sumber penyimpangan mereka tetap berasal dari :
- keyakinan Khawarij,
- Mu’tazilah
- dan Sufi dari negeri-negeri muslim melalui orang-orang seperti Sayyid Quthub.

»Kelompok Salafi berlepas diri dari orang-orang seperti Sayyid Quthub dan Osama bin Laden.

وَمِنَ الإِبْلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الأُنثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الأُنثَيَيْنِ أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ وَصَّاكُمُ اللّهُ بِهَـذَا فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِباً لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Q.S. Al-An’am [6]:144).

SUMBER :
Naskah pracetak Buku VIRUS WAHABI (Mitos Negatif Bagi Salafi) , Penerbit Too Bagus Publishing Bandung, 2010 untuk http://
kaahil.wordpress.com/


===

●[1]
Ajaran sufi tidak dikenal pada masa Rasulullahn dan para sahabatnya. Tidak pula diketahui pada masa tiga generasi awal umat Islam. Sufi pertama kali muncul di Bashrah, Irak, saat semua orang berlebihan dalam beribadah dan menghindari kehidupan dunia—sesuatu yang telah diperingatkan dalam Al-Qur’an,

“Dan mereka mengada-adakan kehidupan rahib, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka.” (Q.S. Al-Hadiid [57] : 27).

Sufi adalah :
salah satu madzhab yang terpengaruh oleh pemikiran yang percaya bahwa ilmu dan keselamatan dibawa oleh jiwa melalui pelatihan spiritual.

Ahlus Sunnah percaya bahwa :
ilmu yang benar dan keselamatan bisa dicapai melalui ibadah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Para Sufi percaya bahwa :
syaikh mereka juga dapat dijadikan rujukan dalam masalah ibadah. Mereka akan memerintahkan untuk melakukan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Orang yang ekstrem di kalangan mereka seringkali mengaku-aku bahwa Allah berada di dalam salah satu ciptaanNya (seperti dalam hati manusia). Secara terus-menerus, mereka menganggap atribut dan kekuatan yang ada pada syaikh Sufi mereka adalah milik Allah, seperti kekuatan untuk melihat yang gaib. Mereka seringkali mengaku bahwa dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah makna kulit, makna lahir, sama baiknya dengan makna yang lebih dalam, makna batin. Mereka yang memegang makna kulit, makna lahir, adalah mereka yang diketahui mempraktekkan Islam Ahlus Sunnah. Makna mendalam, makna batin, dari Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya diketahui oleh mereka. Syaikh-syaikh ini seringkali mengaku, karena mereka telah memahami makna dalam dan makna batin, maka mereka tidak perlu lagi untuk shalat, puasa, atau apa pun—yang bahkan Rasulullahn tidak mendapat keringanan dalam hal-hal semisal itu.

●[2]
Quthbi adalah mereka yang mengikuti dan menganut pemikiran Sayyid Quthub, seorang dai modern berpemikiran revolusioner. Ideologi mereka diistilahkan dengan Quthbiyah.

●[3]
Adalah Muhammad bin Awad bin Laden, pendiri Saudi Bin Laden Group. Pada tahun 1931, ia mendirikan perusahaan konstruksi untuk kepentingan pembangunan jalan-jalan di beberapa kota di Kerajaan Arab Saudi. Bermula dari pembangunan jalan-jalan itu, perusahaan ini terus merambah ke berbagai hal di bidang konstruksi bangunan, sampai kemudian publik mengenalnya sebagai satu perusahaan favorit sang raja Saudi; Muhammad bin Laden menjadi kontraktor favorit raja Abdul Aziz bin Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi modern. Salah satu proyek prestisius perusahaan Bin Laden ini adalah renovasi Masjid Al-Harom pada tahun-tahun 70-an, abad 20 kemarin. (Ed.)

●[4]
Robert Worth, “The deep intellectual roots of Islamic Terror,” The New York Times, 13 Oktober, 2001.

●[5]
Ladan dan Loya Boroumand, “Terror, Islam and Democracy,” The Journal of Democracy, April 2002.

Catatan:
Sejak Ladan dan Laya Boroumand menghubungkan Quthbiyah dengan Totaliterisme Eropa dengan benar, maka dapat kita katakan bahwa tidak benar orang-orang tersebut (baca: Quthbi) disebut sebagai Islamis. Bahkan, lebih tepat untuk menjuluki mereka sebagai aktivis muslim.
Meskipun mereka itu muslim, ideologi revolusioner mereka tidak dapat disandarkan kepada Islam.

●[6]
Berkaitan dengan pengaruh Eropa terhadap para pengikut Quthub, Robert Worth dari The New York Times mencatat bahwa ini “sebagaimana Fathi Yakan, salah satu murid Quthub, yang pada tahun 1960 menulis, ‘Peletak dasar revolusi Perancis diletakkan oleh Rousseau, Voltaire dan Montesquieu. Rencana revolusi komunis terwujud berkat Marx, Engels dan Lenin. Begitu juga pada kita’.” Robert Worth, “The Deep Intellectual Roots of Islamic Terror,” The New York Times, 13 Oktober 2001.

●[7]
Pemikir-pemikir revolusioner seperti:
Abul A’la Al-Maududi,
Sayyid Quthub,
Hasan Turabi dari Sudan

dan pemikir berkebangsaan Iran, Ali Syariati,
dari sisi pemikiran, terpengaruh Barat setelah mereka menetap di sana. Meskipun mereka menolak gaya hidup barat dan menyangkalnya, mereka juga terpengaruh oleh hal itu, lalu memformulasikan ideologi reformasi radikal. Mereka adalah orang-orang yang tidak banyak tahu soal Islam dan akidahnya, kemudian mereka membuat pemikiran dan analisis politik sebagai dasar akidah mereka sendiri serta “mengislamkannya.”

●[8]
Friedrich Nietzsche—seperti yang dikenal banyak orang—adalah salah seorang pemikir Jerman yang paling berpengaruh terhadap pemikir-pemikir Eropa pada abad ke-19. Lahir pada tahun 1844, ia tumbuh di bawah asuhan ibunya. Dengan keadaan seperti itu, ia kemudian belajar di Universitas Bonn dan Universitas Leipzig, di Jerman sekarang. Sekitar dekade 80-an, abad 19, ia banyak menelurkan karya-karya tulis. Salah satu karyanya yang banyak diterbitkan dan dibaca orang adalah Also Sprach Zarathustra. Memperhatikan dan menyikapi rasionalitas orang-orang di Eropa dan kaitan dengan agama mereka pada waktu itu, ia adalah orang yang pernah menyimpulkan ke publik luas, “Tuhan telah mati.” Dalam karyanya yang lain, Anti-Christ, nyata sekali kebenciannya terhadap agama Kristen. Pada tahun 1889, akhirnya, ia menjadi gila. Meskipun gila, lewat buku-buku yang ditulisnya, ia turut mempengaruhi Adolf Hitler sampai mendorongnya melakukan pemusnahan massal orang-orang Yahudi pada Perang Dunia II. Pada tahun 1900, dalam usia yang tergolong muda, ia meninggal dunia. (Ed.)

●[9]
Lahir pada tanggal 5 Mei tahun 1813, ia dikenal publik dengan nama Sǿren Kierkegaard. Ia adalah seorang pemikir Denmark yang religius dan banyak mempengaruhi pemikiran tokoh-tokoh filsafat Eropa. Banyak berkarya—sekitar 20 buku lebih dalam 14 tahun, ia menerbitkan karya-karyanya tersebut dengan nama samaran (pseudonyms). Kini, banyak kalangan yang mencoba (dan memang) mengaitkan filsafat eksistensialisme dengan pemikiran filsafatnya. Pada tahun 1855, dalam usia yang sangat muda, ia meninggal dunia. (Ed.)

●[10]
Lahir pada tahun 1889, Martin Heidegger dikenal sebagai seorang pemikir Jerman yang berpengaruh pada abad ke-20 kemarin. Ia belajar di Universitas Freiburg dan diangkat menjadi asisten Edmund Husserl—bapak aliran filsafat fenomenologi. Heidegger sendiri mulai mengajar di universitas pada tahun 1915. Kemudian, dari tahun 1923 sampai tahun 1928 ia pindah mengajar ke Universitas Marburg. Karena dukungannya terhadap Adolf Hitler dan partai Nazinya, ia dipecat dari aktifitas mengajar. Heidegger banyak berbicara tentang “ada.” Manusia, menurutnya, harus mengerti tentang “ada,” sebab ini penting. Karena itu, fokus pandangan filsafatnya adalah “ada” ini (Apa itu “ada”? Mengapa kita ada? Bagaimana cara kita untuk ber-ada?). Ia kemudian meninggal dunia pada tahun 1976. (Ed.)

●[11]
Bermula dari keinginan untuk memisahkan agama dan politik, kemudian beralih untuk memisahkan antara agama dan sains, orang-orang Eropa, pada abad ke-19 menyadari bahwa memang agama dan sains tidak akan bisa bersatu, tidak akan berjalan selaras. Mereka yang setuju akan pandangan ini menjadikan buku Charles Darwin (1809 – 1882), The Origin of Species by Means of Natural Selection, sebagai bukti telak dunia sains-ilmiah yang pertama akan anggapan ini. Karena itu, manusia, menurut mereka, harus memilih salah satu: agama atau rasionalitas sains. Orang-orang yang memilih rasio (akal), yang ternyata lebih banyak, meyakini bahwa kebenaran adalah sesuatu yang dapat dibuktikan dengan akal; rasionalitas adalah “agama” itu sendiri. Lebih dari itu, mereka yakin bahwa hanya orang-orang dungu yang percaya kepada Tuhan. Mereka menolak Tuhan atau—dengan meminjam kata-kata Nietzsche—mereka telah membunuh Tuhan. “Kita telah membunuhNya,” tulis Nietzsche dalam bukunya, The Gay Science, “kau dan aku—kita semua pembunuhNya.” Ternyata, ketiadaan Tuhan tersebut, dan ini disadari oleh sebagian mereka, pada satu titik tertentu, membuat semacam lubang kosong di dalam diri-diri mereka, yang pada suatu waktu sebelum itu pernah diisi oleh Tuhan. (Ed.)

●[12]
Konsep yang menyatakan kematian Tuhan ini, baik itu secara tersurat atau pun tersirat, adalah sangat tidak mungkin. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup lagi tidak mati. Bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hambaNya.” (Q.S Al- Furqaan [25] : 58).

●[13]
Akan terasa lebih tepat kalau Gray mengatakan, “Seperti semua ideologi ekstrimis, tidak salah lagi ini modern” daripada menggunakan kata yang bermakna ambigu “fundamentalis.”

●[14]
John Gray, “How Marx turned Muslim,” The Independent, 27 Juli, 2002.

●[15]
Taheri merujuk kepada hubungan antara Abul A’la Al-Maududi, “pemikir” muslim Asia Selatan, dengan Sayyid Quthub, yang sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan Al-Maududi. Berkenaan dengan hal ini, tentang Sayyid Quthub The Telegraph menyatakan, “Penulis dan Pemikir Mesir, mengambil ide Abul A’la Al-Maududi (1903 – 1979) yang menyatakan bahwa dunia muslim kini telah kembali kepada masa jahiliyah yang tidak bertuhan.” “A-Z of Islam,” The Telegraph, 15 November 2002.

●[16]
Amir Taheri, “Bin Laden no longer exist: Here is why,” The Arab News, 29 Agustus, 2002.

●[17]
Syaikh Rabi’ bin Hadi dalam “Imaam al-Albaanee dan Irjaa.” (sumber: 11 Januari 2002, Telelink dari Inggris, www.salafipublications.com (Article ID: MSC060014)).

●[18]
Dalam sebuah wawancara yang berjudul “Arab Saudi’s Wahhabis Are Not Spreading Intolerance,” The New Perspective Quarterly mewawancari Dr. Khaled M. Al-Ankary—menteri pendidikan tinggi Arab Saudi dan ketua dari Konferensi Islam untuk Pendidikan yang Lebih Tinggi. Ia ditanya,
“Banyak kritik yang menyatakan bahwa sejak pembajak-pembajak pesawat dan pembom bunuh diri datang dari Arab Saudi, maka pasti ada sesuatu dalam sistem pendidikan dan pengajaran yang mendasari mereka menjadi teroris. Sebagai menteri yang bertanggung jawab atas pendidikan, bagaimana anda menanggapinya?”

Dr. Al-Ankary menjawab dengan mengatakan,
“Apakah ada fakta statistik atau logis pada pendapat ini? Jika seandainya ya, maka sistem pendidikan di Amerika Serikat juga perlu untuk diperiksa karena kasus penembakan di Columbine atau bahkan di Waco, Texas. Jika seandainya ya, maka sistem di Kerajaan Inggris perlu untuk diubah karena IRA.”

Catatan:
Maksud Al-Ankary, Al-Qaeda dan IRA sama-sama menjuluki diri mereka sendiri sebagai “pejuang kebebasan” yang bertempur atas dasar agama. Kedua kelompok ini jelas-jelas adalah organisasi teroris, namun tidak ada seorang pun yang berbicara untuk mengganti dasar dari sistem pendidikan di Irlandia atau mengubah agama, budaya dan masyarakat di sana.

“Arab Saudi Wahhabis Are Not Spreading Intolerance,” New Perspective Quarterly, Jilid 19 #2, Musim panas 2002.

[19]
Hasan Al-Banna (1906 – 1949),
seorang pemikir Sufi dan aktivis politik, adalah pendiri Ikhwanul-Muslimin.
Dia mengaku sendiri bahwa ia meluangkan waktu untuk mengunjungi kuburan-kuburan dan tempat-tempat keramat dalam jangka waktu beberapa minggu sekali yang kebanyakan perbuatan syirik dilakukan di sana.

Dalam bukunya, Mudhakkiratud-Da’wah, Al-Banna mengungkapkan daya tariknya kepada ajaran Sufi; bagaimana ia menyertai aliran Sufi Hasafiyyah dan bagaimana ia menyisihkan waktu yang banyak di tempat keramat di Damanhur. Hasan al-Banna, Mudhakiratud-Da’wah, hal. 24-30. Terjemah oleh: Salafi Publications.

Catatan:
Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub dan semua pengikut mereka jelas bukan “Wahhabi.”

link

MENJELASKAN KEBENARAN ITU MEMANG AKAN MEMECAH BELAH


by Al-Ukhti )rcela Puspita -Hafizhahallah-

Bismillah ,
Ketika terjadi perdebatan dihadapan Raja Habasyah, para utusan Kafir Quraysy mengadu kepada Raja, menjelaskan perihal keadaan KAUM MUSLIMIN:

"Mereka di kota Makkah selalu menimbulkan perselisihan, pertengkaran dan permusuhan di antara golongan dan bangsa sendiri. Karena mereka tidak mau mengikut agama nenek moyang mereka..."

DAN
MEMANGLAH demikian, MENJELASKAN KEBENARAN itu akan MEMECAH BELAH, antara yang HAQ dan yang BAATHIL.

Maka
yang kita ikuti adalah AGAMA YANG DATANG DARI ALLAH;

bukannya
agama nenek moyang; yang disandarkan kepada Agama Allah; yang kebanyakan dikerjakan orang-orang yang hanya mengikuti apa yang didapatinya dari bapaknya atau nenek moyangnya tanpa mau mencari tau LANDASAN SYAR'I (menurut sumber yang sah, dan pemahaman yang benar).

Dan
apakah mereka menginginkan agar yang HAQ disatukan dengan yang BAATHIL?

Itukah yang mereka inginkan?!

mencampuradukkan :
- ketauhidan dan kesyirikan?
- keimanan dengan kekufuran?
- sunnah dengan bid'ah?
- ta'at dengan maksiat?

Allah berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan
- janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil
- dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
(QS. Al-Baqarah: 42)

Standarisasi persatuan dan perpecahan ALA JAHILIYYAH yang menjadikan seseorang berkata "pemersatu umat" dan "pemecah belah umat"

Sehingga menurut mereka apapun aqidahnya asalkan berpegang tangan, asalkan bersama-sama; maka itulah PERSATUAN. Maka ketahuilah ini adalah JAHILIYYAH dan PRODUK YAHUDI yang nyata (baca: persatuan ala yahudi)

Allah berfirman tentang yahudi:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

"Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah".(QS. al Hasyr: 14)

PADAHAL
- yang dinamakan persatuan itu adalah BERLANDASKAN KEBENARAN;
- dan yang dinamakan perpecahan itu adalah MENYELISIHI KEBENARAN.

Bukankah Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" (QS. ali imran: 103)

Maka yang dinamakan persatuan adalah :
- BERPEGANG KEPADA TALI ALLAH (yaitu berpegang diatas agamaNya yang lurus)
- sedangkan yang dinamakan cerai-berai adalah orang-orang yang TIDAK MAU BERPEGANG KEPADA TALI ALLAH.

Allah juga berfirman:

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ

"Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata".(QS. Al-Bayyinaj: 4)

Orang yang dikatakan MEMECAH BELAH itu adalah :
orang-orang yang sudah jelas kebenaran dan bukti yang nyata. namun mereka berpaling dari kebenaran. mereka yang berpaling dari kebenaran, dan mengajak kepada kebathilan inilah yang dikatakan MEMECAH BELAH UMAT.

Adapun
orang-orang yang menjelaskan kebenaran, membantah kebathilan; maka mereka TIDAK DISEBUT PEMECAH BELAH UMAT,
namun merekalah yang sebenarnya PEMERSATU UMAT.

Maka
bersatulah DIATAS KEBENARAN, dan janganlah berpecah belah dengan menyelisihi kebenaran, mengikuti kebathilan atau bahkan sampai mengajak kepadanya.

Na'uudzubillaah, tsumma na'uudzubillah.

http://www.facebook.com/abuzuhriy


source

`'•✿•'´


PENDIRI WAHABI ADALAH "ABDUL WAHAB" BIN ANDURRAHMAN BIN RUSTAM, WAFAT 211 H [ KHAWARIJ ]

by Al-Ukhti Orcela Puspita -Hafizhahallah-

bismillaah,

••••►" BUKAN " SYAIKH MUHAMMAD BIN "ABDUL WAHAB", WAFAT 1206 H [ AHLUS SUNNAH ]

Sebenarnya, Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), yaitu

❥" Sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh SENTRALNYA, yaitu Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. "

❥ Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.


JANGAN BODOH
DAN JANGAN JADI PENGEKOR HAWA NAFSU (AHLUL BID'AH) !!!

Dalam kitab Raddul Wafir disebutkan pernyataan yang amat menyentuh dari Taqiyuddin As Subki kepada Ibnu Taimiyah.

Beliau menuturkan:

ما يبغض ابن تيمية إلا جاهل أو صاحب هوى فالجاهل لا يدري ما يقول وصاحب الهوى يصده هواه عن الحق بعد معرفته به

“Tidaklah membenci Ibnu Taimiyah kecuali :
»̶»̶❥ seorang yang bodoh
»̶»̶❥ atau pengekor hawa nafsu,
»̶»̶❥❥orang yang bodoh tidak mengetahui apa yang dia katakan,
»̶»̶❥❥adapun pengekor hawa nafsu maka hawa nafsunya telah menghalanginya dari kebenaran setelah dia mengetahuinya”.

Al-Imam Al-Amir Muhammad bin Ismail Ash-Shon’ani (Penulis Kitab Subulus Salam syarah Bulughul Marom, Yaman). Beliau berkata dalam bait-bait syairnya,

“Muhammad (bin Abdul Wahhab) adalah penunjuk jalan kepada sunnahnya Ahmad (shallallahu ‘alaihi wa sallam), Aduhai betapa mulianya sang penunjuk dengan yang ditunjuk. Sungguh telah mengingkarinya semua kelompok (sesat). Pengingkaran tanpa dasar kebenaran dan tanpa pijakan.”[Diwan Ash-Shon’ani, hal 128-129, sebagaimana dalam Majmu’atur Rosaail At-Taujihaat Al-Islamiyah Li Ishlahil Fardi wal Mujtama’, 3/239.]

Cukuplah 1 atau 2 ulama yang mewakili dari ratusan ulama yang memuji Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab... adapun mereka yang mencela, sesungguhnya mereka hanyalah pengekor hawa nafsu, maka hawa nafsunya telah menghalanginya dari kebenaran setelah dia mengetahuinya.

By. Pujangga Miskin Al Ghuroba'

Catatan :
Rujukan ada di :

 
1> http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/09/teguran-untuk-as-subki/#more-52
2> http://abangdani.wordpress.com/2011/08/11/menjawab-tuduhan-idahram-siapakah-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pujian-ulama-terhadap-beliau/

☀


 Sebenarnya, Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), yaitu

❥" Sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh SENTRALNYA, yaitu Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. "❥

Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.

●๋•

Untuk MENCIPTAKAN PERMUSUHAN di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum MUNAFIKUN memancing di air keruh DENGAN menyematkan baju lama (Wahabi) dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya UNTUK MENGHANTAM :

❥dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
❥atau SETIAP DAKWAH mana saja yang mengajak untuk memurnikan Islam.

Karena
dakwah beliau sanggup merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan kaum durjana dan melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau dianggap sebagai penghalang yang mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri Islam.

Contohnya:
❥Inggris mengulirkan isue wahabi di India,
❥Prancis MENGGULIRKAN isu wahabi di Afrika Utara,
❥bahkan Mesir menuduh semua kelompok yang menegakkan dakwah tauhid dengan sebutan Wahabi,
❥Italia juga mengipaskan tuduhan wahabi di Libia,
❥dan Belanda di Indonesia, bahkan menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Padri sebagai kelompok yang beraliran Wahabi.

Semua itu, mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan terhadap pengaruh murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengobarkan jihad melawan Imperialisme di masing-masing negeri Islam.

●๋•

Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor:

❥1. Tuduhan itu berasal DARI PARA TOKOH AGAMA yang :
memutarbalikkan kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih dan para wali.

❥2. Mereka berasal dari kalangan ilmuwan,
NAMUN tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, bahkan mereka HANYA MENDENGAR tentang beliau dari pihak yang sentimen dan tidak senang Islam kembali jaya, sehingga mereka mencela beliau dan dakwahnya sehingga memberinya sebutan Wahabi.

❥3. Ada sebagian dari mereka TAKUT KEHILANGAN posisi dan popularitas,
karena dakwah tauhid masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan proyek raksasa yang mereka bangun siang malam.

Dan
barangsiapa ingin mengetahui secara utuh tentang pemikiran dan ajaran Syaikh Muhammad (Abdul Wahab) maka hendaklah membaca kitab-kitab beliau seperti Kitab Tauhid, Kasyfu as-Syubhat, Usul ats-Tsalatsah dan Rasail beliau yang sudah banyak beredar baik berbahasa arab atau Indonesia.

Penulis:
Ustadz Zainal Abidin, Lc.
Dan Artikel ini sebelumnya dipublikasikan oleh Koran Republika, edisi Selasa, 25 Agustus 2009.
Dipublikasi ulang oleh muslim.or.id dengan penambahan beberapa catatan kecil.

http://muslim.or.id/manhaj/wahabisme-versus-terorisme.html

●๋•

FATWA AL-LAKHMI DITUJUKAN KEPADA WAHABI (ABDUL WAHHAB BIN ABDURRAHMAN BIN RUSTUM) SANG TOKOH KHAWARIJ " BUKAN " KEPADA SYAIKH MUHAMMAD ABDUL WAHAB

Mengenai fatwa Al-Imam Al-Lakhmi yang dia mengatakan bahwa Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij.

Maka yg dia maksudkan adalah
" Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya" BUKAN Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.

Hal ini karena :
TAHUN WAFAT Al-Lakhmi adalah 478 H sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M.

❥Amatlah janggal bila ada orang yg telah wafat namun berfatwa tentang seseorang yg hidup berabad-abad setelahnya.


Adapun
Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum maka dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya.

Berikut Al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara dan fitnah Wahhabiyyah Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi hubungan antara Najd dgn Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh.

❥" Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa :
Wahhabiyyah Khawarij yg diperingatkan Al-Lakhmi adl Wahhabiyyah Rustumiyyah BUKAN Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. [Lihat kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi, juz 11.] "

Penulis:
Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.
Syariah Manhaji 24 – Maret – 2006 20:20:30

●๋•

Perbedaan Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum Dan Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab


❥1.Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum (Khawarij)

Khawarij adalah :
salah satu kelompok dari kaum muslimin yang mengkafirkan pelaku maksiat (dosa besar), membangkang dan memberontak terhadap pemerintah Islam, dan keluar dari jama’ah kaum muslimin.

Termasuk dalam kategori Khawarij, adalah Khawarij generasi awal (Muhakkimah Haruriyah) dan sempalan-sempalannya, seperti al-Azariqah, ash-Shafariyyah, dan an-Najdat –ketiganya sudah lenyap– dan al-Ibadhiyah –masih ada hingga sekarang–.

Termasuk pula dalam kategori Khawarij, adalah siapa saja yang dasar-dasar jalan hidupnya seperti mereka, seperti Jama’ah Takfir dan Hijrah. Atas dasar ini, maka bisa saja Khawarij muncul di sepanjang masa, bahkan betul-betul akan muncul pada akhir zaman, seperti telah diberitakan oleh Rasulullah.

“Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang usianya rata-rata masih muda dan sedikit ilmunya. Perkataan mereka adalah sebaik-baik perkataan manusia, namun tidaklah keimanan mereka melampaui tenggorokan Maksudnya, mereka beriman hanya sebatas perkataan tidak sampai ke dalam hatinya – red. Mereka terlepas dari agama; maksudnya, keluar dari ketaatan – red sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya. Maka di mana saja kalian menjumpai mereka, bunuhlah! Karena hal itu mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR. Al Bukhari no. 6930, Muslim no. 1066)

Lihat kelengkapannya Di sini :
http://alqiyamah.wordpress.com/2008/06/22/khawarij-bahaya-laten-bagi-kaum-muslimin/


❥2. Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab (Ahlussunnah Wal Jama’ah)

Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau.

»̶✽♈̷̴✽«̶

Syaikh berkata,

“Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Alhamdulillah AKU BUKANLAH orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat.

Akan tetapi
aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.”

(Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).

»̶✽♈̷̴✽«̶

“Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36).

»̶✽♈̷̴✽«̶

Lihat kelengkapannya di sini
http://muslim.or.id/manhaj/buku-putih-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahab-1.html
http://muslim.or.id/manhaj/buku-putih-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahab-2.html
http://muslim.or.id/aqidah/inilah-aqidah-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab.html


❥Jadi ternyata :
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab BUKAN wahabi dan wahabi bukan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
Akan tetapi Wahabi DARI Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum

❥Demikian pula ternyata :
Salafy bukan wahabi dan wahabi bukan Salafy karena berbeda dalam Aqidah dan Manhaj

Dan
negara Kerajaan Saudi Arabia bukan negara wahabi.
Akan tetapi Negara Islam yang Bermanhaj Salaf

Dan
Jika Kami (Salafi) Masih dituduh Wahabi maka kami adalah Wahabi yang Bermanhaj Salaf

»̶✽♈̷̴✽«̶
https://www.facebook.com/groups/132093920201459/281782675232582/
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=180368142080338&set=o.178870065487878&type=1&ref=nf


foto

»̶✽♈̷̴✽«̶


Galau Yang Syar'i




Lima Sebab Kegalauan Hidup yang Syar'i
Bismillah,
Sebab kegalauan hidup itu ada lima macam dan seyogyanya seseorang merasakan kegalauan karena kelima macam tersebut :

PERTAMA :
Kegalauan karena dosa pada masa lampau, karena dia telah melakukan sebuah perbuatan dosa sedangkan dia tidak tahu apakah dosa tersebut diampuni atau tidak? Dalam keadaan tersebut dia harus selalu merasakan kegalauan dan sibuk karenanya.

KEDUA :
Dia telah melakukan kebaikan, tetapi dia tidak tahu apakah kebaikan tersebut diterima atau tidak.

KETIGA :
Dia mengetahui kehidupannya yang telah lalu dan apa yang terjadi kepadanya, tetapi dia tidak mengetahui apa yang akan menimpanya pada masa mendatang.

KEEMPAT :
Dia mengetahui bahwa Allah menyiapkan dua tempat untuk manusia pada hari Kiamat, tetapi dia tidak mengetahui ke manakah dia akan kembali (apakah ke Surga atau ke Neraka) ?

KELIMA :
Dia tidak tahu apakah Allah ridha kepadanya atau membencinya?


Siapa yang merasa galau dengan lima hal ini dalam kehidupannya, maka tidak ada kesempatan baginya untuk tertawa.


[(Tanbiihul Ghaafiliin (I/213), al Faqih as Samarqandy. Tahqiq 'Abdul 'Aziz al Wakil, Darus Syuruuq, 1410H) "Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il", Penulis 'Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim].

DOA SHAHIH PENGUSIR GALAU :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ،وَابْنُ عَبْدِكَ،وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

Allaahumma innii ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwalaka, sammayta bihi nafsaka, aw anzaltahu fii kitaabika, aw ‘allamtahu ahadan min kholqika, awis ta’ tsar ta bihi fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana robbii’a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.

Artinya :

“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.” [HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih.]

Sumber: Catatan Fb teman

http://elhijrah.blogspot.com/2012/03/galau-yang-syari.html

Larangan berdebat dan jidal Ahli Kalam

Sebelum kita menyimak apa yang dikatakan para ulama tentang perdebatan, kita hendaknya meresapi kandungan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berjidal (debat untuk membantah)." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat: "Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [Az-Zuhruf: 58]” (HSR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

I. Perkataan Imam Asy-Syafii rahimahullah
1. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan tentang Imam Asy-Syafii rahimahullah:
وَكَتَبَ إلَيْهِ رَجُلٌ يَسْأَلهُ عَنْ مُنَاظَرَة أَهْلِ الْكَلَامِ ، وَالْجُلُوس مَعَهُمْ، قَالَ: وَاَلَّذِي كُنَّا نَسْمَع وَأَدْرَكْنَا عَلَيْهِ مَنْ أَدْرَكْنَا مِنْ سَلَفِنَا مِنْ أَهْل الْعِلْم أَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ الْكَلَامَ وَالْخَوْضَ مَعَ أَهْل الزَّيْغ وَإِنَّمَا الْأَمْر فِي التَّسْلِيم وَالِانْتِهَاء إلَى مَا فِي كِتَابِ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ رَسُوله لَا تَعَدَّى ذَلِكَ .
Seseorang menulis surat kepada Imam Asy-Syafii menanyainya tentang berdebat dengan ahli kalam dan duduk-duduk bersama mereka. Imam Syafii berkata: “Yang kami dengar dan kami dapati dari salaf (pendahulu) kami dari para ulama, bahwa mereka membenci ilmu kalam dan berdebat dengan orang-orang menyimpang. Agama itu hanyalah dalam tunduk dan berhenti kepada apa yang ada di Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak melampuinya.”

2. Az-Za’faroni berkata: Aku mendengar Asy-Syafii rahimahullah berkata:
مَا نَاظَرْتُ أَهْلَ الْكَلَام إلَّا مَرَّةً وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذَلِكَ .
“Aku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal itu.”

3. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata:
الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ .
“Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.”

II. Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah
1. Beliau berkata:
كُلَّمَا جَاءَ رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ رَجُلٍ تَرَكْنَا مَا نَزَلَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِجَدَلِهِ ، وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : { عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي } الْخَبَرُ .
“Apakah setiap datang seseorang yang lebih pandai berdebat dari orang lain, kami akan meninggalkan wahyu yang diturunkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam karena perdebatannya. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terlah bersabda: ‘Wajib kalian memegang teguh sunnahku’.”

2. Abul Muzhaffar As-Sam’ani berkata dalam Kitab Al-Intishor Li Ahlil Hadits: Imam Malik rahimahullah pernah ditanya siapa ahli bid’ah itu. Maka beliau menjawab:
أَهْلُ الْبِدَعِ الَّذِينَ يَتَكَلَّمُونَ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ وَكَلَامِهِ وَعِلْمِهِ وَقُدْرَتِهِ ، وَلَا يَسْكُتُونَ عَمَّا سَكَتَ عَنْهُ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ .
“Ahli Bid’ah adalah orang-orang yang berbicara tentang Nama-Nama Allah, Sifat-Sifat-Nya, Kalamullah, Ilmu-Nya, dan Taqdir Allah, dan mereka tidak diam dari perkara yang para shohabat dan tabiin diam darinya.”

3. Imam Malik rahimahullah berkata:
لَيْسَ هَذَا الْجَدَلُ مِنْ الدِّينِ بِشَيْءٍ .
“Tidaklah jidal ini sedikitpun dari agama Islam.”

III. Perkataan Imam Ahmad rahimahullah
1. Abdus bin Malik Al-‘Aththar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:
أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ ، وَتَرْكُ الْبِدَعِ ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ ، وَتَرْكُ الْخُصُومَاتِ، وَالْجُلُوسِ مَعَ أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ ، وَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَالْجِدَالِ.وَالْخُصُومَاتِ فِي الدِّينِ ... لَا تُخَاصِمْ أَحَدًا وَلَا تُنَاظِرْهُ ، وَلَا تَتَعَلَّمْ الْجِدَالَ فَإِنَّ الْكَلَامَ فِي الْقَدَرِ وَالرُّؤْيَةِ وَالْقُرْآنِ وَغَيْرِهَا مِنْ السُّنَنِ مَكْرُوهٌ مَنْهِيٌّ عَنْهُ لَا يَكُونُ صَاحِبُهُ إنْ أَصَابَ بِكَلَامِهِ السُّنَّةَ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ حَتَّى يَدَعَ الْجِدَالَ .
“Pokok-pokok aqidah menurut kami adalah berpegang teguh dengan yang dipegang oleh para shohabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan meneladani mereka, serta meninggalkan bid’ah. Karena semua bid’ah itu sesat. Dan juga untuk meninggalkan percekcokan dan duduk-duduk bersama ahlul ahwa, serta meninggalkan perdebatan, jidal, dan percekcokan dalam agama ... Janganlah engkau cekcok dengan seorangpun dan jangan mendebatnya. Janganlah engkau mempelajari jidal, sesungguhnya ilmu kalam dalam aqidah seperti dalam masalah taqdir, ru’yah (melihat Allah di hari kiamat), Al-Qur’an, dan lainnya adalah dibenci dilarang. Tidaklah pelakunya walau dia mencocoki aqidah (yang benar) dengan ilmu kalamnya menjadi ahlussunnah, sampai dia meninggalkan jidal.”

2. Al-‘Abbas bin Ghalib Al-Warroq berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hambal: Wahai Abu Abdillah, aku duduk dalam satu majlis yang tidak ada yang mengetahui sunnah selainku. Kemudian ada seorang ahli kalam ahli bid’ah berbicara, apakah aku bantah dia?” Beliau menjawab: “Jangan engkau dudukkan dirimu untuk demikian ini. Beritahu kepadanya sunnah dan jangan berdebat.” Kemudian aku mengulangi perkataanku lagi, sampai beliau berkata: “Aku tidak memandangmu kecuali seorang yang suka membantah.”

IV. Perkataan para ulama yang lain
1. Al-Auza’i rahimahullah berkata:
عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ ، وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ ، وَإِنْ زَخْرَفُوا لَك الْقَوْلَ ، فَلْيَحْذَرْ كُلُّ مَسْئُولٍ وَمُنَاظِرٍ مِنْ الدُّخُولِ فِيمَا يُنْكِرُهُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ .وَلْيَجْتَهِدْ فِي اتِّبَاعِ السُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ الْمُحْدَثَاتِ كَمَا أُمِرَ .
“Wajib kamu memegang atsar salaf (yang telah mendahului), meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hati kamu dari ro’yu (logika) orang-orang, meskipun orang-orang menghiasi perkataan itu untukmu. Maka hendaklah setiap orang yang ditanya dan yang mendebat hati-hati dari masuk ke dalam perkara yang menyebabkan dia diingkari oleh yang lainnya. Dan bersungguh-sungguhlah dalam ittiba’ (mengikuti) sunnah dan menjauhi perkara-perkara baru sebagaimana diperintahkan.”

2. Al-Auza’i rahimahullah juga pernah berkata
إذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْمٍ شَرًّا فَتَحَ عَلَيْهِمْ الْجِدَالَ، وَمَنَعَهُمْ الْعَمَلَ .
“Jika Allah menginginkan kejelekan pada satu kaum, maka Allah akan membuka atas mereka jidal, dan menghalangi mereka dari beramal.”

2. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah -seorang tabiin- pernah ditanya: “Apakah engkau berjidal?” Dia menjawab:
لَسْتُ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي
“Aku tidak ragu dengan agamaku, (kenapa aku berjidal)?”

3. Seseorang (yang mau mendebat) berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah: “Bolehkah aku mengatakan kepadamu satu kata saja?” Ayyub rahimahullah menjawab: 
لَا وَلَا بِنِصْفِ كَلِمَةٍ .
“Tidak, dan tidak pula walaupun setengah kata.”
****

Baca selanjutnya" Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Madzhab Asy-Syafiiyyah: Larangan berdebat dan jidal Ahli Kalam http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2009/10/larangan-berdebat-dan-jidal-ahli-kalam.html#ixzz27tCMPGsL

source

Wasiat salafush shålih untuk meninggalkan debat kusir

1. Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam
“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)
2. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:
“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”
[Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]
3. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa
“Cukuplah engkau sebagai orang zhalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain dzikir kepada Allah.”
[al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]
4. Abud Darda radhiyallahu ‘anhu
“Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.”
[Darimi: 299]
5. Muslim Ibn Yasar rahimahullah
“Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.”
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]
6. Hasan Bashri rahimahullah
Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata,
“Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku bisa mendebatmu dalam agama!”
Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:
“Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.”
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]
7. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah
“Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).”
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]
8. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah
“Seorang yang wira’i1 tidak akan pernah mendebat sama sekali.”
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]
9. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah
“Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.”
[Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]
10. Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah
“Dulu dikatakan: pertikaian dalam agama itu melebur amal.”
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 562]
11. al Auza’i rahimahullah
“Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”
[Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]
12. Imran al-Qashir rahimahullah
“Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan: Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.”
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]
13. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah
“Pertikaian itu menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.”
[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]
14. Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah
Dikatakan kepada Abdullah ibn al Hasan ibn al Husain rahimahullah,
“Apa pendapatmu tentang perdebatan (mira’)?”
Dia menjawab:
“Merusak persahabatan yang lama dan mengurai ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi sarana untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus talit silaturrahim yang paling kuat.”
[Tarikh Dimasyq: 27-380]
15. Bilal ibn Sa’d rahimahullah (kedudukannya di Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)
“Jika kamu melihat seseorang terus-terusan menentang dan mendebat maka sempurnalah kerugiannya.”
[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]
16. Wahab ibnu Munabbih rahimahullah
“Tinggalkanlah jidal dari perkaramu, karena ia tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari dua orang: seseorang yang lebih alim darimu, bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang lebih alim darimu? Dan seseorang yang engkau lebih alim daripadanya, bagaimana engkau memusuhi orang yang engkau lebih alim daripadanya dan ia tidak mentaatimu? Maka tinggalkanlah itu.”
[Tahdzibul Kamal: 31/148; Siyarul A’lam: 4/549; Tarikh Dimasyq: 63/388]
17. Malik ibnu Anas rahimahullah
Ma’n rahimahullah berkata:
“Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah.”
Dia berkata:
‘Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’
Imam Malik berkata,
‘Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.’
Dia berkata,
‘Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka ucapkan.’
Imam Malik bertanya,
‘Jika engkau mengalahkan aku?’
Dia menjawab,
‘Maka ikutlah aku!’
Imam Malik bertanya lagi,
‘Kalau aku mengalahkanmu?’
Dia menjawab,
‘Aku mengikutimu?’
Imam Malik bertanya,
‘Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita dikalahkannya?’
Dia berkata,
‘Ya kita ikuti dia.’
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah”.”
Imam Malik rahimahullah berkata:
”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa (tidak ada nilainya sama sekali).”
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,
”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.”
(Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)
18. Muhammad ibn Idris as-Syafi’I rahimahullah
“Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”
[Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]
19. Ahmad bin Hambal rahimahullah
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang,
“Saya ada di sebuah majelis lalu disebutlah didalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali oleh saya, apakah saya mengatakan?”
Dia menjawab:
“Beritakanlah sunnah itu, dan janganlah mendebat karenanya!”
Orang itu mengulangi pertanyaannya, maka Imam Ahmad rahimahullah berkata:
“Aku tidak melihatmu kecuali seorang yang mendebat.”
[al-Adab as-Syar’iyyah: 1/358, dalam bab menyebar sunnah dengan ucapan dan perbuatan tanpa perdebatan dan kekerasan; al-Bashirah fid-Da’wah Ilallah: 57]
20. Shafwan ibn Muhammad al-Mazini rahimahullah
Saat Shafwan rahimahullah melihat para pemuda berdebat di Masjid Jami’ maka ia mengibaskan tangannya sambil berkata:
“Kalian adalah jarab2, kalian adalah jarab.” [Ibnu Battah: 597]
Dahulu dikatakan:
“Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.”
[Al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]
“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqomah. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami.”
Aamiin.
Sumber: alqiyamah
Wasiat asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali al-Yamani al-Wushobi al-Abdali
Wahai Penuntut ilmu, jika kamu membuka pintu debat bersama temanmu maka sungguh kamu telah membuka pintu penyakit fitnah buat dirimu. Apabila seseorang penuntut ilmu tidak menjauhkan diri darinya tentu akan mendapatkan marabahaya.
Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
ما ضل قوم بعد هدى كا نوا عليه إلاأوتواالجدال : ثم قرأ : ماضربوه لك إلاجد لا بل هم قوم خصمون – رواه الترمذي عن أبي أمامة الباهلي –
ِArtinya : “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah berikan kepada mereka ilmu debat. Kemudian beliau membaca : mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”
(HR Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahily)
Saya masih teringat seorang teman ketika awal belajar di Madinah, mungkin kurang lebih dua puluh empat atau dua puluh lima tahun yang silam, dia terkenal banyak berdebat. Terkadang dia mulai berdebat dari setelah Isya’ sampai akhir malam. Ternyata pada akhirnya dia mendapatkan kegagalan, tidak menjaga waktu, tidak beristighfar, bertasbih, bertahlil, bangun malam, dan tidak melaksanakan bimbingan Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam.
Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bukanlah pendebat. Tatkala Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam pergi kerumah Fatimah dan Ali ketika beliau ingin membangunkan keduanya untuk sholat malam, beliau mengetuk pintu dan berkata :
”Tidaklah kalian bangun untuk melaksanakan sholat?”
‘Ali mengatakan :
”Sesungguhnya jiwa kami di Tangan Allah, Dia membangunkan sesuai kehendak-Nya.”
Beliau Sholallahu Alaihi Wa Sallam balik sambil memukul pahanya dan berkata :
وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا
” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”
(QS Al Kahfi :54 )
Rasulullah tidak mendebat Ali dan beliau menganggap bahwa apa yang dijawab Ali termasuk dari jidal (debat) dengan berdalilkan firman Allah :
وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا
” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”
(QS Al Kahfi :54 )
Wahai penuntut ilmu jauhilah dari perdebatan, karena hal yang demikian itu menyebabkan kemurkaan dan kebencian di dalam hati. Katakan kepada temanmu apa yang kamu ketahui, kalau temanmu mengatakan tidak, kembalikanlah permasalahannya kepada Syaikhmu, dan sekali lagi menjauhlah kamu dari perdebatan, Rasulullah bersabda :
إذااختلفتم قي القران فقوموا – متفق عليه
“Apabila kalian berselisih di dalam Al Qur’an maka tinggalkan tempat tempat itu.”
(Muttafaqun Alaihi)
Apabila terjadi disuatu majelis perdebatan, satu menyatakan demikian yang lain menyatakan demikian, maka dengarkan sabda Rasulullah diatas dan janganlah kalian duduk ditempat itu dan jangan mencoba untuk membuka perdebatan. Berhati-hatilah kamu dari debat dan peliharalah waktumu, insya Allah kamu akan saling mencintai dan saling menyayangi.
[Disalin oleh Abu Aufa dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah“]
Maksud perkataan ‘ulama diatas
Syaikhul Islam berkata,
“Jadi,yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh
- orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain)
- atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti;
- berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran,
- serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.
Beliau melanjutkan,
“Jidal (adu hujjah) adalah masalah yang hukumnya belum pasti; dan untuk menentukan hukum tentang masalah ini, tergantung kepada kondisi yang ada. Sedangkan debat yang sesuai dengan syari’at, maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang mustahab.
Kesimpulannya, debat itu terkadang terpuji dan terkadang tercela; terkadang membawa mafsadat (kerusakan) dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan); terkadang merupakan sesuatu yang haq dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil.”
Wallåhu ta’ala a’lamu bish shåwwab..

 Syeh Abu Zuhry -Hafizhahullah-

Catatan Kaki
  1. Wira’i artinya orang yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi diri dari yang mubah. 
  2. Sejenis penyakit kulit  

WASPADA !!! TERHADAP LINK BATHIL yg jadi RUJUKAN DALIL "ZON JONGGOL Cs.(AHLUL BID'AH)"

by  Ukhti Orcela Puspita -Hafizhahallah-

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

"DO'A MASUK LINK BATHIL yang jadi rujukan dalil " Zon Jonggol cs.

بِسْمِ الله اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan”. {HR. Al-Bukhari: 1/45 dan Muslim: 1/283}
Sedang tambahan bismillah pada permulaan hadits, menurut riwayat Said bin Manshur. { Lihat Fathul Baari: 1/244}


Ini link2 bathil yg jd rujukan penyembah hawa bid'ah yang secara jelas sengaja menyelisihi Sunnah !

__________________

BLOG & LINK ARAB

DOWNLOAD E-BOOK ARAB

فضائح محمد ناصر الدين الالباني
منتدى الأزهريين
موقع فضيلة الشيخ محمد الغزالي رحمه الله
موقع المستنير (الشيخ محمد حسن هيتو)
موقع جامعة الازهر الشريف
موقع حجة الاسلام الامام الغزالي
موقع شيخ الازهر الاسبق الامام عبد الحليم محمود رحمه الله
الموقع الثقافي الاسلامي
الحبيب عمر بن حفيظ حفظه الله
الدكتور محمد سعيد رمضان البوطي
السلفيه … ما لاتعرفه
الشيخ وهبة الزحيلي
بيان حقيقة ابن تيميه الحراني
عقيدة اهل السنة والجماعة

Blog Kritik Wahabi
http://salmanfiddin.wordpress.com/2010/09/18/sampaikah-kiriman-amal-dan-hadiah-bacaan-alquran-untuk-orang-mati/http://koran.republika.co.id/koran/52/132282/Ap
http://koran.republika.co.id/koran/52/132282/Apa_Itu_Alam_Jabarut
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf
mutiarazuhud.files.wordpress.com
http://salmanfiddin.wordpress.com/2010/0...
Abu Salafy
Ahlus Sunnah al-Asya'irah
Aswaja

Ihwan-salafy
Indonesia Kita
ISLAM VS WAHHABI
Katakan Tidak Pada wahabi
Mimbar Pemuda Tamaddun
Mingguan Wahabi
Salafy Indonesia
Taqorruban
Tela’ah Kritis Atas Doktrin Faham Salafy/Wahabi
Wildwest Wahabi
Bloger Yg Artikelnya Pernah Dimuat Disini

Abdurrahman S.H.I
Abusalafy
Amed
Analisis Pencari Kebenaran
Dongeng Wahabi Salafy
Faisal tehrani
Generasi Biru
Insyaflah Salafy
Kabutorider
Majelis Aula Hikmah
Mirza Ali Al Husain
Retorika
Salafyindonesia
Blogroll

A Journal of A Not-Superman Human
Ahmad Mardianto
Antosalafy
Aula Hikmah
Catatan Harian Seorang Muslim
Faisal tehrani
Indonesia Kita
Inilah Ibnu Taymiah
Inilah Jalanku
Islamic Videos
Khaylif Punya
Man Dzaqa ‘Arafa
mbelgedez
Mirza Ali al-Husain
musadiq marhaban
Pondok Habib
Rozenesia
Sains-Inrelegion
Salaf Yes Salafi No
WordPress.com
WordPress.org
KAMUS

KAMUS ONLINE
LINK

Forsansalaf
Laskar Mlangi
Majelis Rasulullah SAW
Panduan Nge-Blog

Ayo NgeBlog
Refleksi Dan Blog Tutorial
DARI MANA MEREKA LANDING DISINI

______________________________

Maka berhati - hatilah dan berlindunglah kepada ALLAH Ta'ala ketika ingin mengetahuinya, hendaklah bersama dengan seorang atau lebih yang telah mengetahui tentang Sunnah ash- Shohihah dan memahami bahwa semua Bid'ah adalah Sayyi'ah karena Dhollalah

Moga ada gunanya .....,

Walillahilhamd

Posted By. Abu 'Abdillah Atho'
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=194019334030022&set=at.122036781228278.20493.100002658713282.1307751853&type=1&ref=nf

▓▓▓▓

Catatan Tambahan dr. Orcela :

Link bathil lainnya yaitu :
Voa-Khawarij,
Era-Ikhwani,
Tidak-Rahmah,

sarkub
Sholeh Punya
Dewi Albani
Akil Fikri
Sayyidul Istihfar
Ahli Fikir
Dzulkiffly As Salafi
Hasyif bin Barqaya
Abu Salim Fakier,
Sengatan Lebah
Mardian Yanto
mawar Berduri
Arsyad Fagott
Fatawa Jilid Dua
mutiarazuhud
membongkar kesesatan wahabi
syiahali
salafy tobat

OLEH KARENA ITU,
•►Untuk menghindari Syuhubat dari para penyembah hawa nafsu (Ahlul Bid'ah) maka silahkan kunjungi Link2 yg bermanhaj Salaf (insyaAllah),

di
SITUS PENCARI AS-SUNNAH , yaitu :

1> http://www.gsalaf.com/

atau di :
2> http://yufid.com/


photo

Semoga bermanfaat, aamiin